Berenang tanpa takut sengat ubur ubur di Danau Kakaban

Kakaban merupakan salah satu pulau yang saya tunggu tunggu ketika bakal hopping islands di Kepulauan Derawan – Kaltim. Pulau seluas 774,2 ha ini boleh dibilang unik karena di sinilah terdapat salah satu spesies ubur ubur yang tanpa sengat sehingga saya bisa berenang dengan mereka tanpa rasa cemas. Keajaiban ini hanya ada dua di dunia yakni di Palau – Kepulauan Micronesia dan satunya lagi yah di Indonesia. Eh sama satu lagi kabarny ada di Raja Ampat.

Di Kakaban hal ini terjadi karena adanya pergesekan atol dari bawah laut sehingga terciptalah sebuah danau air tawar yang kemudian bercampur dengan air hujan menciptakan danau air tawar – meski rasanya tetap asin di lidah saya -. Spesies laut yang di dalamnya pun mau tak mau harus beradapatasi dengan lingkungan hidupnya yang baru tersebut dan si ubur ubur pun kehilangan kemampuan menyengatnya karena sudah tidak ada predator yang mengincarnya. So why not let’s say Hi to this cute creature?

ubur ubur
Satu satunya cara sampai ke pulau kakaban yang tak berpenghuni ini adalah dengan speed boat. Begitu nyampai di dermaga kayunya, saya rasanya sudah pengen nyebur ke pantai yang airnya jernih banget. Namun saya tahan karena ubur ubur pasti sudah tidak sabar bertemu saya.

pulau kakaban
Seusai membayar tiket masuk (Rp.25.000) saya dan teman teman langsung masuk ke dalam hutan dan trekking menanjak sedikit (10 menit). Selama di dalam hutan jangan lupa liat liat pohon di sekitar yah karena udah dikasih nama juga loh buat menambah pengetahuan. Tak lama berjalan, dari kejauhan tampaklah si danau yang luasnya lebih dari setengah pulau kakaban. Lucu yah ada air di atas air.

danau kakaban
Di pinggir danau inilah saya langsung meletakkan tas dan barang bawaan, buka baju dan celana (bikini sudah dipake di dalam karena tidak ada tempat ganti), pake pelampung (bawa sendiri), pasang alat snorkeling dan langsung nyebur!

Ups! Glek glek glek..
Dari atas airnya cukup bening tapi begitu saya melompat rupanya lumayan dalam. Sempat kaget dan keminum airnya. Duh mata langsung perih. :/

Ketika masih berenang berenang di pinggir sambil membiasakan diri, saya melihat banyak juga ubur ubur yang suka nongkrong di akar pohon bakau di sekitar pinggir jembatan kayu. Dengan mata telanjang pun, ubur ubur ini bisa keliatan dari atas loh karena airnya juga jernih, hijau hijau gitu.

Lalu tiba tiba datanglah rombongan turis berikutnya dan seorang ibu ibu dengan masih gaun panjang lengkap hanya duduk di tangga kayu dermaga dan mengambil seekor ubur ubur naik. Saya spontan kaget.
“Bu, itu ubur uburnya nggak boleh diambil kayak gitu. Nanti mati.” kata saya cemas.
“Ohya?” si ibu masih lempeng aja sementara tangannya tetap tidak bereaksi apa apa.
“Iya itu ubur ubur harus di dalam air.” jawab saya saya makin cemas melihat air yang tentu saja di telapak tangan si ibu sudah kering dan ubur uburnya mengempes.

Barulah setelah sesi foto foto (tetap dengan si ubur ubur di tangan) selesai, si ibu mengembalikan lagi ubur ubur tersebut ke habitatnya. Saya lihat si ubur ubur seperti tergopoh gopoh berenang kembali. Kasian…..

Sejatinya yah si ubur ubur ini sama seperti makhluk air lainnya (ikan misalnya) yang memang hidup di air sehingga kalau mau foto pun letakanlah si ubur ubur di telapak tangan namun masih di bawah air, bukan di atas kayak si ibu yang setelah itu melengos pergi. Memang sebaiknya ada petugas yang menjaga agar turis yang tahu sadar akan hal ini. Untungnya saya ditemani oleh guide yang sudah wanti wantihal tersebut dan bahkan mengatakan bahwa ketika berenang tidak diperbolehkan juga memakai sepatu katak karena hempasannya dalam air dapat mengoyak ubur ubur yang notabane sangat halus, lembut dan kenyal ini. Ouch!
kakaban
Di danau ini, guide saya selalu mengajak berenang makin ketengah karena makin rame ubur uburnya. Kalau diitung itung ada kali yah jumlahnya ribuan ekor. Para ubur ubur ini terbagi lagi menurut beberapa jenis loh. Jenis yang paling mudah dijumpai yakni yang berwana kuning (bahasa ilmiahnya Mastigias Papua) atau yang seperti gambar saya di atas. Spesies yang lebih sulit ditemukan lainnya yakni ubur ubur berwarna bening ( Aurelia Aurita) yang saya hanya jumpai sekali dua kali. Terakhir, kabarnya ada satu lagi spesies langka lainnya namun tidak berhasil saya jumpai.

danau di kakaban
Selain ubur ubur, banyak juga terlihat ikan-ikan bersliweran. Namun karena hari sudah makin siang dan mata saya sudah tidak tahan menahan pedihnya air danau ini (yang tetap saja asin) maka saya harus mengakhiri perjumpaan saya dengan hewan langka ini. Makin siang juga makin kerasa ada arus yang mulai bikin saya ngos-ngosan. Sampai ketemu lagi ubur ubur~~

Travel Now or NEVER
3 Responses

Leave a Reply