Kuliner Kitorang Papua : Papeda dan Ulat Sagu!

Makanan asli orang Papua emang bersumber dari pohon sagu. Makanya, aku rela menerjang hutan sagu bergelimang pacet demi melihat langsung proses pembuatannya yang cukup menyita keringat dan waktu.

Baca dulu yah cerita sebelumnya di sini, sebuah perjuangan penuh drama.

pangkur sagu

Awalnya aku melihat proses Pangkur Sagu dulu biar tahu gimana cara dapetin sagunya. Setelah itu, melanjutkan perjalanan menuju ke tempat.. yang aku pun tak tahu. Yang ku tahu ikuti saja teman yang di depan. Namun seiring waktu, aku dan kokoh saat itu makin terbelakang karena kami berdua kesulitan berjalan di tanah berlumpur, karena cuma sandal jepitan doang. Dengan alas kaki kayak gini, kami sering sekali terpeleset, bahkan sebelumnya aku jatuh terjerambab. Duh makin tepos lah pantatku ini!

Jadi demi keselamatan, aku dan kokoh melepas sandal, dan berjalan kaki telanjang. Padahal ini justru lebih beresiko karena aku baru aja kena pacet, jadi kemungkinan pacet lain juga sudah menunggu dengan muut mengangga di sepanjang lintasan. Kedua, bisa aja kaki nancep di tunas pohon sagu atau menginjak sesuatu yang tajam. Kalau dipikir pikir, emang bahaya banget tapi kami udah sebodo teuing daripada susah jalan. Pas itu kami pun adalah dua orang terakhir dari rombongan dan telah ketinggalan jauh.

Ketika udah terpisah dari rombongan, dan aku gak bisa melihat mereka plus pas teriak-teriak gak ada yang nyahut, di situlah aku mulai cemas. Apalagi fitur GPS gak bisa dipakai di sini. Wong sinyal HP aja udah tewas.

Di satu persimpangan, aku kebingungan, antara kiri dan kanan. Akhirnya ku pilih kanan. Meski perasaan sudah tidak enak hati, aku tetap lanjut. Tiba-tiba, crew kapal merangkap yang bawain kotak makan kami berseru bahwa kami telah salah jalan. Kami pun lebih percaya intuisi orang lokal (meski bukan di kampung Yomoro ini) dan kembali ke jalan tadi lalu memilih ke kiri. Setelah itu, perasaan lebih tenang apalagi pas papasan sama beberapa petani sagu yang kesemuanya pake sepatu boots. Ku sungguh iriiiiiiii!!

Tak lama kemudian, aku dan kokoh pun akhirnya ketemu juga dengan kerumunan manusia dan teman-teman kami. Rupanya bukan kami saja yang nyasar. Si bobby dan kak gio pun turut nyasar hingga harus dicari bang amir.

Sementara itu, aku yang sudah tahap kelelahan langsung duduk di tenda bambu. Seorang mace yang melihatku langsung menyuruhku mendekat. Dia lantas memeriksa apakah masih ada pacet di celanaku yang gombrong itu. Mace bahkan tak merasa jijik dengan celanaku yang kusam itu. Dia melipat celanaku dan membolak balik betisku untuk meyakinkan emang tak ada makhluk jahanam di situ. Duh sungguh ku terharu dan meleleh dengan perhatian kecil seperti itu. Si mace lantas bercerita dia sendiri datang dari tempat yang sama dengan kami dan juga sama-sama terkena pacet. Oleh karena itu, sebuah organisasi solidaritas korban pacet pun lantas terbentuk saat itu juga.

Setelah semua anggota kami terkumpul, layaknya jalinan kasih, kami pun menyimak adegan mace dalam membuat Papeda. Pertama dia menuangkan air mendidih ke bubur sagu yang tampak kental sekali. Begitu disiram air, si bubur sagu mulai melemah. Di saat itulah, mace tak mau kehilangan momen sehingga langsung mengambil pengaduk kayu dan menggodoknya tanpa ampun. Perlahan, lahirlah Papeda. Yak sesimpel itu saudara sebangsaku!

Papeda

Jika dibiarin lagi, yah Papeda itu bakal mengendap dan mengeras lagi, baru nanti kalau mau makan yang disiram air mendidih aja lagi. Oleh karena itu, kami pun langsung cepet-cepet menyendok papeda. Teksturnya persis kayak lem. Jadi buat makannya, paling pas pake kuah indomie ikan hangat-hangat. Sehat, cepat kenyangnya, dan punya kandungan serat. Bagi yang diabetes atau mau diet, nih ganti nasi dengan sagu. Top markotop deh!

papeda papua

Ibarat hajatan di kampung, kami dijamu habis-habisan.

Ada semangka. Ada sagu goreng (yang warna cokelat dan keras uiy), dan ada ulat saguuuuuuuu~~~~

Ulat sagu ini berasal dari pohon sagu yang serbuknya sengaja ditinggalin dikit, lalu ditutup dengan daun pohon sagu yang mirip pohon kelapa itu. Setelah itu, tinggal tunggu aja sampai ada kumbang masuk menitipkan larvanya. Tak lama kemudian, maka terciptalah ginuk-ginuk ini.

sarang ulat sagu

Sehabis berurusan dengan pacet, lalu ditawari ginian, eeww rasanya tentu aja bikin gak selera makan. Niatnya tadi mau menyantap Papeda, tapi karena sajian ulat sagu ditampilkan terlalu awal, aku pun jadi hanya bisa makan sesuap dua suap. Sisanya ngeliatin atraksi penduduk lokal yang “bermain” dengan si ulat sagu sebelum di-HAP.

ulat sagu

Sebelumnya, beberapa temenku udah pada nyobain ulat sagu pas di Festival Danau Sentani, tapi versi yang gorengnya. Rasanya jadi kayak udang kata mereka. Nah sekarang sudah ada si ulat sagu yang masih hidup, pada berani makan gak? sepertinya yang bermental kuat cuma duo Batak yakni Eka dan Richo.

Kak eka beraninya memotek kepala si ulat dulu sebelum dimakan. Begitu masuk mulut, katanya langsung lumer gitu dan rasanya kayak margarin. Kalau si Richo berani memakannya hidup-hidup utuh semua dan menurutnya lebih kayak rasa kelapa muda. Dari dua pencoba ini, semuanya bilang enak. Meski gitu, aku tetap tak tertarik mencoba alias gak berani sih. Sempat juga ditawari ulat sagu yang dibakar. Ngeliatnya sih agak ngiler karena minyaknya keluar-keluar mengkilap dan sepertinya renyah. Namun aku urungkan lagi niatnya. Padahal ulat sagu ini dari segi kesehatan, punya kandungan protein yang tinggi. Cucok buat alternatif protein bar yang baru mungkin? Meski gitu, harus waspada yah karena ada efek sampingnya. Bahkan orang Papuanya sendiri ada yang alergi sama ulat sagu jadi tak semua orang bisa makan juga.

ulat sagu

Daripada geli-geli sedap lihat ulat sagu ini, mendingan aku bergerilya mencari pace yang punya sepatu boots agar mau pinjemin aku. Sungguh ku tak sanggup kalau harus kembali ke jalan itu lagi dengan kaki ayam doang. Setelah ditanyain ama guide / Pak Elvis, ada pace yang rela minjemin dan bahkan ikut aku balik ke dermaga. Oh sungguhlah emang orang Papua ini. Muka boleh tegas tapi hatinya macem papeda, kenyal dan lembut.

Atau mungkin dia takut aku bawa pulang bootnya? hmm…

Karena harus mengejar sunset di Danau Love, kami pun terpaksa harus bergegas pulang ke kapal lagi, lewat jalan yang sama. Pas di sini, barulah kami tahu bahwa tempat ini sebenarnya tak terlalu jauh dari Bandara Sentani. Duh dengernya agak emosi dikit.

Napa pula jadi kami harus pake kapal jauh-jauh, trekking sama pacet, kalau Bandara Sentaninya aja di depan hotel. Tapi yah sudahlah aku pun cuma bisa mengutip quote dari si guide :

“This is the real adventure..”

Toh ketika pulang aku udah sumringah. Waktu yang ditempuh pun jadi lebih cepat, setengah jam saja. Berkat sepatu boot, aku gak perlu lagi tuh liat bawah. Cukup memandang lurus melihat masa depan saja. Semua becek, pacet, genangan, ranting phon sagu, ku libas semua. Dahh sombong banget deh..

pohon sagu

Intermezzo Tahu gak sih? malamnya si kak eka mulai bentol-bentol gatel dan terpaksa ke apotek beli obat. Sementara itu, si Richo tampak baik-baik aja. Hayooo loh jadi apakah makan ulat sagu ini musti ama kepala-kepalanya juga?

ulat sagu

Kalau kalian bakal berani nyobain ulat sagu gak? Tega gak?

About the author

Travel Now or NEVER
2 Responses

Leave a Reply