Drama Pacet Demi Melihat Pangkur Sagu di Sentani

Tak ada yang paling mengagung-agungkan pohon sagu seperti orang Papua. Ibarat kelapa yang semua bagiannya tercipta tanpa ketersia-siaan, begitu pun si pohon sagu.

Aku tahu orang Papua makan sagu awalnya cuma dari buku pelajaran jadul. Selain itu mereka makan singkong, ubi dan hasil kebun lainnya. Namun baru ketika maren ke Jayapura, aku bisa melihat bagaimana makanannya orang Papua ini. Jadi gak heran juga sih pas di hotel kami (Hotel Horex), pas breakfast selalu ada tuh rebusan ubi, singkong, dan malah ada kolak juga. Kalau nasi, mie/bihun selalu ada juga sih secara di hotel isinya turis yekan. Tapi giliran di jalan gitu, aku liat sepertinya makanan pokok mereka sekarang udah ganti ke mi instan , thanks to Indomie hiks!

Tapi itu mungkin di kota yah. Kalau di kampung katanya masih yang tiap hari makan sagu. Biasanya mereka makan buat siang atau malam. Karena kalau pagi….. bikin ngantuk. Mungkin karena begitu sampai perut, si sagu ngembang. *hipotesa halu ala Lenny*

Btw sebelum trip ke Papua ini, aku gak tahu banget loh ternyata sagu itu nama bekennya tepung tapioka. Bener gak sih? Kukira segala macam tepung yah jenisnya terigu. Inilah efek gak pernah main ke dapur, taunya ke resto aja lalu langsung HAP makanan. Padahal sagu itu salah satu bahan utama berbagai macam menu favoritku loh sebut aja udon yang mahal dan pempek. Duh nikmatnya pempek sagu tuh gak kalah loh ama mpek ikan .

Oleh sebab itulah, pas trip ke Jayapura kemarin ada kunjungan liat pangkur sagu. Udah pernah dengar istilah ini belum? BELUM? sama dong dengan aku. Tos dulu kita! Padahal di kamus KBBI ada loh. Artinya yah sama kayak mencangkul atau kapak untuk membelah sagu. Tapi karena belum pernah liat langsung, actually I really have no idea.

So, di hari yang telah ditentukan, aku dan temen-temen naik perahu dari Pantai Khalkote di Danau Sentani menuju Kampung Yomoro. Perahu berjalan pelan membelah danau terluas di Papua ini. Lalu setengah jam kemudian kami tiba di sebuah dermaga. Eh gak dermaga juga sih cuma jembatan bambu seadanya yang goyang-goyang gitu. Makin dekat, makin cetek pula airnya dan di sekeliling banyak tanaman apa tuh yang tumbuh-tumbuh di air. Kayak teratai tapi kayak bukan, soalnya gak nemu yang ada bunganya. Apa ganggang yah? Itulah pokoknya.

kampung yomoro

Sebelumnya karena ku pikir cuma bakalan lihat pohon sagu di kebun gitu, maka waktu di kapal aku kepincut nyobain PSK (Pinang, Sirih dan Kapur) punya Pak Elvis yang notabane pemilik ladang sagu yang bakal aku kunjungi ini. Apesnya aku malah nge-fly pula. Tapi untungnya segera minum air putih sebotol buat mengurangi efeknya.

Meski masih agak limbung dan harus ditolong Leo buat naik ke daratan, aku pun langsung menyemangati diri buat masuk ke hutan. Dari pertama di dermaga hingga beberapa menit berjalan, aku tak menjumpai siapapun. Yang ada cuma pohon sagu yang berdiri tegak, pohon sagu bertumbangan, jalan becek, dan banyak lagi pohon sagu lainnya.

Karena tidak ngeh medan trekkingnya seperti ini, kami serombongan tampak gak siap. Banyak yang pake alas kaki seadanya, misal aku dan koko cuma sandal jepitan doang. Kak eka malah pakai dress hahha.

15 menit berlalu, medan makin susah. Jalan becek kini sudah berganti genangan air. Geli geli gimana gitu rasanya menjejakkan kaki ke dalam itu. Mana kondisi hutan sagu makin rimbun dan rapat seakan ingin memeluk. Beberapa tumbuhan liar mulai membaret kaki. Aku juga harus kudu hati-hati karena meski genangan air udah berusaha ditutupi dengan daun dan batang pohon sagu, tapi jadi licin dan jika tak hati-hati bisa terpeleset. Atau bisa juga kaki nancep di tunas pohon sagu yang kecil-kecil. Namun itu semua sebenarnya tidak terlalu aku cemasin, karena yang paling aku takutin itu adalah LINTAH!

Makhluk penghisap darah yang nyata, tidak seperti vampire yang mungkin hanya hoax.

Jadinya karena udah keburu parno, aku jalan sambil nunduk terus sambil lihatin kali aja ada yang menjamahku.

Dengan kondisi masih agak melayang, tak berapa lama aku ngeliat ada sesuatu di betis kak eka yang berjalan di depanku. Karena mataku agak blur sekarang, aku meminta kak eka berhenti. Aku menunduk dan berusaha melihat ke sesuatu yang hitam-hitam tapi bergoyang itu.

“Arrgghhhhh Lintaaahhhhhhh” aku berteriak yang kemudian diikuti teriakan kak eka juga.

Aku mengambil ranting kayu atau apapun itu seadanya untuk menjauhkan binatang tersebut.

Namun saat dijauhkan, entah emang jatuh atau emang ada satu lagi, kali ini binatang itu malah ada di sepatu kak eka, yang mulai menggeliat menuju ke dalam kakinya. Aku mulai kebingungan juga harus ngapain, secara ku aja jijik banget liatnya. Akhirnya aku kepaksa manggil bala bantuan di belakang. Dengan sigap entah dari mana pinternya si bobby ini, dia pun ngeluarin mancis dan “membakar” si binatang itu hingga dia menggelinjang kepanasan lalu baru deh mau lepas.

Adegan ini hanya berlangsung sekian detik tapi cukup bikin panik. Karena ini pula kami agak terpisah jauh dengan rombongan di depan yang jalan terlebih dahulu.

“Itu tadi pacet. Kalau lintah lebih besar lagi dan susah lepas.” Aku lupa siapa yang bilang itu tapi yang jelas sukses membuatku merasa sedang di film horror.

“Makanya yuk jalan yang cepat jadi pacetnya gak sempat nempel di kaki.” Kali ini suara ini kalau gak salah datang dari Bang Amir, master drone kami yang lebih dulu sudah pernah masuk ke rimba Papua dan yang paling well prepared pakaiannya buat di hutan.

Setelah meredakan kepanikan, kami mulai jalan lagi. Medan tetap gak mulus, jika tak mau dibilang makin parah.

hutan sagu

Aku mulai menggerutu – mungkin efek PSK –

“Kita mau ke mana sih?” “Kok gak nyampe-nyampe?” sambil sekali-kali ngelirik kakiku, apakah masih utuh atau gak. Kalau soal tampilan kaki, yang jelas sudah gak berbentuk lagi. Lumpur tanah mulai masuk ke bagian dalam kuku. Kutek yang awalnya oranye sudah berubah macam warna aer comberan. Celana panjang baruku yang model lebar gitu sudah basah hingga betis. Belum lagi ini Papua panas banget dan aku di hutan sagu pengap yang sedari tadi tidak ada kehidupan atau indomaret buat ngadem.

pacet

Cesss…

Tiba-tiba ku merasa seperti ada semut yang menggigit di kaki.

Tunggu…mana ada semut hidup di air lumpur gini?

Tidakkkkk!!! Aku mulai gelap. Kuberanikan mengangkat kaki kanan. Di situlah kulihat makhluk yang sama persis kayak tadi.

“Pacett..PACETTTTTTTTT PACETTTTT” aku berteriak sambil loncat-loncat sinting di tempat.

Jeritanku nyaring dan cempreng banget – suatu reaksi yang tak kuduga datang dari diriku – kayaknya bisa bikin terbang burung Cendrawasih (kalau ada). Berbekal pengalaman pertama, si bobby tanpa disuruh-disuruh lagi langsung menghampiriku.

“Diam…” sahutnya mulai uring-uringan liat ciwi-ciwi di grup blogger ini yang kerap dihinggapi pacet.

Dengan tangan saktinya, Bobby langsung ngambil si pacet dan dilempar balik ke arah hutan. Gak pakai dibakar lagi. Yah dong kalau gak akunya juga ikut kebakar kaliiiii! Tiba-tiba seketika aura ketampanan bobby naik berkali-kali lipat setelah jadi penolong hidupku dan kak eka. Rasanya pengen ku memeluknya buat ucapan terima kasih. Tapi sejenak aku urungkan karena bau asap rokok dan ketek yang mulai basah wkwk!

Btw sungguhlah yah ini pengalaman pertama nyaris bikin ku mau nanggis, tapi gengsi. Memang sih aku tuh udah terkenal sebagai tim jompo kalau soal aktivitas fisik kayak gini, tapi bener-bener deh medan trekking kali ini melebihi apapun yang pernah dilewati, soalnya di hutan ini bergelimang pacet dan teman-temannya sih T.T

Mana saat itu aku sudah ngos-ngosan, ditambah setelahnya sempat pula jatuh terjerambab dengan pantat mendarat duluan. Plus nih yah aku belum makan siang, cuma ngemil doang. Ingin rasanya pengen udahan aja dan pesan ojek online jemput aku, tapi apa daya gak bisa.

((Eh tapi di Jayapura katanya ada ojek online loh, hanya saja gak pake seragam eheh bener gak tuh yah?))

Berbekal tekad “tar lagi sampai”, akhirnya tiba jugalah aku di sebuah lahan kosong agak luas.

Di sana, sudah ada pace mace yang sibuk sendiri. Pace duduk di dalam pohon sagu, sibuk mencangkul isi pohon sagu. Hasil pangkurnya adalah serat-serat pohon yang sangat lembut dan warnanya merah muda, sekilas membuat mata saya terpana karena sedari tadi liatnya warna hijau dan air butek doang.

Namun di sisi lain, aku kok jadi mau nanggis melihat beratnya kerja pace ini. Di tengah hutan, tidak ada aktivitas lain selain pangkur sagu ini. Temannya hanya si mace ini. Tidak ada radio, kopi atau rokok yang menemani. Paling hanya nyamuk saja yang mau berteman. Dan oh pacet tentunya.

pangkur sagu

Sempat lama aku tertegun liat pace yang sixpack ini bekerja dalam diam.

Kuhampiri dan bertanya “pace siapa namanya?”

“Huss jangan tanya lagi kerja.” tiba-tiba si Richo menghardikku. Katanya emang kerja begini terlihat simpel tapi perlu dilihat itu jarak kapak begitu dekat dengan kedua kaki, sehingga dibutuhkan fokus sepenuhnya biar tidak terjadi kecelakaan kerja.

Akhirnya karena butuh ngobrol, ku melipir ke si mace yang juga tampak bekerja tak kalah keras.

pembuatan sagu

Sagu yang telah dipangkur tadi, lalu dikumpulin ke penyaringan yang dibuat masih tradisional banget. Lalu dikasih air tanah seadanya, lalu diremes-remes. Kayak meras santan, tapi dalam porsi banyak gitu. Lalu air perasan tersebut meluncur ke dalam sebuah tempat penampungan. Airnya agak hitam, sehingga tidak tampak dasarnya. Tapi di situlah, bubur sagu tersebut tercipta. Aku minta izin untuk mengubeknya. Setelah diizinkan, aku masukin tanganku dan berusaha mencongkel endapan sagu yang ada. Cukup susah karena sepertinya mereka sudah menjadi satu. Setelah agak ditarik, barulah bisa terlihat bubur sagu itu berwarna agak ungu gitu.

bubur sagu

“Ini kalau disiram air putih, warnanya putih kok.” begitu penuturan mace. Mungkin karena air susah, jadinya air yang dipakai senemunya aja gitu.

Total kerja mangkur sagu begini bisa seminggu dengan menghasilkan 10kg sagu. Sagunya per 2kg paling dijual ke pasar jadi 10ribu saja. Sisanya yah buat mereka makan sendiri. Jika nanti habis lagi, baru mereka ke sini lagi buat pangkur sagu. Gak heran pace ini otot lengannya begitu padat dan cekukan perutnya membuat para pria yang mendaftar di pusat kebugaran jadi memikirkan ulang keputusan mereka.

pangkur sagu

Masih terpesona liat eksotisnya pace itu, si guide ku malah ngajakin buat lanjut. Laelah kirain udahan segini aja, rupanya masih ada lagi. Ku sempat sedikit curhat  ke guide sih soal trek yang baru dijalani, tapi si guide cuma ngelesnya biar jalan-jalannya berasa.

“This is the real adventure” katanya ngono.

Yeah-yeah, whatever, terpaksalah jalan meski hayati lelah banget rasanya.. sama kayak nulis postingan ini yang kok jadi panjang banget haha. Jadi ya wes ku sudahi dulu sampai di sini yak hubungan kita. Untuk merekap perjalanan penuh dramatis ini, aku persembahkan video kak Gio yang lucu ini. Tar bonusnya ada adegan makan papeda dan ulat sagu. Yah jadi agak spoiler ini postinganku selanjutnya 😐

So for now, cherish this one yah 🙂

Lanjutan cerita berikutnya –> Tentang Papeda dan Ulat Sagu

Intermezzo :

Jadinya semua rombongan kami terkena / dijamah pacet loh, hanya Bang Amir, Richo, KoperTraveler saja yang lolos dari “maut ini. Ada juga kami bareng cewek-cewek laen, dan mereka digigitnya juga ampe berdarah ahha puas banget nih pacet di sini nyoba berbagai darah manusia :p

About the author

Travel Now or NEVER
8 Responses
  1. Hahaha jalan2 salah kostum, masuk kawasan hutan dan dikejar lintah atau pacat, memang seru kak.. tapi pake dress?? Ya Tuhaaaan.. itu mau travelling atau kondangan, kak Ekaaaa

    Aku ngakak ngebanyangin kak Eka pake Dress

    1. wkwk itulah kak yudi karena tanpa sepengatahuan kami. Ada tuh fotonya di IG stories ku heheh

      Tapi untungnya kak eka pake sepatu. Lah aku ma kokoh sandal jepit wkwk

  2. haha, pada saltum :V .. tapi justru bikin pengalaman dan ceritanya jadi lebih berkesan yekaaaan…

    btw tentang pacet,, aku pernah digigit belasan pacet euy pas menjelajah kaki gunung talang di sumatera barat.. itu tu gak berasa, tau2 udah berdarah2 aja kaki.. Malah di sepanjang jalan keliatan banget ada ratusan pacet di bekas jalan yang udah jarang dilewatin orang hihi..

    -Traveler Paruh Waktu

  3. Aku taunya korek, ternyata namanya mancis ya Len. Doh aku ketawa-ketawa gimana ingat kejadian ini. Huahaha, ampon daaaah itu pacet yeeee. Genit bet. Tau aja ada cewek-cewek dateng hahaha.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.