Roti Jadul Tan Ek TJoan vs Lauw

lauw bakery

Ada satu yang berubah sejak pandemi : Nungguin telolet telolet abang roti! Karena sudah jarang keluar, maka belanjanya yah roti jadul dan roti lokalan aja yang nyamperin langsung ke kos. Ternyata benar jika ada pepatah yang bilang bahwa yang cakep bakalan kalah sama yang dekat dan bikin nyaman. Berlaku di makanan dan jodoh. Tsah~

Sejauh ini ada 3 provider roti yang mondar-mandir di sekitaran kos : Swanish, Sanista dan Chandra Bakery. Pas beli gak berharap banyak karena mikir yah udah hitung-hitung bantu usaha UMKM. EH taunya enak! Murah pula! Emang yah roti kampung itu ada magnetnya tersendiri. Desain gak neko-neko, plastik putih biasa tapi roti empuk, gede dan awet 3 hari juga. Dari sanalah aku kepikir mau menelusuri roti jadul lainnya yang sudah terkenal banget di Jakarta yaitu Tan Ek Tjoan dan Lauw. Dua ini jualanya ada pake sepeda gitu namun mungkin abangnya gak kuat ngenjotnya ampe ke kosanku. Beda sama kopi keliling Jago yang udah pake sepeda listrik ehe.

roti jadul

Yah sudah akhirnya aku samperin langsung aja ke tokonya. Kalau Lauw Bakery paling dekat dari tempatku itu adanya di Fatmawati. Kalau naik MRT turun di Blok A, tinggal jalan 10 menit. Bonus ada bakso lestari yang enak 🙂

Di Lauw Bakery banyak jenis roti dan ada beberapa kue juga yang bikin ngiler. Tempat buatnya juga kebetulan di ruko itu jadi aroma-aromanya menyeruak ke hidung. Pengen tak borong, apa daya dompet menahan. Akhirnya beli yang roti manis dan roti cokelat aja karena katanya ini yang best seller. Selanjutnya, aku ke Toko Tan Ek Tjoan yang di Ciputat Timur. Kalau Lauw Bakery ada beberapa toko, kalau Tan Ek Tjoan ini cuma punya satu toko saja yang udah sama sekalian pabriknya di belakang. Plus, di Tan Ek Tjoan dia ada jual hasil roti sisa marin dan dikasih diskon 50% alias cuma 3.500 aja buat beberapa varian.

Tan Ek Tjoan ini boleh dikata yang roti tertua di Jakarta yang berdiri sejak 1955 di Cikini. Katanya dulu langanannya pak Soekarno loh. Tapi sejak 2014 pindah ke Ciputat Timur ini.

roti tan ek tjoan

Untuk harga, keduanya emang mirip-mirip sih. Variannya juga, kayak sama-sama punya roti gambang, roti buaya, dll. Tapi yang Lauw lebih banyak macamnya dan sudah mulai lebih keliatan modern dikit model dan jenisnya. Sedangkan di Tan Ek Tjoan, variannya sedikit tapi mereka ada jual kue basah, kerupuk, brownies dan lain-lain.

Untuk membandingkan aku coba roti cokelat mereka yang harganya sama-sama 7ribu. Roti Tan Ek Tjoan bentuknya agak bulet sedangkan Roti Lauw agak panjang jadi lebih besar. Sebenarnya rasanya sendiri kurang lebih sama. Yang jelas rotinya lebih sehat tanpa pengawet, lembut dan tentu aja enak. Namun kalau harus banget memilih, maka dengan sepenuh hati aku pilih :

Tan Ek Tjoan

Makanan bukan hanya pengenyang perut dan pemuas lidah. Makanan adalah perjalanan menikmati masa lalu. Di dalam setiap suapannya, ada kenangan yang bangkit dan panca indera yang mengecap rasa indah memori yang terkubur di dalamnya. Begitulah yang aku rasakan ketika pertama kali mengigit roti Tan Ek Tjoan. Nostalgia zaman kecil di Jambi mengingatkanku pada seorang acek-acek pengendara sepeda yang selalu mampir ke toko. Berpakaian kemeja dengan handuk disampirkan di leher untuk melap tetesan keringatnya, ia selalu menawarkan roti jualannya kepada mama. Aku tak tahu apakah ia yang membuat roti tersebut atau hanya menjualkannya. Namun sejak pertama kali mama mengiyakan tawaran untuk mencoba rotinya, maka ia pun selalu hadir di tiap sore kami.

Jika toko sedang ramai dan mama tak mengubrisnya, maka dengan sabar ia menunggu. Atau kadang mama hanya memberikan kode dan lantas ia pun memasukkan beberapa rotinya yang berisi cokelat, kelapa, srikaya, nanas ke dalam kresek lalu memberikannya kepadaku. Roti-roti itu selalu dibawa acek itu dalam keranjang rotan yang ditutup dan dilapisi kertas. Selalu hangat. Mungkin matahari juga membuat roti itu semakin panas dan isian toppingnya lumer.

Membeli roti ini seperti bermain puzzle dan memecahkan misteri buatku. Roti acek ini berbentuk kotak kubus, tidak tebal tapi juga tidak tipis. Cukup-cukup saja untuk menganjal lambung. Di atas roti cokelat ini, terdapat titik-titik hitam yang menjadi tanda dari isian roti tersebut. Empat titik berarti cokelat. Tiga titik, mungkin saja kelapa. Aku selalu berusaha mengingat-ngingatnya agar tidak salah ambil.

Lambat laun, keseruan itu sirna. Aku mulai bosan. Jajananku berganti menjadi micin-micinan. Semakin sering kami menolak acek itu hingga tanpa sadar, ia lenyap dari ingatanku.

Tan Ek Tjoan lah yang membangkitkan kembali wajah acek itu. Aku mulai bertanya-tanya tentang si acek pada mamaku. Katanya, usaha roti itu sudah tidak berjalan lagi sejak lama. Aku yakin bukan karena kualitas rotinya, namun sesimpel karena tergerus zaman. Tapi syukurlah mama bilang acek itu panjang umur meskipun anaknya tidak berniat meneruskan usaha orang tuanya. Mungkin pekerjaan tukang roti bukan sesuatu yang menarik bagi milenial.

Aku berusaha mengorek-ngorek kapan terakhir kalinya aku menyantap roti itu. Sungguh sulit sekali. Aku malah berdebat dengan mama tentang berapa harga roti acek tersebut. Mama bilang 100 perak. Aku sangsi. Mungkin seribu rupiah. Kata mama 10 tahun, 15 tahun lalu, uang 100 perak cukup besar nilainya. Aku tercengang. Betapa murahnya roti tersebut.

Tapi jika dipikir dengan roti jadul sekarang pun, memang lebih murah ketimbang beli yang di mall atau yang ber-merek. Mungkin karena mereka tidak punya biaya marketing, gimmick dll. Tokonya sederhana dan hanya benar-benar mengandalkan kualitas dan repeat order dari pelanggan setianya. Tak heran jika roti-roti ini bakal terus melegenda.

Rasa bisa dicari tapi kenangan yang melekat di dalamnya tak akan pernah terganti.

tan ek tjoan

**

Alamat Roti Jadul

Tank Ek Tjoan : Jl. WR Supratman no 45 Ciputat Timur

Lauw : Jl. RS Fatmawati Raya no 42 Cipete Utara

Travel Now or NEVER
3 Responses
  1. Zam

    kalo aku dulu pas di jakarta ada langganan roti merek Mutiara. entah dari mana. pernah suatu saat si abang roti berganti merek. rupanya dia mengambil roti dari salah satu pengepul, termasuk papan nama rotinya. jadi bisa jadi si abang dan gerobaknya sama, tapi yang dijual termasuk plang nama di gerobak beda, karena bisa diganti-ganti. ternyata menurut pengakuannya, merek roti yang baru kurang begitu laku. aku pun setuju bahwa roti merek Mutiara jauh lebih enak, dan akhirnya dia kembali ke merek Mutiara..

Leave a Reply