Von Willebrand dan Haid Tak Berkesudahan

Setiap wanita pasti mengalami fase menstruasi. Ada yang datangnya cepet, ada yang lambat. Ada yang datangnya sedikit, ada yang banjir. Ada yang pas haid, sakitnya kayak ngerasain neraka tingkat satu, tapi ada juga yang bahkan lupa lagi haid.

Aku datang haid termasuk yang paling lambat. Di kala temen-temen rata-rata udah mengenal softex (yes, apapun pembalut yang dipakainya, kami nyebutnya dengan merk jadul ini!), aku masih main kelereng sambil jongkok ngangkang di halaman kantor camat belakang rumah.

Sewaktu ceceku datang haid pertama kalinya, si mama cuma ngajarin cara pasang pembalut di kolor tanpa memberikan info tambahan. Jadi pas giliranku datang haid juga, which is sampai belepotan darahnya karena aku gak sadar datang, maka tanpa ba bi bu dan dirayain lagi, aku langsung aja pasang softex sendiri.

Resmi berstatus remaja, sebenarnya tak ada yang berubah dari diriku. Cuma apesnya aku termasuk yang haidnya cukup banyak. Dibanding ceceku yang datang hadinya cuma beberapa hari dan beberapa tetes, aku dapetnya buanyak dan mesti seminggu pas. Seringkali pembalut malangku tak kuasa menahan laju darah yang ada, sehingga timbullah penampakan darah di celana alias tembus di mana-mana, yah di sekolah, di angkot dan sebagainya. Pokoknya kayak kucing gitu dah, harus ninggalin jejak.

Sempat kepikir juga sih. Ini apa aku yang ceroboh banget , lasak (gak bisa diam), atau simply males ganti pembalut yah hingga bisa kepenuhan gitu. Makin dewasa, masih banyak sih cuma udah lebih bisa diakali buat jaga-jaga biar gak tembus di muka umum. Kan malu dan risih juga yah kan. Jadi biasanya sebelum ke mana-mana, aku ganti dulu lalu selalu pakai yang minimal 30 cm buat daily basis. Apalagi pas hari ke 2-4 yang mana lagi deras-derasnya nih haid, maka aku harus selalu waspada.

Hingga suatu saat…

Pas kuliah di Batam, aku lagi Kerja Praktek dan mau skripsi gitu deh. Masa-masa hectic banget yah buat anak kuliahan. Tiba-tiba aku ngerasa darah haid yang tak berhenti-henti hingga sebulan. Kalau dikit yah mending, ini banyak banget. Gonta-ganti pembalut bisa sejam sekali. Awalnya dibiarin aja karena aku bingung dan malu mau diskusi ama siapa. Tapi karena gitu terus, aku gak tahan juga. Yah siapa sih yang gak shock kebangun tengah malam mendapati setengah ranjang belepotan darah segar? ini beneran lebih horror dari film horror yang pake cat merah buat darah loh yah.

Itu salah satu turning point-ku sih buat ngeberaniin diri ke ke dokter kandungan di Rumah Sakit. Pergi Sendiri. Saat itu tiba-tiba aku bisa ngerasaiin perasaan orang yang semisalnya hamil di luar nikah, dan tak ada suami atau keluarga yang mau nemenin. Hiks pedih banget!

Ahirnya di dokter kandungan itulah aku cerita masalahku. Lalu di USG lah untuk pertama kalinya. Rasanya geli-geli-dingin gitu ketika alat USG muter-muter di perut. Hasil saat itu adalah tidak ada keanehan di rahim. Oleh dokter, divonis hormon aja yang lagi gak bener. Jadinya aku cuma dikasih obat hormon dan antobiotik gitu. Pas minum, lebih lumayan sih, meski gak berhenti total. Ada kali beberapa bulan masih kondisi haid mulu. Lama-lama dibiarin, barulah akhirnya haidku normal kembali.

Tapi, beberapa bulan berikutnya muncul kembali, dan datangnya juga tiba-tiba gitu, gak bisa diprediksi, padahal bukan saatnya haid. Tiba-tiba aja keluar haid dalam jumlah banyak dan bentuknya itu gak cairan saja namun selalu dalam gumpalan segede hati ayam gitu. Kenyal, kental dan merah pekat. Otomatis kalau sudah begini, aku hampir tidak bisa beraktivitas karena bolak-balik ke wc. Pegel juga euy. Karena kekurangan darah banyak gitu, aku biasanya terserang anemia. Untungnya sih (dasar orang Indonesia, senaas apa pun kejadian tetap bisa bersyukur), aku kalau haid, meski sebanyak ini, gak mengalami rasa sakit apa pun. Paling banter kalau lagi parah, perut agak mules, kram, gak enak aja. PMS pun ada tapi enggak signifikan. Fiuh~~

Nah so far, beberapa kali kejadian kayak gini, aku masih gak terlalu mau terbuka sih. Curhat ke keluarga atau sahabat juga tidak menolong karena kebanyakan tidak pernah mengalami yang kayak gini. Jadi kubiarkan saja begitu tanpa bener-bener diobati. Kadang dalam satu tahun ada muncul begini, namun tahun berikutnya tidak sama sekali. Sebenarnya dalam hati khawatir dan sempat stress juga dengan kondisi begini, namun masih aku diemin aja.

Pas tahun 2017 kemarin,

Awal tahun menjadi dejavu akan kejadian serupa yang dulu-dulu. Sebulan, dua bulan, dibiarin aja, tapi tak kunjung keliatan dia mau udahan. Padahal rutinitas aku keluar-keluar dan traveling kan gak mungkin di-stop karena alesan “Lagi dapet mas!”. Mungkin karena sudah sampai pada puncak keputusasaan dan jengah dengan kejadian begini mulu, akhirnya kuputuskan untuk mencari tahu sebab akibat yang pastinya. Biar tahu juga kan bagaimana menyembuhkannya secara permanen.

Niat untuk menuntaskan masalah ini pun aku mulai dengan tahapan pertama yakni konsultasi ke RS Tarakan yang dulu pernah menjadi tempatku nelangsa ketika opname dulu. EH tapi hasilnya memuaskan hahaha. Yang udah berhubung kosanku dulu deket sana jadi aku ke Tarakan lagi deh. Sayangnya berganti-ganti dokter, aku malah gak puas dengan cara kerja dan penjelsan mereka. Yang paling sebel yah, aku datang ke sana buat mendengar penjelasan atau info dari kacamata medis eh malahan seringnya diledekin dokternya, katanya emang sudah usiaku untuk menikah. Huft! Jelasin kek maksudnya dengan nikah apakah aku lebih bahagia jadi haidnya teratur? Jelasin kek apakah kalau aku berhubungan seks rutin jadinya gak keluar darah banyak lagi? yang ada ini malah senyum-senyum aja. Sumpal pake pembalut juga nih dok!

Dari beberapa kali tes yang memakan biaya di atas setengah juta tersebut, hasil tesnya selalu beragam. Ada yang bilang kemungkinan ada polip, endometriosis dll lah. Emang sih semua baru bisa meraba-raba karena aku cuma di USG di perut. Tidak bisa dilakukan check melalui vagina karena belum menikah. Dokternya takut aku minta pertanggung jawaban yah? #eh

Akhirnya setelah hampir menyerah, aku ketemu juga sama satu dokter yakni Dr.Harianto di Tarakan ini. Orangnya kalem, mau dengerin dan cara jelasinnya lebih enak. Pas tahu dia buka praktik deket kos, aku mending jadi pasien di kliniknya aja daripada ngantrinya seabad di Tarakan.

Dengan dokter Harianto inilah awal-awal aku dikasih obat penghenti darah dan pil hormon untuk mengatur haid. Haid jadi lebih teratur tapi kadang-kadang masih suka datang lagi. Padahal udah minum penghenti darah loh. Kalau enggak jebol dah pembalut tiap hari. Biar lebih valid, bersama si dokter inilah akhirnya aku ngerasain tes USG lewat dubur. Jadi sebisa mungkin ku udah harus poop dulu sebelum konsultasi. Duh rasanya gak enak banget ketika alat segede pisang itu masuk, meski sudah dikasih pelumas. Ku selalu berasanya disodomi, persis dulu pas kolonoskopi.

Beberapa bulan dijalani, masih tidak ada perkembangan signifikan. Jadi aku ambil tes hormon, dan surprisingly ternyata hormon ku normal loh. What? jadi apa dong penyebabnya? Setelah setengah tahun lebih, masih haid-haid mulu doang, akhirnya dokter pun sudah mulai bingung juga. Hingga akhirnya suatu saat dia bertanya apakah saya sering mimisan, atau cabut gigi suka pendarahan, lalu apakah keluarga punya riwayat seperti itu.

Aku langsung ngeh aku kadang mimisan sih, tapi kalau di cuaca dingin atau pas pilek. Lalu memoriku tentang pendarahan yang paling berbekas adalah ketika pas kecil dulu cabut gigi depan yang berakhir dengan pendarahan darah beku gede di mulut. Meski tidak ada keluargaku yang punya kelainan seperti aku, tapi aku langsung mengangguk angguk ketika dokter Harianto menanyakannya.

Untuk membuktikan dugaan ini, aku diminta mengambil tes darah Von Willebrand. Beuh nama tes darahnya keren banget dah, kebule-bulean gitu. Di Bio Medika ternyata gak ada, lalu aku jadinya ambil di Prodia. Karena harus tes lengkap darah, beberapa tes ternyata tak ada di Prodia, harus dioper ke RS lain di Jakarta. Dan yang paling susah tentu saja tes Von Willebrand ini. Aku baru ngeh ini tes langka rupanya. Karena tidak ada di Indonesia, maka tes akan dilakukan di luar negeri. Awalnya mereka bilang di Australia, namun ternyata jadinya di Singapura. Untungnya, aku gak perlu harus ke mana-mana. Cukup diambil darah di Prodia tar mereka yang kirim sampel darah. Dan ini ambil darah terbanyak yang pernah aku rasain. Lebih dari 5 botol penuh. Biayanya juga bikin shock abis. Total biaya sama dengan uang kosku sekarang empat kali lipat. Namun, demi mencari jawaban atas keresahanku, dengan berat hati kegesek juga deh debit BCA ini. Huhuh~~

Selama itu pula aku jadi penasaran ama ini Von Willebrand. Artikel di google menyebutkan ini adalah kelainan darah di mana darah susah membeku karena kekurangan faktor Von Willebrand. Harusnya faktor Von Willebrand bertujuan untuk mengikat faktor VIII dalam darah biar tidak terjadi pendarahan terus menerus. Yah simpelnya sih kurang lebih gitu deh. Beberapa ciri penyakit ini hampir semua ada di aku sih. Tapi di artikelnya dibilangnya kelainan ini genetik, meski aku lihat di keluarga besarku cuma aku yang punya pengalaman gini. Entahlah~~

Ketika si Prodia mengabarkan hasil udah bisa diambil, duh aku deg-degan banget. Hasil laporannya segera kubuka pelan-pelan. Berlembar-lembar report penuh angka coba kutelaah sendiri. Pas bagian Von Willebrand, hasilku cuma 7% padahal untuk golongan darah O normalnya antara 54-148%. Jongkok banget kan yah nilainya.

Terus ada juga hasil faktor VIII dari RSCM nilainya cuma 9.9 % padahal batas normal itu 40-170 %. Liat dari sini aja sudah positif deh aku punya kelainan ini.

Von willebrand

Pas bacanya, aku berurai air mata. Antara senang, akhirnya tau penyebab kenapa haidku gak bisa stop, sama sedih karena ternyata benar aku mengidap penyakit langka.

Hasil laporan kukasih ke dokter Harianto, yang lalu dia konfirm bahwa ini bisa jadi alasan utama.

“Dok, sampai kapan aku bakal begini terus?” tanyaku murung.

“Kayaknya seumur hidup akan seperti ini.” jawabnya polos tanpa tedeng aling-aling.

Meski sudah tahu kelainan ini tidak bisa diobati alias belum ada obatnya, tapi mendengarnya langsung dari dokter begitu bikin down sih. Aku berusaha sabar dan tegar. Yang bisa aku lakukan sekarang cuma mencegah. Kata dokter nantinya kalau ada operasi atau melahirkan, harus diberi tahu biar pada jaga-jaga persiapan kantong darah yang banyak. Just in case…

Tapi syukurnya sejak kejadian itu, haidku lebih ringan aja. Padahal obatnya sama. Mungkin sugesti tubuh aja yang tiba-tiba lega sudah tahu jawaban dari penyakit. Selain itu, di awal tahun ini kan aku sudah jadi freelancer. Berasa loh aku tuh lebih bahagia, lebih hidup sehat, sempat olahraga dan beraktivitas, yang mungkin jadinya bikin haidku lebih normal.

Terhitung sejak Februari ku sudah lepas gak minum obat hormon lagi. Tapi ketika haid, itulah masa-mas paling deg-degan. Masih ada minum penghenti darah ketika ku rasa ku tak sanggup kehilangan segitu banyak darah lagi. Tapi syukurnya dosisnya sudah sangat sedikit dibanding tahun lalu. Frekuensi darah juga telah berkurang. Semogalah yah aku gak perlu lagi harus ke dokter kandungan buat ngecek-ngecek.

Meski ada penyakit kayak gini, so far, aku masih hidup normal sih. Sempat disaranin coba konsul ke dokter Hermatologi buat tanya-tanya tentang kelainan darahku ini. Tapi kayak masih trauma dengan harga tes darahnya wkwkwk terus so far aku rasa keluhanku cuma ketika aku haid aja sih jadi belum kuniatin ke sana.

Yah mudah-mudahan sih gak usahlah yah. Doakan temen-temen.

**

Awalnya berat dan mikir-mikir sih pas mau share beginian. Tapi setelah menimbang-nimbang akhirnya aku post karena kali aja ada netizen yang punya kelainan seperti ini juga. Soalnya aku berusaha cari di google belum ada nemu yang menceritakannya di blog. Kalaupun nemu kasus sepertiku , malah yang bikin resah karena biasanya tingkatannya udah gawat banget dan sampai merengut nyawa Hiii!!

Jadi kalau kalian ada yang punya pengalaman sama atau ada kenalannya, monggo kasih tau aku yah.

Punya penyakit ini annoying sih, tapi kalau punya temen berbagi pasti akan lebih ikhlas menjalaninya.

Semoga kita selalu sehat-sehat semua yak 🙂

Comments(4)

  1. May 31, 2018
    • May 31, 2018
  2. June 3, 2018
    • June 3, 2018

Leave a Comment