Proses Pembuatan Kolang-Kaling di Jatirejo

“Berbukalah dengan yang manis.” Gitu yang sering saya dengar kalau pas puasa.

Yang Manis-manis + dingin = Keblinger.




Pasti mantap banget kan? kombinasi tersebut semuanya bisa ditemukan dari jajanan puasa berupa es buah. Terus biasanya dalam es buah ada semacam yang kenyal dan pipih. Hayo apa itu? Betul! Kolang-kaling jawabnya.

Tahu gak sih ternyata kolang-kaling itu aslinya dari pohon enau. Tapi gak seperti buah lain yang tinggal petik dan kupas, kolang-kaling rupanya punya proses panjang hingga bisa sampai ke tangan kita. Untuk melihat langsung proses pengolahan kolang-kaling ini, saya bertandang langsung ke Desa Pengolahan Kolang – Kaling yakni Kampung Kakola yang berada di Desa Wisata Jati Rejo, Kecamatan Gunungpati, tidak jauh dari Kota Semarang. Desanya bersih banget. Semuanya diperhatikan banget sesuai kesukaan turis millenial macam saya. Ada gambar=gambar bunga di jalan masuk gerbangnya. Instagramable lah!

desa jatirejo

Di Kampung Kakola ini, hampir semua warganya memiliki mata pencaharian sebagai pengolah kolang-kaling. Ketika saya mampir ke lokasi, saya menjumpai ibu-ibu warga setempat yang sedang sibuk mengolah kolang-kaling. Ibu Ninik, guide yang juga merupakan sekretaris dari Pok Darwis (Kelompok Sadar Wisata) dari Kampung Kakola ini menjelaskan kepada saya bagaimana mengolah kolang – kaling.
kolang kaling jatirejo

Pertama – tama, adalah proses Merencek, yakni proses pemisahan buah dari  tangkai pohon enau. Sekilas terdengar mudah namun jika tidak dilakukan dengan hati-hati, ibu-ibu yang melakukan proses ini bisa menderita gatal-gatal jika terkena getah buah kolang-kaling. Setelah dipisahkan, buah tersebut kemudian direbus dalam sebuah drum. Dalam sekali proses perebusan yang memakan waktu sejam hingga dua jam, ada 25kg buah kolang-kaling yang direbus dengan menggunakan kayu bakar.

Setelah direbus, barulah buah kolang-kaling yang bertekstur keras ini melembut dan dapat dikupas untuk diambil buahnya saja. Proses selanjutnya, barulah tergolong unik yakni buah kolang kaling ini harus digepengkan supaya kolang-kaling tidak keras dan alot ketika nanti dikonsumsi. Ibu-ibu di sini pun masih menggunakan cara dan alat pengepeng tradisional yang disebut dengan watu dan alu. Alat khusus ini terbuat dari kayu mahoni. Digepenginnya pun harus pas. Jangan terlalu lembut atau jangan samapi terlalu penyet. Ribet yah?

“Pernah dicoba mengepengkannya pakai mesin namun hasilnya kurang memuaskan. Karena kan mengepengkannya memang harus pakai insting mbak. Apa sudah kenyal atau belum. Jadi semua pake feeling gitu.” Tambah bu ninik.

kolang-kaling

Untuk proses terakhir, Kolang-kaling masih harus direndam selama beberapa hari lagi sebelum akhirnya dijual ke masyarakat. Permintaan buah kenyal ini pun bisa meningkat tajam di saat datangnya bulan puasa ini. Enam belas rumah yang mengolah kolang – kaling di area ini pun sampai kewalahan mencukupi permintaan yang ada. Wajar saja jika buah ini menjadi primadona ketika berpuasa karena dipercaya mampu menahan rasa lapar lebih lama dan berbagai kandungan gizinya sangat baik bagi tubuh. Kata ibu Nunik juga kolang-kaling bagus loh buat diet. CMIIW!

Tuh, enak dan menyehatkan kan rupanya si kolang-kaling. Mari kita minum cicip dulu es kolang-kaling yang udah disiapkan. Slurp!

jatirejo

Comments(18)

    • May 31, 2017
      • June 2, 2017
        • June 5, 2017
  1. June 1, 2017
    • June 1, 2017
  2. June 1, 2017
  3. June 2, 2017
    • June 2, 2017
  4. June 2, 2017
  5. June 3, 2017
    • June 5, 2017
  6. June 4, 2017
    • June 5, 2017
  7. June 22, 2017
    • June 22, 2017

Leave a Comment