Kalijodo Kini

Bus Tingkat Wisata di Balai Kota Jakarta yang saya tunggu – tunggu akhirnya datang juga. Saya bukan sedang mau keliling pusat kota dengan bus gratis ini, melainkan saya sedang menuju ke sebuah rute tambahan dari bus tingkat wisata Jakarta, yakni Kalijodo.

Namanya yang nyentrik membuatnya – dulu maupun sekarang – sering diperbincangkan. Sebagai pendatang di ibukota, saya sebenarnya enggak tahu apa itu Kalijodo dan seberapa “angker” nya kawasan ini. Dari hasil baca – baca internet mengenai sejarah tempat ini, katanya kawasan ini dahulu kalanya merupakan tempat mencari jodoh bagi para pendatang dari negeri tiongkok ketika di Indonesia. Maklum pas nyampe ke tanah air, mereka tidak dapat membawa pasangannya. Jadinya beberapa orang mendapat “jodoh kilat” nya di sekitar bantaran kali di Penjaringan, Jakarta Utara ini. Dari situ, kemudian kawasan ini dikenal sebagai Kalijodo dan bisnis esek esek dan temen – temennya mulai ikut nimbrung.




Namun syukurnya sejak dibongkar oleh Ahok pada tahun 2016 lalu, tempat ini sudah berubah total. Dari yang sebelumnya area ini hanya hidup di malam hari, kini tempat ini sudah menggeliat sedari pagi. Dari yang sebelumnya didominasi orang – orang dewasa, kini Kalijodo adalah tempat bermain bagi anak – anak hingga orang lanjut usia.

kalijodo jakarta

Saya tiba di halte kalijodo satu jam setelahnya dan disambut dengan suasana siang hari yang panas dan teriknya pol. Meski begitu, antusiasme saya tidak langsung menguap begitu tiba di kawasan yang telah didaulat menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) ini.

Di area depan Kalijodo, terdapat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang diberi pagar pemisah. Area seluas 5.000 meter persegi tersebut merupakan oase bagi anak – anak untuk bermain dengan aman dan nyaman di taman  yang tersedia. Berbagai permaianan pun terpasang dengan baik, mulai dari permaianan klasik seperti ayunan, jungkat-jungkit, kuda – kudaan hingga playground modern, dan sebuah lapangan bola mini. Semua area permainan ini pun telah dilapisi dengan alas yang lembut untuk meminimalisir resiko jika ada anak yang terjatuh. Sedangkan di tengah RPTRA, terdapat sebuah perpustakaan mini, ruang menyusui, serta toilet dan musholla. Semua fasilitas ini dapat dimasuki oleh publik, namun tentu saja fasilitas diutamakan bagi anak – anak dan orang dewasa dilarang untuk merokok di area ini.

playground kalijodo

Karena adanya aturan yang melarang para pedagang berjualan di area Kalijodo dan di sekitar sini belum ada rumah makan yang layak (saya ketemunya cuma dua warteg kaki lima dengan tampilan yang kurang meyakinkan), saya jadinya beli snack untuk mengisi perut seadanya di sebuah ruangan kecil seperti minimarket. Di sini ada jualan roti, minuman dingin (lebih murah dari vending machine resmi yang ada di Kalijodo) dan makanan ringan yang merupakan hasil produksi dari Ibu – Ibu PKK. Saya langsung tergoda beli risolnya yang isi telor putih ama wortel. Enak banget cuma 3ribu dan saya beli dua. Jajanan murah – murah banget. Ada juga mie goreng atau nasi uduk porsi kecil gitu jika ada yang laper.  Tak ketinggalan, di sini juga menjual berbagai hasil kerajinan dari Rusunawa Tambora.

Selepas dari RPTRA, saya menaiki tangga yang ada di samping, dan sebuah area luas telah terbentang di hadapan. Salah satu yang paling menarik minat adalah seni mural yang ada di sebuah tembok di samping tangga yang saya turunin. Mural dengan tinggi 8 meter dan lebar 23 meter ini merupakan maha karya dari belasan seniman ulung. Gerombolan siswa-siswi yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya sedang asik menjadikan mural ini sebagai latar belakang foto mereka. Tau aja nih si Ahok kalo kite-kite pada suka narsis di mural 🙂 Gak perlu lagi deh harus jauh-jauh OOTD di Mural Singapura.

kalijodo

Ketika saya posting foto ini di Instagram banyak yang komen “wah iklan / sponsor nya gede banget”. Iyah emang sih tapi yah gimana secara pake duit merekalah Kalijodo ini bisa begini. So legowo ajalah yah :p

mural kalijodo

Sementara itu, saya memilih untuk berteduh dulu memperhatikan tingkah laku mereka. Andai saja cuaca sedikit teduh, saya pasti memilih duduk di samping mural, di taman yang bersebelahan langsung dengan Kali Jelangkeng. Untungnya, Kalijodo yang diresmikan pada tanggal 22 Februari 2017 lalu juga turut memperbaiki dan membersihkan Kali Jelangkeng yang ada di sisi Kalijodo. Saya melihat sendiri kali itu kini airnya telah berwarna hijau dan tidak menimbulkan bau menyengat. Di seberangnya kompleks perumahan warga masih berdiri layaknya dahulu kala. Namun setidaknya, rumah – rumah tersebut tidak lagi harus berhadapan dengan area kumuh lagi.

Sementara itu, di area tengah kalijodo, terdapat arena skate park. Arena ini dikelilingi oleh lintasan sepeda yang berliuk – liuk. Tampak seorang anak kecil menaiki sepeda yang bahkan lebih tinggi daripada tubuhnya. Dia mengayuh pedal sepeda tanpa ragu-ragu dan dengan percaya dirinya, ia bisa “menunggangi” setiap liukan dari lintasan itu seolah – olah sudah sangat menguasai medan tersebut. Ketika mulai bosan, si anak kecil tersebut mengayuh sepedanya menuju ke tengah arena di mana terdapat beberapa coran semen yang dibuat tinggi sebagai rintangan bagi anak – anak yang bermain skateboard. Sedangkan di belakang arena skate park, sebuah “kawah” mengangga dengan keseluruhan sisinya yang licin telah membuat rekan saya terpeleset. Arena ini biasanya dipenuhi oleh remaja & orang dewasa yang akan mempertunjukkan kebolehannya bermain Sepeda BMX atau Skateboard. Tentu saja mereka harus cukup jago untuk bisa meluncur mengikuti bentuk kawah ini. Sayangnya hari masih pukul dua siang dan hanya tampak beberapa gerombolan anak sekolahan yang nongkrong dan memanfaatkan kawah ini sebagai arena perosotan.

“Biasanya mereka muncul jam empat.” Jawab salah seorang remaja tanggung yang sedari tadi tampak mengasah kemampuan skateboardnya.

Si remaja tanggung ini bercerita, sebelum Kalijodo berdiri, ia dan teman – temannya biasanya bermain di sekitar waduk pluit. Namun sekarang, dengan adanya fasilitas yang mumpuni seperti yang dimiliki Kalijodo kini, ia pun tidak lagi kesusahan untuk menyalurkan hobinya. Apalagi aneka lintasan dan rintangan yang ada cukup bervariasi dan mampu memompa adrenalin. Biasanya mereka bisa menghabiskan waktu hingga pukul 9 malam sebelum akhirnya pulang ke rumah. Karena merupakan ruang public terbuka, taman ini memang terbuka 24 jam.

skate park

skate park kalijodo

Sambil mengamati sekeliling, saya pun bisa membayangkan diri sendiri berkeliling tempat ini sambil bersepeda atau hanya sekedar ber-jogging di pagi hari. Atau, jika suatu hari saya kebingungan mencari tempat untuk bersantai – selain ke shopping mall seperti biasanya – paling tidak sekarang sudah punya alternatif liburan.

“Paling ramai itu hari minggu mbak. Nanti kalau sudah malam, ada yang jualan, ada becak – becakan, ramai lah pokoknya.” cerita anak – anak lain yang saya temui.

taman kalijodo

Pancaran dan senyum keriaan anak anak di sini telah menumbuhkan kepercayaan saya bahwa memang peran ruang publik itu memang tidak bisa tergantikan. Walau sebagai pendatang di jakarta, saya sih memang tak bisa membandingkan perubahan Kalijodo, tapi bagaimanapun saya tahu Kalijodo yang sekarang itu bersih, aman (ada sekuriti dan satpol PP berjaga), gratis, dan layak buat dikunjungi siapapun. Sayangnya di area ini masih gersang. Udah ada beberapa pohon yang ditanam, tapi kayaknya kurang deh. Lalu fasilitas toiletnya masih belum OK dan gak ada tisu atau sabun cuci tangan. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi.

Comments(8)

  1. April 27, 2017
    • April 28, 2017
  2. April 27, 2017
    • April 28, 2017
  3. April 29, 2017
    • April 29, 2017
  4. May 8, 2017

Leave a Comment