Piramida Cinta

Lagi tumben-tumbennya nih aku posting cerpan. Ini aku bikinnya sudah lama sih, sehabis pulang dari USA ketika lagi kangen-kangennya sama Paman Sam. Seperti fiksi pada umumnya, ini jelas tidak berdasar kenyataan, jadi dinikmati saja apa adanya yah, jangan digosipin ;p

Lemme know what you are thinking. Selamat membaca!




—–

I’m sorry len but I can’t share my love.” kata James.

Dia pun mengibaskan selimut, beranjak turun dari ranjang dan langsung menuju toilet. Klik! Pintu toilet dikunci.

Hening. Kalimat pertamanya ketika bangun pagi ini membuat mataku yang masih sayup sayup penuh dengan tahi mata terbelalak.

Apakah ini masih mimpi?

Udara di kamar hotel terasa dingin. Kami tidak menyalakan pendingin ruangan karena cuaca di Fisherman Wharf selalu adem. Lagipula ini San Fransisco bung, berada di tepi laut tak akan membuatku gerah dan keringatan. Angin selalu berhembus membuat semua tangan mengatup, memeluk dan berusaha menghangatkan diri sendiri.



Apakah ini masih mimpi?

Aku masih bertanya tanya apa maksud kalimatnya. Ketika bangun tadi, kudapati dia sudah terbangun dan duduk di sampingku. Mata elangnya menatapku dari belakang. Tajam dan tak bergeming. Mungkin aku terbangun karena tatapannya yang begitu menusuk seakan dia akan melumatku habis habisan.

Aku paling suka mata itu. Mata yang dibingkai sepasang alis hitam pekat. Mata yang besarnya dua kali lipat dari mataku. Mata yang berwarna hitam kecokelatan yang diberkahi dengan lebatnya bulu matanya yang lentik. Sebagai balasannya, kukecup mesra pipi tirusnya yang selalu mengelitikku karena dia memelihara jengot tipisnya. James hanya tersenyum simpul sebelum akhirnya memecah keheningan dan mengeluarkan kata kata sakti itu.

Kini aku terpaku duduk di atas ranjang, mencoba memutar memori dan memaksa otakku bekerja.

Apa yang aku lakukan? Dia tidak seperti biasanya!

Semalam kami melewatkan malam indah di Pier 39. Dengan menungangi street car dari dekat hotel, kami sampai di tepi pantai yang telah disulap menjadi dermaga kayu dengan panjang 300 meter. Suasananya seperti pasar malam di Indonesia. Penuh atraksi dan makanan enak. Kami berjalan masuk ke Pier 39 dan hanyut dalam lautan manusia. Di penghujung dermaga, suara singa laut seakan akan memanggilku dalam kegelapan. Aku berjalan hingga tercekat dengan batas dermaga. Si anjing laut yang berada di tepi laut itu terus melolong lolong seakan minta diperhatikan atau mungkin mereka hanya merasa lapar. Aku hanya melihatnya sebentar, tak tahan dengan bau amis mereka. James yang sedari tadi mencari bayangku langsung mendekapku ke pelukannya. Setelah itu, tak sekalipun dia biarkan aku lepas dari gengamannya. Dia memang posesif dengan caranya sendiri. Aku tak masalah, malah bagiku “It’s so sweet of him”. Dia tipe laki laki yang tak malu malu menunjukkan ke dunia “You’re mine”. Kadang aku protes akan Public Display of Affection-nya tetapi dia tak mengubrisnya. Baginya, penting untuk mengekspresikan kasih sayang.

Malam itu aku ajak dia ke Haigh Street, tempat iconic di mana ada kaki wanita keluar dari jendela. Dia hanya mengeryitkan dahi, tanda tak setuju. Kami pun memutuskan jalan jalan kembali ke Fisherman Wharf, sambil membeli makanan cepat saji kesukaannya. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, tapi kami masih asik ngobrol hingga pintu restoran cepat saji tersebut ditutup. Beberapa orang customer yang ingin membeli ditolak dan mereka hanya bisa menggerutu.

Aku bercerita banyak sekali tentang hidupku. Dia tak banyak berkomentar atas banyolanku. Hanya sesekali dia meremas tanganku pertanda ada sesuatu yang ingin dia timpal dan memintaku berhenti berbicara sebentar. Di depannya, aku tak perlu menutupi apa apa. Apapun tabiat jelekku dan masa laluku yang kelam tak membuat cinta yang kudapat darinya surut. Itu juga yang membuatku bisa sekali lagi membukakan hati. Bersamanya, aku menemukan rumahku di tengah kegalauan. Tak pernah kudapatkan rasa ini, bahkan dari dia seseorang yang sosoknya begitu kusayangi dan menempati hatiku beberapa tahun sebelumnya, Andi.

Oh, Tidak! Andi!

Batinku berteriak. Nama tersebut langsung membunyikan alarm di pikiranku.

Segera aku meloncat dari ranjang dan mengedor gedor pintu toilet.

James, I’m so sorry. I didn’t mean to hurt you. Please, listen to me!” Aku berteriak teriak seperti orang gila di depan pintu kayu itu.

Oh, tidak! Bagaimana ini? Orang bilang aku adalah mulut ember. Tak bisa menahan apa yang harusnya tidak diucapkan, terlebih ketika aku begitu bahagia. Pasti rasanya seperti ingin menumpahkan seluruh isi hati dan pikiran. Kali ini sifat jelek ku benar benar mendatangkan malapetaka. Aku kena getahnya.

Klik! Pintu toilet terbuka. James berdiri mematung di depan pintu. Tubuhnya basah. Matanya sembab. Air shower tidak mampu menghilangkan jejak air matanya. Aku makin kalut. Diambilnya handuk lalu mengacak acak kepala pelontosnya.

Len, I really love you. But If you still love Andi, I….” matanya mulai memerah kembali.

Cepat cepat kupotong ucapannya.

No James. It was an old story. I moved on. Look now I’m with you.” Aku peluk tubuhnya erat erat. Tak dapat kurasakan denyut jantungnya. Atau mungkin deru denyut jantungnya kalah cepat dengan denyut suara jantungku.

DEG DEG DEG.

Tak ada balasan hangat darinya. Tak jua ada usap usap kecil yang memberantakkan rambutku seperti biasa.

You’re not. You told me because you felt guilty and you still going to meet with him next month right?” Dia mendebat. Dia jauhkan tubuhku darinya.

No..please James. I didn’t love him anymore. He’s coming only for a visit and we’re just friend.. Please.” Aku masih mengekorinya. Dia memasukkan air di mesin kopi dan memilih kemasan White Mocca Starbuck kesukaannya dan menekan tombol On lalu dihempaskannya tubuhnya di sofa panjang di samping ranjang. Bak bayangannya, kuikuti ke mana langkahnya berjalan. Kutatap lekat matanya mencari sorot mata yang biasa memanjakanku itu. Namun dia tak mengubris. Kusandarkan kepalaku di bahunya tapi dia tolak. Kugengam tangannya tapi dia jauhkan. Aku berusaha memeluknya tetapi dia makin kelihatan jenggah. Tak pernah aku merendahkan diriku seperti ini padanya. Baru kali ini saja. Rasanya sakit sekali seperti terkoyak koyak.

Dia membuka sebotol bir Four Peak kesukaannya, sisa semalam. Diteguknya minuman haram itu. Zakunnya naik turun menenggak cairan itu hingga setengah. Tak selang berapa lama, ia bersendawa. Mulutnya terbuka namun kemudian bibirnya terkatup lagi. Sepertinya dia butuh dorongan untuk mengatakan sesuatu.

But, you dont love me either lenny.” Suaranya bergetar. Matanya merah, antara pengaruh alkohol atau perasaan di hati yang berkecamuk. Dia bangkit dan kembali masuk ke dalam toilet.

Hening menyapa kembali. Biar tak sepi, maka kutumpahkan semua air mata yang telah berat di pelupuk mata agar aku bisa mendengar sendiri jerit kesedihanku. Orang bilang aku cengeng. Aku seperti keran bocor yang tak berhenti mengalir hingga tak ada lagi air mata yang dapat kuteteskan. Begitulah kenyataannya. Aku tak tahu harus bagaimana menjelaskan. Aku tak tahu bagaimana harusnya perasaanku saat ini. Aku hanya ingin menanggis meraung raung, menumpahkan segala beban hati hingga akhirnya kelelahan dan memilih kembali ke ranjang. Mungkin aku lebih baik tidur.

Ini pasti hanya mimpi.

——

Aku dan James dipertemukan sebagai sesama penerima beasiswa di Amerika Serikat.  Kami sama sama memiliki mutual friends yang sama, tinggal di kompleks apartemen yang sama, dan terlibat di proyek yang sama. Awalnya, Aku tak pernah menaruh perhatian padanya. “Old Grumpy Man” begitu sebutan populernya di grup kami. Dia cenderung cuek dan bertindak menurut hematnya saja. Bad boys! Begitu kata orang orang menilainya.

Tapi tidak bagiku. Aku banyak melihat sisi lain dirinya yang begajulan. Jurang perbedaan budaya di antara kami mengangga lebar. Kami lahir dari dua benua yang beda. Namun semakin tidak ada persamaan yang bisa kami temukan, semakin magnet di antara kami berpendar kuat. Dari saling melempar lelucon, berdebat hingga saling mengajarkan bahasa ibu, kami pun semakin dekat. Tidak hanya mengajarkan bahasa Indonesia, aku pun mengajarkannya Mandarin.

“Wo Ai Ni” ucapnya ketika suatu saat dia mengirimkan pesan pendek di telepon genggam.

“Wo ye Ai Ni!” balasku lagi sambil terkekeh-kekeh.

Setelahnya dia menelpon dan mengatakan  hal yang sama, yang juga tetap kujawab juga dengan hal yang sama.  Kesal, dia pun mengatakan bahwa dia serius. He meant what he said, and he said what he meant.

James, I really like you.. as my brother.” Begitu jawabku polos.

Dia berbesar hati sepertinya sudah menduga jawabanku. Tak selang beberapa lama, di jacuzzi apartemen, room-mate-nya menelponku memberi tahu bahwa tiba tiba James terlihat sempoyongan dan mulai ngelantur berbicara.

Why you are here? You think I’m drunk?” Tanyanya yang dibarengi ekspresi marah melihatku datang menjemputnya.

Pertanyaan yang bodoh. Memang terbukti bahwasanya orang mabuk tidak akan sadar bahwasanya dia mabuk. Kupapah dia balik ke apartemen dengan berkilah ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Dia menurut. Untungnya ketika dia mabuk, dia tidak seperti orang kesurupan atau bertindak macam macam. James hanya tertidur lelap sesudahnya.

Kuusap kepalanya yang botak setengah. Dia selalu menyalahkan nenek moyangnya karena hal genetik ini. Jadinya, tidak ada satu pun obat penumbuh rambut yang manjur. Toh sebenarnya dia berbulu hanya saja tidak tumbuh di atas kepala. Aku selalu bilang dia lebih cocok begitu. Aku elus pelipis kanan matanya dimana terdapat luka segaris hasil pentungan polisi karena ia terlibat dalam demostrasi ketika berjuang menurunkan pemerintahan diktator dari singgasananya.

Begitulah si James, yang kerjanya lebih banyak menentang apa yang dianggapnya salah tanpa memikirkan konsekuensinya. Seperti trip ke San Fransisco ini juga, dia ngotot harus ikut walau sudah kuwanti wanti perjalanan ini tujuannya bukan hanya senang senang karena aku sedang mengumpulkan informasi dan mengambil gambar untuk tulisanku. Tapi nyatanya, justru akhirnya aku yang banyak mengeluh karena tak kusangka jalanan di San Fransisco penuh dengan penanjakan dan penurunan tajam.

Damn, you’re slow!” Ujarnya melihatku ketinggalan di belakang melalui jalanan San Fransisco yang terjal.

Ingin rasanya kulempar dia dengan botol minumku tapi aku urungkan niatku manakala dia melayangkan tangannya, mengengam tanganku dan menarikku cepat. Berkali kali rencana kami harus gagal atau berubah karena hujan lebat yang mengguyur, kami tidak berkecil hati. Kami hanya berlari lari kecil mencari tempat berteduh dan berpelukan saling menghangatkan diri. Jika capek, kami tak memaksakan diri. Kami biarkan tubuh kami terhempas di cable car sambil melihatnya membelah kota San Fransisco. Saat itu, saya sadar saya telah menemukan The best travel-and life-mate.

 

cable car san fransisco

—-

Kurasakan tangan lembut menggapai bahuku. Udara makin dingin saja apalagi ditambah dengan perut yang belum diisi apa apa sedari pagi. Kubalikkan tubuhku untuk melihat siapa yang di belakangku.

Ah, si James rupanya. Kubalikkan lagi badanku. Aku sudah tak punya energi untuk berdrama lagi.

Hey Len, look at me.” Dia membalikkan badanku lagi.

No, you’re mad with me. I’m sorry James I hurt you. Now it’s up to you,” ujarku sambil menutup muka dengan selimut.

Aku siap dengan hukuman yang seharusnya kuterima. Aku sudah tak punya muka lagi untuk melihatnya. Mukaku masih sangat sembab dan pastinya mataku yang sipit ini hanya tinggal segaris karena tangisanku. Apalagi dengan muka bantal dan belum sempat gosok gigi, aku pasti kelihatan jelek sekali. Malu sekali aku berhadapan dengannya.

No lenny. I’m sorry I made you cried.” Dia menenangkanku. Tangannya masih berusaha keras membuka tanganku yang menutupi muka.

That’s fine.” Aku berujar lirih.

Len..listen. I love you. I can’t live without you. So It’s okay.“

Kalimatnya mengagetkanku. Kali ini aku mengintipnya dari sela jemariku. Kupastikan apakah aku yang salah mendengar atau dia yang masih hangover. Sepertinya sinar matanya berkata “I’ll forgive you. Let’s work this out together”.

Aku terbengong. Tidak ada caci maki seperti di film film, tidak ada saling memukul dengan bantal, tidak ada tindakan untuk memelas melas agar aku tak dicampakkan dan juga tidak ada adegan di mana aku harus angkat koper meninggalkan kamar hotel. Oh tuhan, benarkah masih ada lelaki seperti ini di muka bumi? Masih adakah cinta yang layak kuterima?

Thank you,” jawabku bingung, tak bisa dan tak tahu harus berkata apa lagi.

Jika kukatakan “I love you James” itu terdengar klise dan dibuat buat. Terlalu memaksakan.

You’re too good to be true James” Jawabku sambil mulai menitikkan air mata lagi.

Hush..hush…Lets go back to sleep. I’m tired. I couldnt sleep last night.” ucapnya sambil memberikan “Good night kiss”.

Bagaikan hikayat 1001 malam, kali ini aku kembali terlelap dan bermimpi menjadi si puteri Jasmine yang telah menemukan Aladin-ku.



Comments(4)

  1. February 10, 2018
  2. February 11, 2018

Leave a Comment