Tips Menulis Kisah Perjalanan dari Agustinus Wibowo

ā€¢
ā€¢6

Siapa penulis cerita perjalanan dari Indonesia yang menjadi panutanque?

Jawabnya adalah A G U S T I N U SĀ  W I B O W O

….yang telah menghasilkan 3 buku bestsellernya yakni Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol.

Bagiku koh agus adalah pencerita yang baik, itu sudah jelas lah yah. Selain itu, ada alasan yang agak sentimentil yakni kemiripan latar belakang. Berasal dari sesama suku, berdasar ceritanya di buku Titik Nol itu, ada beberapa hal yang mirip banget kondisinya dengan kehidupanku seperti soal ayahnya, diskriminasi, dll. Jadinya begitu baca kisahnya aku tuh kayak udah merasa mengenal dia. Merasa bisa memahami kegeterinnya.

I knew I love him before I met him.

Makin pula bertambah takjub ketika pertama kali jumpa dalam workshop-nya. Orangnya gak neko-neko, cerdas dan auranya itu bikin fokus dengerinnya. Jarang loh ada penulis hebat, tapi juga mampu jadi guru serta motivator yang baik. Setiap kata yang keluar dari mulutnya bak tersusun apik seakan-akan terjalin menjadi sebuah kata mutiara. Emang keliatan banget deh pokoknya kelasnya dia beda.

Nah, lepas perjumpaan pertama itu, aku berkesempatan lagi hadir di workshop-nya yang diadakan The Jakarta Post Writing Centre. Biasanya nih yah kalau mau ikut kelas dia bayarnya bisa berjeti-jeti. Sesuai sih sama kapasitasnya. Tapi untungnya ku kemarin ikut pas gratisan. Ugh, senengnya dobel nih.

Pas ngeliat dia lagi, OMG bajunya mirip sama yang dulu wkwk humble banget nih orang. Tapi aku lantas teringat kisah di blognya yang sehabis mamanya meninggal, lalu tak lama disusul papanya meninggal, si koh agus sempat depresi dan kehilangan semangat hidup. Duh, di situ aku ngebayanginnya aja bikin mataku berkaca-kaca. Jadinya beberapa saat dalam kelas, yang ada aku malah sibuk menyeka mata dan berusaha terlihat normal. wkwk… malu kan kalau keliatan, napa dah nih cewek nangis padahal gak ada apa-apa.

Anyway, aku berusaha berpikir kalo koh Agus ini orang yang kuat dan pasti sudah move on. Ealah dia malah awalnya cerita dia kemarin sempat ke Toraja demi misi untuk melihat acara kematian orang sana yang meriah dan jauh dari kata sedih. Nah kebetulan pas koh agus nyampe, ada seorang nenek yang emang udah sakit. Mereka ngobrol-ngobrol lah tuh yah. Keesokan harinya, gak tahunya si nenek beneran meninggal dunia dong huhuhu!

Koh agus sempat cemas takut dianggap sial sama orang sana. Eh taunya enggak deng. Pas menemui nenek itu lagi (yang kini sudah didudukin dan dipakaikan baju cantik khas sana), keluarga si nenek tetap menyambut dia ramah dan mau menerima koh agus seperti tidak ada terjadi apa-apa. Bahkan si anak nenek tersebut sempat bilang gini ama koh agus

“Ibu saya belum pernah jalan-jalan keluar dari daerah sini. Tapi berkat kamu, sekarang fotonya ada di mana-mana.”

Huaaaa giliran koh Agus yang menitikkan air mata mendengar penuturan si anak itu.

Aku pun tambah trenyuh dan mulai sesungukan.

T.T

T.T

Sudah… sudah… Lenny tahan dulu emosinya yah.

Okay ibarat buku, ini koh agus udah kasih pembuka workshop yang sangat berkesan. Gimana coba aku bisa berpaling darinya!

Anyway berhubung yang nyelenggarainnya instansi berbahasa inggris, so we have to talk in english baby~

Dan tau lah yah Agustinus mah udah fasih kalau cuma Inggris doang. Dia ngomong cas cis cus dan lagi-lagi semua kata-katanya membentuk quote yang membuatku terbius layaknya kalau liat quote di Pinterest.

Sebenarnya sesi ini dan sesi beberapa tahun lalu aku ikuti kurang lebih sama. Karena yah 1,5 jam doang waktunya sebenarnya yah kurang jadi cuma bisa bahas kulitnya doang. Meski gitu, kulit ayam KFC aja enak toh tanpa ayamnya… jadi bagiku tak masalah. Ilmu yang didapat tetap mengenyangkan otakku yang mulai butek ini.

Nih catetin poin-poinnya yah biar kita sama-sama bisa ngikuti jejak si penulis kesayangan yang mirip sepupuku ini (beneran!) :

“Good Writing only comes from Good Travel.”

Koh agus memulai dengan nanya kita itu travel tujuannya buat apa. Buat panjat sosial? emang kerjanya? biar gak stress? Macem-macem kan yah dan itu terserah sih sama individu tersebut. Tapi kalau emang mau menghasilkan tulisan yang baik haruslah punya perjalanan yang tersusun dan memiliki tujuan jelas.

Jadi…jadi.. kalau perjalanan ke rumah gebetan gak bisa dijadikan tulisan dong?

Jawabnya nggak bisa kecuali rumahnya di Timbuktu.

Jadi emang sih pemilihan destinasi akan sangat berperan besar. Karya-karya si koko Agus menjadi sangat dahsyat salah satunya karena daerah yang dituju anti mainstream banget yang dipastikan jarang ada orang Indonesia yang berani ke sana.

Namun tidak hanya itu, kecakapan koko agus dalam berbahasa lokal sangat membantu dia dalam berinteraksi dan menyelami kehidupan di sana. Dari sana saja udah dapat dipastikan akan lahir begitu banyak cerita cerita eksotis yang seru abis. Jadinya perlu banget yah bisa bahasa lokal satu dua aja. Itung-itung itu cara buat kenalan ke orang, minta tolong, atau nawar barang #eh

Agustinus Wibowo Travel Writing Workshop
Travel Writing Workshop Agustinus Wibowo

Lalu apa saja aspek aspek yang termasuk perjalanan yang baik?

  1. Travel with purpose
    Kalau sekedar ke pantai gara gara bosan di kosan, tentu tidak akan menghasilkan suatu cerita menarik karena kebanyakan jadinya tulisan dengan bahasa kalbu. Hayo siapa tuh yang sering begitu? Oleh karena itu sebelum memilih tempat yang akan dituju, pastikan punya tujuan mengapa memilih tempat itu. Apakah untuk mencari jejak keluarga yang pernah hilang atau napak tilas kisah cinta yang belum usai? alasannya terserah yang penting ada misi yang ingin dijalankan.
  2. Komunikasi
    Yang membuat hidup suatu cerita adalah orang orang di dalam cerita itu sendiri.Menurut Agustinus Wibowo akan lebih sulit bercerita tentang gunung ketimbang kota karena tidak ada/minim interaksi di gunung. Masa iya mau ngomong sama rumput yang bergoyang atau semilir angin? Aku sendiri suka kagum sama dialog-dialog di buku koko Agus karena dari sana benar benar merasa mengenal tokoh tersebut. Dialog-dialog tersebut juga yang membuat aku dapat menerka nerka karakter orang tersebut.So, lain kali di trip cobalah lebih banyak menyapa, berbincang bincang dengan narasumber/orang yang terkait dengan cerita yang akan ditulis. Perspektif mereka tentu akan memberi warna berbeda.
  3. Observasi
    Ini nih bagi yang introvert dan pendiam, mungkin akan lebih suka disuruh observasi ketimbang nyapa strangers. Observasi bisa meliputi manusia, benda atau apa saja yang ada di lingkungan sekitar. Jangan lupa yang tak kalah penting dan sering kali missed adalah observasi perasaan kita sendiri. Apakah anda merasakan suatu perasaan khusus ketika berada di suatu tempat? mungkin bahagia, kecewa, sedih, dll? Telusuri akar tersebut dan semoga ada sebuah kisah menarik di baliknya.
  4. Riset
    Keunggulan buku koko Agus lainnya menurutku adalah karena banyaknya sumber dan fakta yang mendukung cerita ku yakin banget ini bukan karangan semata. Berasanya jadi kek buku sejarah namun ditulis dari kacamata seorang indonesia. Coba dulu di sekolah buku pelajarannya gini. Pasti aku bisa juara nih!Koko agus sempat bilang bahwa semakin mudah kita memahami bukunya, nyatanya semakin sulit dan keras dia menulisnya karena berarti dia perlu usaha ekstra bagaimana merangkum semua fakta, data, kata kata hingga kalimat agar bukan hanya dapat dicerna semua kalangan tapi juga harus menarik. Nah ini kata kuncinya. Tulisan kita HARUS lah sesuai fakta (no hoax) tapi dirangkum seasik mungkin. Makanya genre-nya jadinya creative non-fiction.
  5. Sudut pandang baru
    Ini sedikit banyak agak tricky. Misalnya waktu koh Agustinus Wibowo melakukan perjalanan ke Papua Nugini yang notabane negara yang kerap kali masih disamakan dengan Papua. Hello??!? Tentunya dengan sedikitnya informasi yang kita tahu dengan negeri tetangga tersebut, akan lebih mudah menulis tentang Papua Nugini ketimbang menulis tentang Ancol.Lalu bagaimana kalau kita terlanjur hanya pernah pergi ke tempat yang sudah dikunjungi sejuta umat? Tentu masih bisa tapi harus mengambil dari sudut pandang berbeda. Misalnya ke Borobudur, coba cari angle berbeda mungkin dari tour guide yang saban hari liat borobudur sampai bosan, dari si pembersih candi budha terbesar di dunia tersebut dll. Niscaya kisah perjalanan pun akan jadi unik.Karena let’s be honest. Hampir semua destinasi di dunia ini sudah pernah dihampiri dan ditulis, sehingga tantangannya bagi kita akan jadi semakin sulit juga menghadirkan tulisan yang “baru”.Nah oleh karena itu, yang akan bikin karya kita beda dan stand out adalah perspektif dan kisah personal yang dialami.

 

Lenny Lim with Agustinus Wibowo
W/ Agustinus Wibowo

Nah habis senang-senang jalan-jalan, maka saatnya kerja. Kalau bisa segera tuliskan semua detail detail yang ada biar tidak lekas hilang. Karena nanti ini penting untuk memperkaya tulisan. Setelah itu mulailah menulis. Nulis apa aja. Biasanya tulisan pertama kita bakal jadi sampah. LOL setuju banget nih.

Koh agus bilang itu gak apa-apa. Yang penting lanjut aja. Nantinya sampah-sampah itu kali aja bisa dipakai entah di bagian mana. Setelahnya, jangan lupa bikin kerangka tulisan yah. Ibarat rumah, kira-kira udah tahulah yah mau dibawa ke mana hubungan tulisan ini. Opening, inti lalu penutupnya cem mana. Niscaya, dengan begini kita punya peta dari tulisan sehingga writer’s block dapat dihindari dan tulisan gak ngalor ngidur yang berakhir curcol kek biasa aku lakukan.

Yang terakhir, jangan lupa tulisan harus dapat ditutup dengan mengaitkan kembali ke pesan di awal agar pembaca mendapat sebuah tulisan yang utuh. Bagusnya ditambah kontemplasi akan perjalanan itu sendiri. Nah ini emang agak sulit kuakui karena terkadang aku melakukan perjalanan yah simply karena kerjaan sehingga gak terlalu ada unsur personalnya hiks.

Fiuh dari situlah baru nyadar, di balik sebuah tulisan yang kita baca itu ada proses write-edit-delete-rewrite-edit- yang seperti tiada akhir. Tak heran memang benar bahwa proses penulisan itu juga bahkan adalah sebuah perjalanan tersendiri.

Terakhir pas acara mau usai ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik seputar “Bisakah kita hidup hanya bermodal tulisan?”

Si koh agus dengan jujur menjawab emang honor tulisan kian lama kian kecil. Lah majalah aja kan banyak tutup karena tergerus zaman atau karena biaya produksi dan harga kertas membengkak. Jadinya emang harus pinter cari kerjaan lain yang mendukung. Kayak sekarang koh agus kan juga jadi penerjemah buku, bawa workshop, penulis juga masih dan mungkin kerjaan lainnya.

Tapi sekali lagi koh agus kasih pesan bahwa kita harus tanya ke diri masing-masing, sebenarnya tujuan kita nulis tuh apa. Karena kalau cuma buat duit, yah aku rasa juga mending cari profesi lain aja. Tapi kalau emang ini passion yang kamu sukai, maka uang itu bisa ditolelir lah karena sekali lagi ini sebabnya :

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang melakukan perjalanan dan menuliskannya” – Agustinus Wibowo

“They said 1 photo worth 1000 words, but 1000 words is not enough to tell story. So that’s why I became a writer.” – Agustinus Wibowo.

Alamak nendang banget kan?

Kalau kalian kenapa masih doyan nulis guys?

Travel Now or NEVER
6 Responses
  1. ahhh keuren tips langsung dari om agustinus wibowo.. aku dah baca yg buku titik nol dan dapet banyak pengalan hidup.

    oh iyah terkait tipsnya, ini super berguna banget kak. Traveling bukan hanya sekedae traveling yah harus ada tujuannya supaya tercipta rasa, karsa dan cerita yang kuat.

    Thanks kak sudah menginspirasi masolo, jadi semangat lagi nih tuh jadi travelife blogger šŸ™‚

    Salam inspirasi,
    sesuapnasi

    1. Hai masolo,
      Terima kasih udah mau mampir šŸ™‚

      Bener cerita-cerita koh Agus tidak hanya seputar perjalanan tapi juga banyak kisah yang bisa dipetik buat hidup kita. Salut!

      Semangat jadi travel blogger nya hehe

Leave a Reply