I Shape My World Untuk Wanita Indonesia

i shape my world

Bulan April ini aku sungguh berbahagia. Eh bukan hanya aku sih harusnya, tapi juga untuk seluruh wanita di Indonesia atau bahkan seluruh dunia deh. Soalnya di bulan ini kita merayakan Women’s Day, Hari Kartini, dll. Syukurnya banyak brand juga yang mendukung dan bikin acara bertemakan wanita, kesetaraan gender, body positivity dan lain-lain.

Salah satunya Levi’s Indonesia.

levis terbaru

Mereka punya campaign I Shape My World di seluruh dunia yang mengajak wanita-wanita inspiratif membagikan ceritanya ketika menggapai mimpi. Di Indonesia sendiri, ada 5 wanita yang ditunjuk oleh Levi’s Indonesia yaitu:

Alamanda Shantika : Programmer yang kini punya usaha sendiri untuk menghasilkan bibit programmer, Binar Academy.

Mouly Surya : Film Director. Karena sudah nonton salah satu film-nya, Marlina, aku kagum banget ama beliau nih.

Angkie Yudistia : Seorang disabilitas yang justru bisa menjadi jembatan penghubung antara pencari kerja dan para penyandang kebutuhan khusus. Kabarnya, bisnisnya yakni Thisable adalah salsah satu pemasok pekerja disabilitas untuk produk gojek misal GO-LIFE atau GO-Massage. Just WOW!

Yang dua lagi, aku beruntung bisa ketemu langsung sewaktu acara I Shape My World di Penang Bistro, 27 April kemarin di Jakarta. Hadir dengan pakai jaket Levi’s yang sudah didesain sesuai karakter mereka, aku sampai berkaca-kaca pas dengerin mereka cerita soal hidupnya.

Ada Soraya Cassandra (foto di bawah paling kiri) dari Rumah Kumara yang aktif menggerakkan sebuah kebun di tengah Cilandak. Banyak kata-kata dia yang bikin aku jadi mikir. Iyah yah masa kita cuma tau numbuhi toge dari kapas doang. Lainnya embuh, gak tahu sama sekali. Ini salah satunya yang aku pikir bikin kita kurang menghargai makanan karena kita gak tahu dari mana sumber makanan berasal, seberapa tenanga dan keringat yang harus dikeluarkan cuma untuk numbuhi 1 cabe doang. Jadi pinta dia gak muluk-muluk, coba kita-kita mulai dari sekarang numbuhin sedikit dulu. Mulai dari 1 pot aja dulu isi daun kemanggi kek, kaktus kek, apa kek biar terbiasa mulai dekat dengan alam.

Terus speaker kedua adalah Kartika Tjahja (foto bawah kedua dari kanan), seorang musisi yang fokus pada kesetaraan gender. Berhubung doi adalah penyintas (korban kekerasan seksual), dia juga cukup vokal di isu kekerasan seksual. Cerita doi bikin aku mewek karena bisa mengubah dirinya yang dari seorang korban jadi inspirasi bagi korban lainnya untuk bangkit dan menjalani hidup.

i shape my world indonesia

Mungkin aku beruntung belum pernah menjadi korban kekerasan seksual yang parah. Yang paling aku ingat sih pernah dilecehkan di angkot Jambi ketika berangkat sekolah. Seorang lelaki di sampingku meletakkan tangannya di bawah dan memegang pahaku. Ketika kejadian, aku gak tahu apa yang terjadi dan harus bagaimana. Kondisi saat itu juga sangat tidak menguntungkan karena angkot sepi, tidak ada kernet dan isinya di dalam cuma ada pria lain. So I decided to shut my mouth and keep calm eventough I was burning in hell.

Angkot terasa lambat sekali jalannya, baru setengah perjalanan. Sementara itu, meski sudah kugeser sedikit tubuhku, pria jahanam ini tetap memepet dan mengusap pahaku. Aku beranikan melihat wajahnya. Dia menatap balik dengan mata besar melotot seakan berkata “Jangan berani bilang siapa-siapa. Diam dan nikmati saja.”

Tak pernah ku tahu manusia bisa lebih menakutkan daripada iblis hingga hari itu. Aku tak berani melihatnya lagi dan kutundukkan kepalaku. Aku kepalkan tanganku kuat-kuat dan berteriak.

“Banggg… KIRIIIIII.”

Supir angkot kaget dan menginjak rem kuat-kuat. Untung tidak ada kendaraan di belakang kami dan jalan besar dan sepi sehingga aku bisa dengan aman loncat keluar dari angkot itu. Baru ketika angkot itu pergi meninggalkanku sendirian terdampar di tepi jalan, aku bisa bernapas dan menitikkan air mata. Hingga sekarang, aku masih trauma dan tidak pernah mau naik angkot lagi kecuali ada teman atau terpaksa.

Tentu saja hal ini tak pernah aku ceritakan ke keluarga atau bahkan teman. Padahal aku yakin banyak yang punya cerita yang sama. Bahkan ceceku pun pernah mengalami hal serupa dengan modus yang sama. Cuma saat itu karena tidak ada yang mulai bercerita, aku pikir aku terlalu lebay, mungkin itu salahku, mungkin pria itu tak sengaja dll sehingga kuputuskan memendamnya sendiri and IT’S NOT OKAY.

Hal-hal beginilah yang membuat masyarakat cenderung menyalahkan, mendiamkan korban dibanding menyalahkan, mengedukasi, meminta pertanggungjawaban ke pelaku. Makanya hingga sekarang masalah-masalah begini lebih banyak timbul lalu tergerus waktu tanpa ada tindak lanjut karena tidak ada hukum dan sistem yang cukup kuat untuk membuat efek jera kepada pelaku. Sedih ya?

Banget! Jadi sebagai sesama perempuan, at least yang bisa kita lakukan adalah ketika ada yang terkena nasib buruk begini adalah mendukungnya, mendengarnya, bertanya apa yang bisa dibantu dan bisa membuatnya lebih baik dan paling penting bukan memperkeruh suasana dengan “Makanya jangan pulang malem”, “Lu sih rok-nya pendek gitu”, “Make-up gak usah tebel-tebel lain kali” dan sebagainya.

Dan jika menemukan wanita yang ingin berkarya di bidang yang dominasinya laki-laki atau yang mungkin jarang dilakukan wanita seperti supir bus, insinyur, petani, politikus dll please support them. Kita butuh representasi wanita di mana pun mulai dari pemerintahan hingga ke semua lini pekerjaan agar semua tahu bahwa batas antar perempuan dan pria hanyalah garis semu yang tercipta dari kontruksi sosial dan orang-orang berpikiran sempit. Karena mereka mungkin sadar sepenuhnya bahwa :

Who runs the world? GIRLS!!

So, buat cewek-cewek mari bergandeng tangan dan rapatkan barisan. Ikuti kata hatimu, jadilah apapun yang kau inginkan, berkaryalah tanpa perlu takut. Suatu saat kau akan tersenyum pada orang-orang yang memandangmu sepele di kala itu.

GIRLS POWER!

i shape my world

Travel Now or NEVER
2 Responses

Leave a Reply