Asuuu….. Indah Banget Pulau Asu di Nias Barat ini!

“Asuuu…bagus banget!” pekikku dalam hati.

Sedari awal tahu akan berkunjung ke Pulau Asu di Nias Barat, aku terkikik-kikik kalau menyebut namanya. Kupikir orang Nias ini pasti gak ngeh apa artinya asu dalam Bahasa Jawa. Eeeh rupanya dalam Bahasa Nias pun asu artinya anjing juga. Kabarnya Pulau Asu emang dinamakan demikian karena kalau diliat dari atas bentuknya seperti anjing. Njir, gak usah dari atas, ini di bawah aja juga berkeliaran wujud asu yang sebenarnya, plus ditambah temannya yakni (b)abi. Mereka juga gak mau kalah jadi anak pantai…

pulau asu di nias

Nah, awalnya pas aku dan temen-temenku peserta famtrip Nias Barat tiba pertama kali di bibir pantai Pulau Asu, cuaca sedang tidak berpihak alias gerimis. Jadinya begitu sampai di daratan, kami langsung kocar-kacir menuju bungalow untuk menyelamatkan barang, terutama handphone dan kamera. Tak berapa lama, gerimis mulai reda dan digantikan dengan pelangi di ujung kanan pulau Asu. Rasanya menyenangkan sekali mendapat sambutan hangat seperti ini di tengah badan basah yang mulai kedinginan.

asu island

Tak berapa lama, para ibu-ibu dari Ina Silvi Cottage tempat kami menginap, mulai menghampiri kami dan membawakan pancake pisang  serta teh hangat. Tau aja nih perut udah mulai harus diganjal. Aku sengaja cuma nyicip dikit pancake-nya yang endes itu. Bukan karena kenyang, tapi mau mengosongkan perut selebar-lebarnya karena ku dapat bocoran makan malamnya sangat istimewa. Buru-buru kami pun menuju cottage masing-masing, mandi, istirahat sejenak sebelum kembali kumpul di depan pantai lagi untuk menikmati sajian yang telah ditunggu-tunggu : LOBSTER!

makanan di pulau asu

Perairan di sekitar sini masih bagus banget sehingga membuat lobster ini berkembang biak sehat dan gendut. Katanya yang dihidangkan ke kami ini sih masih tergolong yang kecil, meski ukurannya sudah melebihi ukuran piring. Lobster yang besar biasanya jadi komoditi ekspor karena harganya pasti mahal banget. Aku pun mikir-mikir kalau makan di Jakarta ini harganya udah bisa jutaan kali yah. Aku sebenarnya gak gitu doyan lobster, tapi melihat yang satu ini, gak kuat juga hingga ludes 3 ekor. Sambalnya itu loh mantap banget. Entahlah tapi emang semua sambal yang kucoba di Nias itu enak semua. Pedas dan ada asamnya serta irisan bawang merah yang bikin gak berhenti nyocol. Mana ketemu lobster yang segar gini pula. Duh kelar deh…

Saking banyaknya lobsternya, gak habis dong! Apalagi di tengah makan sempat gerimis sehingga harus dikebut dinnernya. Pas paginya breakfast, dikeluarin lagi sisa lobster tadi malam ahhaha

lobster pulau asu

Setelah makan pagi, aku keliling-keliling Pulau Asu yang luasnya sekitar 18km2. Pulau Asu termasuk salah satu pulau terluar di barat Indonesia dan tergabung dalam Kepulauan Hinako. Di sini mata pencaharian utama penduduknya yah dari pariwisata, nelayan, dan penghasil kelapa. Pulaunya tenang banget dan sepi. Kuperhatikan di tempat kami menginap, isinya cuma kami aja plus satu atau dua turis luar negeri yang datang buat selancar. Emang sih rata-rata yang ke sini masih dari luar negeri dan mereka sekali nginep minimal bisa seminggu gitu. Begitupun yang ada di Puri Asu Resort, semuanya adalah bule pengejar ombak. Dibanding dengan di Sorake (tempat surfing yang populer di Nias), Pulau Asu masih belum terlalu ramai karena lokasinya yang lebih sulit dicapai, biayanya juga lebih besar dan juga tipikal ombaknya yang lebih cocok buat yang sudah mahir atau advanced.

pulau asu nias

Untuk mengakomodasi tamu, di sini cuma ada 4 penginapan. Yang pertama adalah Ina Silvi Cottage. Ini satu-satunya akomodasi yang punya orang Indonesia yakni Mama Silvi. Kalau Puri Asu Resort yang punya orang USA dan yang ngurus Steve, bule yang lancar berbahasa Indonesia. Dua lagi ada surf camp (Asu Camp & Sozinho Surf Lodge). Meski pun beda akomodasi, gak apa-apa loh saling mengunjungi area penginapan yang lain. Misal aku di Ina Silvi Cottage, seringnya malah main ke area Puri Asu Resort soalnya persis di depan pantainya ada sebuah pohon kelapa dengan ayunan tinggi. Cocok buat bengong-bengong sambil berayun-ayun.

puri asu resort

Puas main pasir atau ayunan, kami nyobain snorkeling yang tepat di depan pantai Puri Asu Resort. Tinggal jalan beberapa meter keliatan dah karangnya karena airnya pun bening banget. Kondisi terumbu karangnya juga masih bagus banget.  Aku udah ngebuktiin sendiri hingga kakiku berdarah kena karang tajamnya hiks. Selain itu ada ikan-ikan juga yang bisa dilihat tanpa perlu dikasih serpihan roti. Temen-temen lain selain snorkeling, juga pada nyobain standing paddling gitu.

snorkeling pulau asu

Mungkin karena tamu di pulau ini masih terbatas, ditambah penduduk pulau ini palingan cuma 20-30 kepala keluarga, maka berasanya ini pulau milik sendiri. Tidak ada yang bising. Tidak ada sampah sedikitpun yang tercecer. Tapi tidak ada juga sekolah, puskesmas, kantor, wifi, atau fasilitas umum lainnya. Tempat ini emang paling cocok buat merenungi hidup sih. Selain berinteraksi dengan alam, kami berkesempatan kumpul ama anak-anak dan ibu-ibu yang ada di pulau ini dan membagikan donasi buku cerita/alat tulis atau apapun itu yang sekiranya diperlukan. Inisiasi ini datang dari Bang Yafa, pemilik Go Nias Tour yang mengatur perjalanan kami. Idenya brilian deh. Jadi gak cuma jalan-jalan tapi juga bisa membawa manfaat buat masyarakat sekitar.

Yang nonggol kala itu kira-kira ada 10 anak-anak dari penjuru Pulau Asu. Mereka senang banget dapat macem-macem. Tapi yang gak kalah antusias juga emaknya nih. Kebetulan aku kan bawa aksesoris juga kayak bando dan gelang. Aku ada kasih salah satu gelang yang dulu kubeli di USA. Rencana sih buat anak emak itu, tapi sepertinya emaknya yang lebih doyan. Gak taunya ada juga emak satu di sampingnya juga mau. Tapi si emak pertama ogah berbagi padahal gelangnya ada dua.

“Ibu mau juga?” akhirnya aku buka suara biar mereka gak rebutan.

“Mau….” tanpa ragu-ragu si emak kedua menatapku penuh harap.

“Ya udah sebentar yah..aku ambil dulu.”

pulau asu nias barat

Aku pun balik lagi ke cottageku untuk membuka koper dan mencari satu gelang lainnya. Rupanya si ibu kedua ini ngikut dan menghampiri langsung. Wah gercep juga si ibu ini. Mungkin takut gak kebagian lagi. Akhirnya kutemukan juga gelangnya dan kukasih ke si ibu yang umurnya 24 tahun dan telah beranak dua.

Aku cukup kenal si ibu ini karena dia yang biasa ngantar-ngantar makanan. Ibu ini cuma lulus SD dan tak lama setelah itu menikah. Aku kok jadi ngebayangin yah kalau aku yang jadi ibu ini, bersuamikan nelayan di pulau ini, pasti tentunya senang banget ada orang luar yang datang ke tempatnya dan tak cuma singgah saja. Itulah kenapa interaksi dengan masyarakat lokal itu perlu, bukan saja buatku mengenal pulau ini lebih jauh, tapi juga biar masyarakat lokal sedikit banyak bisa mengintip “dunia luar” yang mungkin belum mereka jamah melalui kami-kami, si pendatang.

Kabarnya menurut bang Yafa, seringkali ada juga tipikal tamu / grup yang memang datang ke sini mendedikasikan waktunya untuk sosialisasi kesehatan, bakti sosial dan lainnya. Aku langsung berpikir apakah donasi yang kami berikan seperti buku gambar, crayon, pena, dan barang lainnya sudah sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Semoga aja bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Salah satu anak yang kami kasih barang-barang adalah si Marcus. Umurnya 3 tahun dan dengan cepat membuat kami jatuh hati karena ramah banget dan gak takut orang. Dia nyiumin tangan kami satu-satu sambil membuat bunyi “Muach”. So adorable~~

Ketika saatnya kami harus pamit dan keluar dari Pulau Asu siangnya, aku sempat melihat si Marcus lengkap dengan krayon kayu dan buku gambar yang masih dipegang erat dalam gengamannya. Aku jadi trenyuh. Mungkinkah itu jadi salah satu “harta”nya yang paling berharga sampai harus ia bawa kemana-mana?

Semoga kau senang dengan hadiah itu yah dek. Doaiin lain kali kami bisa bawa barang-barang lain atau punya waktu lebih buat bermain bersama Marcus dan kawan-kawan yah.

Amin!

anak pulau asu

How To Get Here :

Dari Gunungsitoli, berkendara ke Sirombu, Nias Barat bisa hampir 3 jam (termasuk break makan/toilet). Setelah itu naik kapal kecil kira-kira setengah jam-an. Jadi kalau mau nginap, pilih dulu penginapannya. Tar penginapan itu yang nyuruh kapalnya jemput.

Where to Stay :

Ina Silvi Cottage harganya mulai dari Rp.500.000 yah. Satu kamar ada yang berdua, ada yang bisa berempat. Kalau Puri Asu Resort lebih mewah, standar bulelah yah ada AC, shower panas gitu-gitu. Tapi selama aku di Ina Silvi Cottage pake kipas angin aja cukup kok karena udara laut udah cukup bikin menggigil. Bonus dikasih kelambu loh!

Untuk reservasi, belum ada di Traveloka gitu-gitu yah. Jadi langsung aja ke FB page mereka atau bisa lewat Go Nias Tour.

ina silvi cottage asu

ina silvi cottage

Tips

Bawa camilan jika pengen ngunyah soalnya warung cuma ada satu dan gak gitu lengkap. Ohya jangan lupa nyobain bobo siang di hammock sambil di-nina bobo-in semilir angin sepoi-sepoi. Dijamin langsung pules. Oh inikah yang namanya surga?

ina silvi cottage nias

Update 

Salah seorang peserta famtrip ini sempat bertanya ke salah satu orang tua tentang asal usul nama Pulau Asu. Ternyata ada kepanjangannya yakni Aurifa Safuriata Urugi yang berarti Tempat kehidupan terakhir yang aku temukan. Diberi nama demikian karena Pulau Asu adalah pulau terakhir yang ditemukan dan disinggahi manusia setelah pulau-pulau lainnya di sekitar Nias.

Mystery solved! Thanks bang Iman Halawa!

Buat liat video perjalanan Nias, monggo liat di Youtube-ku ini yah :

About the author

Travel Now or NEVER
22 Responses
  1. Waduh senangnya jalan2 ke Pulau Asu. Terus terang aku baru Tau. Makasiiih udah sharing ya Ce. Dimasukin Bucket List dulu ah. Btw Lobster nya ga bisa dipaketin ke akuh gitu ? Hahahha

  2. Udah dengar soal kecantikan pulau ini dari dulu. Pulau yang namanya unik hehehe. Kak, itu yang berkeliaran babi pink sama babi hutan juga? Kok kayaknya di foto ada yang warnanya hitam.

    Btw emang kalau di pulau-pulau kecil itu kayaknya pelangi gampang banget muncul ya.

  3. Judulnyaaa… Bikin yang baca ikut bilang Asu. Ups. Seru juga lihat anjing dan babi di pantai. Kayaknya di Nias ada banyak kegiatan bertema donasi buku dan alat pendidikan. Kemarin sempat kirim buku ke komunitas di sana juga.

  4. Namanya sounds a bit Japanese, ya. Asu, Hinako, Sorake. Itu babi-babi sama asu diolah juga sama warga lokal jadi makanan nggak? (nanya serius)

    Aku kalo berkesempatan mengunjungi daerah terpencil Indonesia kayaknya juga bakal siapin donasi

Leave a Reply