Kebiasaan kebiasaan di Tahun Baru Imlek

Boleh dibilang Imlek merupakan hari paling akbar dalam setahun bagi warga Tionghoa. Momen ini selalu dinanti nanti dan dipersiapkan sebaik mungkin. Begitupun di keluarga aku, perayaan ini yang paling bikin kami rempong dan bahagia banget.

Dulu pas kecil, Imlek itu cuma seputar hari libur gak usah sekolah, beli baju baru, dan potong rambut. Tapi makin gede, makin berputar sekitar pertanyaan “kapan kawin?” . Yeah i knows, curhat dikit okay lah yah. Kan blogku sendiri ;p

Anyway, meski suka sebel dengan pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban tersebut, tapi kumpul bareng keluarga itu harus. Apalagi dengan kondisi anggota keluarga yang udah pencar-pencar ke mana-mana, inilah satu-satunya momen yang bisa menyatukan kami kembali. Yah jadi ditahan-tahanin aja lah, mumpung setahun sekali doang.

Nah biasanya seminggu sebelum Imlek, aku sama orang rumah di Jambi tuh udah mulai ngelakuin banyak hal yang dirasa penting untuk nyambut Imlek, kayak ini nih :

1. Bersih bersih rumah.
Ini agenda yang paling menjengkelkan buatku. Kalau sudah dekat dekat imlek, temperamen mama suka naik kalau menyangkut estetika dan kerapihan di rumah. Mama selalu bilang “Ayo dibersihin, nanti tamu banyak yang datang!”, padahal hari ketiga aja bel rumah udah gak ada yang pencet.

Sebagai anak yang berusaha berbakti, aku berusaha memaklumi. Lagian paham kok. Andai kata rumah kami ini bisa berbicara pasti dia bakal bilang “Coba imlek setiap hari jadi aku bakal bersih terus!”.

Agenda bersih bersih yang biasa dilakukan sih standar aja. Nyapu, ngepel, lap jendela, bersihin kamar mandi, cuci peralatan imlek (gelas,toples dan kawan kawan), merapikan rak buku, dan bersihin debu yang hinggap dimana saja. Namun kadang si mama maunya agak perfeksionis dengan ngecatin pintu ruko. Mungkin karena itu yang pertama dilihat, jadi penting banget. Terus mulai nyuruh-nyuruh cat dinding. Si papa juga ikut-ikutan nambal pekarangan beton di depan biar mulus. Kadang juga ikut bersihin mobil buat kami jalan-jalan besoknya. Fiuh! Percayalah, ritual ini cuma ada pas mendekati imlek. Untung karena sekarang tinggal di Jakarta, aku pulang kan agak mepet imlek karena kerja, jadinya sudah jarang kebagian bersih-bersih. Wong nyampenya aja H-1, pas malam makan-makan donag. Pinter kan aku~~

Mitos yang ada di balik aksi bersih bersih ini terkait dengan mitos agar di tahun depan yang baru ini semua kembali ke fitrah. Suci. Bersih tanpa noda. #bukan iklan pencuci baju.

Tapi anehnya di hari pertama imlek, kami malah dilarang menyapu dan membersihkan lagi karena dianggap “menyapu” rezeki. Bahkan, bagi sebagian orang sapunya sampai diumpetin sewaktu imlek. Kalau terlanjur kotor/berantakan gimana? cukup di lap atau sampahnya dipungut saja. Kalau mamaku lebih kreatif lagi. Kalau ada debu atau serpihan kue jatuh, langsung diumpetin ke kolong sofa pake kaki. Huahua. So now you know our secret 🙂 next pas berkunjung cek kolong masing-masing tempat duduk yah.

2. Berbenah diri
Karena perayaan besar, semua mau tampil sempurna dong yah. Rumah sudah rapi, maka kini giliran penghuninya yang harus tampil maksimal. Agenda potong rambut adalah keharusan. Buang sial katanya. Tapi lagi lagi ini sekalian buat tampil gaya dan keren. Nah karena aku sekarang tinggal jauh dari rumah, kalau lagi males ke salon atau sudah menjelang imlek tapi nggak pengen potong rambut, maka aku inisiatif dan dengan beraninya potong sendiri rambutku. Yah sedikit aja ujungnya doang. Yang penting sudah potong toh!

Pas aku kecil tuh punya ritual membersihkan diri yang unik. Mama suka membersihkan badanku dengan minyak kayu putih. Modalnya hanya baju yang sudah kusam, minyak kayu putih, serta tenaga ekstra untuk menggosok. Terus si mama akan mengincar lipatan lipatan yang menjadi tempat favorit untuk daki bercokol. Maklumlah, aku kan gak doyan mandi, tapi rajin main di luar panas-panasan, jadinya dekil. Nah jadi minyak kayu putih yang sudah dituangkan di atas baju tersebut digosok gosokin ke hampir semua badan, mulai dari leher, lipatan tangan, hingga lipatan paha. Bak penghapus, tak lama kemudian kulitku menjadi merah dan daki membandel pun lenyal. Setelah itu langsung mandi dan rasanya sueger dingin gitu loh. Seketika juga aku jadi putih kembali. Hanya aja yang kasihan tuh adalah baju kusam buat gosok itu. Biasanya sih habis itu dijadiin kain pel soalnya dakiku yang menempel setahun gak bakal hilang hahah.

3. Bayar Hutang
Tidak keren lah, masa tahun baru tamu datang cuma nagih hutang. Pamali!

4. Berbelanja kebutuhan imlek
Tahun baru niscaya tidak hanya hatinya yang baru, tapi penampilan juga harus baru. Dulu, saya dan teman teman suka “berlomba” keren kerenan yang diukur dari banyaknya barang baru. Baju baru, celana baru, pakaian dalam ikutan baru, sepatu baru, aksesoris baru dan semua muanya deh. Selain itu faktor keren juga dipengaruhi dari kuantitas barang tersebut. Misalnya berapa banyak baju yang dibelikan. Dulu sih rata rata bisa beli 2-3 pakaian baru. Setelah dewasa, suka suka sendiri belinya berapa pasang. Namun, makin ke sini malah malas beli baju baru menjelang imlek apalagi melihat lemari baju yang makin numpuk. Kalau dulu kan memang cuma beli pas mau Imlek, Kalau sekarang mah gak ada apa-apa juga belanja-belanji. Jadi gantinya pas imlek beli satu aja udah cukup deh. Sisanya mending disiasati dengan mix and match kali yah?

5. Makan besar sekeluarga
Biasanya diadakan di malam sebelum Imlek. Makanan yang disediakan memang agak mewah sih semacam satu ekor ayam utuh, ikan, sayur, bakso goreng, capcay dan ditambah lagi beberapa kue basah. Banyak banget yah soalnya beberapa hidangan ini sekalian untuk disajikan buat sembahyang dan buat besoknya karena kan hari pertama Imlek biasa tidak ada masak-masak lagi. Tinggal “makan” di tempat orang atau habisin sisa malam ini.

6. Sembahyang di rumah
Setiap ada perayaan pastinya ada sembahyangnya juga. Kami menyebutnya pai pai (berdoa). Beberapa teman ada yang melakukannya H-1 di siang hari dan ada pula yang tengah malam. Kalau keluarga aku sembahyangnya biasa H-1 siang dan hari pertama di subuh hari. Si mama lah tukang alarm kami. Kami biasa dibangunin subuh subuh. Kalau masih males juga, yah ditinggal *maafkan lah kami anak durhaka ma!*

Untuk sembahyang, kami menyajikan 12 makanan (lebih mirip snack khas china) yang selalu hadir di setiap tahun. Kemasan, warna hingga kualitasnya selalu dipertahankan sama seperti itu setiap tahun. Lalu kami mengeser meja ke depan pintu menghadap ke luar. Semua barang yang 12 macem itu pun diletakkan di meja tersebut. Terus ditambahlah ada dupa(hio), kertas sembahyang (kim cua), lilin jumbo, ditambah teh dan aneka buah buahan lainnya. Setelah berdoa menggunakan dupa, acara dilanjutkan dengan membakar kertas sembahyang (kim cua) di luar. Dipercaya kertas sembahyang (kim cua) tersebut nantinya akan menjadi uang di alam baka dan kami mengirmkannya untuk keluarga yang telah mendahului. Lalu makanan yang disajikan itu katanya buat para dewa.

7. Foto Keluarga
Pas jaman jadul, belum punya kamera, kami selalu foto keluarga di kelenteng dengan jasa tukang foto keliling. Dijepret beberapa kali, nanti seminggu ambil di studionya gitu. Jadi deg-degan nungguin hasilnya bagus apa gak. Tiap tahun dikumpuluin, keliatan deh tinggi badan naik seberapa, kurusan apa gak, gaya rambutnya gimana. Lucu aja!

Jadi kalau pas aku lagi ngerantau ke mana gitu dulu (USA) dan nggak bisa pulang, maka siap siap saja cemberut karena tidak ada wajah saya dalam foto keluarga tahun itu. Sedih yah?

Ketika zaman sudah digital gini, kasian juga jasa tukang foto itu sudah gak ada yang pakai lagi karena orang-orang udah pake HP sendiri buat foto-foto. Makin ke sini, malahan ada yang udah bawa kamera sendiri. Nah aku pun gitu, jadi di hari pertama Imlek, semua udah mandi dan sumringah dapat Angapao, self timer di kamera, lalu dapatlah foto keluarga yang kaku. Karena tiap tahun angle dan gayanya selalu sama. Cheers!

8. Angpao
Tradisi ini yang paling dikenal semua orang kalau pas Imlek, maklum karena berhubungan dengan materi. Tapi banyak yang salah kaprah. Masa minta angpao ke aku sih. Nih yah, aku jelasin. Jadi angpao itu hanya diberikan oleh orang yang telah menikah dan memiliki penghasilan sendiri. Jadi meski aku udah tuwir dan udah kerja, karena belum nikah, yah gak bisa kasih. Adanya aku yang masih dapet dari orang-orang!

Biasanya di rumah angpao dikasihnya pagi hari setelah kami mandi dan dandan yang kece. Habis itu langsung deh berhambur mencari papa mama sambil mengucapkan salam. #modus

Nah untuk besaran angpao yang diberikan nominalnya mengikuti naiknya harga sembako. Makin tahun makin banyak. Lumayan! Sejak punya adek adek, terkadang malahan saya yang kebagian tugas memasukkan duit ke Angpao buat mereka. Dasar pelit, aku kasih aja seadanya hihihih. Edannya, terkadang mama malas memasukkan uang angpaoku jadi disuruhnya aku ambil sendiri lalu masukin sendiri. Yah kagak surprise lagi dong? enaknya cuma aku bisa suka-suka masukin berapa lembar.

9. Sembahyang ke kelenteng
Kelenteng-kelenteng di Jambi setiap tahunnya pasti SANGAT ramai dikunjungi. Sudah ke sananya macet, parkir pun susah. Setibanya di sana tampakah lautan manusia berdesak desakan berdoa di dalam. Terus pas gini, ditambah lagi banyak pengemis yang menadahkan tangan mencoba peruntungan. Beberapa pedagang  juga memanfaatkan kesempatan emas ini buat jualan minuman, mainan, atau burung yang biasa dibeli buat dilepas gitu. Dipercaya kalau membebaskan hewan hewan tersebut, maka akan terlepas juga semua dosa dosanya.

Hal pertama yang kami lakukan begitu sampai di kelenteng adalah membeli peralatan sembahyang (hio,lilin,kertas sembahyang dan permen). Lalu kami bagi-bagi tugas. Si adek kecilku pergi menyalakan lilin dan menaruhnya di tempat yang sudah disediakan. Ada yang dapat tugas meletakkan permen (boleh juga kalau ada yang mau bawa makanan lainnya dari rumah untuk dipersembahkan). Yang lainnya berbagi dupa dan memulai ritual sembahyang. Sembahyang dimulai dengan aturan di depan dulu (sembahyang langit), dalam (sembahyang ke Tuhan dan dewa dewanya), kanan, kiri baru, baru diakhiri dengan membakar kertas sembahyang.

Sembahyang ini jangan dikira cuma 1 kelenteng yah. Biasa kami 4 kelenteng loh. Karena keluargaku marga Lim, jadi datangnya ke kelenteng marga ini atau kelenteng gede gitu. Jadilah hari pertama biasa kelenteng hopping. Ada 1 yang biasanya ampe ke luar kota juga dijabani. Sekitar sejam naik mobil. Capek?Pasti! Tapi asik juga loh bisa jalan jalan sekeluarga. Kapan lagi?

klenteng
10. Berkunjung ke sanak saudara
Setelah sembahyang usai, kami langsung beramah tamah ke keluarga besar yang dimulai dari rumah kakek nenek dari pihak mama (pihak papa sudah tiada) baru nantinya ke keluarga yang lain dan teman teman. Pas banget perut sudah lapar, berkeringat lalu disambut salam hangat dari mereka dan Angpao! Terus biasanya di rumah keluarga ada kebagian makan mpek-mpek. Yum-yum!

11. Merah
Merah adalah warna yang berani dan dipercaya sebagai penangkal dari hal hal yang buruk sehingga menjadi ciri khas dari imlek. Kalau dulu mama yang membelikan pakaian, pastilah yang dibeliin warna merah. Kalau perlu sampai ke sandal dan bibir pun berwarna merah. Dulu rasanya kesel beut, karena menurutku pilihan mama gak keren. Pas udah gede, seneng dong bisa milih dan beli sendiri. Eh makin tua, aku balik lagi kadang suka pake baju merah. Mungkin kangen masa kecil kali yah. Terus malah sukanya pake cheongsam. Biar berasa banget suasana orientalnya gitu.

12. Tebu
Alkisah dulu di Tiongkok ketika masa perang, ada seorang wanita yang sedang hamil tua sedang lari dari kerumuman penjahat yang memburunya. Sang wanita itu rupanya lagi hami besar dan akan segera melahirkan. Karena udah gak tahan, dia memilih bersembunyi di hutan tebu. Di sanalah dia selamat dari kejaran para penjahat. Di sana jugalah dia selamat melahirkan sang bayi. Oleh karena itu, hingga hari ini tebu menjadi perlambang keselamatan. Dulu kami masih sering tuh pasang batang tebu gede-gede di sisi pintu agar rumah senantiasa aman dari mara bahaya. Terus pas imlek habis, tebunya dipotong-potong bagi-bagi ke orang. Tapi makin ke sini, kok jadi ribet yah. Jadinya udah gak pernah pasang lagi. Tapi moga-moga kami selalu jauh dari bahaya deh.

13. Barongsai, Mercon, Lampion dan aksesoris lainnya
Barongsai dan kawan kawannya yang tampil dalam dominasi warna merah diartikan sebagai penangkal roh jahat. Mercon memang dibunyikan sekeras kerasnya untuk membantu mengusir roh roh jahat tersebut. Suka sebel juga karena gak tahan bunyinya yang memekakkan telinga. Biasanya ada ritualnya juga kasih barongsai pake angpao. Yah bagi-bagi rejeki lah yah!

14. Setelah 15 hari, keseruan ini usai juga. Itu tandanya Cap Go Meh pun dimulai. 

Cap Go Meh

Nah itu dia kebiasaan di keluargaku, kalau kalian masih punya kebiasaan apa aja?

Comments(25)

  1. February 8, 2013
  2. February 8, 2013
  3. February 8, 2013
  4. February 9, 2013
  5. February 9, 2013
  6. February 9, 2013
  7. February 9, 2013
  8. February 11, 2013
  9. February 11, 2013
  10. February 15, 2015
  11. February 15, 2015
  12. February 15, 2018
    • February 16, 2018
  13. February 16, 2018
    • February 16, 2018
  14. February 18, 2018
  15. February 22, 2018
    • February 22, 2018
  16. February 22, 2018
    • February 22, 2018
  17. February 23, 2018
  18. March 14, 2018
    • March 14, 2018

Leave a Comment