Live on Board di Jakarta ala De Kartini

Pagi-pagi jam 6 aku sudah berkumpul dengan teman-teman blogger, influencer dan media di belakang Baywalk Mall yang menghadap ke laut. Empat tahun merantau di Jakarta sepertinya baru sekaranglah aku melihat Jakarta dari sudut pandang ini.

Oooh, Resto Bandar Djakarta itu di sini.

Oooh, itu toh Apartemen Regatta yang katanya parkiran mobilnya pake marbel saking elitnya.

.

.

.

Dan masih banyak lagi oooh-ooh-oh momen lainnya.

“Hayo, 15 orang duluan berangkat..” sebuah ajakan dari pihak Trizara Resorts membuat kami akhirnya harus melepaskan bokong yang terlanjur mager di kursi Starbucks. Kami diarak ke sebuah dermaga kecil di mana taksi air sudah menunggu. Taksinya lucu dibuat bentuk petak gitu terus ada kursinya 3 baris. Lalu seperti kapal biasanya, ada satu mesin penggeraknya. Ketika kami sudah duduk manis, si abang taksi malah kesulitan menghidupkan mesinnya. Nyala-mati-nyala-mati mulu macam perasaanku padanya. Akhirnya kami pun pasrah melihat taksi air lainnya satu persatu membalap kami dan tiba terlebih dahulu di destinasi yang dituju, yaitu sebuah kapal pinisi bernama De Kartini.De Kartini

Setelah putus harapan, kami nungguin jemputan taksi lainnya. Setelah pindah ke taksi air yang baru, kami langsung tancap gas dan mendarat tak sampai 10 menit di buritan De Kartini.

Biasanya kalau mau ke Pulau Seribu, begitu naik ke kapal aku langsung lanjut bobo karena perjalanan masih lama. Eeh sungguh beda kalau naiknya De Kartini. Para ABK menyambut dengan ramah macem kami orang penting. Terus pas naik sudah ada nasi goreng, roti, minuman dll yang bikin hati jadi hangat. Lalu..lalu suara apa ini? Musik bertempo keras jedag jedug membuat mataku langsung melek dan badan jadi bergoyang.

Ampunnn DJ ini baru jam 6 an~~~

Sementara di seberang sana para warga ibu kota harus bersiap-siap berangkat kerja menjemput rezeki, aku di sini malah selonjoran santai membiarkan angin memporak-porandakan rambutku. Inikah rasanya jadi Crazy Rich Jakartan?

baywalk mall

De Kartini punya tiga lantai dengan panjang 38 meter. Kapal ini asli dibuat oleh nenek moyang kita yang (katanya) seorang pelaut. ABK kapalnya pun didatangkan langsung dari asal si pembuat kapal ini di Sulawesi sonoh. Pantesan melihat para ABK kapal ini mulai dari fisik hingga cara ngomongnya, terlihat banget bukan dari Jakarta atau sekitar. Bagus bagus, jadinya makin berasa lagi nge-trip ke mana gitu…

Setelah makan pagi, aku coba muter-muterin kapal. Di lantai 1 palingan ada tempat makan di buritan kapal, musholla dan satu ruangan. Di lantai 2 ada ruang kemudi, lalu ruang biasa lagi dan di belakangnya ada ruang 214 yang merupakan ruangan VIPnya. Di ruang VIP tersebut ada dua sofa empuk dan kamar mandi pribadi sekaligus shower macam gini. Aih bisa pipis with view nih namanya.

toilet kapal

Ruang 214 terinspirasi dari tanggal lahir Ibu Kartini. Terus kalau diperhatikan lebih detil, di atas langit-langit tiap ruangan itu dikasih batik karena merunut pada sejarah bahwa Ibu Kartini seorang pengrajin batik. Tambahan batik ini makin membuat tampilan mewah di kapal. Padahal cukup dengan kapal yang terbuat dari kayu jati dan ulin ini aja, sudah bikin aku yang sobat misqueen ini berdecak kagum. Beda dengan kapal-kapal / speedboat yang biasa aku naiki, De Kartini ini bersih banget dan punya banyak WC. Jadi meskipun kapasitas penuh (sekitar 150 orang), gak perlu takut bakal antri atau desak-desakan gak jelas. Terus sebagai anak milenial, colokan ada banyak jadi bikin tenang. Cuma gak ada wifi yah. Yah sudah sih lagi liburan juga ini. Di kapal dikasih kok mainan lawas kayak Uno, Monopoli biar kalian jangan anti sosial. Hm… kok gak ada kartu gaplek yah?

kamar kapal

Live on Board

Awalnya aku mengira De Kartini bakal dibikin kayak kapal-kapal di Tanjung Puting yang bisa sekaligus tempat menginap, namun rupanya De Kartini lebih ditujukan buat kapal pesiar sehari gitu. Misalnya kayak hari ini kami dibawa jalan-jalan ke Pulau Pari yang menghabiskan waktu 3 jam. Laju kapal emang lebih pelan dari kapal biasa, namun karena gede lebih gak berasa juga ombaknya. Malah sampai gak sadar kapal rupanya sudah berlayar. Kirain masih ngetem kayak angkot.

Nah itu jadi buat yang mabok laut, naik ini lebih aman deh. Terus berhubung kapalnya besar, dia gak bisa merapat sehingga waktu sampai di Pulau Pari kami melanjutkan perjalanan pake sekoci. Lalu pas udah selesai main, balikya juga naik sekoci ini lagi deh.

sekoci

pantai pasir perawan

Sore-sorenya (setelah kenyang makan salad buah dan bakso) selepas matahari tak begitu terik lagi, kami naik ke lantai 3 yakni sun deck. Niat hati sih mau berjemur ala bule, tapi aku mah udah gosong dari tadi jadi tak usahlah banyak gaya. Jadinya cukup duduk manis di bean bag saja sambil melihat semburat matahari tenggelam perlahan-lahan.

kapal pesiar

Setelah sang surya tenggelam, kini giliran mata dimanjakan dengan kelap-kelip lampu-lampu Jakarta yang mulai tampak. Dari kejauhan gedung-gedung bermandikan cahaya itu seolah memberi sinyal untuk menuntun kami pulang ke rumah. Sekeliling kapal mulai gelap gulita dan angin malam terasa menusuk sanubari. Satu per satu memilih turun kembali ke dalam ruangan. Aku masih ingin sendiri di atas merebahkan tubuh yang lengket akan keringat dan garam ini. Sementara itu goncangan kapal makin terasa namun tidak kuhiraukan. Sejujurnya aku justru menyukainya. Rasanya ibarat bayi yang sedang ditidurkan dalam kain di ayunan. Aku pun meringkuk memeluk tubuhku sambil mendengarkan lullaby semesta. Aku nyaris terlelap dalam dekap malam jika saja sinar-sinar kehidupan di seberang sana tidak membangunkanku.

Wahai Ibu Kartini, inikah yang selalu kau maksud dengan…

“Habis Gelap Terbitlah Terang”

Kapal De Kartini

****

Trizara Resorts punya dua kapal lainnya yakni De Sartika yang sama persis kayak De Kartini lalu ada satu lagi kapal yang lebih kecil namanya Sama Kamu. Eak romantis yah namanya. Karena sama kamu, yah sudah aku rela diboyong ke mana pun. Jadi kalau yang De Sartika dan De Kartini ini gak punya ruang tidur dan lebih ditujukan untuk buat bikin acara kayak ulang tahun, launching produk atau liburan bareng keluarga/perusahaan/arisan dll. Sementara si Sama Kamu bisa dicarter ke mana aja dan menyediakan kamar tidur buat bobo bareng.

Selain buat acara yang serius-serius, ini kapal cocok banget buat buat party-party kayak cruise di Bali gitu. Terus poin plusnya adalah background kapal ini. Biasanya kalau orang berlayar itu view-nya kan kebanyakan alam seperti bukit, pantai dan lain-lain. Tapi kalau ini langsung berbatasan dengan gedung-gedung tinggi dan terhubung langsung dengan mall.

Kami pun setelah usai berlayar dari De Kartini, bisa langsung dinner di mall. Wagelaseh itu berasa banget agak oleng pas nginjak tanah. Sekilas lupa daratan deh. Pokoknya sampai lupa kami masih ada di Jakarta, padahal ngarepnya sih lagi LOB di Labuan Bajo.

Note : Untuk wisatawan umum, harap banyak bersabar dan berdoa semoga mereka segera buka cruise harian gitu biar semua bisa menikmati indahnya layar terkembang di atas laut Jakarta. Sementara itu, kalau belum jodoh juga naik Pinisi ini, coba liat dari apartemen / mall Baywalk, soalnya mereka parkirnya di sini. Mudah kok dicari. Liat aja yang paling bagus gitchu.

Aye aye captain~~

baywalk pool

Travel Now or NEVER
14 Responses
  1. Dari dulu pengen cruising di atas pinisi belum kesampean juga.. huhu.. baru bisa naikin pinisi yang lagi dibikin di Tana Beru hihi..

    btw aku bacanya kok sambil kaya niruin logat kak Lenny gitu ya ahaha..

    -Traveler Paruh Waktu

  2. Itu toiletnya kece. Sebagai orang yang suka nongkrong lama di toilet kayaknya seru kalau nongkrong di situ. Sekalian cari inspirasi ahahahaha. Terus abis itu digedor-gedor teman lain yang kebelet pup.

Leave a Reply