Hiking di Fork West Trail Sedona, Arizona

Arizona adalah salah satu tempat terbaik untuk menikmati Canyon (bahasa indonesianya ngarai). Canyon adalah aliran sungai yang dilewati sejak ratusan/ribuan tahun tahun yang lalu sehingga terbentuklah tebing tebing besar yang bisa dilewati air. Kalau sekarang sih airnya sudah nyusut dan tinggallah aliran air kecil (creek). Salah satu contoh Canyon yang paling besar adalah Grand Canyon.

Di sini kebanyakan canyon nya bewarna merah tua seperti tanah liat dengan beragam bentuk dan bentuknya tinggi menjulang dan beraneka rupa. Selain itu, keindahan alamnya sangat “menantang” untuk dijelajahi. Salah satu cara menikmati canyon dan keindahan alam di Sedona adalah dengan hiking. Hiking di Sedona dapat dilakukan di beberapa state national park dimana telah tersedia trail(jalan setapak)nya.

Berlima dengan teman dan Host Familyku, saya mencoba hiking di Fork West Trail yang katanya paling dekat dari tempat tujuan yang ingin dicapai yakni sebuah sungai. Dari Scottsdale, Arizona kami mengemudi sekitar 2,5jam dan tiba pukul 10 pagi. Kami beruntung karena mendapatkan tempat parkir terakhir dan hanya membayar biaya parkir mobil sebesar $9.

fork west trail
Tanpa buang buang waktu, kami langsung masuk ke dalam hutan dan berfoto narsis dulu. Ketika masuk pertama kali, kami sudah terpukau dengan rimbunnya pohon apel di kiri kanan jalan. Sayang aja belum matang. Tak lama berjalan ketemulah aliran sungai kecil. Dari sinilah patokannya dimulai. Kami tinggal mengikuti aliran sungai tersebut untuk menemukan asalnya dan mengikuti trail yang telah tersedia.

Trail yang tersedia cukup kecil, kadang hanya muat 2 orang yang saling berpapasan. Budaya disini, kalo ketemu orang, kami saling nyapa (halo atau morning). Kadang juga minta tolong bantuin foto dan berujung malah ngobrol sambil istirahat.

Untuk mencapai tujuan, kami menyebrangi 13 sungai kecil. Yang harus diwaspadai adalah kita harus jeli dengan trailnya. Pernah suatu kali kami masuk ke trail yang salah, dan harus putar balik walau hanya sebentar. Jika diperhatikan baik baik, hal ini tidak perlu terjadi karena ada beberapa tanda penunjuknya. Beberapa tanda yang bisa dilihat misalnya adalah jika ada pohon/kayu yang melintang di jalan, maka jangan masuk daerah tersebut. Jika ada beberapa batu dikumpulkan dalam keranjang besi, itu menunjukkan trail yang harus diambil. Biasanya jalur ini setelah meyebrangi aliran sungai. Tidak perlu khawatir akan tersesat, karena trailnya cukup jelas terlihat dan juga banyak orang orang yang berpapasan apalagi ketika weekend.

Ini pertama kalinya saya hiking. Host family maklum bahwasanya saya butuh banyak stop dan istirahat sebentar atau hanya untuk mengambil gambar. Mereka tidak memaksakan saya harus dapat mencapai tujuan agar saya tidak terbebani. Awalnya saya excited dan semangat karena tempatnya yang hijau, adem, indah seperti layaknya hutan di Indonesia.

sedona
Tetapi…
30menit kemudian —> Mulai ketinggalan di belakang. Topi penutup kepala sudah basah. Air minum tinggal setengah.
1 jam kemudian —> Perut keroncongan. Trail mulai berbelok dan sedikit mendaki atau melewati sungai. Mulai berpikir untuk menyudahi hiking. Mumpung belum setengah jalan toh?
1,5 jam kemudian –> Mulai menikmati perjalanan dan menyemangati diri sendiri. Masa mau berhenti sih, yang lain aja semangat sekali. Malu kan kalau nggak kuat sedangkan host family saya bahkan sudah cukup berumur tapi masih kuat.
2 jam kemudian –> Setengah perjalanan sudah diraih. Jaket sudah dilepas. Sudah harus menggunakan sapu tangan yang dibasahi air untuk mendinginkan kepala yang mulai pusing. Perut sudah rata. Air tinggal sedikit banget.  Host family menanyakan apakah masih sanggup lanjut atau tidak karena sebenarnya kami telah sampai di muara sungai yang agak besar dan pemandangannya juga spektakuler. Mereka mencemaskan kondisi saya dan temanku yang sudah keringatan dan lemas. Karena diyakinkan hanya tinggal beberapa menit lagi, saya menguatkan kaki untuk hiking kembali.
2,5 jam kemudian –> Kami mulai menapaki jalan menurun dam tampaklah batu batu pantai. Suara air juga sudah mulai terdengar. Makin semangat nih melangkahnya. Tanaman rimbun yang menghalang disibak dengan entengnya, dan sampailah kami di tujuan.

Eeeehhh… rupanya cuma sungai cetek aja! Jujur kesan pertamanya kurang nendang banget seperti foto di bawah ini.

hiking sedona
Tetapi setelah berusaha berpikiran positif, saya mulai bisa melihat keindahannya. Sungai ini diapit oleh canyon dan airnya jernih dan dingin banget. Saya langsung mengganti sepatu hiking dengan wet shoes (sepatu khusus di air) dan berjalan agak jauh lurus ke sungai dan disana lah baru benar benar bisa melihat kemegahan canyon bewarna merah ini. Nampak jelas arus air yang mengalir di canyon tersebut mengikisnya dan menjadikan bentuknya spektakuler. Tidak hanya di dinding canyon, tapi bisa dilihat juga di dasar sungai yang beberapa sangat dangkal tetapi beberapa bisa dibuat untuk berenang.

Hasil akhirnya : Foto apapun yang dijepret di sini pasti fotogenic banget. Kami dibanding canyon canyon disini bagaikan butiran debu. Hanya setitik air di tengah luasnya samudra. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Sungguh besar ciptaan tuhan!

 

sedona arizona

Host Familyku sempat mengambil beberapa contoh batu dari sini karena katanya hanya disinilah bebatuan merah ini dapat ditemukan. Seandainya kita ke Grand Canyon, maka kita tidak diperbolehkan mengambil apapun termasuk batu.

Saya melihat ada beberapa orang hiking sambil membawa tenda, peralatan sehari hari dan bahkan anjing peliharaannya. Rupanya di sini diperbolehkan camping, tapi untuk mencapainya harus jalan 2,5mil lagi. Buset!

Aliran sungai disini memang panjang sekali. Kabarnya bisa sampai 10 mil dan tembus ke jalan raya. Seems like forever deh. Karena sudah jam 2 siang, kami pun memutuskan pulang. Waktu yang dibutuhkan untuk pulang lebih cepat sekitar 1,5jam.

Tiba tiba di tengah perjalanan pulang, hujan turun. Angin mulai bertiup kencang dan petir saling menyambar dan tak lama kemudian bukan hujan air yang turun, tetapi es! Bentuknya bulat kecil sekali dan sempat membuat saya berhenti. Saya mengadahkan tangan, maksud hati mau menampung esnya, tetapi tak satu pun yang tertangkap karena saking kecilnya sehingga langsung terloncat dari telapak tangan.

Sayangnya hujan es ini hanya berlangsung 5 menit saya. Sisanya kami diguyur hujan hingga basah kuyup!

Bagiku, ini adalah salah satu perjalanan yang mendeskripsikan quote ini :
“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

Perjalanan kali ini membukakan mata bahwasanya saya tidak cukup fit untuk berbagai kegiatan outdoor. Padahal sepanjang jalan di trail, saya banyak menjumpai anak anak yang ikut dan mereka tidak se-ngos ngos saya. Duh Malu!

Belum lagi kalau tadi saya mengikuti rasa capek,males,lapar, haus dan memilih menyerah, saya mungkin tak akan bisa melihat hidden paradise ini. Yang lebih parah lagi, saya mungkin nggak diajak ikut host family saya untuk kegiatan outdoor berikutnya. Rugi donk kalau gitu! But anyway, for the first time, I did it ! 7 miles, 6 hours! Proud!

sedona in arizona
Siapa mau coba hiking di sini? Kira kira sama nggak yah kalau hiking di Indonesia?
——-
Tips Aman dan Nyaman Hiking:
1. Pakaian yang ringan dan nyaman buat hiking. Saya menggunakan pakaian renang di dalam baju luaran biar gampang buka jika berenang. Jangan lupa bawa handuk kecil serta baju gantinya juga.
2. Gunakan sunscreen, kaca mata hitam dan topi.
3. Datang sepagi mungkin. Cuacanya belum panas dan sebelum penuh.
4. Makan yang cukup. Minum bawa yang banyak (3 botol kalau perlu) karena tidak ada yang jualan di area ini. Bawa juga snack untuk pengganjal perut sewaktu hiking.
5. Kamera dan video sebagai saksi mata perjalanan. Masukkan dalam kantong plastik agar terhindar dari hujan yang tiba tiba turun. Handphone tidak perlu dibawa juga tidak apa apa karena tidak ada sinyal.
6. Sebelum menuju tempat ini, SANGAT disarankan ke toilet terlebih dahulu. Toilet yang tersedia disini adalah toilet duduk tapi yang langsung nyemplung. Jika anda kuat, silahkan intip ke dalam. Penuh tisu dan aneka rupa buangan manusia. Bahkan baunya dapat tercium dari radius 10 meter bangunan toilet. Kalau saya sih mending pee/poop di alam sekalian. Setuju?

 

toilet

About the author

Travel Now or NEVER
4 Responses
  1. engkong

    gimana ? cape yah Len ?? itu hanya karena jarang hiking atau jarang jalan jauh saja, kalau sudah biasa ya biasa aja, tergantung kebiasaan aja maka host family itu karena sudah niasa maka mereka terlihat kuat sehat saja

  2. CAPEK banget kong. besoknya langsung tepar. ini aja sekarang masih bed rest ehhe iya jarang jalan jauh dan olahraga. di jambi dulu kemana mana naek motor seh :p

Leave a Reply