Si Yaki dan Tarsius Bitung yang menggemaskan

Awalnya kalau saya bilang mau jalan – jalan ke bitung, teman saya malah berpikirnya Belitung yang ada di Sumatera. Memang sih kedengarannya mirip dan kedua daerah ini terkenal akan keindahan pantainya.

Namun bedanya, Kota Bitung itu terletak di Sulawesi Utara, 1,5 jam dari Manado. Jalanannya mulus dan pemandangannya hijau. Selama di jalan gak ngebosenin deh. Kota ini juga cukup adem karena terletak di kaki gunung Duasudara yang memiliki dua puncak bersebelahan. Jadi kemanapun saya pergi, gunung ini selalu tampak menemani.

Gunung Dua Saudara Bitung

Di Bitung, saya suka bingung mau kemana karena semuanya ada. Pantai ada. Gunung ada. Hutan juga ada. Kuliner apalagi. Namun yang paling unik karena di kota Bitung ini ada binatang menggemaskan yang sudah sangat langka bahkan satu satunya di dunia yaitu Macaca Nigra atau yang lebih dikenal dengan sebutan Yaki dan spesies monyet terkecil di dunia yakni Tarsius (Tangkasi).

Kalau mau mudah, saya cukup mampir ke mini zoo di kota Bitung untuk melihat Tarsius. Tapi kalau segampang itu nanti saya malah gak ada bahan postingan… ;p

Biar lebih sok adventurous, saya dan temen blogger lainnya langsung bertandang ke rumah mereka yakni di Cagar Alam Tangkoko, Taman Wisata Alam Batuputih. Letaknya berada di belakang gunung Duasudara dan dari hotel saya menginap yakni Botanica Resort, hanya sekitar 30 menit saja dengan jalanan berkelok – kelok hijau yang memanjakan mata.

Begitu tiba, kami disambut guyuran hujan yang tumpah begitu aja. Untungnya mulai reda tak berapa lama. Sebelum mau masuk si ranger bertanya “Udah pake lotion anti nyamuk lum?”

Kami cuma saling berpandang-pandangan dan menjawab “nggak bawa.”

Si ranger lalu bercerita bahwa fungsi lotion anti nyamuk ini bukan hanya menangkal nyamuk namun lebih kepada serangan gonone, yakni semacam mikroorganisme yang gak kelihatan oleh mata yang banyak berdiam di kayu busuk dan sekitarnya. Jadi kalau sudah terjangkit, susah hilangnya dan bakalan gatel dan merah berhari hari. Parahnya lagi gonone ini menyerang bagian sensitif seperti dada dan kemaluan. Sekali kena ke anu, katanya bisa bikin bengkak loh. Hiiiii!!!

Kami pun langsung ngacir nitip beli autan dan memakainya berlapis – lapis terutama di sekitar paha dan lipatan celana hahaha.

Setelah dirasa kebal ama gonone, kami pun masuk ke dalam hutan. Jalan tak berapa lama, akhirnya kami mulai melihat gerombolan monyet hitam yaki yang masih kecil-kecil. Mereka tampak sangat aktif dan tidak takut oleh manusia, seakan tahu bahwa merekalah tuan rumah di sini, sedangkan kami hanya tamu saja.

Mereka yang bergerombol di jalan setapak itupun mau tak mau membuat langkah kaki kami terhenti. Tak perlu lama kamipun langsung mengarahkan kamera ke arah mereka.

Yaki di Tangkoko Bitung

 

 

Ada yang sedang sedang manjat pohon, ada yang sedang mencari kutu di badan yaki lainnya, ada yang sedang makan, dan…. ada yang lagi “humping” alias ML. Saya pun cuma bisa nelan ludah dan mengarahkan pandangan ke yaki lainnya.

Yaki – yaki ini bikin saya yakin bahwa mereka itu mempesona banget deh, apalagi pantat merahnya itu loh. Lucu- lucu banget. Bayangin si monyet berjambul ini keseluruhan badannya berwarna hitam tetapi cuma pantatnya yang bentuk love dan warnanya merah muda. Gemezzz!!! Katanya semakin besar dan semakin merah warnanya, itu pertanda si yaki lagi birahi.

Pantas aja, tak lama kemudian, dua ekor yaki mulai berisik dan berkejaran lalu di ujung jalan mulai humping (lagi). ckckck

“Oh yang itu dua – duanya jantan” kata si ranger.
Ha? Baru tau kalau yaki ada yang gay.
“Bukan..itu mereka cuma main saja” kata rangernya lagi.
Ha? yaki mainannya begitu?

Memang sih tak berapa lama kemudian dua ekor itu udah saling menjauhkan pantat mereka lalu sibuk ngacir lagi.
Dasar yah..kalian benar – benar liar.

Setelah mereka masuk hutan, kami pun melanjutkan trekking.

tangkoko
“Perburuan” berikutnya adalah mencari Tarsius. Monyet terkecil di dunia ini diperkirakan jumlahnya ada 2.000 ekor di sini. Namun karena bentuknya yang mungil (10-15 cm saja), untuk ngelihat makhluk ini lebih susah.

Sang ranger menunjukkan sebuah pohon beringin tua di mana terdapat beberapa lobang kecil yang disinyalir menjadi rumah bagi keluarga Tarsius. Susah payah saya berusaha ngelihat yang mana satu Tarsius itu karena tingginya lobang itu 2 meter ke atas. Sampai – sampai kamera yang saya bawa gak kuat nge-zoom nya karena jauh banget. Untunglah ada yang bawa lensa tele… bisa deh dijepret!

Tarsius hidupnya gak berkelompok jadi di satu pohon hanya ada satu keluarga yang mungkin terdiri dari 5-6 ekor. Tak semua Tarsius hidup di pohon beringin, tetapi hanya tarsius yang masuk golongan berada.. saya menjuluki mereka Royal Family. Bagi Tarsius jelata, mereka hidup di pohon yang lebih kecil atau di rantai – rantai pohon. Kalau udah begini pasti mereka lebih mudah jadi sasaran burung elang maupun hewan lainnya. Begitulah kejamnya hukum rimba.

 

tarsius-bitung
Lihat matanya…. lucu banget yah! Berhasil dijepret berkat lensa telenya Ayo jalan2
Walaupun tampak menggemaskan, si Tarsius ini punya satu kekuatan aneh yakni kepalanya bisa muter sampai kebelakang alias 180 derajat gitu. Bayangin deh malem – malem trekking terus liat Tarsius yang matanya bercahaya terus muterin kepala. Bisa lari keciprit akuh… untungnya siang ini mereka manis banget bertengger di pohon..nungguin siapa yah?

Selain ngeliat satwa langka ini, di Tangkoko juga ada banyak pohon – pohon raksasa yang unik, macam pohon beringin gede yang saking besarnya kita bisa masuk di dalamnya. Ada juga pohon enau yang biasa dijadikan minuman fermentasi cap tikus #mabok. Lalu ada juga pohon jati yang daunnya kalau digosok bisa jadi warna lipstik merah. #oleskebibir

Selain di hutan, saya juga sempat mampir ke pantai nyelupin kaki biar adem. Lokasinya bersebelahan dari gerbang utama sebagai pintuk masuk dan keluar. Di sini pantainya warna pasirnya agak hitam loh tapi gak apa – apa untuk leyeh – leyeh enak banget. Jangan lupa liat juga pohon witung yang merupakan asal muasal nama kota Bitung.

pantai-tangkoko

pohon-witung

 

 

Tak terasa kami sudah mengubek – ubek hutan ini selama hampir 3 jam dan perut mulai keroncongan karena sudah lewat jam 1 siang. Kami pun menyudahi perjalanan untuk bersiap pulang..ditambah hari mulai gerimis lagi.

Kalau dibandingin dengan trekking masuk hutan di Tanjung Puting, perjalanan di sini lebih berat 2x lipat mengingat belum tentu bisa bertemu dengan hewan – hewan di atas karena mereka liar jadi tidak ada yang tahu kapan mereka nonggol. Selain itu, jalur trekkingnya lebih susah karena ada mendaki, belum lagi kaki saya selalu digigiti semut padahal udah pake sepatu.

But overall worth it banget… gak cuma bisa liat tarsius dan yaki, tapi sempat jumpa burung elang dan kuskus juga. Ini mah paket komplit pake telur banget…. #laper

kuskus
Tips berkunjung ke cagar alam :

1. Tinggalkan makanan / minuman agar tidak diambil si yaki.
2. Dilarang memberi makan karena semua hewan di sini adalah liar. Kebiasaan ini bagus buat mereka agar mereka mandiri mencari makan sendiri toh karena di hutan mereka tercukupi. Selain itu, dengan cara ini biar mereka gak selalu mengharapkan makanan dari tiap pengunjung yang dateng.

4. Jaga jarak aman minimal 5 meter dengan hewan.

5. Batasi penggunaan flash.

6. Jangan meludah di dekat satwa karena akan meningkatkan resiko ketularan penyakit baik untuk Anda maupun satwa tersebut.

7. Pakai sepatu karena di hutan banyak semut api yang suka nempel dan juga serangga lainnya.

8. Bawa air minum karena perjalanan akan panjang loh.

9. HAVE FUN!

tangkoko-beringin
Tiket masuk : Rp.50.000 (weekday) / Rp.75.000 (weekend)

Sewa ranger : Rp.100.000

“Mari jo torang jaga Yaki dan Tarsius”

About the author

Travel Now or NEVER
16 Responses
  1. @eka : lalu kangen pengen ke situ lagii

    @gio : wkwk iyah yoga lagi kekinian dikalangan yaki mungkin? iyah membayangkan gonone ituh bikin aku jadi rajin dan lama mandinya habis dari sana

    @cumi : wkwkw lagi pas musim kawin kali?

Leave a Reply