infus darah

Opname di Tarakan

Karena sudah BAB berdarah (baca postingan sebelumnya) selama beberapa minggu hingga HB saya anjlok ke 7, maka dokter mengharuskan saya opname di Rs. Tarakan. Saya menempati Ruang Dahlia (kamar kelas 3 / paling murah) di mana total seruangan ada berdelapan dengan ibu-ibu yang sakitnya udah pada kronis semua. Tiba – tiba saya jadi merasa sedikit bersyukur karena yaelah ternyata penyakit saya kalau dibandingin ama yang laen itu mah nggak ada apa – apanya. Namun begitu, saya juga harus hati – hati jangan sampai tambah parah penyakitnya.

opname di tarakan

Di antara pasien yang lain, hanya saya saja yang bisa mondar – mandir gak karuan. Yang laen rata – rata malah ada yang udah gak bisa turun dari ranjang. Begitu menyandang gelar pasien, otomatis saya “terpenjara”. Saya tidak diperbolehkan keluar dari lantai ini, bahkan urusan beli air minum dan makan saja bikin saya repot secara saya anak kos jadi gak ada yang menemani. Untungnya pasien di kanan & kiri saya serta yang menungguinya sangat berbaik hati. Mereka selalu menawarkan saya jika salah satu anggota keluarganya ada yang turun ke bawah mau beli sesuatu.

Kalau gak sama mereka, saya suka nitip sama perawat. Saya sempat pula nitip bakso ama perawat cowok karena saya bosan dan merasa gak cukup dengan makanan RS. Dapetnya sih 3x sehari…. tapi makannya bubur dengan lauknya paling cuma tahu rebus, sayur bening, daging, dll yang tentu aja sangat sehat tapi sama sekali tidak berbumbu banyak buat saya. I need more micin heheh.

Karena tahu saya makannya banyak, pasien kiri & kanan saya suka ngasih jatah makanannya ke saya karena toh mereka ga nafsu makan. Rupanya menu makanan yang dikasih terkadang beda. Yah mungkin tergantung sakitnya apa kali yah. Meski awalnya hambar tapi lama – lama doyan juga. :p

Selama opname, saya dipasangi infus jadi kalau mau ke WC saya tenteng tuh infus atau saya berhentikan dulu alirannya. Setelah itu, saya harus jongkok dengan satu tangan mengangkat infus tinggi – tinggi. Pas cebok harus gantian tangannya antara megang infus dan megang gayung. Untung saya pake celana yang tinggal dipelorotin. Kebayang kan kalau pake jeans yang harus dikancing gitu? Ribetnya! Itu juga alasan kenapa selama 3 hari 2 malam saya memilih gak mandi. #alesan

Sebenarnya ada lagi alasan kenapa saya jarang ke WC. Bau nya itu loh. Ada dua wc jongkok yang dipake buat MCK bareng – bareng. Keliatannya sih bersih tapi ada bau menyengat entah dari mana (dari lobang air kayaknya) yang bikin saya harus selalu menahan napas ketika masuk. Kalau gak biasa saya olesin minyak kayu putih dulu biar gak terlalu berasa. kalau gak, saya selalu menunggu habis dibersihin pagi harinya dan dikasih pewangi ama CS nya, baru saya puas – puasin masuk ke sana. Saking bau nya ibu sebelah saya kalau gosok gigi juga di ranjang karena alasan yang sama. Tapi aneh dan untungnya, selama opname 3 hari 2 malam di sana saya ga kepengen BAB meski udah dikasih obat macam dulcolax dan sejenisnya biar poop. Yah lagi lagi ini mungkin karena Shy Bowel Syndrome saya.

Sehari – hari saya cuma main HP atau jalan jalan ke ruang sebelah buat nyari teman ngobrol. Kebetulan saya berteman ama ibu di kamar depan yang nungguin anaknya gejala DBD. Terus saya juga suka mampir ke ruang sebelah di mana ada pasien wanita yang sama – sama BAB berdarah namun dalam kondisi lebih memprihatinkan karena ambien luar dan diare di saat bersamaan jadi harus selalu pake pembalut. Rata – rata pasien di sini adalah pengguna BPJS dan mereka ngerasain banget manfaatnya. Semuanya gratis dan mereka bisa tinggal sampai disuruh pulang dengan semuanya udah dijamin. 

Kadang – kadang saya juga suka ngecengin satpam atau perawat biar mereka ngijinin saya main ke bawah, tapi ditolak. Beberapa pasien lainnya sempat bertanya pada saya, sebenarnya saya ini lagi sakit atau cuma yang nungguin sih? secara saya keliatannya tidak sekarat. Saya pun bingung menjelaskan. Di satu sisi dokter mengharuskan saya opname tapi sampai saat ini saya disuruh istirahat aja sambil menunggu transfusi darah dan kolonoskopi. Tapi kan kalau gak ada yang dikerjaiin jadi BT juga dan mati gaya. Pas malemnya, ketika jam besuk sudah habis, suasana di lantai RS ini sudah mulai tenang, kecuali dengan erangan dan jeritan dari salah satu pasien yang letaknya di ujung lantai, di kamar sendiri. Pasien ini sendiri, tidak ada yang menemani. Emang sedari sore dia berteriak – teriak terus. Kadang hanya terdengar pilu, kadang dia berteriak minta tolong. Saya tidak mengerti dia sakit apa. Saya hanya sekilas melewati ruangannya, tapi tak jelas melihat rupanya. Dia hanya terlentang namun suaranya kuat menggema di seluruh koridor lantai. Tapi tak ada dokter / suster yang menghampirinya. Menengok pun tidak saya rasa.

Dalam keheningan malam, yang sudah mendekati jam tidur, tentu saja saya susah terlelap karena rintihan pasien ini. Tengah malamnya saya dibangunin perawat, karena mereka akan memberikan saya sekantong darah untuk membantu menaikkan HB saya. Darah itu begitu masuk ke pembuluh darah saya, rasanya dingin sekali. Saya hanya berdoa darahnya cocok dan tidak akan menimbulkan reaksi apa apa. Terima kasih buat kalian – kalian yang pernah nyumbang darah ke PMI. You knows you help someone along the way!

infus darah

Menunggu hingga tetes darah itu pindah ke badan saya, saya udah pengen banget bobo. Tapi lagi – lagi teriakan dari si pasien itu membuat mataku terus melek. Dari yang jadinya kasihan, sekarang saya malah kesel habis. Di antara umpatan dalam hati yang saya tujukan buat dia, ada kali saya nyumpahi dia untuk segera berpulang saja jika memang sudah tak kuat menahan sakit dan hidup ini.

Karena kecapekan, tanpa sadar saya ketiduran juga. Besoknya, saya bangun pagi – pagi meski masih ngantuk. Ketika perawat datang untuk memeriksa, dia bertanya :

“Gimana tidurnya mbak?”

“Susah tidur mbak. Itu pasien yang ruangan di ujung teriak teriak terus. Dia kenapa sih?” ujar saya yang masih belekan.

“Oh, pasien itu udah meninggal kok semalam.” jawab si perawat tenang.

JEDARRR!!! Rasanya saya disambar kilat. Doa (yang tidak sengaja) saya umbar, benar – benar dikabuli. Ya tuhan, betapa jahat dan kejamnya saya. Saya cuma kesal karena gak bisa tidur, sementara dia harus menahan siska penyakit yang mungkin kalau saya jadi dia, saya pun tak akan sanggup. Di antara raungan – raungannya yang terakhir, emang terdengar pilu banget. Tak jarang dia memanggil mamanya. Tak jarang aku bisa dengar dia udah kehabisan suara, namun tetap dipaksa untuk mengerang. Terkadang tenggorokannya udah kering, namun tak ada seorang pun yang memberinya air minum. Niat saya kemarin tuh ingin menjenguknya. Tapi sekarang sudah kandas. Hei, siapapun kamu, maafkan saya yah. Semoga kamu sudah tenang di sana.

Meski shock, saya jadi penasaran asal usul si pasien tersebut. Dari info yang didapat, pasien tersebut berasal dari salah satu panti sehingga tidak ada yang mengurus. Sudah sakit lama dan sepertinya komplikasi sehingga tidak ada lagi yang dapat diperbuat. Keluarganya pun entah dimana sehingga dia seperti “ditinggal” begitu saja. Saya jadi mengerti mengapa dia teriak – teriak. Mungkin dia hanya butuh seseorang yang mau memperhatikan dia. Sebagai pasien yang juga tidak ada yang menunggui, saya juga bisa merasakan kesedihannya. Orang – orang selalu nanyain keluarga / temannya mana. Saya pun hanya bisa menunduk lesu.

Untungnya meski sendiri, saya tidak begitu merasa kesepian karena pasien di sini baik – baik sekali. Contohnya si ibu A, yang berada di kiri saya. Dia sedang berjuang melawan tumor / kanker. Orangnya lembut dan suka ajak omong. Tapi saya suka sedih liat dia. Saya perhatikan si A punya jam – jam khusus di mana dia akan merasa kesakitan banget karena penyakitnya atau karena dia lagi masa penggantian obat. Padahal dia udah minum obatnya teratur banget bahkan kadang jam 3 pagi. Meski dia gak teriak teriak, namun dia suka menangis dalam diam. Kadang dia membekap wajahnya sendiri dengan bantal agar ibunya yang sudah renta tidak terbangun mendengarnya menderita. Kalau kebetulan lagi siang hari, sewaktu dia kesakitan, ibunya akan berusaha memijatnya atau menenangkannya. Kadang si A minta tambahan obat pereda sakit, namun si ibu mengingatkan bahwa jatah obat yang boleh dia ambil untuk hari itu sudah habis sehingga tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan selain berdoa sakitnya cepat reda. Kadang kalau sudah tak tahu harus gimana lagi, si ibu membaca Alquaran.

Saya sendiri yang terbaring di sampingnya cuma bisa senyum kecut dan menitikkan air mata untuknya. Saya memberinya setoples kacang, satu – satunya snack yang saya bawa. Awalnya dia yang meminta karena kata si A dengan mengunyah kacang, setidaknya ia merasa lebih baik. Di lain waktu, kami suka bercerita. Si A adalah seorang janda tanpa anak. Awalnya dia hanya fokus bekerja tanpa menyadari dia sudah melewatkan masa emasnya untuk mencari suami. Meski begitu, untunglah dia akhirnya juga memiliki seorang pasangan hidupnya. Sialnya, laki – laki yang dia anggap sebagai belahan jiwanya ini sepertinya lebih tertarik dengan hartanya. Oleh sebab itu, si A yang saya perkirakan berumur 40 tahun ini tidak punya siapa – siapa yang menungguinya selain ibunya. Di jam – jam besuk, terkadang saudaranya datang untuk melihatnya dan dia pun akan terlihat segar. Dia hanya berharap bos di tempat kerjanya saja yang gak usah datang membesuknya karena si A takut si bos bukan hanya bawa buah tapi juga bawa surat pemecatan. Maklum, dia sudah beberapa minggu ini tidak dapat bekerja lagi.

rs tarakan

Sedangkan di samping kanan saya, ada seorang nenek, sebut saja si B. Si B yang ditunggui oleh suaminya sedang menunggu jadwal operasi untuk mengambil batu empedunya. Mereka berdua adalah pasangan yang diam. Tidak banyak berkata – kata dan tidak banyak terlihat kesakitan juga. Si B sudah tidak dapat turun dari ranjangnya sehingga urusan ke belakang selalu dilakukan di atas ranjang. Dengan telaten dan sabar, si suami akan membuang pipisnya atau muntahnya ke dalam WC. Yah mungkin itu juga napa WC kamar tambah bau.

Si suami B sehari – harinya lebih sering duduk sambil membaca koran atau main HP sedangkan si B lebih banyak tidur. Kadang suaminya suka turun membeli air panas dan makanan. Ketika di hari operasinya sukses, sang suami memamerkan kumpulan batu empedu si B yang berhasil diambil keluar. Kami seruangan langsung heboh ingin melihat langsung gimana sih batu empedu itu. Rupanya kecil aja kok macam upil cokelat, namun banyak.

Masih di satu baris dengan ranjang saya, di ujung ada seorang ibu – ibu Batak, sebut saja si C yang juga bersama suaminya. Si C sepertinya punya masalah ginjal jadi setiap hari rutin cuci darah. Di lehernya seperti ada selang yang menonjol keluar, mungkin untuk cuci darah. Tapi si C ini suka ngamuk – ngamuk. Kadang gak mau disuntik sampai harus suaminya dan perawat menahannya. Kalau sudah begitu dia pasti meronta – ronta tidak karuan. Kadang gak mau minum obat. Kadang gak mau makan juga. Saya liat suaminya sabar banget. Dia selalu bilang :

“Ayo mamak, makan dulu biar habis ini kita pulang.”

“Kalau gak mau makan nanti pasang selang dari hidung.” (maksudnya di infus)

Tapi seringnya usaha si suami gagal. Si C ini juga kadang suka ngedumel enggak jelas sehingga saya agak meragukan kewarasannya. Tapi di lain waktu dia baik – baik saja, dan tentunya ceria banget ketika rombongan keluarganya datang. Meski begitu, suaminya selalu seperti tidak pernah kehabisan stok sabar. Sudah dibelikan bubur atau makanan kesukaan tapi si C tidak mau membuka mulut. Begitu dimasukin paksa, di keluarin lagi. Begitu seterusnya. Ujung – ujungnya si suami yang makan.

Lesson Learned : Besok kalau cari suami yang kayak suami B & C biar saya yang penyakitan ini punya seseorang yang sabar menghadapi saya. Hasik!

**

Melihat banyaknya yang sakit, dan satu ruangan saya itu semuanya cewek, saya jadi makin peduli ama kesehatan. Namun setelah 2 malam tinggal di sana, saya harus akui saya enggak kerasan. Tentu banyak hal yang bisa saya pelajari dan syukuri dari pengalaman – pengalaman orang sekitar. Namun aura sakit, tangisan, depresi yang begitu mengelayut membuat saya jadi ikut terbawa – bawa. Mana saya gak tahan dengan WC nya pula. Dan saya yakin saya gak bisa poop dengan kondisi kayak gini. Jadi sewaktu di check di hari ketiga saya ngotot mau pulang. Untungnya dokter Tjahyadi bolehin sambil memberikan jadwal buat kolonoskopi minggu depannya.

Bersambung…

  • si engkong Ozi (February 18, 2017)

    Len, kok napa bisa di RS di Tarakan ? napa gak di Jakata atau di Jambi saja ? memang kalau WC sistim jongkok jauh lebih berbau dari pada WC duduk, mungkin karena terlalu cetek air nya atau sistim WC nya kurang baik, sebenarnya juga di RS itu sebaiknya dilengkapi WC duduk bukan WC jongkok agar mem[permudah pasien, he he he at least Len memiliki pengalaman nginep di RS gimana gitu rasanya, hanya biasanya makanan di RS itu justru harus dituruti demi kesehatan karena segala sesuatunya diatur dan ditakar

    • Lenny Lim (February 18, 2017)

      Ini di RS.Tarakan Jakarta koh, deket ama kos. Haha mungkin yah tapi saya pecinta wc jongkok tuh. Banyak kok wc jongkok yang gak bau. Lenny duga baunya datang dari saluran pipa gitu..
      Iyah paling gak udah punya pengalaman nginep di RS. Seru juga! tenang kalo soal makanan lenny nurut hehe

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published.

You Might Also Like

Here you can find the related articles with the post you have recently read.