Legenda Batu Belimbing Keramat di Toboali Bangka Selatan

“Di Toboali itu banyak mejik-mejiknya mbak. Apalagi buat wanita. Harus hati-hati.” kata supir rentalku.

“Wanita lokal atau turis mas?” tanyaku lagi.

“Sama saja mbak. Kalau dia sudah suka sama wanita itu, maka nanti pasti bisa dapat.” jawab si supir lagi.

Begitulah pesan dan kesan dari supir mobil rentalku ketika aku ngotot kami harus ke Toboali, ibu kota Bangka Selatan. Awalnya si supir hanya menyarankan wisata-wisata yang biasa dia bawa seperti Danau Kaolin dan ke Sungailiat.

“Di toboali kurang ada wisatanya.” begitu si mas supir berseloroh lagi.

Aku hanya mengganguk angguk saja karena entah kenapa pesan seperti ini kayak sudah familiar.

Dulu pas ke Pulau Lembeh – Bitung, juga banyak warga yang bilang di situ banyak ilmu hitamnya. Pas ke Pulau Semau – Kupang, dibilang tempatnya angker. Tapi kami tetap ke sana dan ternyata tempat-tempat tersebut malah banyak hidden gem-nya. Dan selama di sana aku baik-baik aja. Menurutku sih yang penting aku datang dengan niat baik, menjaga alam, tidak berprilaku aneh-aneh, yah mudah-mudahan bakal aman sih.

Jadi balik lagi ke cerita ini. Kenapa aku pengen banget ke Toboali?

Karena

.

.

.

insting!

Tsaah emang pakai feeling doang sih kayaknya tempat ini bagus. Salah satu destinasi yang aku incar adalah Batu Belimbing. Aku kepengen melihat tempat di mana banyak batu-batu hitam unik yang berserakan dengan cantiknya. Batu-batu ini juga seakan melawan ilmu gravitasi karena beberapa bongkahan batu saling bertumpuk, tapi enggak jatuh, malahan berdiri dengan kokoh dan anggun. Padahal posisi kawasan ini pas di jalan penurunan dan beberapa ada yang di pinggir tebing gitu.

Jadi ada misteri apakah yang menyelimuti batu ini?

Untuk menjawabnya, aku sempat baca legenda menarik tentang Batu Belimbing ini. Begini ceritanya yang aku kutip langsung dari spanduk informasi di kawasan ini!

batu belimbing di toboali

**

Suatu masa, hiduplah dua orang sahabat di sebuah kampung di tepi pantai sebelah barat kota Toboali. Dua sahabat itu adalah Bang Belim dari Suku Melayu dan Ko Abing seorang dari Suku Tionghoa. Mereka tumbuh bersama dan memiliki ikatan selayaknya saudara. Kebiasaan mereka berdua yang dilakukan sejak kecil adalah menikmati turunnya sang surya bersama setiap sore di sebuah batu besar yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Batu itu seoalah menjadi saksi persahabatan Bang Belim dan ko Abing.

Pada suatu ketika, terjadi wabah penyakit di kampung mereka. Semua ramuan obat belum ada yang dapat menyembuhkan wabah itu. Korban jiwa mulai berjatuhan terutama orang tua dan anak-anak. Keadaan sangat memprihatinkan. Bang Belim dan Ko Abing pun tak luput dari serangan penyakit aneh tersebut. Suatu malam, keduanya mendapat mimpi yang sama bahwa ada seorang tabib sakti di seberang lautan yang dapat menyembuhkan penyakit yang sudah merajarela di kampung mereka itu. Tanpa berpikir panjang, kedua sahabat itu pun langsung berlayar dengan perahu milik Bang Belim untuk mencari tabib sakti yang hadir dalam mimpi mereka itu.

Setelah berlayar seharian mereka berhasil menemukan tabib sakti iu. Sang tabib memberikan mereka obat berupa sejenis buah berbentuk unik. Buah tersebut bergurat-gurat, harum baunya dan kalau dilihat dari sisi atas tampak seperti bentuk bintang. Sang tabib mengizinkan Bang Belim dan Ko Abing membawa sebanyak yang mereka mampu untuk menyembuhkan penduduk desa mereka. Satu butir buah dapat menyembuhkan hanya satu orang saja.

Sekembalinya mereka di kampung, Bang Belim dan Ko Abing segera membagikan buah unik tersebut ke seluruh warga kampung. Sungguh ajaib! Penyakit itu langsung sembuh seketika setelah memakan buah ajaib itu. Buah itu hampir habis dibagikan, hanya tersisa dua buah saja. Cukup untuk menyembuhkan kedua sahabat tersebut. Namun ternyata masih ada warga yang belum mendapatkannya. Akhirnya, Bang Belim dan Ko Abing merelakan dua buah terakhir itu untuk seorang ibu dan anaknya. Bang Belim dan Ko Abing pun tidak tertolong. Keduanya wafat pada hari yang sama dan ditangisi seluruh warga kampung yang telah mereka selamatkan. Sebelum meninggal kedua sahabat itu meminta agar dimakamkan bersama di tempat mereka berdua selalu menikmati indahnya matahari terbenam setiap sore. Warga kampung pun memenuhi permintaan terakhir kedua pahlawan mereka itu.

Tujuh hari setelah kedua sahabat itu dimakamkan, terjadi fenomena alam yang aneh. Ribuan burung walet tiba-tiba terbang dan bermain di atas langit kampung mereka, seolah-olah memberitahukan sebuah kabar gembira. Burung-burung itu bernyanyi dan menari memenuhi langit. Sebuah atraksi yang tak pernah terjadi sebelumnya. Tiba-tiba seseorang berteriak “Ada batu besar di makam Bang Belim dan Ko Abing!!”

Maka, seluruh warga kampung berbondong-bondong menuju tempat kedua sahabat itu dimakamkan. Aneh bin ajaib! Entah dari mana bisa muncul sebuah batu raksasa di sebuah makan Bang Belim dan Ko Abing. Yang lebih ajaibnya lagi, batu besar itu berbentuk menyerupai buah ajaib yang menyembuhkan wabah penyakit seluruh warga kampung itu. Oleh warga kampung, buah ajaib itu diberi nama sebagai buah belimbing (gabungan nama kedua sahabat sejati itu). Dan batu raksasa yang muncul secara ajaib itu pula diberi nama yang sama : Batu Belimbing. Batu itu berdampingan dengan batu besar yang merupakan tempat terbaik Bang Belim dan Ko Abing menikmati indahnya matahari terbenam sepanjang masa.

NB : Perahu yang dipakai oleh Bang Belim dan Ko Abing pergi mencari tabib sakti juga berubah menjadi batu yang dikenal sebagai batu perahu.

**

Dan.. habis baca legenda tersebut aku nyesal gak ke Pantai Perahu untuk liat batu perahu yang disebutkan di cerita tersebut. Mana si supir gak bawa aku ke sana pula. Huft!

batu belimbing toboali

Anyway..dari situ saya baru ngeh, pantes aja selama di Toboali, aku lumayan banyak menemui kelenteng dan masyarakat Tionghoa di kota ini. Nah, that’s why aku juga jadi gak takut kena mejik-nya #eh. Saking banyaknya komunitas Tionghoa, di sini ada semacam chinatown-nya gitu loh. Lalu soal burung walet, di sini juga banyak banget bangunan agak tinggi yang dialihfungsikan untuk jadi sarang walet.

Jadi apakah legenda tersebut benar-benar terjadi? Only God knows!

 

Btw, kalau baca legendanya, harusnya cuma ada satu batu yah, namun nyatanya di sini banyak berserakan batu-batu raksasa dengan tekstur belimbing. Aku sempat menerka-nerka yang mana satu batunya si Belim & Abing ini . Yang ini kali yah, karena ada dua batu dan bertumpuk atas-bawah gitu. Terus yang satu ini juga termasuk yang paling besar.

batu belimbing

Batunya saking banyaknya, ada yang agak kecil, hingga raksasa bertebaran hingga ke bawah Pantai Kapur sana.Tapi kalau pas di tepi pantainya, agak beda jenis batunya. Kalau dihitung ala-ala mungkin jumlah batu bisa mencapai 25 buah sih.

Lalu di samping area ini, masih ada rumah-rumah warga. Jadi kadang aku ngelihat ada anak-anak yang suka manjat batu lalu main di beberapa batu yang tampak berdempetan. Seru sih beberapa batu seolah olah membentuk gerbang atau lorong-lorong rahasia, yang cocok buat dijadiin tempat maen petak umpet. Tapi awas beneran “disumpetin” loh!

Unik juga yah?

Selain itu, awalnya aku kira tempat ini kecil doang. Namun karena tidak ada pembatas area, sebenarnya tempat ini luas. Bisa sampai turun ke bawah sano noh. Di bawah situ juga pasti nemu batu-batu yang tersembunyi dalam hutan. Meski gitu batu yang di bawah-bawah tidak begitu kentara tekstur belimbingnya.

batu belimbing di bangka

Oh ya, selain di sini, kabarnya di Bangka Barat ada satu lagi kawasan Batu Belimbing yang gak kalah hits-nya. Semoga Batu Belimbing yang di Bangka Selatan juga sebaik di sini pengolahannya. Tidak ada tiket masuk, cukup membayar parkir mobil (Rp.5.000) dan tempatnya cukup terawat. Tong sampah juga bertebaran dan secara keseluruhan tempatnya bersih. Cuma sedihnya tetap aja ada tangan nakal yang menorehkan tcat / tinta di batu ini. Siapa sih orangnya? pengen ditoyor deh!

 

batu belimbing bangka

Comments(2)

  1. January 6, 2018
    • January 6, 2018

Leave a Comment