Pengalaman Paling Apes di Singapura : Ketinggalan Pesawat

Dengan mata yang sudah semakin minus dan ngantuk ini, aku mengernyitkan mata berusaha melihat ke jam di layar info boarding.

22.10.

Pantas saja sedari tadi kucari flight QZ 269 tidak tampak sekalipun. Padahal flight Air Asia dari Changi menuju Cengkareng ku ini harusnya lepas landas pukul 22.00. Pikiran mulai kalut. Kubuka HP dan melihat di layar.

21.10.

Harusnya masih ada waktu. Tapi gate 4 yang semestinya disesaki penumpang, kini malah sunyi melompong. Angin AC di Changi semakin membuat ulu hatiku beku dan susah bernapas.

Kuhampiri dua orang petugas India yang ada di dekat sana, sekadar untuk bertanya “what time is it?”

Mungkin dia melihat tingkahku yang panik, lalu berusaha melihat boarding pass-ku. Mereka berdua lalu asik berdebat karena sudah jelas, bahwasanya aku ditinggal atau ketinggalan pesawat. Karena susah berkomunikasi, ku ambil lagi boarding pass ku dan segera menuju ke konter informasi.

“I’ve missed my flight!” jawabku dengan mata merah ke salah satu petugas.

Mereka ikut shock dan segera mengecek di layar komputer. Iya benar saja, flightku sudah mengudara sesuai jadwal.

Segera mereka menelpon ke bagian Air Asia agar seorang stafnya mau menghampiriku dan mendampingi mantan penumpangnya yang telah capek fisik dan mental ini.

boarding pass

Sebelum ke Singapura ini, aku melihat salah satu tweet temenku yang cerita kalau sejak dia ketinggalan pesawat, dia jadi paranoid kalau mau terbang. Jadwal masih jauh tapi selalu sibuk cek tanggal, cek jam buat pastiin dia tidak melakukan kesalahan lagi. Pas aku baca itu, jujur aku agak tersenyum, antara percaya dan tidak. Soale temenku ini jam terbangnya tinggi, jadi kupikir soal naik pesawat mah dia udah pasti master gitu.

Well, ternyata semua orang bisa dapat gilirannya.

Tak terkecuali aku.

Sebenarnya kalau mau dibilang trip kali ini agak beda karena memang bukan trip have fun, melainkan business trip. Awalnya aku menolak pergi karena aku cuma bisa sehari (2-3 Mei) karena keesokannya (4 Mei) aku sudah harus ke Semarang buat ikut famtrip. Jadi meurutku gak efektif banget kalau aku pergi. Padahal rekanku ada juga yang pergi. Tapi yah karena bos maunya aku pergi juga, ya wes dengan ogah-ogahan berangkat jugalah aku. Sebenarnya tujuan aku itu bukan Singapura melainkan ke Desaru, sebuah kampung di timur Johor Bahru, Malaysia. Dari Changi Airport, aku lanjut naik taxi ke Changi Termial buat nyampe ke Desaru ini. Aku pilih opsi perjalanan kayak ini karena aksesnya lebih dekat via Singapura. Jadi aku milih transit di Singapura aja, apalagi flight balik ke Jakarta dari Changi itu kan banyak pilihannya.

Hm…kesalahan no 1 baru aja terjadi karena ternyata aku halu atau dodol gimana gitu dan gak ngecek rupanya ada loh pesawat langsung dari Johor Baru ke Jakarta. Stupid Me!!

Nah jadi selepas melakukan kunjungan kerja di Desaru (3 Mei) yang hasilnya tidak sesuai ekspektasi itu, maka pulang lah aku naek ferry lagi jam 18.30. Singapura dan Malaysia waktunya sama yah. Satu jam lebih cepat dari kita. Jam HP dari pas datang sudah aku atur OK sesuai waktu lokal. Aku tiba di ferry pun lebih cepat dan bisa leyeh-leyeh. Naik ferry juga on schedule. Cuma setengah jam pula. Jadi notabane aku tiba lagi di Singapura jam 19.00.

desaru

Rangkaian kesialan pun mulai berjalan dari sini.

Jadi dari pelabuhan di Desaru menuju ke Singapura, harus melalui Changi Ferry Terminal. Terminalnya tuh sepi banget karena cuma melayani satu destinasi (Desaru doang) dan jam keberangkatan yang tak begitu banyak. Ketika selesai di imigrasi, aku keluar, berusaha nyari taksi. Enggak ada dong. Gelap gulita. MRT? lupakan saja! Bus? Jauh kalau mau jalan.

Akhirnya aku tanya ke salah satu orang Afrika Selatan yang tadi bareng naik fery, jikalau dia juga mau ke Changi Airport. Ternyata cowok hitam manis ini searah dan bersedia mengizinkan aku ikut taksi yang telah dipesan. Btw di sini gak ada taxi yang standby, harus ditelpon dulu.

Ngobrol ngalor ngiudul, taksi yang ditunggu tak jua nonggol. Sampai bingung mau ngobrol apa lagi, akhirnya ketika ada taksi datang tapi gak nemu si pemesannya, maka kami pun “membajak” taksi yang dibawa orang india ini. Si supir sempat tanya mau ke mana lalu kami jawab mau ke terminal 3 (untuk si orang Afrika) dan terminal 4 (untukku). Dia pun mengiyakan dan memencet argo mulai.

Kami duduk nyantai menikmati jalanan Singapura yang gak macet. Setelah 10 menitan gitu, nyampe juga tuh di Terminal 3. Si orang afrika udah mulai ngeluarin duit cash. Kuliat di argo cuma 14 atau 15 something lah. Tapi pas ditanya “how much?” si supir malah minta duit yang 2x lipat harga argo. Hm…ku mulai mencium “bau busuk” dari si india ini.

Hm..kesalahan no 2 harusnya ku turun aja di terminal 3 karena setelahnya ceritanya gak asik banget.

Tak mau si afrika yang telah berbaik hati nebengin aku ke bandara diperas, maka aku pun mencegahnya ngeluarin duit lebih banyak. Aku bilang sama si supir gpp dia bayar 20 dolar aja, tar kalau ada kurang biar aku nombokin. Si supir setuju dan si Afrika pun pamit.

Habis itu, giliran aku menuju ke terminal 4. Sekali lagi lokasinya gak jauh lah. Kayak di Cengkareng aja ditambah gak ada macet kan! Pas saatnya aku turun, aku liat tuh argo cuma nambah paling 4 atau 5 dolar, tapi si india minta 20 dolar (lagi!).

LU KATA APE??? aku langsung emosi!!! Aku tau sih dari harga argo, biasanya ada ditambahi lagi tax tapi paling satu atau dua dolar. Dan tadi si afrika aja udah kasih 20 dolar which is menurutku udah scam banget! Pas aku protes, dia jawabnya karena ini dua tempat yang berbeda. Halah padahal nganternya cuma beda terminal pun sudah berani-beraninya minta nambah 20 dolar. Mana ada alasan macam gitu. Mau nipu cerdas dikit lah. Aku emoh nurut apa kata dia, tapi apesnya aku cuma punya uang gede 50 dolar pula. Terus aku sempat minta receipt taxi yang langsung dia tolak mentah-mentah. Makin emosilah yekan karena receipt itu kan penting buat reimburse ke kantor.

Akhirnya setelah debat kusir kami setuju aku bayar 10 dolar aja, walaupun ku sungguh tak rela ditipu macam gini. Aku kasih tuh duit 50 dolar. Dia malah balikin tiga lembar 10 dolar doang. BANGKE! Sebego-begonya nilai MTK-ku, tapi gak gini juga!

Aku minta lagi, mana 10 lagi. Awalnya dia gak mau. Aku ngotot dan gak mau keluar dari taksi itu (ku sempat buka pintu taksi juga sih in case ada apa-apa). Mungkin karena kelamaan ngetem di depan pintu kedatangan, dan takut didatangi petugas akhirnya dia nyerah juga dan balikin aku 10 dolar lagi sambil ngomel-ngomel.

Sesebel-sebelnya aku, pas turun sempat pula kuucapin thanks. Tapi tentu saja gak ditanggepi si India. Huft kubanting aja tuh pintu taksinya. Jadi kurasa dia melakukan penipuan itu karena mikirnya kami turis jadi gak gitu ngerti. Plus kami juga gak bakal tahu cara komplain kelakuan dia ke siapa dan di mana. Tapi sungguhlah tega. Dia total dapet 30 dolar hanya dengan argo tak nyampe 20 dolar. Lalu soal receipt aku rasa dia pun bohong, tidak mau ngasih karena ketika diminta, dia cuma bilang “Sorry I can’t.”, “It’s not working” tanpa berusaha coba dan pencet tombol apa gitu kayak yang taksi biasa lakukan. Jahanam! Aku rasa juga dia begini karena dia terlanjur mengambil orderan yang bukan seharusnya (i know di satu sisi kami salah karena naikin taksi orang. Karma maybe?) jadi dia takut ter-record sama sistemnya, sehingga dia tak mau keluarin bukti. Huft!

Setelah insiden kurang asik itu, ku segera check-in. Nah di terminal 4 yang baru ini, sistemnya sudah digital semua. Check-in AirAsia pake mesin khusus sendiri, dan begitu masuk, sudah ada check in yang pake alat pengecek paspor dan boarding pass. Ini fungsinya udah langsung kayak imigrasi yah. Apesnya pas sidik jari, entah napa ku dipanggil dan disuruh ke officer dulu. Semacam random check kali yah. Padahal berkali-kali ke Singapura gak pernah tuh gitu.

Setelah semua kelar, aku liat di jam-ku baru jam 8. Jadi karena laper dan emang ku ngidam makan laksa, ku mampir di foodcourt dulu. Aku sempat foto laksa yang kumakan dan waktu itu di HP ku waktu baru menunjukkan pukul 9….which is di jam sebenarnya di singapura itu sudah jam 10. Jadi pas aku keenakan makan laksa, pesawatku sudah boarding. Makinlah ku gak sadar karena di terminal baru ini, memang diberlakukan aturan untuk tidak lagi manggilin orang-orang yang telat. Panteslah ku tak sadar karena saat itu posisiku makan dengan gate itu dekat aja.

laksa

Kalau dipikir-pikir sampai sekarang, ku masih bingung kenapa HP ku bisa tiba-tiba kembali ke waktu Indonesia yang lambat sejam. Padahal dari Malaysia, waktunya udah bener, terbukti aku gak ketinggalan feri. Kalaupun begitu nyampe singapura, dia otomatis berubah, kan harusnya berubah ke local time which is Singapura yang sama Timezone-nya dengan Malaysia. Entahlah~~ misteri ini sampai sekarang tak terpecahkan. Memang sudah jalannya kali.. atau ini kutukan dari si supir India?

***

Setelah menunggu, akhirnya staf Air Asia datang dan membawaku ngurus imigrasi karena di sistem mereka kan aku harusnya udah keluar dari negara ini. Eh taunya masih gentayangan di bandara. Terlebih lagi karena ku sudah tak punya flight lagi, aku harus nunggu di luar, tak boleh di dalem. Hiks!

Sembari ngurus imigrasi, berbekal wifi gratis changi, aku coba buka Traveloka untuk nyari flight berikutnya karena harusnya besok pagi ku sudah harus mulai ikut famtrip di Semarang. Sayangnya flight Air Asia ku itu adalah flight terakhir menuju ke Jakarta. Besok pagi sih ada tapi mahal-mahal huhuh

Pas udah nentuin mau beli yang mana, pas pesen Traveloka malahan di opsi pembayaran tidak bisa karena ada jam operasionalnya which is siang gitu. Hadeh apa pula ini?

Ku coba tanya informasi, sayangnya gak ada yang tour & travel bisa beliin tiket di Changi tersebut. Saat itu sudah tengah malam sih, sehingga ku mulai putus asa. Untungnya saat itu ku berhasil menghubungi KoperTraveler dan minta tolong dia belikan tiket pake credit card si mbak Wenda MySweetEscapeDiary. Akhirnya setelah bersusah payah, akhirnya terbeli juga tiket baruku yakni penerbangan langsung Changi ke Semarang. Sayangnya jam terbangnya pada pukul 3 sore.

Hm…masih cukup lama yah, alias masih seharian lagi. Terpikir mau sewa hotel tapi gak kuat liat harganya. Untungnya saat itu aku cuma bawa dua tas (tanpa bagasi) jadi ketika aku hilir mudik di Singapura, gak terlalu terbebani. Aku sempat yang udah jam 1 malem di sana, tapi masih bingung cari tempat tidur. Jadilah aku bolak balik T1-T2-T3 buat cari tempat yang gak terlalu dingin (ku gak kuat), aman atau paling gak yang agak nyaman. Ternyata nyari tempat bobo buat ngemper aja cukup kompetitif. Kebanyakan spot asik udah diambil orang yang datang sedari tadi. Hiks sedih kali lah aku pas itu. Sempat mau bobo di WC wanita tapi keras banget. Sekeras hidupku dini hari itu…

Setelah kebingungan dan gak kuat lagi, aku putusin bobo di depan konter check in maskapai (yang aku gak tau lagi apa namanya) di T3. Milih di sana karena tidak ada orang dan karena di depannya ada karpet jadi punggungku gak gitu sakit. Awalnya agak susah nyari posisi tidur yang pas, tapi karena terlampau capai, aku bablas juga tidur.

Baru tidur 2/3 jam, aku kebangun karena menggigil kedinginan. Saat itu sudah subuh sih. Aku cari WC buat pipis. Habis itu karena udah gak tahan, aku ke luar dan tidur di depan pintu masuk T3. Aseli…kalau ketemu aku saat itu, aku mirip banget homeless. Meski cuma beralas lantai doang, ternyata aku bisa loh lanjut tidur lagi hingga jam 8 gitu. Syukurnya ada matahari jadi bisa bikin tubuhku agak hangat. Suara mobil ama orang lewat udah gak aku peduliin lagi. Lelah kakak~~

Hingga akhirnya.. sebuah ucapan tiba di telinga..

“Excuse me..”

Aku yang dengernya bak disambar gledek dan langsung terbangun terperanjat.

Orang yang ngebangunin aku, si petugas bandara pun sampai kaget melihat reaksi aku terperanjat.

“I’m sorry, but you can’t sleep here. It’s already morning.” yah gitulah dia bilang.

Aku coba buka mata dan liat sekeliling. Iya sih bandara udah mulai rame lagi.

Pengen rasanya update status #iwakeuplikethis pasti lucu banget. Belum mandi dua hari. Rambut berantakan. Baju udah apek dibawa jalan sedari kemarin. Mata sepet banget, kurang tidur. Pas mencoba bangun, rasanya tulang-tulang-ku pada bunyi kretek-kretek gitu.

Oh kasur kosan, you don’t know how much I miss you…..

terminal 4 changi
Aku tidur nyempil di samping angka 8 itu.

Masih setengah sadar, akhirnya kuputuskan balik lagi ke T4 buat check-in. Sambil check-in tuh pikiranku kayak dejavu gitu. Karena baru banget kemarin malam melakukan hal ini semua. Semua prosesnya pun sama, hingga pas mau masuk, paspor diambil lagi dan dilempar ke officer buat dicek lagi. Hhh…

Pas makan pagi, ku nyari food court baru (trauma sama laksa yang nyebabin aku ketinggalan pesawat #halah). Tak seperti biasa, pagi itu aku bingung mau makan apa. Akhirnya ke konter nasi padang, meskipun gak ada esensi padangnya sama sekali. Mana yang jual orang india pula. Karena gak selera makan tapi harus, aku cuma pesen nasi ama sayur hijau satu doang.

“Ha..this is only 2 dolar.” si waitres seakan tak percaya ku sekere ini kali yah.

“Yes, that’s it.” Jawabku setengah malu digituin sama si waitres-nya. Untungnya porsi nasinya gede banget, sehingga kala sayurnya habis, nasi putihnya masih sisa banyak hahah.

Melihat itu, rasanya ku jadi mikir.

Ya ampun hidup gini amat yah. Baru kemarin aku lagi business trip itu rasanya mewah banget. Main golf dan lunch di resto golf bisa mesen spaghetti pake udang gede dan side dish potato wedges yang kriuk-kriuk. Belum lagi minumnya mocktail dan free flow water yang kalau ada kurang apa-apa tinggal manggil pelayan aja.

Lah sekarang kondisiku begini. Berbalik se balik-baliknya. Cuma makan nasi putih doang. Itu pun ku habisin cepet-cepet, gak enak sama tatapan orang yang mengasihani aku.

makanan murah

Sambil nelen nasi yang rasanya hambar, ku sempat mikir, ini aku apa kena tulah yah. Kok bisa apes beruntutan kayak gini yah. Yah bok ketinggalan pesawat, kenapa harus banget di Singapura yang mahal gini, ditambah pas banyak agenda yang harus kuikuti setelahnya. Kalau kutotal berikut kerugianku :

  • Tiket AirAsia Changi – Cengkareng
  • Hotel room di Bandara Soekarno Hatta (yep aku rencana tuh nginep di bandara biar gak usah pulang lagi)
  • Tiket Jakarta – Semarang keesokan harinya
  • Sudah rugi itu, aku masih harus beli tiket Changi – Semarang sendiri berikut biaya hidup sehari lagi karena terdampar di Changi.

Ini semua belum ditambah kerugian emosi, air mata, capeknya, gak tidurnya, gak mandi dan lain sebagainya loh yah. Pokoknya boleh dibilang ini pengalaman paling apes dalam perjalanan travelingku.

Moga-moga cukup sekali ini aja yah guys.

Pesan Moral : Sekarang aku bisa ngerti perasaan temenku yang ketinggalan pesawat itu. Toss! *sambil cek jam HP lagi*

**

Ada yang punya pengalaman ditinggal pesawat? mana lebih pedih ama ditinggal si doski? Share yuk!

About the author

Travel Now or NEVER
20 Responses
  1. Belum pernah ketinggalan pesawat dan jangan sampe. Kalo mepet-mepet sering haha. Tapi itu karena faktor x. Aku orangnya parno soal jadwal terbang.

    Btw di Changi, terminal manapun kayaknya gak ada woro2 panggilan ke pelanggan. Silent airport apa ya istilahnya. Jikapun ada pengumuman, biasanya kalo pindah gate. Itupun cuma sekali apa dua kali dengan suara pelan.

    I feel u haha. Pas pulang dari Genting itu kan aku ngegembel juga di KLIA2. Ngebayangin beberapa hari sebelumnya nginep di kasur empuk, makan enak tinggal nunjuk kalo mau sesuatu, eh sampe bandara malam kek gelandangan.

    Blogger life hwhwhw

    1. Iya kali yah mungkin emang gak ada lagi pengumuman woro-woro gitu jadi kudu sadar diri sendiri. Aku aja kalau mepet sama jadwal boarding udah jantungan banget huhuh

      wkwk pas lagi acara kayak raja, habis selesai kembali ke dunia nyata begitulah :p

  2. Ya ampun aku ngebayanginnya ngenes banget. Kalau aku pasti udah nangis bombay.
    Btw tau banget rasanya kedinginan ngemper di bandara, meski nyaman tetep aja kedinginan di dalam bandara itu ngenes. Pagi lamaaaaa banget rasanya. Cukup sekali hahaha

    1. Iya aku sempet nanggis juga tapi pas ke WC soale malu kalo depan petugas hahah iya nih aku mending kepanasan deh masih bisa tidur. tapi kalo kedinginan ugh gak banget rasanya hehe bener semoga ini yang terakhir kalinya

  3. HUaaa baca sampe abis: asli super drama!
    Aku pernah nih, tapi ketinggalan kereta. Habis acara camping terus balik naik mobil bak terbuka gitu, sopirnya udah ngebut. Sampe stasiun jam 9.10, keretanya jam 9. Alhasil drama semakin panjang. Aku tulis di blog juga. Kejadian udah lama banget :”)

  4. Hmmm.. mungkin lebih enak bacanya gak perlu bawa si India ngehe atau si bau Kari dan senadanya, di Singapore.. nada kalimat2 seperti ini sangat offensive dan rasis. 🙂

  5. Haduuuh kak…terbukti kak Lenny stroong bisa melalui itu semua ya, semangaaat. Kadang double check segala sesuatu emang penting banget sih

    Aku paling apes ketinggalan pesawat justru gegara ketiduran di rumah sendiri, yakali pesawat jam 6 pagi, aku bangun jam 6:30 pagi, bandara dari rumah bisa 1 jam 30 menit 😂😂

  6. Ya ampun Kak Lenny! Aku bacanya sampai sedih gini.. 🙁
    Semoga gak terulang lagi ya, Kak. Aku pernah gak ngeh dapat email kalau jam keberangkatan pesawatnya dimajuin. Ya sudah.. pas sampai di airport pesawatnya udah gak ada hahhaa. Langsung beli tiket lagi di airport Jakarta, karena waktu itu harus ke Singapura untuk terbang ke Yunani.

  7. Waduh, apesnya lumayan ya. Untung dirimu masih tegar. Hp emang kdg punya kekurangan sbg penunjuk waktu. Low bat, rubah zona waktu. Sebaiknya pakai jam tangan juga.

  8. Ceritamu seru, kak!

    Aku belom pernah ketinggalan pesawat, cuma HAMPIR. Dua kali, dan di hari yang sama. Gue sampai lari-lari karena gate udah closing, boarding room udah sepiii, dan jadi yang terakhir masuk pesawat.
    Info penting nih, di T4 nggak ada announcement.

Leave a Reply