AADC Trail di Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam

Sepasang muda-mudi berjalan dalam gelap subuh, menapaki jalanan sempit hingga tiba di puncak.
Tampak kabut masih menyelimuti pemandangan hijau di depan. Dari kejauhan candi borobudur masih terlelap diiringi gunung merbabu di kiri dan gunung merapi di sisi kanan. Kelap – kelip beberapa lampu rumah bagaikan kunang- kunang raksasa.

Sang gadis lalu berkata “Itu bangunan tempat kita ngobrol tadi?”
“Iya.” Sang pria menjawab.
Mereka pun saling berpandang-pandangan sebelum akhirnya sang pria menarik tangan sang gadis lalu bersama – sama berlari menuju bangunan yang menyembul di bukit Rhema.

punthuk-setumbuk-magelang
Bagi penggemar film AADC 2 sudah pasti adegan ini masih membekas di memori. Bikin deg-degan karena emosi saya seperti diaduk-aduk sambil menerka – nerka bagaimana kelanjutan hubungan sejoli ini.

Adegan di atas juga bikin saya tak sabar mengunjungi tempat – tempat yang saya lihat di film tersebut. Malam sebelumnya, saya sudah berencana untuk bangun pagi jam 4 subuh lalu cabut ke Punthuk Setumbu. Namun apa daya, rencana tinggal rencana.

SAYA BANGUN KESIANGAN!

Jam lima saya terbangun karena grup saya sudah tiba di depan home stay saya yang letaknya di kawasan desa wisata Candi Borobudur. Dengan secepat kilat saya masuk ke toilet, lalu menyambar kamera dan jaket dan keluar siap untuk berangkat ke Punthuk Setumbu.

Ketika di jalan, matahari sudah mulai mengintip. Saya cemas momen-momen AADC tersebut bakal terlewatkan. Ketika tiba di jalan masuk menuju bukit Punthuk Setumbu, saya dan teman -teman lalu dikerubungi ojek pangkalan yang langsung menawarkan jasanya. Maaf mas saya maunya gojek apa grab. Ups!

Dengan perut kosong dan mata masih setengah tertutup, saya mulai menanjak. Pengennya sih jadi cinta yang disenteri jalannya ama rangga, apa daya yang ada cuma pedagang asongan yang getol nawarin pop mie dan air minum.

Makin senewen ketika melihat bunda nia, salah satu koordinator trip saya yang naik ojek ke atas, cuma 10rb lagi katanya. Huft! Memang sih jalur pendakiannya cukup curam, membuat mata saya melek di 10 menit pertama. Namun begitu tiba di satu titik, bunda nia yang naik motor terpaksa diturunkan karena hanya sampai di sana saja. Yaelah pantesan murah :p

Saya kira dari jalur tersebut sudah tinggal sebentar lagi, namun rupanya baru setengah jalan sodara-sodara!

Keringat mulai bercucuran, kaki mulai kram namun saya tidak bisa berhenti. Hari sudah mulai terang dan saya tak boleh melewatkan momen – momen sunrise.

Ketika akhirnya tiba di punthuk setumbu, sudah jam 6 pagi. Hari sudah terang benderang. Untungnya sewaktu saya melihat ke depan, kabut kabut tipis masih tampak sedikit, memberikan nuansa magis pada ujung titik teratas candi borobudur.

Sebelum ke sini, saya sempat googling foto Punthuk Setumbu dan biasanya fotonya menunjukkan candi borobudur dari jarak dekat. Udah sampai di sini, saya baru ngeh candi borobudur itu masih jauh banget di sana. Kalau di lihat dari sini, yah cuma secuil aja, kecuali bawa kamera tele yang panjang itu. Okaylah… saya cukup menikmati dari kejauhan.

punthuk-setumbu
Btw ini foto lagi sambil mikir…… kok bisa cinta tetap cantik setelah nanjak di punthuk setumbu???

Setelah matahari naik, orang – orang pun mulai beranjak turun. Saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan ala Rangga dan Cinta trekking ke bangunan menyembul yang terlihat dari sisi kiri Punthuk Setumbu.

Perjalanan kurang lebih 20 menit tersebut menghantarkan saya pada pantatnya gedung merpati. Gedung yang berupa gereja ini disalahartikan oleh para turis sehingga lebih dikenal dengan sebutan gereja ayam. Padahal niat sang pemilik memilih bentuk merpati yang dalam agama kristen menyimbolkan perdamaian.

gereja-ayam
Dari depan dan belakang gedung merpati, sudah ada pos penjagaan tiket. Guide yang mengantarkan saya dan teman teman lalu bergegas masuk ke dalam gereja ayam dan mendaftarkan rombongan kami agar dapat nomor urut untuk naik ke kepala burung. Antriannya udah sama kayak beli sembako murah.


Setelah puluhan nomor lewat….
Rombongan saya pun dipanggil. Saya tak menyia-nyiakan waktu untuk naik tangga.
Kalau Rangga dan Cinta boleh lari-larian pas naik tangga, saya dan teman – teman kudu ngantri dan pelan pelan. Maklum.. karena masih pembangunan, gedung ini sebenarnya masih rawan sehingga pengunjung memang harus dibatasi agar tidak merusak bangunan ini. Di beberapa lantai juga ada penjaga yang berjaga dan mengingatkan waktu yang tersisa.

Sampai di atas, saya dan teman – teman cuma punya waktu kurang dari lima menit.
Baru juga foto – foto bentar, mas nya yang duduk di kepala burung itu sudah ngingetin
“Ayo mbak.. waktunya sudah habis”
Awalnya kami masih cuek saja hingga walkie talkie mas itu makin berisik dan dia pun mulai meneriaki kami satu – satu buat turun.

Duh..anti klimaks deh! Tentu saja adegan Rangga – Cinta yang khusyuk memandang semburat langit berwarna – warni itu sama sekali tak saya dapatkan.

Ya wes yang penting kebersamaan bareng teman – teman tetap terjalin mesra. Wefie yukk..meski silau kena matahari.
#AbaikanMasnya

atap-gedung-ayam
So far, perjalanan trekking pagi – pagi buta ini menyenangkan banget, terlepas dari membludaknya wisatawan karena booming film AADC. Lesson learned, besok-besok pagian datengnya, bawa air minum, makan dulu dikit dan ke WC dulu karena belum ada fasilitas apa – apa di sekitar obyek wisata ini.
gereja ayam
Tertanda,
Cinta yang masih mencari Rangga

gereja-ayam-magelang

Info :
Tiket masuk Gedung Merpati : Rp.10.000

Tiket masuk Punthuk Setumbu : Rp.5.000

Tersedia ojek (di Punthuk Setumbuk) dan jeep (di Gereja Ayam) bagi yang gak mau capek.

About the author

Travel Now or NEVER
24 Responses
  1. perginya hari apa nih kak Len? Setau saya kalo sabtu minggu emang rame banget. kalo hari kerja sepertinya tidak seramai itu. kemaren saya datang hari jumat, cuma ada tiga orang di puncak kepala, tidak pake antri. ^_^

Leave a Reply