Pasang Crown Gigi. Awet Bertahun-Tahun!

crown gigi

Sedari remaja hingga masuk usia dewasa, aku punya krisis kepercayaan diri. Aku gak pernah tersenyum nyaman memperlihatkan gigiku karena jelek. Emang sih di keluargaku rata-rata giginya parah semua karena gak ada yang peduli kesehatan gigi. Boro-boro ke dokter gigi. Urusan gosok gigi aja kalau gak dilakuin gak ada yang bakal ngingetin. Sedih akutu kalo diinget-inget 🙁 Namun untunglah pas itu ada Ako, tante dari pihak papa yang “menemukan” aku dan sadar kalau gigiku itu butuh perawatan. Dia rutin membawaku ke dokter gigi tiap sore. Pas itu aku udah gak ada gigi susu keknya dan gigi tetapku itu udah pada ada yang lobanglah. Mana makan permen cokelat dll juga masih sembarangan aja. Terus bentuk gigi seriku yang ada dan paling depan itu bentuknya agak imut dan tekuk ke dalam. Hm gimana yah jelasinnya. Pokoknya gak gitu rata deh karena mungkin gak ada cukup tempat.

Suatu saat pas di rumah ako, aku terjatuh dan salah satu gigi seriku yang depan membentur tegel. KREK! gigi itu pun patah sedikit.

Cacat banget deh rasanya walaupun mungkin gak gitu parah bagi orang. Cuma di titik itulah aku kalau ketawa selalu nutup mulut, foto gak mau nampain gigi. Selalu tersenyum simpul maksa. Aku sempat nahan gak diapa-apain dan lebih prioritasin benerin gigi yang laen karena ini hanya soal estetika aja. Belum urgent banget.

Lama-lama karena ini gigi paling depan, mau gak mau ganggu juga yah kan apalagi masa remaja itu tentunya pengen terlihat menarik gitu eh tapi kondisi gigi gak mendukung. Pas pula saat itu, mulai ada lobang di tengah gigi depan yang patah itu. Aku ke dokter gigi lagi dan kali ini aku utarakan maksud hatiku sekalian yah sedih liat gigiku ada patahnya. Oleh dokter disarankan pakai crown aja karena mengatasi dua masalah terbesar dalam hidupku sekaligus ; (1) memperbaiki bentuk gigi depanku, (2) menutup lobang kecil di tengah.

Aku sebetulnya gak kebayang dan tak begitu ngerti. Tapi aku percayakan sepenuhnya pada dokterku. Yang penting gigi depanku jadi bagus lagi. Dokterpun menambal sedikit keropos atau lobang di tengah gigi terdepanku. Setelah yakin tidak ada masalah lagi, dia mengambil sampel alias cetakan gigiku. Yang bakal di-crown itu ada dua gigi sekaligus biar keliatannya sama gitu. Dokter ngambil adonan lalu ditempelkan di gigiku untuk membuat cetakan crownku. Biar muat, seingetku gigi asliku juga dikecilin dikit untuk space buat crown itu. Namun ini gak sama kayak gigi palsu yah karena aku masih punya gigi asli hingga ke akar-akarnya. Crown ini ibarat casing HP aja jadi lapisan luar gigi ngono.

Aku menunggu kira-kira semingguan hinga cetakan itu jadi karena setahuku di Jambi mungkin gak ada jadi kudu pesan ke luar. Saat itu entah napa gak ada pilihan behel gigi sebagai opsi meratakan gigiku. Tapi yah aku juga gak bakal milih sih karena prosesnya lebih lama, sakit dan seingatku zamanku itu aku gak pernah liat orang pakai kawat gigi. So it was out of my choice.

Nah bahan crown gigi ini macem-macem tapi aku lupa apa aja. Keknya yang aku pilih ini udah yang lumayan bagus sesuai rekomendasi dokter karena aku maunya terlihat natural bukan kayak pake gigi palsu yang warnanya beda banget dengan gigi asli.

Saat yang dinantikan tiba ketika aku bertemu dengan crown gigiku. Aku deg-degan banget waktu dipasang, dilemin dan ditempelkan ke gigiku. Padahal prosesnya cepet kok karena yah cuma masukin doang gitu. Pas udah selesai, aku berkaca dan melihat senyumku. Not bad, pikirku. Gigiku jadi terlihat lebih gendut daripada gigi lainnya yang di samping. Warnanya emang lebih putih dari gigi normal yang biasanya agak kuning gitu kan tapi tak terlalu kentara. Tapi, salah satu kekurangannya adalah adonan/lemnya (aku gak ngerti juga) kek membuat gusi di atas kedua gigi itu menjadi warna agak ungu gitu. Kalau sekilas sih gak bakal kelihatan kayaknya, cuma kalau dilihat dari dekat atau diperhatikan saksama, bakal terlihat.

Lagi-lagi aku tetap cemas dan malu kalau orang sampai notice. Iya aku emang se-insecure itu soal gigi 🙁

Setelah itu, aku agak takut-takut makan keras, ngunyah atau gigit pake gigi depan karena takut aja crownku copot. Aku juga gak berani pake benang gigi di sela crown karena takut copot. Pokoknya butuh bulanan untuk terbiasa dengan gigi baru ini. Bahkan kalau boleh jujur butuh tahunan untuk bisa merasa nyaman dengan gigi dan tersenyum bebas dan membiarkan orang menilai gigiku.

Perjalanan yang panjang namun sangat berharga. Setelah lebih dari 10 tahun, aku mengetik ini dengan penuh rasa senang dan bersyukur crown ini tak pernah bertingkah. Gigi depanku masih tetap seperti sedia kala tanpa ada timbul masalah.

Belajar dari masa-masa remaja hingga dewasa yang kerjaannya ke dokter gigi mulu, maka aku sangat concern sama gigi adik-adikku. Untungnya perhatianku gak sia-sia. Gigi adikku semuanya bagus. Pas kemarin balik Jambi saat Imlek juga sempat cehck-up rutin dan semuanya bagus. Setelah itu pandemi dimulai. Fiuh gak kebayang kalau gak rutin merawat dan tiba-tiba ada masalah kudu ke dokter gigi. Pasti sulit banget dan beresiko tinggi.

Maka itu jagalah gigimu yah. Ini salah satu organ penting tubuh yang kalau sudah gak ada, maka gak bisa tumbuh lagi. Jadi berikanlah investasi yang terbaik untuk bagian tubuh yang mungil ini.

Dan satu lagi, jangan percaya Meggy Z yang bilang lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Penyanyi ini lum tahu kali rasanya ngelewati berbagai perawatan syaraf gigi yang sakitnya masya allah berasa trial masuk neraka. Setelah itu, bukannya sembuh tapi dokter bilang kalau sudah terlanjur busuk dan gak bisa diselamatkan sehingga terpaksa dicabut juga. Bah napa gak dari awal aja cabut huhuhuh

**

NEXT : VAKSIN HPV UNTUK MENCEGAH KANKER SERVIKS.

Travel Now or NEVER
2 Responses

Leave a Reply