Seawalker Bali

“Mas..mas..jadi airnya nggak masuk tuh?” tanya saya menginterupsi.
“Nggak..aman kok.” jawab si mas pemandu.
“Mas..mas..beneran?kok bisa gitu?” tanya saya lagi masih penasaran.
Sepertinya mas-nya mulai malas melayani pertanyaan amatiran saya. Kalau saya tanya sekali lagi mungkin dapet piring cantik nih.

Tapi terang saja saya pengen tahu banyak. Bagi saya yang tidak punya diving license dan yang masih payah snorkeling, dunia bawah laut sepertinya hanya angan-angan saja. Jadi ketika tahu saya bakal ikut seawalker gratis, saya girang bukan kepalang.

Hari itu jam 12 siang saya dan temen udah standby di Seawalker Hotel Puri Santrian karena akan ada briefing dulu sebelum nyemplung. Pertama tama yang diputarkan adalah video pengenalan dan keselamatan tentang Seawalker tapi yang bahasa jepang, lalu bahasa inggris lalu baru bahasa indonesia. Soalnya selama di air nanti kita hanya dapat berkomunikasi dengan pemandu dengan isyarat tangan sehingga simak baik baik yah.

kapal seawalker
Setelah selesai dan berganti pakaian, kami dibawa ke perahu kecil di pinggir pantai dan menuju ke kapal yang lebih besar dimana seluruh alat Seawalker berada. Sesampainya disana tanpa ba bi bu lagi kami langsung dipasangkan bantalan di pundak untuk menahan beratnya si helm. Lalu satu persatu menuju ke belakang kapal dimana si helm putih yang sudah dialiri oksigen dan si pamandu udah standby.

seawalker bali
Saya dapat giliran terakhir untuk turun. Saya diminta mencemplungkan badan sambil berpegang pada tangga turun.

“Begitu dipasang helmnya langsung turun yah” begitu pinta si mas sembari mulai memasukkan helm putih itu ke kepala saya. Ups beneran berat mulai terasa di pundak sehingga otomatis saya pun langsung turun ke bawah air dan Boom! dunia saya berubah.

Sekeliling senyap. Saya tidak mendengar apa apa lagi selain tarikan napas diri sendiri. Perlahan saya merasakan tekanan udara dari selang di atas kepala mulai menekan telinga saya. Sesuai himbauan di video, saya mulai menelan ludah banyak banyak dan mengerakkan rahang. Persis apa yang harus dilakukan ketika telinga terasa sakit ketika perubahan udara di pesawat.

Saya sempat lupa untuk bernapas. Saya masih ragu ragu ketika akan mengambil napas. Dan begitu tarikan napas pertama saya ambil, resmilah saya jadi sandy, temen spongebob yang jadi alien di dunia bawah laut!

Mas mas pemandu di sebelah saya masih memegangi saya yang pelan sekali menuruni tangga dan masih takjub jadi manusia ikan. Sesudah mencapai kedalaman laut sekitar 5 meter, saya lalu bergabung dengan yang lain sambil memegangin sebuah tongkat besi yang nantinya akan ditarik si mas pemandu lainnya dan saya cukup ikut ke mana pun ditarik. Untungnya visibility air cukup bagus sehingga saya bisa melihat di sekeliling terumbu karang dan ikan ikan yang tidak takut pada manusia.

Setelah dilihat lihat, air laut itu sebenarnya masuk ke dalam helm tapi hanya sebatas leher. Selama saya tidak menunduk, air tidak akan meninggi. Jikapun air makin naik, dongakkan kepala ke atas maka air akan turun. That’s simple!

seawalker
Kami terus diarahkan ke sebuah bebuatan (sepertinya) dan masing masing diberikan sebuah terumbu karang yang ditempel di semen agar bisa “ditanam” di bebatuan yang udah dilubangi tersebut. Tapi semua gerakan dalam air jadi slow motion dan untuk memasukkannya saja tangan saya perlu dituntun mas pemandunya. Begitu juga ketika mau jalan di air itu lammaaa banget, satu langkah aja berat apalagi karena saya masih pangling terkekeh kekeh melihat banyak ikan menghampiri. Beberapa bahkan nakal “mencolek” tubuh saya dan menimbulkan geli geli aneh di badan. Huh kalau di darat udah saya tangkap lalu bakar deh #eh

tanam terumbu karang
Selama di dalam air, sudah ada mas mas fotographer yang mengabadikan keceriaan norak kami lewat foto dan video yang nantinya dapat dibeli. Selama di dalam air pun rasanya waktu berjalan lambat sekali (sesuai gerakan kami) dan dunia jadi tenang. Mau teriak sekencang apapun gak ada yang denger. Hm.. enak juga yah kalau bisa hidup di air? menurut ngana?

Kesimpulan : Tur-nya menyenangkan dan staffnya sangat ramah. Dapat dinikmati oleh anak anak hingga lanjut usia (9-70 tahun) tanpa harus bisa berenang, tanpa harus lepas kacamata / soft lens. Disediakan tempat shower dan air minum setelah Seawalker. Peserta dapat membawa kamera underwater / GoPro. At least, bagi saya yang takut dalam air, ini solusi asik. Saya pernah coba scuba diving ditemani pemandu lebih gak berani, padahal di Derawan bawah lautnya bagus banget.

Seawalker Bali
Alamat : Puri Santrian, Sanur, Denpasar City, Bali 80228, Indonesia
Telp : 0361-283166

About the author

Travel Now or NEVER
10 Responses

Leave a Reply