Mewarnai Semarang Ala Kampung Pelangi

Sudah lama saya mendengar tentang booming dan populernya tempat-tempat bertema kampung pelangi atau suatu area yang dicat warna-warni agar menjadi tempat yang cantik.

Kemunculan konsep tempat wisata seperti ini selalu punya pro dan kontra. Pro karena dengan menjadikan daerahnya atraksi wisata, masyarakat lokal mendapat keuntungan ekonomi. Namun di sisi lain, pihak yang tak setuju berpikir bahwa tempat ini tak menjual apa-apa, selain untuk memenuhi keinginan para pengunjung buat narsis, pamer di sosial media, lalu pulang.

Kalian tim yang mana satu guys?

kampung pelangi warna warni semarang

Aku pribadi tanpa direncanain akhirnya mampir ke Kampung Pelangi juga woy. Lokasinya ada di Semarang. Awalnya dalam rencana famtrip Semarang ini, aku dan temen-temen cuma diturunkan di Taman Kasmaran, yang letaknya ada di ujung Kampung Pelangi. Taman buatan ini biasa buat tempat nongkrong sekalian liat kampung pelangi dari kejauhan.

Tapi karena tak puas, ku sengaja “kabur” dan masuk ke kampung Pelangi. Dari beberapa gang (yang di depannya ada jembatan), aku masuk ke gang ke-4. Jalan yang awalnya landai tak lama jadi menanjak. Pada dasarnya, hanya ada satu jalan utama, kalau pun belok-belok, paling jadinya nyasar ke gang sebelah atau buntu kayak kisah cintaku. Sewaktu aku datang, udah jam 10 gitu sih. Suasana udah sepi. Mungkin karena pemukiman penduduk, jadi kebanyakan pada udah pergi sekolah atau kerja kali yah. Kalau pun ada orang, adanya anak-anak kecil banget atau orang tua. Ku sempat ketemu satu ibu yang lagi duduk santai dekat rumahnya di sebuah tanjakan curam.

rumah kampung pelangi

Awalnya pas saya mengeluarkan kamera dan mengambil gambar ke arahnya, si ibu menggeser posisi badannya, mungkin takut fotoku jadi bocor. Aku pun senyum lalu bilang “Senyum buuuuu”, barulah dia mulai rileks dan memamerkan gigi atasnya yang ompong. Melihat sinyal lampu hijau, aku pun menghampiri si ibu. Sama seperti kebanyakan penduduk di sini, si ibu dan keluarganya kini punya penghasilan tambahan, yakni membuka warung dan menjual minuman/makanan kepada pengunjung.

“Tapi sekarang sudah sepi mbak, gak kayak tahun lalu”, begitu curhatnya di akhir obrolan.

Iya aku bisa maklum sih, secara tempat begini emang ramenya pas awal-awal buka gitu. Ditambah kampung pelangi sekarang sudah banyak merambah ke daerah lain di Indonesia, tak hanya di Semarang saja.

Awalnya Kampung Pelangi di Semarang ini juga mengikuti konsep yang ada di Jodipan, Malang. Perumahan yang tadinya ini kumuh, berkat inisiatif dari pemerintah serta beberapa pihak lainnya, lalu dirombak hingga terlihat seperti sekarang. Para warga yang kala itu belum terlalu paham akan rencana besar pemerintah, syukurnya tidak menolak ketika tembok rumah hingga jalanan area mereka di cat dengan warna ngejreng. Tak hanya dikelir, kampung ini juga ditorehi dengan berbagai gambar dan mural yang indah mulai dari wayang hingga gambar kartun. Gak main-main loh yah, yang tukang gambarnya ini ada yang dari komunitas mural dan bahkan juga ada beberapa gambar yang merupakan hasil kerjasama antara mahasiswa Semarang dengan mahasiswa Malaysia. Jadi, segala jenis seni bercampur aduk menciptakan harmoni.

kampung pelangi di semarang

Meski beberapa rumah aku lihat cat-nya udah mulai pudar dimakan usia, beberapa masih bagus terutama yang di area bawah. Maklum soalnya impresi pertama itu segalanya.

Selepas mengobrol ringan, aku pamit sama ibu itu dan lanjut nanjak ke atas.

Aku dan temenku ngelewati segerombolan anak-anak di depan rumahnya. Melihat kami jelas-jelas bukan tetangga sekitar, ditambah pula nenteng kamera, anak-anak langsung berseru: “foto…foto..foto”, temenku pun langsung mengiyakan permintaan mereka. Seneng deh liat kehadiran kami yang tamu ini bisa membawa senyuman di wajah polos mereka. Lebih senang lagi, karena si anak-anak tidak meminta uang atau imbalan. Pun orang tua yang melihat kami dari teras rumahnya. Hanya senyum-senyum saja tanpa ada ngasih kode atau tedeng aling-aling.

kampung pelangi di kota semarang

Makin naik ke atas, akhirnya aku nyampe juga di tempat yang landai. Tapi sudah tidak dicor lagi jalannya, karena di sini adalah kuburan warga. Ups! anti klimaks banget deh. Tapi jangan harap kuburannya juga ikut warna-warni yah, soalnya template warna-nya cuma satu, warna abu nisan.

Tak mau lama-lama di kuburan aku balik arah, dan masuk ke gang sebelah biar bisa liat suasana kampung lebih banyak.

Sungguh ku masih tak bisa ngebayangin dulunya kampung ini dulunya kumuh, karena sejauh mata memandang, tak tampak jejak-jejak bahwa area ini tak layak buat ditinggali. Yang ada kawasan ini nyaris tak menyisakan sampah dan rumahnya juga cukup teratur loh! Buat main petak umpet, juga asik karena kadang ada lorong nyempil #eh

Kalau begini, aku tuh setuju banget dengan adanya kampung model begini. Mungkin sebagian mikirnya tempat ini hanya menyajikan visual yang menarik. Tapi bagiku tempat ini lebih dari sekadar galeri foto background OOTD. Aku percaya bagi masyarakat yang beneran tinggal di sini, kampung yang telah berubah wajah ini telah menaikkan harkat hidup mereka.

mural kampung pelangi

At least, mereka tak bakal malu atau risih lagi kalau ditanya “Tinggal di mana?”.

Dan buat aku pengunjung, kalau daerah ini tidak disulap begini, tentulah aku pun sungkan mau ke sini. Tapi lihat Kampung Pelangi sekarang!

BERSIH!!!!

Apalagi sudah dijadiin area wisata yang gratis, ku yakin masyarakatnya pun jadi mengubah hidupnya, paling tidak dengan menjaga kebersihan dan gak buang sampah sembarangan. Pas pulang ku juga nenggok kalinya. Bersih juga tidak ada yang ngambang-ngambang dan tidak ada toilet atau pembuangan yang langsung meluncur ke sungai. Bahkan tidak ada juga loh tercium bau-bau tidak menyenangkan. Pokoknya semuanya sudah baik sekali. Kalah deh kampung-kampung yang ada di bantaran kali / sungai Jakarta. Makanya, aku sih gak apa-apa banget kalau permukiman kumuh disulap jadi begini, malah bagus yekan? Bukan (hanya) buat menarik minat pengunjung, tapi juga semata-mata demi kebaikan masyarakatnya. Amin~~

kampung pelangi

Tapi emang kalau untuk menjadi destinasi wisata, sebisa mungkin harus ada sesuatu lagi yang ditambah untuk membuat kampung ini makin menarik. Entah warga yang jualan oleh-oleh / makanan / minuman khas, ada pertunjukan budaya, galeri, atau apalah jadi turis bisa menghabiskan waktu lebih lama di sini. Makin lama di sini kan, makin banyak jalan, terus haus, laper, kepaksa leyeh-leyeh dulu pesen air dingin. Hitung-hitung buat bikin si ibu yang curhat tadi bahagia kawan.

Habis dari Kampung Pelangi ini, jangan langsung udahan dan balik ke rumah yah. Aku rekomendasikan kalian buat balik lagi ke Taman Kasmaran dan nyobain naik bus double decker jagoan Semarang yang bernama Si Kenang.

si kenang

Mobilnya merah menyala dan gratis juga. Cukup tunjukin 1 KTP udah bisa jadi tiket naik buat dua orang loh. Kabarnya tiap dua jam sekali ada dan bakal diajak muterin kota. Lumayan banget buat ngadem di AC, sebelum terbakar jadi lumpia goreng.

**

So gimana guys, kamu suka mampir ke kampung pelangi model begini gak? Atau pernah mampir di daerah lain? Gimana pendapatmu?

About the author

Travel Now or NEVER
26 Responses
  1. Menurutku sendiri selama itu untuk kebaikan bagi masyarakat, aku setuju. Misal dari tulisan ci Lenny yang (mungkin) hanya merupakan hasrat dari pebisnis, tapi masyarakat juga dapat imbas positifnya. Minimal, kampung jadi bersih dan terawat. Sehingga jauh dari penyakit. 🙂
    Destinasi wisata seperti ini selain pas awal-awal, biasanya pas weekend sih rame. Soalnya kan penikmatnya kaum muda yang mungkin di weekdays mereka sekolah atau kuliah 😀

    1. Hai gallant, iya bener semoga kampungnya tetap sehat dan membawa perubahan yang positif buat masyarakatnya.

      Iya betulll apalagi masih gratis, pasti bakal ada aja orang yang mampir 🙂

  2. Menurut saya kegiatan kayak Kampung Pelangi ini win-win buat semuanya. Apalagi kalau mengingat kampung ini dulunya (maaf) kumuh. Disulapnya menjadi objek wisata kekinian dan instagrammable secara tidak langsung mengubah pola hidup warga agar lebih menjaga kebersihan dan keindahannya dan mudah-mudahan bisa berpengaruh positif buat ekonomi mereka.

    Dan setuju banget sama usulan, kak Len kalau di sini ada semacam atraksi apalagi pertunjukan budaya. Pasti makin keren dan makin rame deh.

  3. Keren kak tulisannya 😍.

    Btw jadi inget tahun kemarin, pas puasa begini Kampung Pelangi rame banget buat ngabuburit. Mungkin perlu ada event juga disini, buat menarik pengunjung untuk datang lagi kesini selain untuk foto selfie 😁

  4. Aku termasuk yang gak terlalu suka sih sebenernya dengan konsep, mohon maaf, membeo seperti ini. Soalnya kayak tidak punya ciri khas gitu. Jodipan itu orisinil. Tapi makin ke sini jadi makin hambar. Apalagi yang Semarang ini beberapa muralnya adaptasi dari Penang. Semarang paling asyik masih bangunan tuanya sama kuliner. Seng ada lawan hehehe 🙂

    1. Hi kak adie it’s okay kalo punya pendapat lain ku malah seneng bisa tau pandangan yang berbeda.

      Baik jadi maunya meski sama-sama kampung pelangi tapi punya ciri khas yang berbeda yah? boleh..boleh coba kita pikirkan yak #halah

      Heheh semarang iya kota tua dan kulinernya maknyoss (terutama soto dan bakso itu paling juara buatku) ehhe

  5. wah…aku baru baca juga artikel ghana tentang kampung yang sama len, semakin banyak ya, sedangkan aku yg orng malang belum sempat ke Jodipan

Leave a Reply