Lestari Hutanku Sehatkan Orang Rimba

orang rimba

Dulu aku pernah membaca koran Kompas di mana ada liputan khusus jurnalisnya yang blusukan di hutan Jambi untuk bertemu Orang Rimba demi belajar meramu obat-obatan. Suku Anak Dalam atau Orang Rimba ini memang terkenal akan keahlian turun-temurunnya dalam mengenali berbagai jenis tumbuhan yang bisa diolah menjadi sumber pangan maupun untuk menyembuhkan para pesakitan. Saking hebatnya, saya rasa Orang Rimba ini kalau ikut ujian mata pelajaran Biologi, pasti dapat nilai 100. Sedang aku, hingga setua ini pun masih gagal membedakan antara jahe dan lengkuas, apalagi bentuk daun-daunan yang sama-sama hijau royo.

Untungnya aku berkesempatan pergi ke Desa Kedundung Muda yang berada di tengah Taman Nasional Bukit Dua Belas dan harus rela tidur di tenda bersama Orang Rimba agar dapat belajar langsung sambil melihat cara hidup mereka yang sebenarnya.

hutan jambi

“Ini Pasak Bumi. Kami nyebutnyo semboditano namonyo,” kata Bateguh, salah satu Orang Rimba yang menemani kami.

Temanku yang pria langsung tersenyum simpul. Saya tahu dia pasti sedang berpikir untuk mengambil tanaman ini dan digunakan sebagai afrodisiak alias obat vitalitas pria.

“Ini biso buat obat batuk demam,” lanjut Bateguh.

“Caranyo, ambek akarnyo rebus. Aeknyo diminum tapi pahit nian..” suara Bateguh memelan seperti tercekat seakan baru saja ia menelan rebusan air tersebut.

Kulihat raut wajah temanku berubah. Sepertinya ia mengurungkan niatnya dan lebih baik membeli pasak Bumi kapsulan yang biasa tersedia dia warung jamu langganannya.

Setelah itu, pak Temenggung (kepala adat Desa Kedundung Muda) mengajak kami teknik dasar berburu hewa yakni membuat perangkap untuk kelinci, tupai dan lain sebagainya. Pembuatannya terlihat sederhana, hanya cukup menggunakan ranting dan tali saja. Sekilas tampak sangat mudah dan jari jemari pak Temenggung begitu cepat merangkainya menjadi sebuah jebakan maut. Tak lama, giliran istri Temenggung yang unjuk kebolehan dengan mengajak kami mencari makan yaitu dengan mengorek umbi-umbian, Aku bersorak kegirangan ketika si ibu berhasil mengorek umbi-umbi gemuk tersebut dari dalam tanah. Sungguh sejatinya Ibu Pertiwi telah mencukupkan segala apapun yang dibutuhkan manusia.

Keberlangsungan hidup serta kesehatan Orang Rimba memang bergantung pada ekosistem hutan dan alam yang lestari. Minimnya interaksi dengan dunia luar boleh jadi membuat mereka cenderung memiliki gaya hidup yang lebih sehat dan bersahabat dengan lingkungan. Bahkan di era pandemi seperti sekarang ini di mana physical distanding sangat digencarkan, rupanya Orang Rimba telah lebih dahulu mempraktekkanya. Jika dalam kelompoknya ada yang sakit, maka ia akan ditempatkan di tempat lain yang berjarak dari kelompoknya agar tidak menulari yang lain. Itupun juga harus berjauhan dengan aliran sungai. Maklum saja karena Orang Rimba mengandalkan aliran sungai sebagai satu-satunya sumber mata air mereka.

Namun jika kemalangan tak dapat dielakkan lagi dan Orang Rimba kehilangan keluarganya alias ada yang meninggal, maka mereka akan Melangun alias berpindah tempat tinggal. Awalnya saya kira ini karena gaya hidup Orang Rimba yang nomaden, tapi rupanya lebih ke untuk menghindari penyakit / anggapan kesialan jika ada keluarga meninggal. Dulunya Melangun ini bisa sampai bertahun-tahun loh. Mereka akan terus berjalan sambil menangisi nasib. Kalau sudah lelah, barulah mereka berhenti.

Meskipun kearifan lokal dan budaya yang dimiliki sudah cukup baik untuk mengatasi berbagai penyakit, namun adakalanya Orang Rimba masih membutuhkan pengobatan modern serta pengawasan dari medis untuk membantu menekan jumlah kematian. Di hari terakhir saya pulang dari Desa Kedundung Muda, kami bertemu dengan staf dari taman nasional yang rupanya punya jadwal khusus untuk memantau suku ini. Seminggu sekali misalnya ia masuk ke hutan dan memastikan Orang Rimba dalam kondisi baik-baik saja. Sayangnya memang kulihat jarak tempuh dari dalam hutan hingga ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas cukup jauh dan jika terjadi kondisi fatal, mobilitasnya pastilah akan sulit dan memakan waktu yang cukup lama.

Belajar dari KORINDO, saya jadi kepikir alangkah baiknya kalau ada semacam mobile clinic di mana staf ini bisa datang dan sekaligus membawa bekal atau peralatan medis disertai dengan tenaga kesehatan yang langsung dapat memberikan pertolongan pertama sementara waktu sebelum dirujuk jika keadaan memburuk. Bentukan mobile clinic ini cukup pakai sepeda motor saja karena untuk mengakses kampung ini, perlu 2 jaman berkendara roda dua via jalan setapak kecil. Ditambah jika musim hujan tiba, jalan semakin susah dilalui karena berlumpur dan licin.

Opsi kedua yang saya rasa efektik adalah mendirikan Klinik Asiki seperti yang telah diterapkan di Papua oleh KORINDO. Ini bisa jadi langkah awal yang baik, mengingat permasalahan masyarakat adat di Papua dan Jambi cenderung mirip yakni kematian pada ibu dan bayi.

anak rimba

Orang Rimba cenderung memiliki anak yang banyak pada usia muda. Bateguh, contohnya baru berusia 18 tahun, seumur dengan adikku. Namun ia begitu cepat dewasa karena telah menyandang status sebagai ayah dari seorang balita. Lain halnya dengan Sulam, anak gadis pak Temanggung (kepala adat) yang usianya lebih muda dari Bateguh dan telah menikah. Sulam belum seberuntung Bateguh karena anak pertamanya meninggal ketika proses melahirkan.

Selain itu, saya juga berjumpa dengan banyak anak-anak Orang Rimba. Mereka tumbuh menggemaskan dan lincah, namun tentu saja saya kurang paham apakah nutrisi dan gizi mereka tercukupi, apakah mereka mendapatkan vaksin dan sederet pertanyaan yang hinggap di benakku kala itu. Tiba-tiba saja saya merasa menyesal hanya sempat membawa permen untuk dibagikan kepada mereka. Anak-anak hingga orang dewasa Suku Anak Dalam ini sangat senang menerima buah tangan yang kuberikan, namun saya terpikir lebih baik lain kali membawa vitamin/suplemen dalam bentuk permen saja. Mereka bahagia, sehat pun dapat. Win-win solution kan buat kesehatan yang baik untuk sesama.

suku jambi

Di sisi lain, sudah sepatutnya mulai digerakkan program penyuluhan untuk penggunaan kontrasepsi dan juga program Keluarga Berencana. Memang tantangannya cukup berat karena terkait dengan faktor budaya namun kalau setiap mendengar berita kemalangan ibu atau anak tuh rasanya nyesss sekali. Apalagi Orang Rimba tentu lebih memilih berobat di dukun atau orang pintar atau memilih melahirkan sendiri dibantu keluarga sehingga ada kemungkinan jika terjadi komplikasi, maka akan sangat membahayakan nyawa.

Harapan ke depannya semoga pemerintah ataupun swasta dapat berkolaborasi untuk lebih gencar lagi dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat di pedalaman yang kurang beruntung mendapatkan akses kesehatan. Selebihnya, kita harus terus memastikan Orang Rimba dapat tinggal dengan damai di hutan yang lestari karena di sinilah tanah kelahiran mereka. Lingkungan yang terjaga, sungai yang tidak tercemar, monyet siamang yang terus mengoceh dan aneka flora fauna yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup pun tidak punah dan selalu tersedia ketika dibutuhkan.

Dari alam, oleh alam dan untuk alam.

Karena di rimba inilah jiwa-jiwa Orang Rimba merengkuh makna kehidupan yang sesunguhnya.

rumah suku anak dalam

Travel Now or NEVER

Leave a Reply