Misteri Laut Mati dan Karang Otak di Tureloto

Bencana membawa hikmah. 

Mungkin itulah yang pantas disematkan pada Tureloto. Nias sempat diguncang gempa 8,7 SR pada 25 Maret 2005. Gempa dahsyat itu memang meluluhlantankan seisi pulau, tak terkecuali daerah Nias Utara. Gempa juga mengakibatkan formasi alam yang baru untuk sebagian tempat di Nias. Seperti contohnya area timur Nias dikabarkan ada yang amblas, sementara daerah Tureloto di Nias utara yang semulanya adalah laut malah naik beberapa meter ke permukaan. Inilah yang bikin Tureloto mendadak terkenal karena ekosistem yang dulunya berada di bawah laut, kini tiba-tiba muncul ke daratan. Salah satu yang paling kentara keunikannya adalah bongkahan karang-karang bawah laut yang sebagian mirip dengan bentuk otak.

Tureloto Nias

Seorang bapak yang kutemui sedang membuat tempat duduk di pinggir Tureloto, bercerita bahwa pada mulanya sebelum kemunculan “obyek wisata” ini, ia adalah seorang nelayan. Perairan sekitar sangat bagus dan ikan-ikan tumbuh subur dan mudah ditangkap. Ia pun hidup tak jauh dari perkampungan sekitar yang jaraknya ratusan meter dari tempat sekarang. Setelah musibah datang, ia pensiun menjadi nelayan dan beralih menjadi menjadi wiraswasta dengan membuka warung. Aku yakin masyarakat sekitar lainnya pun punya gagasan yang sama. Kemunculan Tureloto membuat penduduk sekitar kini bisa menjual makanan, menyewakan WC dan tempat bilas, atau menyewakan perahunya yang dulu untuk mengangkut hasil laut menjadi perahu wisata yang mengangkut wisatawan berkeliling.

Tureloto di Nias

Dari tempat bapak itu, aku termenung membayangkan bahwasanya sebelum 2005, tempatku berpijak ini adalah lautan dengan kedalaman kurang lebih dua meter. Di depanku sebuah karang masih berdiri kokoh dan kini disemen untuk menjadi pijakan anak tangga untuk turun. Namun masih jelas terlihat tekstur karang itu yang dulunya pasti merupakan tempat favorit ikan-ikan untuk berkumpul. Ketika kulihat lebih dekat lagi, aku menemukan seekor ikan yang tampaknya sudah mati, terbaring lemas di karang itu.

“Pak..pak ada ikan mati.” jeritku layaknya orang kampung daratan yang tak pernah melihat ikan.

Bapak itu hanya menoleh dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Pak… ada ikan mati.. ambil pak mana tau bisa dimakan..” jeritku lagi lebih ngawur. Mungkin efek kepanasan.

Bapak itu lagi-lagi tak merespons tingkah turis norak sepertiku. Mungkin dia sudah bosan liat ikan-ikan. Mungkin dia juga jengah melihat kelakuan turis.

“Aduh..aduhh kakiku dicipok ikan biru itu…” tiba-tiba seorang ibu dari Medan memecah keheningan.

Si ibu berkerudung itu tampak kaget ketika seekor ikan menghampiri kakinya yang ia celupkan di air, sementara tubuh bagian atasnya duduk di atas karang otak.

Sang suami yang mengambilkan fotonya cuma terkekeh-kekeh. Yup, sekarang aku bisa melihat gambaran kenorakanku ketika dari pola tingkah emak-emak Medan itu.

“Gak apa-apa bu, anggap aja relaksasi..” aku pun ikut nimbrung sembari membayangkan terapi atau pijat kaki ikan yang dulu sempat viral dan disukai.

Aku pun lanjut berjalan lagi di dalam air setinggi betis itu dan mulai mengeksplorasi sisi kanan, di mana lebih banyak lagi karang beraneka rupa.Sesekali aku masih menjumpai berbagai jenis ikan. Mungkin mereka lupa kalau kini mereka sudah tak berada di laut dalam. Karang yang menjadi domisilinya dulu itu, kini sudah terekspos matahari terik. Yet, they still come back to their home…

Ada juga kulihat gerombolan ikan kecil yang cukup banyak meliuk-liukkan badan mereka di antara sela-sela karang. Aku bahagia sekali bisa melihat semua itu langsung tanpa tanpa harus membasahi tubuhku, tanpa harus pake kacamata snorkel dan tak harus repot bernapas melalui alat selam.

Selain keunikan karena karang otak ini, Tureloto sempat viral karena diklaim sebagai laut mati-nya Indonesia di mana orang yang gak bisa berenang pun bisa ngambang dengan mudah karena kadar garamnya yang tinggi. Nah di sini aku dan temenku melakukan ujicoba dan dapat dipastikan itu cuma hoax. Berikut hipotesa kami :

  1. Temenku si Peter, aslinya gak bisa ngambang. Kami suruh ngambang, toh gagal total wkwkw sedangkan aku dan temenku yang lain, mbak Maya emang bisa ngambang meski di laut beneran. Di sini, yah apalagi makin bisa. Penjelasan yang kami tangkap adalah, area Tureloto ini hingga 300 meter ke depan, terbentengi oleh karang-karang, sehingga ombak yang datang dari lautan, akan terpecah sehingga di sini relatif tak berombak alias airnya tenang. Itu kali yang bikin ngambang jadi lebih mudah dan santai.
  2. Aku kan pake bulu mata palsu. Nah lem bulu mataku ini sensitif banget. Kena air mata aja mataku langsung pedih. Sebelumnya aku udah snorkeling di Pulau Asu, dan itu begitu kena air di pantainya aja langsung terasa kebakar dan aku harus cepet-cepet cuci mata / bilas dengan air tawar. Pas di Tureloto, aku gak sengaja menceburkan kepala pas berenang. Aku panik dong pengen segera keluar dari air karena takut mataku pedih. Tunggu ditunggu, ternyata gak pedih tuh dan aku gak perlu bilas. Jadi harusnya kadar garamnya justru lebih rendah dari air laut pada umumnya.

Pantai Tureloto Nias

Puas renang-renang manja di sekitar pantai itu, aku dan 2 temenku nyewa perahu kecil untuk hinggap ke deretan karang yang ada di seberang, yang mengelilingi tempat ini hingga terciptalah sebuah teluk adem berwarna biru pirus ini. Harga sewa perahunya Rp.100.000 untuk satu jam. Ohya jangan lupa pesen ikan bakar dulu yah buat makannya karena setelah berenang/snorkeling di sana tar pas balik tinggal makan. Karena cuma itu makanan yang dijual di sini selain makanan instan. Gak perlu takut ikannya keburu dingin karena dibakarnya lama bisa setengah jam lebih.

Ini aku menghimbau karena belajar dari pengalaman. Posisi saat itu kami udah jam 12 siang. Mau makan nanggung karena kapal perahunya sudah tiba, sehingga kami pikir entar aja pas balik. Eeh pas balik malah kelaperan jadi terpaksa makan pop mie doang hiks. Gak ada pulu warung / tempat makan di sekitar ini. Mungkin karena aku datangnya hari senin sih jadi emang yang jualan cuma satu orang aja.

Okay balik lagi ke perahu…

Setelah 20 menit naik perahu yang tenang, jarang banget ada ombaknya, aku tiba juga di gugusan karang-karang. Di sini karangnya lebih banyak daripada di dermaga pantai tadi. Pas jalan di arinya juga banyak banget batu kecil, kerikil, serta patahan kerang yang bikin kaki agak nyeri-nyeri sedap pas jalan. Mana karangnya lebih dempet lagi jadi ekstra hati-hati karen gak mau luka kena karang kayak pas snorkeling di Pulau Asu – Nias Barat.

Pantai Tureloto

Sebenarnya di sini ada secuil pasir timbul. Nah setelah dari pasir timbul itu, akan langsung menghadap ke samudera. Kabarnya di sana tempat snorkeling yang bagus. Tapi aku gak sempat ke situ karena keburu asik foto-foto di antara karang ini. Apalagi cuma dijatah sejam aja… kurang banget atuh bang!

Tureloto

Semua keindahan ini patut aku syukuri karena tidak ada tiket masuk dan bahkan tidak ada bayar parkir guys. Jadi bener-bener masih “perawan”. Tapi kalau akhir pekan sih katanya ramai. Ohya bagi penyuka matahari terbit, wajib banget hunting ke sini. Aku ada liat fotonya. Jadi matahari itu akan muncul di atas karang-karang ini. Eksotis banget! Awalnya sempat mau ke sini tapi dari Gunungsitoli harus jam 4 berangkat karena perjalanan 2jaman gitu. Berhubung pas di Nias hujan mulu, aku gak berani gambling. Takutnya udah jauh-jauh gak dapet pula. Jadi biar deh disisain momen sunrisenya jikalau ada nasib kembali bersua lagi di Tureloto.

**

Jangan lupa simak video Tureloto dan cerita perjalananku yang lain di sini yah

About the author

Travel Now or NEVER
2 Responses

Leave a Reply