Tebing Koja alias Kandang Godzilla Serta Spot-Spot Kecenya

Kandang Godzilla? Di Tangerang?
Begitulah pertama kali ku berpikir ketika melihat salah satu foto di IG. Iya sekarang referensi wisataku mau tak mau datangnya dari media sosial yang satu ini. Jika dirasa fotonya ciamik dan unik, maka pasti diniatkan entar ke situ. Tentunya setelah googling lagi buat pastiin. Kan banyak soalnya foto tjakep yang ternyata sedikit menipu.

Dari info yang didapat, kalau mau ke sini dari Jakarta cukup naik KRL tujuan Stasiun Tigaraksa tujuan akhir Maja lalu lanjut angkot / ojek. Tapi aku ini yah meski sudah masuk tahun ke tiga tinggal di Jakarta, tapi paling jauh naik KRL cuma sampai Serpong. Itu pun kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, gak bakal juga ke sana.

Jadi bagiku ke Tebing Koja doang udah jauh loh. Biar seru, kuajaklah si turissandaljepit. Berdua kami dari Tanah Abang, menunggu kereta ini. Pas kami nunggu, datanglah kereta Parung Panjang. Kami pun naik aja. Setelah hampir sejam, kereta berhenti di Parung Panjang dong pastinya. Tapi kami gak sadar, kirain emang stop biasa buat nunggu penumpang. Eh tapi ini lama banget hingga tinggal kami berdua doang dalam gerbong. Bahkan kulihat masinisnya juga keluar.

Sedangkan di peron lain, ada satu kereta yang datang terus begitu menurun-naikkan penumpang, langsung cus. Ku jadi curiga. Tanya deh ke satpam.
“Pak itu kereta ke mana?”
Yang malah dijawab dengan pertanyaan “Ibu mau ke mana?”
“Ke Tigaraksa.”
“Wah harusnya naik kereta yang tadi. Tapi ya udah gpp tar ada lagi.”
Kami baru ngeh yang kami naiki ini memang hanya sampai Parung Panjang, dan tak lama lagi balik kembali ke Tanah Abang. Kami pun nunggu lagi deh sambil ngetawain kebodohan kami. Jadi malu nih sama para satpam stasiun yang lagi nyantai di sana, secara dilihatin. Ketahuan banget kami berdua ini anak kota yang gak pernah main hingga ke pinggiran Jakarta.

Kereta datang, kami pun melanjutkan perjalanan ke Stasiun Tigaraksa. Kami emang sengaja pergi di hari kerja dan saat itu masih jam 11 pagi. Penumpang kereta kala itu didominasi ibu-ibu para pedagang yang habis jualan dari Tanah Abang. Karena tahu perjalanan masih lama, mereka pada tidur-tidur ayam gitu. Tapi hal itu gak berlaku buat ibu di sampingku. Si ibu doyan banget ngobrol. Dia cerita dia itu asalnya dari Jakarta. Tapi gegara si anak beli rumah yang DP nya super murah di Tigaraksa, maka rumah itu harus ditempati. Nah si ibulah ditugasin pindah untuk sementara menempati rumah tersebut.

But at least, dari si ibu ini ku jadi tahu kalau mau ke Tebing Koja naik angkot cuma goceng aja. Tapi kzlnya angkotnya pasti ngetem tunggu penuh gitu. Habis itu turun, tar masih harus nyari ojek lagi buat masuk dalem. Setelah nimbang-nimbang, ku rasa gak efisien dan malesin.

Oke sip opsi angkot dicoret. Pas nyampe keluar stasiun, aku langsung menghampiri opang yang teriak-teriak depan stasiun Tigaraksa “Tebing, Danau”. Setelah nego harga, aku setuju dianterin Rp. 25.000/orang. Kami gak dikasih helm, karena merasa aman saja dan toh daerahnya masih di sini-sini doang.
“Lagian ini masih kampung.” Begitu penuturan Wawan, ojekku berkali-kali.

Sewaktu keluar dari stasiun, ku nyempetin ngelirik mana satu angkot yang dibilang. Gak keliatan tuh. Rupanya masih harus jalan lagi. Jadi keputusanku pake ojek aja udah bener deh. Selama di jalan, ku liat juga tidak terlalu banyak angkot. Kebanyakan mereka adanya di depan sekolah, nungguin anak sekolah gitu. Untuk ojek online sudah ada katanya tapi yang kulihat cuma ada grab, dan itu pun gak boleh jemput di stasiun. So, khusus kasus kali ini, yah sudah pilihlah ojek depan stasiun. Percayakan pada mereka yang sudah ahlinya.

Sepanjang perjalanan, ku sumringah banget menghirup udara segar. Suasana desa berasa banget sih ini. Tepi-tepi sawah mulai kelihatan, dan gak ada lagi gedung tinggi. Paling tinggi cuma ruko jualan sembako. Dari jalan besar kampung, kami masuk ke sebuah gang. Jalanannya baru selesai dicor. Katanya ini usaha pemerintah buat mendukung pariwisata lokal. Baru aja aku mau puji-puji upaya pemerintah itu, eh taunya jalan yang dicor belum seluruhnya, karena mendekati Tebing Koja, motor Bang Wawan harus siap menghadapi jalanan menurun yang masih tanah dan batu-batu.

Dikit lagi mau nyampe, kami ketemu anak-anak yang mintai duit Rp.3.000/orang. Kukira tiket masuk ya kan, jadi langsung bayar. Eh ga taunya pas depan gerbang Tebing Koja, ada lagi mas-mas mintain duit tiket. Rupanya beda! Yang tadi kayaknya semacam sumbangan untuk masyarakat setempat.

Au ah~~

Ku langsung bayar Rp.5.000/orang karena sudah tak sabar pengen liat Godzilla.

“Masuk belok kiri yah neng” gitu pesen si mas jual tiket.

Kami pun melewati beberapa warung jualan hingga ada belokan menanjak, dan kami pun mengikuti jalur tanah yang sudah dibuka jalannya.

TADA~~

Tebing Koja menyambut kami di siang hari yang terik ini.

tebing koja tangerang

Kesan pertama adalah luas banget. Emang kebetulan karena saya ada di pos Tebing Koja 1 jadinya ujung sana satu lagi kagak keliatan. Lalu sepi banget cuma ada kami dan beberapa domba lagi merumput. Kayaknya kalau main petak umpet, seru habis nih! Tapi bakalan susah nemunya, atau malah “hilang” diumpetin ama Godzilla (Godzilla itu yang batu nonggol sendiri di depan ku yah. Ceritanya itu kepalanya.).

kandang godzilla

Tapi kalau buatku, ini lebih mirip kandang Jurassic World. Ala-ala The Lost World. Kebayang deh hewan-hewan purba itu hidup di bawah, terus kita tinggal kasih makan dari atas tebing. Wah mulai halu nih, karena otak kepanasan dan mulai berasap.

Ketika masih terpesona oleh pemandangan, kami dihampiri Bang Yudi, yang punya warung makanan di pos Tebing Koja 1 ini. Sepertinya dari awal dia udah mengikuti perkembangan wisata di sini sehingga dia paham semua seluk beluk daerah ini dan angle-angle foto yang gimana pun dia tau. Mulai dari ngambilin lensa kamera turis yang jatuh ke air, sampai nyaksiin MTMA syuting di sini, semua udah dia alamin. Gokil nih orang. Dia juga baik banget loh menawarkan bantuan fotoin kami dengan sabarnya di tengah siang bolong yang mataharinya ada 4. Semua foto sampai over exposure saking terangnya!

tebing di tangerang

Destinasi Tebing Koja ini memang mulai hits pertengahan tahun lalu. Nama koja diambil dari nama kampung Koja. Terus lantas siapa yang ngasih nama Kandang Godzilla?

Kata Bang Yudi awal mulanya ada fotografer Bandung yang nyasar ke tempat ini. Begitu dia liat hidden gem ini, dia pun langsung loncat-loncat kegirangan. Terus dia kasihlah nama Godzilla, mungkin fans film Godzilla. Nah dari sana mulai deh booming. Kini, si fotografer pun menjual jasanya motretin pre wedding atau sejenisnya di sini. Kabarnya dia juga ada beli rumah dekat dengan kawasan ini. Hm..jalan juga otak bisnisnya.

Bagi turis sih tempat ini hits banget. Tapi bagi lokal mungkin biasa aja. Yah soalnya awal mulanya Tebing Koja ini cuma tempat penambangan pasir. Tapi tambangnya yang masih manual gak pake mesin. Makanya bentuknya atau sisaannya bentuknya macem-macem, malah jadi artistik dan unik yak. Meski tambang pasir, tapi tebing-tebing yang kupijak ini lumayan keras sih, lebih mirip batu gitu. Entah di mana pasirnya, mungkin udah ludes semua. Terus di bawah, ada kayak kolam gitu. Kirain awalnya cuma dari air hujan, padahal aslinya berasal dari sumber mata air di dekat sini. Jadi meski kemarau, gak pernah kering. Di bawah juga banyak rawa, dan ada sedikit sawah. Coba lebih dibikin hijau semua, tjakep nih pastinya.

Selesai di spot ini, kami pun pamitan ama Bang Yudi yang sangat ramah itu. Tak lupa jua kami beli minuman di warungnya. Kami lantas turun dan lanjut pengen liat sisi tebing yang sononya yakni Tebing Koja 2. Rupanya karena kawasan Tebing Koja ini masih lahan milik pribadi, tepatnya beberapa orang, pengelolaan kawasan ini masih riweuh. Dan mereka-mereka ini belum menemukan kesepakatan untuk mengolahnya bareng jadilah ketika aku mau masuk ke Tebing Koja 2, dicegat dulu sambil ditanya “Tadinya masuk lewat mana?”

Aku pun nunjukin tebing di ujung sono. Rupanya karena sudah masuk lahan orang lain, aku dipungut lagi biaya Rp.5.000/orang. Karena kepalang tanggung, yaweslah terpaksa bayar lagi. Tujuan utamaku emang mau naik ke bukit satunya lagi. Karena masih baru, naiknya seadanya banget, mana curam banget pula. Berasa lagi panjat tebing. Ada sih tali tambang gitu buat pegangan, tapi hati-hati yah guys, meleng dikit nyungsep ke bawah nih!

Sampai di atas, lutut yang gemetar langsung tak berasa karena kali ini jantungku yang deg-degan liat lanskap macam begini! tebing koja

View Tebing Koja 2 rasanya lebih tinggi dari Tebing Koja 1 dan lum mainstream di socmed. Dari sini bisa kelihatan batu tempat Godzilla itu. Jarak antar kedua ujung-ujung ini kurang lebih sekitar 400-500 meter lah yah. Nah lucunya di antara kedua ujung tebing ini, ada sebuah pintu masuk dengan tangganya yang membelah ke bawah (gambar di bawah). Rupanya ini punya pak RT yang buka tempat masuk di tengah lokasi, tapi tidak berkontribusi apa-apa buat pengembangan kawasan ini. Dia malahan bikin warung di tengah kawasan wisata (di foto atas yang warung atap putih) yang tidak memperhatikan estetika banget. Sebenarnya gak susah, cukup ikuti warung sebelah dengan atap rumbai gitu biar nuansa kearifan lokal tetap ada. Eh ini malah atapnya plastik putih dan dikelilingi dengan spanduk merk SCTV. #bukansponsor

tebing koja

Nah karena pihak Tebing Koja 1 & 2 ini KZL ma pak RT, jadinya buat kalian kusarankan jangan masuk lewat pintu pak RT yah, karena kalau mau masuk ke sisi tebing Koja 1 dan 2 akan kena biaya lagi Rp.5.000. Bisa sih gak bayar, tapi yah main di tengah – tengah “lembah” aja. Nggak manjatin tebing tapi bisa nyobain naik perahu aja. Si perahu bambu rakitan ini bakal muter muter, yah sekitar 15 menit lah karena kan tempatnya agak kecil. Aku rencananya juga mau naik. Cukup lama loh aku nungguin grup yang naik perahu, karena tiap penumpang yang naik pasti narsis-narsis dulu. Sementara itu, di depanku juga sudah ada orang prewed nungguin juga. Karena kelamaan, batal deh. Padahal biaya naiknya murah meriah, cuma 10.000/orang.

kandang godzilla tangerang

Overall, ku suka banget di sini dan melebihi ekspektasi ku. Tapi karena datang di hari sepi (weekday) pas nyari makan siang, yang ada cuma indomie atau popmie. Untung ku nemu satu warung yang jualannya beda yakni mi ayam bakso. Sama sih..tapi kan gak instan hehe.

Lalu suasana di sini mengingatkanku akan Bandung, karena ku dipanggil teteh atau neng. Orangnya juga ngomongnya yang udah pake bahasa daerah. Penjual tidak ada yang reseh maksa beli atau gimana. Semua ramah – ramah deh. Fasilitas sih masih minim banget, adanya WC umum bayar gitu. Tadinya kupikir bakal nge-eksplor cuma dua jam, taunya kami di tempat ini 3 jam lebih. Si ojekku, setia loh nungguin. Sebenarnya kalau pun gak mau ditunggu bisa, karena di sini pun ada ojek juga, dan kabarnya lebih murah guys.

Gitu deh pokoknya tempat ini Recommended banget buat anak Jakarta yang mumet pas weekend mau ngapain. Deket dan murah pula!

About the author

Travel Now or NEVER
14 Responses
  1. Lokasi bekas penambangan selalu ciamik menghasilkan guratan bebatuan jadi terlihat eksotik ya.
    Tebing Koja ini melengkapi lokasi wisata eks penambangan : tebing Breksi dan tebing Dedih 👍

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.