Freeport Dan Pendidikan Anak Papua

papua

Bobby Yomaki.

Ialah sahabat Papuaku yang pertama.

Sebelumnya aku sudah pernah berinteraksi dengan warga Papua, bahkan tinggal satu rumah ketika di Palu dalam rangka Jambore Nasional. Aku sempat memakai pakaian tradisional dan mengepang rambutku seperti mereka lalu ikut berjoget bersama hingga larut malam. Di momen itulah aku jatuh hati pada keramahan dan keterbukaan masyarakat Papua dalam menerima orang luar.

Aku bersumpah suatu saat harus membalas kebaikan mereka dengan menginjakkan kaki dan menghirup langsung udara dari sekepal tanah surga.

Mimpi itu benar-benar diayomi semesta. Tapi sebelum mimpi itu terwujud, aku terlebih dahulu mendapat beasiswa CCIP untuk belajar setahun di community college di Arizona, USA lewat AMINEF. Beasiswa ini juga banyak memberikan kesempatan kepada masyarakat Papua, khususnya yang bekerja di Freeport. Asal tahu saja, salah satu perusahaan tambang tembaga terbesar di Indonesia dan mungkin dunia ini cukup peduli dengan masa depan para pekerjanya. Tanpa memandang usia, mereka mengajak karyawannya untuk duduk kembali di bangku kuliah. Tentunya meski mereka sedang berkuliah, mereka tetap berstatus karyawan sehingga tidak ada satu hal pun yang perlu mereka risaukan ketika lolos seleksi sebagai penerima beasiswa.

Pengalaman menimba ilmu selama hampir setahun di negara orang tentu sangat membuka wawasan. Tidak hanya ilmu yang didapatkan di dalam ruang kelas, namun harus aku akui justru di luar ruangan lah paling banyak kutemukan inspirasi dan pelajaran hidup. Apalagi untuk temanku seperti Bobby, tuntutan untuk dapat beradaptasi cepat dengan orang-orang dari berbagai negara telah mengajarkannya melihat dunia tidak hanya dari satu cara pandang saja. Gaya hidup atau apapun yang ia lihat/pelajari selama di USA juga membentuknya menjadi pribadi yang kreatif dan mampu berinovasi. Diakuinya, hal-hal ini sangat menunjang pekerjaannya karena selain membuatnya lebih percaya diri, ia juga mampu menyelesaikan masalah dengan penanganan yang lebih baik.

freeport papua

Selama di USA, kami juga terbiasa melakukan community service yakni kegiatan relawan untuk membantu masyarakat atau komunitas yang membutuhkan bantuan. Aku rasa pengalaman ini sangat membekas di benak Bobby sehingga ia pun tergerak untuk membantu masyarakat Papua. Bersama dengan teman-temannya yang kebanyakan adalah alumni CCIP, mereka mendirikan LAMP – Look At Me Papua yang merupakan organisasi nirlaba yang memfokuskan diri dalam menolong anak-anak papua dari segi kesehatan, pendidikan hingga pembentukan karakter.

freeport

Novi Dimara, peraih beasiswa CCIP di tahun 2014-2015 juga turut serta dalam kegiatan LAMP. Seperti halnya Bobby, Novi mengakui bahwa pengalaman dan ilmu yang didapat di USA berdampak besar pada karirnya selama di Freeport. Mereka mengalami kenaikan jabatan hingga mendapatkan kepercayaan lebih untuk menjadi pembicara di banyak event.

Sungguh semua ini seperti efek bola salju yang bergulir. Kontribusi Freeport yang terbesar yang bisa aku rasakan langsung adalah ketika Freeport peduli dan mendorong karyawannya untuk mendapatkan pendidikan lebih lanjut. Dengan didukungnya program beasiswa ini, niscaya setiap putera puteri Papua yang mendapatkan kesempatan berharga ini sekembalinya ke Indonesia, akan menyebarkan virus kebaikan melalui berbagai aksi relawan dan kegiatan timbal balik untuk masyarakat.

Bayangkan jika Freeport bisa memberangkatkan lebih banyak lagi. Tentunya semakin banyak masyarakat yang akan terbantu.

Seperti yang pernah Soekarno ucapkan :

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Ujaran seperti itu tentu bukan tanpa sebab.

Investasi terbesar di dunia adalah pendidikan.

Freeport dan kontribusinya yang konsisten setiap tahun untuk pendidikan yang lebih baik akan terus mencetak generasi brilian dari Papua untuk dunia.

Dengan memberikan akses pendidikan yang baik, maka Freeport secara langsung meningkatkan taraf hidup masyarakat dan berusaha menyiapkan para masyarakat Papua dalam menghadapi era globalisasi yang sudah di depan mata. Hanya dengan buku dan pensil serta akses yang memadailah, pemuda pemudi harapan bangsa seperti Bobby dan Novi ini siap menjadi pemimpin Indonesia.

freeport in papua

Travel Now or NEVER

Leave a Reply