Pros & Cons tinggal di Hostel

Salah satu dana lebih yang harus disiapkan dalam perjalanan ialah tempat tinggal. Kalau di daerah tujuan ada yang bisa dan mau ditebengin, tentu nggak repot. Nah kalau nggak ada? Ya wes harus cari hotel atau hostel.

Kalau hotel sudah pasti lebih nyaman tapi harganya tidak bersahabat di kantong apalagi kalau udah hotel di luar negeri. Untung saja, di luar negeri ada juga tipikal hostel yang lebih murah dan lebih diminati kaum muda serta para backpacker yakni hostel.




Pertama kalinya saya tinggal di hostel ialah di Singapura. Saking lamanya saya lupa nama hostelnya. Kemudian saya juga pernah tinggal di hostel sewaktu di Brisbane dan Noosa, Australia dalam rangka pertukaran pemuda. Dua duanya saya tinggal di YHA(Youth Hostel Association) yang memang sudah pionir dibidangnya ini. Kali kedua atas pertimbangan sendiri, saya memilih nginap di hostel di San Fransisco (YHA lagi) dan New York City (Jazz Hostel).

YHA Hostel

Berbekal pengalaman inilah saya merasa cukup sudah mengenal tipe akomodasi yang biasanya saya pilih karena kepepet dana. Tapi jika kalian mau mencoba nginep di hostel, perhatikan dulu yah untung ruginya sebelum membooking kamar di hostel :

Cons :
1. Anda Introvert?Pemalu?Sedang tak ingin diganggu? Jangan tinggal di hostel kalau gitu.
Hostel adalah akomodasi yang menawarkan fasilitas seperti hotel namun hakikatnya saling berbagi dan toleransi. Yah walaupun demikian, tentu pada prakteknya ada yang melenceng. Anda yakin mau berbagi satu ruangan dengan orang yang baru pertama kali dijumpai? Sewaktu saya tinggal di Jazz Hostel di New York, saya tiba dini hari ketika teman sekamar sudah ngorok. Rasanya bersalah banget karena saya masih harus berbenah diri dan terpaksa menimbulkan suara yang bikin dia bolak balik di ranjang. Esok paginya saya masih tidur karena kecapaian, dia udah bangun dan siap siap mau ngejar pesawat untuk balik ke negaranya. Kali ini saya yang kena karma karena terpaksa juga harus kebangun, berkenalan dan basa basi sedikit hingga melepas kepergian “teman” sekamar. Esok harinya balik ke hostel, di dalam kamar saya kaget karena sudah ada orang baru lagi. Kenalan lagi, basa basi lagi dan begitu seterusnya hingga mau check out.

2. Tidak bisa bebas dalam kamar.
Saya ingat sampai harus menahan kentut dalam kamar karena takut kecium sama teman sekamar. Pilihan berikutnya yah harus keluar kamar baru melepas angin. Kalau anda tipe yang suka geli / jijikan berbagi udara, space, jangan tinggal di hostel. Meskipun ranjang kita pisah, kebanyakan metode ranjang yang digunakan di hostel itu yah yang bertingkat. Mau saya di bawah atau di atas yah sama aja. Apapun yang kamu lakukan, pasti bikin ranjang yang di bawah/atas ikut bergoyang. Tapi paling nggak saya lebih milih di atas biar muka saya pas ngorok tidak kelihatan hihihi Selama di kamar pun, saya tidak membuka musik dan HP selalu dalam keadaan silent agar si teman tidak terganggu.

3. Masalahmu, masalahku juga.
Kembali ke cerita no 1 di mana “teman sekamar” saya sedang dalam keadaan terburu buru di pagi buta untuk ngejar pesawat, rupanya dia curhat bahwa pintu kamar kami ini “moody”. Kadang bisa dibuka kadang nggak. Sialnya lebih banyak jatuhnya ke enggak. Jadinya ketika dia harus ke WC dan ternyata tak bisa membuka pintu, maka saya harus rela turun dari ranjang dan membukakannya. Begitu juga ketika dia membawa 2 bagasi besar sementara kamar berada di lantai 4. Sungguh saya nggak tega liat dia gerek gerek koper sendiri. Terpaksa lah saya berbaik hati membantu menggotong kopernya. Lesson learned yah kawan : kalau nginep hostel bawaan jangan banyak banget biar gak nyusahin diri dan orang lain.

4. WC bersama
Berhubung saya bisa tidur dimana saja, tapi belum tentu bisa buang air dimana saja, maka ini menjadi salah satu kendala ketika nginep di hostel karena wc-nya bakal terpisah dari kamar dan dipakai beramai-ramai. Kalau sudah begini, penyakit malu ke toilet saya makin parah. Kalaupun terpaksa, biasanya saya akan cari-cari waktu yang orang jarang ke WC untuk “nyetor”. Ditambah itupun saya sambil berharap WC-nya tidak dalam keadaan yang memprihatinkan. Eww!

5. Makan pagi
Tidak usah banyak maunya deh kalau di hostel. Palingan yang dikasih cuma sereal, roti sama kopi & teh. Itupun harus bikin sendiri dan setelah itu jangan lupa cuci piringnya yah.

6. Lebih berisik
Tentu saja, dengan intensitas banyaknya orang dalam ruangan yang terkonsentrasi, pastinya menimbulkan suara suara yang bisa kedengaran hingga ke beberapa kamar. Kemarin-kemarin sewaktu di Australia dan USA, saya tidak menemukan keributan berarti. Orang ngobrol-ngobrol masih wajar tidak sampai mengusik tidurku. Nah pas nginep di hostel Singapura, dua malam pertama saya sebel karena tetangga sebelah ngobrol seru banget pake bahasa mandari hingga tengah malem. Keki banget karena udah capek tapi gak bisa tidur. Saya sempat gedor-gedor dinding pembatas kamar tapi sepertinya mereka tidak menangkap maksud yang ingin saya katakan. Zzzz!

Tapi ini tentu tidak seberapa dibanding pengalaman teman saya yang pernah mendengar langsung adegan panas kamar sebelah atau malahan teman sekamar bawa tamu lalu asik sendiri. Huh! Kalau mau gitu please sewa kamar sendiri. Ntar bikin yang lain mupeng kan?? #Eh

Selain bisik-bisik di kamar, area umum dan sekitarnya juga pasti ramai. Saya selalu ingat dulu ketika di Australia, saya dan rombongan Indonesia jika lagi masak, wuih berasa yang punya hostel karena isinya kami kami semua. Ada yang masak air, nanak nasi, rebus ind*mie, oles roti, bikin teh. Duh pokoknya peralatan masak sudah kami kuasai semua hingga bule bule yang ngeliat kami pun udah males mau nimbrung. Maaf yah.

7. Bawa keperluan sendiri
Sorry yah ini hostel. No towel, no housekeeping, no free ting, nothing!

8. Hati hati barang bawaan
Usahakan mencari hostel dengan melihat 1) brandnya 2) review customernya untuk melihat apakah mereka puas dan merasa nyaman. Biasanya hostel yang baik menyediakan satu lemari kecil semacam loker yang bisa di kunci. Nah disitulah kamu meletakkan barang berharga. Waspada bukan saja harus diterapkan dalam kamar, tetapi juga di dapur. Biasanya makanan yang kita titip bisa saja tak sengaja / sengaja terambil orang. Mau menuduh apa buktinya? wong udah diperut. Ya ikhlasin aja.

Pros:
1. Terjangkau
Jika uang berbicara, maka seringkali dialah pemenangnya. Tidak peduli daftar cons yang saya jabarkan semakin panjang, jika duit emang adanya segitu gimana dong? Biarin aja harus tahan tahan bau kaki seseorang daripada tidur di emperan. Biasanya Hostel bisa lebih murah 50% dari hotel kelas melati manapun. Tapi beberapa hostel branded yang terkenal tidak selalu murah juga loh. Jadi jangan lupa tetep research dulu sambil membandingkan harga serta fasilitas yang ditawarkan.

2. Strategis
Salahs satu keunggulan hostel adalah dia nyempil di pusat kota atau daerah tujuan wisata sehingga tinggal turun tangga, keluar bangunan, jalan kaki dikit samapi deh.

3. Simpel
Mungkin karena gedungnya rata rata berukuran kecil, proses check-in jadi berasa cepat. Mana lokasinya biasanya strategis dan berada di pusat kota, hidup rasanya jadi lebih simple euy.

4. Great way to meet people
Bagi yang suka aji mupung pengen nyari travel-mate atau jodoh silahkan berbaur di Hostel. Biasanya hostel punya acara tur2 gratis / berbayar yang bisa dijadikan ajang ketemu sesama penghuni hostel juga. Kalau nggak tinggal turun aja ke lobby atau kepoin resepsionis, atau bisa main tenis meja sambil nongkrong di restorannya malam malam. Yang saya suka biasanya di hostel juga nyediaiin buku bacaan yang dikasih sama penghuni hostel sebelumnya. Jadi berasa punya perpus mini gitu. Ohya sering-sering deh baca semacam pengumuman yang terpampang di hostel, karena biasanya di sana ada penawaran khusus / diskon atau bahkan saya pernah lait lowongan kerja part time bantuin hostel tar dapet kamar gratis. Lumayan banget tuh!

Di lain kesempatan, sewaktu tim Indonesia saya lagi nginep di Noosa – Australia, kami sempat “manggung” di YHA hostel. Tiba tiba saja ada keinginan buat latihan dan sekalian aja undang orang orang buat liat. Hasilnya mereka antusias dan terpesona banget. Viva Indonesia!

hostel singapura

Nah, nah jadi pilih yang mana dong?

Kalau saya pribadi sih tentu jika uang tidak jadi masalah saya tetap akan memilih menginap di hotel. Namun tetap ada pengecualian mengapa nginap di hostel seperti berikut ini :
a. Bepergian seorang diri terus tidak berani tidur di kamar hotel sendiri heheh
b. Lagi ngirit
c. Lokasi hostel dekat dengan tujuan
d. Diajakin temen (kalau rame dan bisa bareng dalam satu kamar malah asik yah, bisa nggak tidur ngobrol terus!)
f. Gratis!

Meski begitu, untuk hostel, saya rekomendasikan menginapnya dengan sesama jenis paling banyak 4 orang sekamar untuk kualitas tidur yang terjaga. Jangan lama-lama juga. 3 malem okaylah habis tuh cari satu malem lagi buat hotel biar bisa me time dan gak diganggu orang. Setuju?

Comments(6)

  1. December 3, 2014
  2. December 3, 2014
  3. July 5, 2017
    • July 6, 2017

Leave a Comment