Orang Rimba, Sang Penjaga Hutan Jambi

hutan jambi

“Ake Lenny namoke bebet” ucap aku dalam hati berkali-kali melafalkan cara memperkenalkan diri dalam bahasa Orang Rimba. Ini perjalanan pertamaku menelusuri kampung halaman sendiri dan berkemah di tengah Taman Nasional Bukit Dua Belas, Sarolangun – Jambi. Sedari dulu, aku selalu penasaran dengan keindahan hutan Indonesia serta Orang Rimba yang tinggal di dalamnya. Namun baru pada tahun 2019 lah aku benar-benar berhasil tinggal bersama mereka walaupun hanya sehari semalam saja.

Dari kota Jambi, aku dan teman-teman berkendara selama 6 jam hingga ke Sarolangun. Tepat sebelum masuk ke dalam taman nasional, beberapa anak muda dari Orang Rimba telah menanti dengan motor. Merekalah yang akan membawa kami ke dalam pekatnya rimba karena hari telah berganti menjadi larut malam. Tidak ada listrik bahkan sinyal HP pun telah pupus sedari tadi.

Suara-suara burung, angin dan tumbuhan menjadi satu kesatuan yang membuat bulu kudukku berdiri. Di depan mata tak terlihat apa-apa. Bahkan sinar rembulan pun tak cukup kuat menembus rapatnya pepohonan di hutan ini. Hanya lampu senter di kepala yang menjadi penuntun jalan. Tentunya selain itu, ingatan dan kemampuan Orang Rimba dalam navigasi jalan setapak di hutan adalah kunci utama. Tanpa mereka, sudah pasti aku akan tersesat dalam hitungan menit.

Motor kami sempat beberapa kali terjebak lumpur sehingga mengharuskanku trekking dan berjalan kaki. Total perjalanan memakan hampir 2,5 jam. Kami baru sampai ke dalam kampung Kedondong Muda sekitar pukul 2 subuh. Badanku yang terlanjur letih dan ringkih pun tak kuasa langsung terlelap di dalam tenda.

Ketika matahari mulai naik dan embun pagi membuat badanku menggigil, aku langsung terbangun mendengar pak temenggung alias ketua kelompok serta istri dan anaknya yang sedang berbincang-bincang di pendopo. Sebenarnya tadi malam aku sempat menyapa pak Temenggung namun karena gelap gulita, aku tak dapat melihat rupanya. Jadilah pagi ini aku pun berkenalan lagi dengan menggunakan bahasa mereka yang telah kupelajari sebelumnya. Mereka pun terkekeh melihat pola tingkahku.

bukit duabelas

Tak lama kemudian, kami kedatangan sanak saudara dari keluarga Pak Temenggung. Orang Rimba pada dasarnya memang hidup berkelompok dan dalam satu kelompok dipimpin oleh Temenggung yang menjadi juru kunci antara si kelompok dengan kelompok lain/dunia luar. Menurut cerita-cerita, kabarnya Orang Rimba berasal dari Kerajaan Pagaruyung yang kemudian terjebak di dalam hutan Jambi. Oleh karena itu kedua suku ini sama-sama menganut sistem matrinelial. Untuk kesehariannya, mereka mengandalkan hutan sebagai sumber kehidupan.

Orang Rimba pandai berburu dan terkenal akan keahliannya meramu obat. Pak Temenggung mengajariku cara membuat umpan untuk menjebak kelinci. Pembuatannya terlihat sederhana karena hanya menggunakan ranting dan tali saja. Sekilas terlihat sangat mudah dan jemari Pak Temenggung begitu cepat merangkainya menjadi sebuah jebakan maut. Begitu pun ketika istri Temenggung mengajakku mencari makan yaitu dengan mengorek umbi-umbian dari dalam tanah, maka sekali lagi aku terpesona melihat cara hidup mereka yang dekat dengan alam. Rasanya hutan ini memang menyediakan segala hal buat mereka sehingga nyaris mereka tak butuh apa-apa lagi dari dunia modern. Jikalau mereka ke kota atau keluar dari hutan, biasanya mereka melakukan sistem barter di mana hasil buruan/hasil hutan diganti dengan rokok atau kain.

Soal ini aku sempat diberitahu sebelumnya sehingga aku telah menyiapkan sebuah kain yang kuberikan untuk Sulam, anak pak Temenggung. Kain dalam budaya Orang Rimba adalah salah satu barang mahal. Tidak hanya jadi kemben untuk wanita atau cawat untuk celana para lelaki, namun kain ini juga berfungsi sebagai mahar pernikahan. Pun ketika terjadi hukuman adat atas perbuatan yang tidak pantas dalam budaya Orang Rimba, maka orang tersebut harus membayar dengan kain. Tahukah kamu hukuman terberat apa yang bisa membuat seseorang didendai 60 kain? Jawabnya adalah menebang pohon. Ya, begitu berharganya arti sebuah pohon bagi Orang Rimba.

Ekosistem hutan dan alam yang lestari adalah kunci keberlangsungan hidup Orang Rimba. Tak heran mereka menjaganya dengan segenap jiwa raga. Jika ada Orang Rimba yang sakit, maka pada hutanlah mereka mencari pengobatan. Orang Rimba punya kemampuan mengenali bermacam-macam jenis flora dan tahu cara memanfaatkannya. Di hutan ini jugalah aku akhirnya bisa melihat bagaimana bentuk tanaman Pasak Bumi. Selama ini Pasak Bumi dikenal sebagai “obat kuat” bagi pria. Padahal bagi Orang Rimba, Pasak Bumi adalah obat batuk atau demam. Caranya cukup diambil akarnya lalu rebus airnya dan diminum.

Namun jika kemalangan tak dapat dielakkan lagi dan Orang Rimba kehilangan keluarganya alias ada yang meninggal, maka mereka akan Melangun alias berpindah tempat tinggal. Awalnya aku kira karena gaya hidup Orang Rimba yang nomaden, tapi rupanya lebih ke untuk menghindari wabah penyakit / anggapan kesialan jika ada keluarga meninggal. Dulunya Melangun ini bisa sampai bertahun-tahun loh. Mereka akan terus berjalan sambil menangisi nasib. Kalau sudah lelah, barulah mereka berhenti.

suku anak dalam

Di akhir perjalanan, ketika sudah saatnya berpisah dengan pak Temenggung dan keluarganya, aku sempat membeli oleh-oleh kerajinan khas Suku Anak Dalam yakni Sebalik Sumpah. Sebalik Sumpah ini sebenarnya adalah nama pohon yang mana kebetulan banget tumbuh di sekitar tenda kami. Bijinya kecil-kecil dengan pohon yang tak terlalu tinggi. Bijinya inilah yang kemudian dirangkai menjadi gelang dan juga kalung seperti yang dipakai nenek tersebut (foto di atas). Menurut kepercayaan mereka, Sebalik Sumpah ini untuk melindungi mereka dari segala niatan jahat yang ditujukan kepada si pemakai Sebalik Sumpah. Konon orang yang menyumpahi mereka akan mendapat balasan yang setimpal.

Mendengar hal itu, aku hanya mangut-mangut saja. Aku serahkan uang 50rb sebagai tanda terima kasih atas filosofi yang mereka sematkan di dalam aksesoris ini. Segala doa dan kenangan indah bersama mereka telah membukakan mataku bahwa semesta dan bumi sejatinya telah mencukupkan apapun yang dibutuhkan manusia. Kini tinggal upaya kita bersamalah yang harus digencarkan untuk menjaga hutan dan hidup berdampingan dengan alam.

Tiba-tiba aku pun teringat salah satu quote dari Butet Manurung, seorang guru besar Orang Rimba. Ia pernah berkata :

“Orang rimba tidak butuh kita. Kitalah yang butuh mereka.”

Hadirnya mereka di dalam hutan bak perisai dan pelindung bagi kelangsungan hutan. Patutlah kita belajar dan mengambil nilai-nilai yang mereka terapkan untuk kehidupan kita sehari-hari. Apalagi kalau nanti beneran ditetapkan Hari Hutan Indonesia yang jatuh pada tanggal 7 Agustus, pasti makin jadi momentum yang pas agar kita selalu diingatkan untuk menjaga lingkungan dan hutan agar tetap lestari. Cara lain yang bisa dilakukan juga dengan cara  “Adopsi Hutan” melalui kitabisa.com, dimana nantinya uang donasi akan disalurkan kepada organisasi pendamping masyarakat sekitar hutan seperti Orang Rimba ini agar mereka terus didukung melestarikan falsafah dan nilai-nilai budaya mereka dalam melindungi hutan.

Travel Now or NEVER
4 Responses

Leave a Reply