SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bukit Cantik Campuhan Ubud

Biasanya turis-turis di Bali itu bisa dikelompokkan berdasarkan kesukaannya. Yang di Seminyak yang duitnya berlebih dan mau nongkrong cantik, di Kuta yang budget plus mau dekat ke mana mana, dan kalau ubud yah biasa mau leyeh-leyeh mencari zen aka ketenangan hidup. Gak heran Ubud itu identik ama sawah-sawah hijau ala tegalalang meski saya juga gak pernah ke sana. Hijau yang benar-benar hijau itu justru saya dapetin sewaktu main ke Campuhan Ridge Walk.

Awalnya pertama kali ke ubud tahun kemarin pas imlek, saya gak sempat ke sini. Masih penasaran dong jadinya karena kala itu lagi hits banget dan foto campuhan udah wara-wiri di feed Instagram. Lalu ada kesempatan lagi Aprilnya ke Bali, saya udah memasukkan banget destinasi ini karena kebetulan tinggalnya juga masih di sekitar Ubud. Setelah beberapa hari di Ubud menyusuri pusat keramaian dengan hotel, cafe, toko, rasanya perlu juga untuk menyegarkan mata dengan nuansa alam.

Berbekal info dari internet, saya menuju ke sana pake motor. Tidak ada tiket masuk dan tidak ada tukang parkir. Oke sip saya demen kalo begini! Cukup bawa air seadanya di tas kecil karena gak mau meribetkan diri sendiri. Apalagi ke sini hitung-hitung mau buat olahraga karena kabarnya trek di Campuhan ini panjangnya 9 kilometer. Kalau jalannya lurus sih saya bakal anteng – anteng aja. Bakal kuat gak yah? Mari kita lihat.

Waktu itu saya pakainya cuma sandal jepit dan pakaian se-nyaman mungkin biar kalau keringetan gak jengah. Dari parkiran motor, turun aja ke bawah. Seingat saya, gak bakal nyasar deh, ada tanda penunjuk, meski di sekitar sana sudah tidak ada rumah penduduk alias udah alam bebas. Nanti jalan terus, bakal ketemu komplek Pura Gunung Lebah yang cakep. Tak perlu masuk cukup lewati aja sambil menaiki anak tangga, hingga akhirnya sampai ke bukit Campuhan di mana sekeliling sudah berubah jadi padang ilalang yang hijau.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Di atas bukit ini angin cukup banyak meski juga cuacanya panas. Banyak yang merekomendasikan sih datangnya pagi hari banget atau sekalian sore buat nyari sunset. Saya tak sampai dapet matahari tenggelam, malah cuacanya agak mendung. Sepanjang jalan naik ke bukitnya agak terjal sih, jadi kalau bawa orang tua dan anak-anak harus hati-hati juga karena ke bawah sana sudah sungai atau semacam lembah (jurang?) gitu. Meski begitu yang saya suka adalah jalurnya sudah ada semacam paving gitu, jadi gak becek kalau hujan…serta Yeay saya pakai swallow aja bisa jalan-jalan di sini.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Saya perhatikan pengunjung ke sini ada dua jenis. Turis luar negeri yang pakaiannya udah sporty banget datang emang buat jogging atau jalan santai hingga ke ujung sana atau hingga ke Cafe Karst, yang saya gak nyampe ke situ karena kejauhan dan keburu capek HAHA(nertawain diri sendiri yang jompo). Nah tipikal saya ini mirip dengan turis lokal yang datang buat jalan bentar, lihat-lihat, foto-foto narsis habis tuh balik badan pulang. Karena kalau mau balik harus lewat jalan sama. Kurang lebih kalau liat di web lain kalau Anda niat bolak-balik yah bisa 2-3 jam deh. Tertarik?

Kalau pengunjung lokal, kebanyakan anak muda bali datang ke sini saya lihat berasa piknik. Bawa snack lalu nongkrong agak ke tepi ilalang gitu. Mojok nih ye?? Tempatnya sih emang lumayan buat leyeh-leyeh dan damai. Cuma jangan lupa bawa sampahnya pulang yah, secara tidak ada tong sampah di sepanjang jalur yang saya lewati.

Jadi yang mau ke sini, jangan harap juga nemu toilet atau indomaret di atas. Yang saya masih kurang tau yah di ujung Campuhan ini kira-kira ada apa yah? rumah penduduk kah? atau jalan buntu? lalu trek ini dibuat bagus apakah memang ada maksud dan tujuan?

Monggo loh yang udah nyampe ujung berbagi dengan saya 😀

Cara ke sana :

Cari yang namanya Warwick Ibah Luxury Villas and Spa yang sebelum Museum Blanco di Jl.Raya Ubud. Ini hotel asik banget karena udah yang paling deket dari Campuhan Ridge. Dari sana ikutin aja petunjuknya, turun ke bawah hingga nemu sebuah pura cakep. Gak usah masuk, cukup berbelok naik bukit, nah nyampe deh. Enjoy!

slank jakarta fair

Jakarta Fair dan Konser Slank

“SLANK..SLANK..SLANK!!!”

Suara teriakan dari fans garis keras grup band Slank atau yang biasa disapa Slanker tengah memanggil-manggil idola mereka. Harusnya Slank sudah tampil di panggung utama Jakarta Fair tersebut beberapa menit yang lalu. Namun hingga saat itu, belum juga tampak seorang pun di panggung. MC yang mengulur-ulur waktu dengan memberikan kuis dan hadiah goodie bag pun tampaknya tak mampu meredam antusiasme Slanker.

Saya, dan kelima teman blogger sebut saja richo, badai, fahmi, titi dan bulan yang awalnya tidak punya ekspektasi apa – apa ikut menjadi tak sabaran. Padahal kami berada di posisi paling enak, yakni VVIP. Di depan, samping dikit panggung, banyak satpam, lega dan tidak terjepit dan ke-grepe-grepe oleh lautan slanker yang saya perkirakan jumlahnya 1.594.260 orang.

Lagian, kami barusan juga buka puasa bareng dengan Slank di Hotel Holiday Inn Jakarta Express JIExpo Kemayoran. Temen saya langsung mencolong kesempatan tersebut buat minta foto dan video dengan Kaka Slank. Orangnya ramah sekali dan mau melayani permintaan kami. Tidak keliatan aura ertong (artis) sama sekali. Si kaka yang “ditodong” cuma pake swallow dan angkat kaki ke kursi sambil meladeni kami yang minta macem-macem.

Back to the stage…

Tak lama kemudian Slank muncul ke panggung. Saya yang semula udah mulai ngantuk dan gerah, tiba-tiba jadi semangat. Jujur saya buta banget lagu-lagu Slank dan lagu lain juga sih.  paling taunya terlalu manis #ketahuanumur

“Otak di Pinggang, minta ditendang” kaka Slank mulai menyanyikan sebaris lagu dari album terbarunya #PalaLoPeyank.

Slankers langsung menjawab”oi..oi..oi” dan kemudian dilanjutkan dengan musik yang tiba tiba kencang dan cahaya yang seketika dihidupkan berpadu dengan permaianan lampu yang semarak.

Nge-rock abiss!

Cowok di bawah ini sukses menghipnoptis dan membuat mata saya tak mau lepas dari energinya yang menghentak-hentak.

konser slank

Setelah satu lagu sukses bikin saya jingkrak-jingkrak, si Kaka mulai menyapa penggemarnya. Ohya slanker ini juga gak cuma cowok loh. Banyak juga cewek. Terkadang di saat konser, petugas keamanan harus berkali kali mengangkut cewek yang pingsan terjebak. Kadang juga memisahkan orang-orang yang berpotensi bikin rusuh. Kaka Slank pun aware akan hal hal kayak gitu. Gak jarang dia bertanya

“Masih aman yang di sana?”

“Kita harus saling jaga yah.”

Ugh perhatian banget sih kak!

Setelah empat, lima lagu saya letih juga berdiri dan karena malam sudah mulai larut, saya dan teman-teman memutuskan balik ke hotel kami yakni Holiday Inn Express JIExpo, tepat di belakang panggung. Saya pulang dengan hati berbunga-bunga karena sukses nonton konser musik band legend dengan akses VVIP. Makin berbinar ketika saya dan teman-teman pulang tanpa tangan kosong.

Ini semua berkat goodie bag dari booth Indofood (setelah sempat dijejeli segala jenis makanan & minuman juga) dan Yamaha di Jakarta Fair.

Sekali lagi selamat ulang tahun ibukota, makasih banyak kadonya. Semoga selalu jadi kota yang nyaman sehingga saya gak perlu move on yak. #eaak

jakarta fair

***

Jakarta Fair 2017 diselenggarakan pada tanggal 8 Juni hingga 16 Juli 2017 untuk merayakan ulang tahun Jakarta ke 50 di JIExpo. Dua tahun tinggal di Jakarta, baru kali ini saya niatin ke Jakarta Fair ini. Ada konser tiap hari, banyak yang jualan barang-barang murah meriah dan bisa sekalian wisata kuliner dan shopping. Yang gak saya nyangka tempatnya luas banget. Katanya kalau jalan kaki seluruh area bisa makan waktu 3 jam. Fiuh! Kalau saya yang jompo gini 4 jam deh. Tapi karena saya udah niat banget mau ke sini, saya sengaja tinggal di Holiday Inn Jakarta Express JIExpo yang bisa diakses dari pintu 3.

Slank aja nginepnya di sini loh! Saya bahagia banget ketika selesai konser, bisa satu lift pas naek ke kamar dan melihat kaka slank yang bertelanjang dada dengan peluh di sana-sini itu bikin saya…….hmm… gak tidur malamnya. (selengkapnya sudah diceritakan kak titi di sini)
Holiday inn express jiexpo kemayoran

Sampai kamar saya yang nyaman itu, saya langsung rebahan di ranjangnya yang empuk lengkap dengan bantal keras dan lembut. Kamarnya bersih, lengkap hingga ke toilet-toiletnya. Semua seperti yang saya bayangkan. Namun cuma satu yang kurang, yakni masih terbayang juga aura-aura kaka slank seakan tak mau pergi meninggalkan saya. Halah!

“Ku tak bisa…jauh…jauh…darimu”

Holiday inn express jiexpo

DSCF9842

jatirejo

Proses Pembuatan Kolang-Kaling di Jatirejo

“Berbukalah dengan yang manis.” Gitu yang sering saya dengar kalau pas puasa.

Yang Manis-manis + dingin = Keblinger.

Pasti mantap banget kan? kombinasi tersebut semuanya bisa ditemukan dari jajanan puasa berupa es buah. Terus biasanya dalam es buah ada semacam yang kenyal dan pipih. Hayo apa itu? Betul! Kolang-kaling jawabnya.

Tahu gak sih ternyata kolang-kaling itu aslinya dari pohon enau. Tapi gak seperti buah lain yang tinggal petik dan kupas, kolang-kaling rupanya punya proses panjang hingga bisa sampai ke tangan kita. Untuk melihat langsung proses pengolahan kolang-kaling ini, saya bertandang langsung ke Desa Pengolahan Kolang – Kaling yakni Kampung Kakola yang berada di Desa Wisata Jati Rejo, Kecamatan Gunungpati, tidak jauh dari Kota Semarang. Desanya bersih banget. Semuanya diperhatikan banget sesuai kesukaan turis millenial macam saya. Ada gambar=gambar bunga di jalan masuk gerbangnya. Instagramable lah!

desa jatirejo

Di Kampung Kakola ini, hampir semua warganya memiliki mata pencaharian sebagai pengolah kolang-kaling. Ketika saya mampir ke lokasi, saya menjumpai ibu-ibu warga setempat yang sedang sibuk mengolah kolang-kaling. Ibu Ninik, guide yang juga merupakan sekretaris dari Pok Darwis (Kelompok Sadar Wisata) dari Kampung Kakola ini menjelaskan kepada saya bagaimana mengolah kolang – kaling.
kolang kaling jatirejo

Pertama – tama, adalah proses Merencek, yakni proses pemisahan buah dari  tangkai pohon enau. Sekilas terdengar mudah namun jika tidak dilakukan dengan hati-hati, ibu-ibu yang melakukan proses ini bisa menderita gatal-gatal jika terkena getah buah kolang-kaling. Setelah dipisahkan, buah tersebut kemudian direbus dalam sebuah drum. Dalam sekali proses perebusan yang memakan waktu sejam hingga dua jam, ada 25kg buah kolang-kaling yang direbus dengan menggunakan kayu bakar.

Setelah direbus, barulah buah kolang-kaling yang bertekstur keras ini melembut dan dapat dikupas untuk diambil buahnya saja. Proses selanjutnya, barulah tergolong unik yakni buah kolang kaling ini harus digepengkan supaya kolang-kaling tidak keras dan alot ketika nanti dikonsumsi. Ibu-ibu di sini pun masih menggunakan cara dan alat pengepeng tradisional yang disebut dengan watu dan alu. Alat khusus ini terbuat dari kayu mahoni. Digepenginnya pun harus pas. Jangan terlalu lembut atau jangan samapi terlalu penyet. Ribet yah?

“Pernah dicoba mengepengkannya pakai mesin namun hasilnya kurang memuaskan. Karena kan mengepengkannya memang harus pakai insting mbak. Apa sudah kenyal atau belum. Jadi semua pake feeling gitu.” Tambah bu ninik.

kolang-kaling

Untuk proses terakhir, Kolang-kaling masih harus direndam selama beberapa hari lagi sebelum akhirnya dijual ke masyarakat. Permintaan buah kenyal ini pun bisa meningkat tajam di saat datangnya bulan puasa ini. Enam belas rumah yang mengolah kolang – kaling di area ini pun sampai kewalahan mencukupi permintaan yang ada. Wajar saja jika buah ini menjadi primadona ketika berpuasa karena dipercaya mampu menahan rasa lapar lebih lama dan berbagai kandungan gizinya sangat baik bagi tubuh. Kata ibu Nunik juga kolang-kaling bagus loh buat diet. CMIIW!

Tuh, enak dan menyehatkan kan rupanya si kolang-kaling. Mari kita minum cicip dulu es kolang-kaling yang udah disiapkan. Slurp!

jatirejo

goa kreo

Panjat Pinang Monyet di Goa Kreo

Jika biasanya panjat pinang hanya ada ketika tujuh belas agustusan, maka kali ini saya berkesempatan melihat panjat pinang versi lain di hari biasa. Uniknya lagi, pohon pinang yang akan digunakan tidak dilumuri minyak agar licin. Tidak ada pula hadiah-hadiah menggiurkan yang tergantung. Yang ada hanyalah botol minuman berisikan sirup berwarna merah, snack, pisang, jagung, dan buah-buahan yang bergelantungan di sana-sini.

monyet panjat pinang di goa kreo

Jelas saja hadiahnya itu karena panjat pinang ini bukan untuk kita manusia tapi bakal dilakukan oleh sekumpulan monyet-monyet yang ada di Goa Kreo. Tempatnya yang tak jauh dari kota Semarang ini memang menonjolkan monyet-monyet ini sebagai salah satu atraksi wisata. Keberadaan ratusan monyet ini cukup mendapat perhatian dari masyarakat.

monyet kreo

Semua itu berawal dari kisah dahulu kala ketika Sunan Kalijaga sedang mencari pohon jati untuk soko Masjid Demak. Dalam perjalanannya Beliau pun menemukan sebuah pohon jati besar lalu dipotongnya dan dihanyutkan menyusuri sungai menuju ke Demak. Apesnya potongan kayu ini malah terjepit di antara bebatuan. Lebih apes lagi karena segala cara dilakukan tapi bebatuan itu masih juga tak dapat digerakkan.

Sunan Kalijaga pun berdoa dan merenungkan apa yang terjadi. Tiba-tiba muncullnya empat monyet-monyet (berwarna hitam, putih, merah dan kuning yang konon menyimbolkan sifat manusia) yang dengan sigap menolong Sunan Kalijaga. Berkat mereka kayu jati tersebut pun dapat dihanyutkan kembali dan Sunan Kalijaga pun melanjutkan perjalanannya ke Demak. Awalnya monyet-monyet ini kepingin ikut, namun Sunan Kalijaga mencegahnya dan meminta sekawanan monyet ini untuk menjaga kayu jati di area tersebut saja (Mangreho). Nah dari situlah kata Goa Kreo berasal. Mangreho berarti peliharalah atau jagalah.

Oleh karena itu, monyet-monyet di sini pun tidak pernah diganggu oleh masyarakat. Mereka bahkan cenderung memelihara monyet-monyet yang kabarnya terbagi dalam tiga kelompok dan jumlahnya bisa lebih dari tiga ratus. Tiap kelompok monyet punya ketua geng. Bisa dilihat sih yang mana yang bos. Dari fisiknya dapat dilihat dari yang paling besar dan gendut. Baru kali ini loh saya lihat monyet obesitas. Badannya sampai bergelambir dan sepertinya mau jalan aja berat. Namun dia gesit juga. Kalau ada makanan direbut dan monyet lain jadi sungkan melawan.

monyet goa kreo semarang

Nah mungkin ada yang berpikir, kenapa monyet-monyet ini dikasih makan… kan dia bisa cari makan sendiri. Apa gak takut jatuhnya eksploitasi? Menurut masyarakat setempat, justru kalau gak dikasih makan, monyet ini berulah dan menjarah kebun masyarakat. Jadi ya wes.. pengunjung mungkin juga akan merasa terhibur dengan melihat monyet-monyet ini berebutan makanan di atraksi panjat pinang yang diadakan di hari minggu dan biasanya sebelum jam 11 pagi. Selain itu, saya suka banget liatin emak-emak monyet yang ngeliatin keluarganya lagi nyari makan di panjat pinang itu sementara mereka harus netekin bayi mereka. Bayi-bayi monyet di sini emesh banget. Liat tuh mata mereka. Beningnya~~~

monyet goa kreo

Monyet-monyet ini di sini ketika saya dekati sebelum mereka makan, cukup agresif sih. Maklum lagi laper waktu itu. Setelah itu, lebih jinak. Meski saya gak bawa makanan ke mereka, tapi mereka mau kok mendekat. Tapi lebih baik sih tetep segala makanan dan minuman diletakin dalam tas agar waspada tidak memancing mereka buat ngambil.

Dari area panjat pinang, saya menuruni tangga menuju jembatan yang ada di atas bendungan jatibarang. Duduk – duduk di jembatan ini asik juga karena anginnya sepoi-sepoi.

Setelah istirahat, saya lanjut liat Goa Kreo yang dimaksud. Rupanya cuma gua kecil dengan beberapa lobang di tebing gitu. Ya iya secara penghuninya kan monyet.

goa kreo

Masih menurut guide, masih ada sih satu goa lagi di atas. Namun saya tak sempat menaikinya karena medannya yang lebih menanjak. #jompo. Jadinya saya lebih banyak mengabadikan foto di sekitar sini aja. Segini aja aku puas kok. Aku mudah dibahagiain yah? #kode

Goa Kreo

Tiket Masuk (Sabtu Minggu Rp.3.000 / Weekday Rp.2.500)

kalibre koper

Ransel Atau Koper?

Biasanya, ada dua tipe pejalan. Yang bawa ransel atau bawa koper.

Katanya kalau ransel itu pejalan dengan uang pas-pasan, sedangkan yang bawa koper itu tipikal yang gak mau repot. Well, sebenarnya mau bawa yang manapun, sama aja sih. Toh fungsinya sebagai tempat meletakkan barang. Hanya memang masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Jadi sebelum memilih, berikut pertimbangan saya :

Ransel

1. Jika Trip cuma satu atau dua hari, biasanya saya bawa ransel. Ranselnya juga ukuran biasa aja gak perlu yang puluhan liter buat naik gunung atau kayak lagi ikut Amazing Race. Kalau dulu saya memang selalu bawa laptop sih buat internetan, pindahin foto de el el. Namun sekarang udah jarang bawa laptop, karena foto udah bisa dipindahin langsung ke Handphone. Meski lebih ringkas, tapi giliran kamera saya yang jadi lebih besar ukurannya. Demi foto yang paripurna, apa boleh buat. Jadi tetep pake ransel karena ini yang paling nyaman buat si kamera. Selain itu, saya juga selalu bawa air minum, powerbank, dompet dan lain-lain jadi semua bisa masuk ke sini.

2. Kalau medan yang ditempuh memang kebanyakan tidak bisa dilalui roda koper. Misal dulu saya keliling wakatobi, saya harus naek kapal dari satu pulau ke pulau yang lain. Lebih ringkas kayaknya kalo bawa ransel aja. Karena itupun cuma sehari sehari di tiap pulaunya.

Backpack Kalibre

3. Tidak mau pake bagasi. Yang ini karena pertimbangan check-in bagasi dan nunggu bagasi keluar itu bisa makan waktu sejam, misalnya di Cengkareng. Fuh jadi kalo buru-buru mending saya bawa ransel aja. Langsung cabut!

4. Hemat. Kembali ke poin ke tiga, bisa jadi saya mau pake bagasi tapi kalo penerbangan ke luar negeri pake low cost airlines, biasanya biaya bagasi nambah lagi. Nah ini kalau saya lagi hemat, saya biasanya bawa ransel aja..paling tinggal tambah satu tentengan lagi kalo masih kurang tempat.

Koper

1. Trip dalam jangka waktu lama seperti ke USA atau Belanda. Ini memang udah wajiblah yah.

2. Bawa barang yang gak bisa diuwel-uwel masuk ke dalam ransel. Misalnya bawa high heels buat kondangan. Ya kali masuk ransel?

kalibre luggage

3. Kalau malas angkat ransel. Biasanya ini trip 1/2 hari di mana saya bisa leyeh-leyeh jadi saya juga males angkat ransel. Tapi saya tetep pakai koper cabin size yang bisa masuk kompartemen di atas jadi gak perlu nungguin bagasi sewaktu tiba.

Jadi pilih yang mana?

Saya pribadi keseringan selalu bawa koper, terutama yang cabin size. Karena rata-rata bawaan saya dikit kok dan trip nya juga gak sampai seminggu. Dulu-dulu saya punya tuh tas kecil roda dua yang bisa digerek-gerek dan masih cabin size. Itupun nyolong punya papa karena bekas ikut tur. Tapi setelah dua tahun, koper warna biru itu sudah tak layak, dekil dan mulai ada kerusakan minor di sana-sini. Tetep bisa pakai tapi pengen ganti juga. Yah semacam pacaran gitu. Bingung mau putus atau lanjut.

Akhirnya, saya putuskan cari pengganti baru dan jodoh menemukan saya dengan Kalibre. Karena kadang ikut business trip, saya maunya koper yang keliatan elegan. Warnanya netral. Ringan. Dan rodanya empat. Karena koper lama rodanya dua, jadi saya mau ada perkembangan dong. Harganya juga masih pas di kantong. Cuma satu juta, masih ada kembali sedikit hehe.

Saya sengaja pilih Koper Kalibre yang 20 inch cabin size ini. Ini udah ukuran paling kecil tapi ternyata kalau diisi bisa banyak kok. Di depannya pun masih ada dua kantong lagi jadi bisa buat tambahan barang-barang saya. Lalu kopernya sudah termasuk sama kunci TSA. Ini penting karena kalau di USA mereka harus pake kunci beginian.

Saya baru coba pertama dan suka sekali. Apalagi sekarang gak perlu tarik lagi, karena rodanya empat bisa didorong aja gitu ke depan heehe. Sewaktu ke kota lama di Semarang, saya gerek-gerek koper ini sambil keliling buat foto – foto. Teman saya sampai bilang diangkat aja, kasian kopernya. Saya bilang gak usah. Kuat kok! Beneran kan sampai sekarang si kalibrenya masih oke oce.

kalibre

Selain koper kalibre, saya juga selalu bawa ransel untuk kegiatan sehari – hari di luar. Sedangkan koper udah jelaslah yah buat “lemari” saya di hotel. Kebetulan saya pernah dapat ransel Kalibre di suatu acara. Warnanya juga netral dan cocok buat saya yang wanita. Bisa dipakai di berbagai OOTD saya.

Jadi sekarang kalau jalan-jalan, saya sudah mirip Duta Kalibre. Ransel dan koper masing-masing merek buatan lokal asli Indonesia. Bangga!

pulau tirang semarang

Menyusuri Mangrove Tapak Semarang

Postingan ini beresiko membuat ingatan kamuh-kamuh ambyar semuanya tentang Semarang. Namun dalam artian yang baik yah. Kalau selama ini yang saya ingat tentang Semarang, yah paling Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Lumpia, dah itu aja. Iyah cetek banget yah pengetahuan saya.

Oleh karena itu, gak heran deh Dinas Pariwisata Kota Semarang dan BP2KS(Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang) mengajak saya ikutan #bloggerfamtrip2017 biar wawasannya tidak cuma tentang soto pak cak man, bakmi jowo pak Doel Noemani, ayam tim di pecinan, ikan bakar dan… Apah? kalian belum pernah denger itu semua? Jalan-jalan gih ke semarang. Angka timbangan pasti geser ke kanan.

Anyway, saya dan temen-temen blogger menyambangi Mangrove Tapak di Tugurejo, dekat kota Semarang. Area ini merupakan wilayah konservasi mangrove yang dibentuk pada tahun 2012. Sejak tahun itu, masyarakat di sekitar pun aktif melakukan penanaman mangrove. Lama kelamaan, jerih payah warga sekitar menunjukkan hasil yang cemerlang dan membuat kawasan yang semula merupakan tempat pembuangan limbah industri ini menjadi hijau.

Akhirnya pada Agustus 2015, dibentuklah kelompok desa sadar wisata yang lebih memfokuskan diri mereka dalam mengembangkan potensi yang telah ada di sini. Seiring makin populernya Mangrove Tapak, pengunjung bisa belajar lebih banyak mengenai mangrove dengan mengikuti berbagai tur yang tersedia yaitu trekking mangrove selama dua jam (35ribu saja), atau susur sungai. Susur sungai pun ada dua. Paket hemat atau komplit.

Yah kami pilih paket komplit lah (95ribu saja), paha dua nasi banyakan!

Ketika sampai di lokasinya yang cuma sekitar setengah jam dari Hotel Panandaran, saya diberikan boots serta topi caping. Sedangkan life jacket tidak saya pakai karena menggangu #ootd #dikeplak. Gak ding karena saya percaya sewaktu susur mangrove airnya tidak terlalu dalam hanya sekitar dua meter, namun rupanya di bawah itu rupanya bukan tanah tapi endapan bekas limbah dulu jadi kalo kecebur malah susah keluar dong? Nah jangan ditiru kayak saya yah :p

mangrove semarang

Setelah itu, saya dan beberapa teman menuju ke salah satu nelayan yang sudah menunggu di kapal perahu. Satu perahu bisa menampung 5 tamu, karena dua lagi sudah termasuk guide dan nelayan yang nyupirin. Jangan banyak-banyak ah kapalnya kan kecil 🙂

Kapal yang saya tumpangi mulai berjalan pelan karena memang daerah yang kami susuri hanya 3-4 meter. Kalau ada perahu dari arah sebaliknya, mungkin gak muat kali ya?

Sambil dikelilingi barisan pohon mangrove yang ada di kiri & kanan, saya bisa melihat dengan seksama kepiting – kepiting yang bersembunyi di balik akar mangrove. Perahu yang kami tumpangi pun sempat berhenti sebentar karena guide kami akan memberikan informasi sekilas tentang mangrove yang ada di sini. Rupanya di area ini terdapat tiga jenis mangrove yakni Rizophora (bakau), Avicenia (api-api) serta satu lagi Bruguiera yang didatangkan dari Bali karena di Jawa belom ada. Memang mangrove dikenal sebagai tumbuhan yang berfungsi untuk menahan abrasi dari air laut. Selain itu, pohon ini juga rumah bagi kepiting, ular air dan ikan -ikan yang banyak dipelihara di sekitar ini.

Lalu kami pun masih melanjutkan perjalanan. Saya tak berhenti – hentinya terkagum kagum melihat warna hijau di sekeliling. Kayak bukan di Semarang, tapi berasa lagi di Vietnam..karena saya lagi pakai topi caping ini heheh. Hello my name in Tan Nguyen Lenny 😀

mangrove tapak

Sambil foto – foto gitu kami semua bergumam dan setuju jikalau tempat ini cocok untuk tempat foto prewed yang unik. Si mbak guide langsung dengan semangat mengatakan bahwa memang benar di sini sudah ada beberapa orang yang melakukan pemotretan. Wiih!

Perahu kami terus menuju ke muara yang lebih besar. Sisi kanan-kiri yang tadinya hijau telah berubah lanskap menjadi air. Hore kami kembali ke laut. Di pesisir, saya menjumpai beberapa ban yang diikat menjadi satu yang rupanya berfungsi untuk alat pemecah ombak yang lebih baik daripada dicor doang. Biar makin kokoh, lagi ditanamlah mangrove di dalamnya sehingga dia bakal lebih kuat lagi.

Kami juga melewati beberapa tempat di mana nelayan meletakkan rumpon, semacam perangkap untuk menangkap udang. Biasanya diturunkan di sore hari lalu nanti akan dipanen esok paginya. Bangunan dari bambu ini langsung kami datangi dan saya pun ketagihan untuk bernarsis ria.

pulau tirang semarang

Selanjutnya, mbak Guide memberitahukan bahwa kami akan melakukan penanaman bibit mangrove di pulau Tirang. Pulau ini ternyata punya sejarah khusus karena kata “Rang” dari “Semarang” ternyata berasal dari pulau ini.

Sayangnya, akibat reklamasi yang dilakukan di dekat Marina dan di kendal kayu manis, pulau ini pun menciut drastis dan kondisinya agak terbengkalai. Dulunya terdapat sumber mata air tawar di pulau ini tapi sekarang udah menghilang. Kini pulau yang luasnya tak lebih dari lapangan bola ini hanya terdiri dari pasir-pasir berwarna hitam. Namun karena saya sudah lama tak bertemu air, pasir, dan ombak, senengnya bukan main sampai awalnya lupa melepas topi dan boots! HAHA!

pulau tirang

Dulunya kalau mau ke pulau Tirang ini, harus dari Mangrove Tapak naik perahu, tapi sekarang udah ada jalan darat yang bisa diakses dari Marina. Untuk mendoakan pulau Tirang senantiasa terjaga, kami pun melakukan penanaman bibit Mangrove di pulau ini. Seneng deh!

Balik dari pulau Tirang, kami ke spot terakhir yaitu melihat para nelayan menangkap ikan di kolam. Meski gak ada yang nyemplung buat ambil ikan langsung, tapi kami melihat sendiri cara bapak-bapak ini dengan giat mengambil ikan dan udang. Pengunjung juga bisa mancing ikan di sini tapi kalo dapetnya Bandeng gak bisa dibawa pulang, karena lagi dipelihara di sini. Let it go yak!

mangrove tapak di semarang

Meski acara tur ini telah usai, kami beruntung masih bisa merasakan kenikmatan ikan dan kepiting untuk makan siang. Rasanya maknyos apalagi sambil terkenang akan indahnya pemandangan yang baru saya lihat tadi.

Ah, terima kasih Mangrove Tapak. Semoga selalu lestari!

 

kalijodo

Kalijodo Kini

Bus Tingkat Wisata di Balai Kota Jakarta yang saya tunggu – tunggu akhirnya datang juga. Saya bukan sedang mau keliling pusat kota dengan bus gratis ini, melainkan saya sedang menuju ke sebuah rute tambahan dari bus tingkat wisata Jakarta, yakni Kalijodo.

Namanya yang nyentrik membuatnya – dulu maupun sekarang – sering diperbincangkan. Sebagai pendatang di ibukota, saya sebenarnya enggak tahu apa itu Kalijodo dan seberapa “angker” nya kawasan ini. Dari hasil baca – baca internet mengenai sejarah tempat ini, katanya kawasan ini dahulu kalanya merupakan tempat mencari jodoh bagi para pendatang dari negeri tiongkok ketika di Indonesia. Maklum pas nyampe ke tanah air, mereka tidak dapat membawa pasangannya. Jadinya beberapa orang mendapat “jodoh kilat” nya di sekitar bantaran kali di Penjaringan, Jakarta Utara ini. Dari situ, kemudian kawasan ini dikenal sebagai Kalijodo dan bisnis esek esek dan temen – temennya mulai ikut nimbrung.

Namun syukurnya sejak dibongkar oleh Ahok pada tahun 2016 lalu, tempat ini sudah berubah total. Dari yang sebelumnya area ini hanya hidup di malam hari, kini tempat ini sudah menggeliat sedari pagi. Dari yang sebelumnya didominasi orang – orang dewasa, kini Kalijodo adalah tempat bermain bagi anak – anak hingga orang lanjut usia.

kalijodo jakarta

Saya tiba di halte kalijodo satu jam setelahnya dan disambut dengan suasana siang hari yang panas dan teriknya pol. Meski begitu, antusiasme saya tidak langsung menguap begitu tiba di kawasan yang telah didaulat menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) ini.

Di area depan Kalijodo, terdapat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang diberi pagar pemisah. Area seluas 5.000 meter persegi tersebut merupakan oase bagi anak – anak untuk bermain dengan aman dan nyaman di taman  yang tersedia. Berbagai permaianan pun terpasang dengan baik, mulai dari permaianan klasik seperti ayunan, jungkat-jungkit, kuda – kudaan hingga playground modern, dan sebuah lapangan bola mini. Semua area permainan ini pun telah dilapisi dengan alas yang lembut untuk meminimalisir resiko jika ada anak yang terjatuh. Sedangkan di tengah RPTRA, terdapat sebuah perpustakaan mini, ruang menyusui, serta toilet dan musholla. Semua fasilitas ini dapat dimasuki oleh publik, namun tentu saja fasilitas diutamakan bagi anak – anak dan orang dewasa dilarang untuk merokok di area ini.

playground kalijodo

Karena adanya aturan yang melarang para pedagang berjualan di area Kalijodo dan di sekitar sini belum ada rumah makan yang layak (saya ketemunya cuma dua warteg kaki lima dengan tampilan yang kurang meyakinkan), saya jadinya beli snack untuk mengisi perut seadanya di sebuah ruangan kecil seperti minimarket. Di sini ada jualan roti, minuman dingin (lebih murah dari vending machine resmi yang ada di Kalijodo) dan makanan ringan yang merupakan hasil produksi dari Ibu – Ibu PKK. Saya langsung tergoda beli risolnya yang isi telor putih ama wortel. Enak banget cuma 3ribu dan saya beli dua. Jajanan murah – murah banget. Ada juga mie goreng atau nasi uduk porsi kecil gitu jika ada yang laper.  Tak ketinggalan, di sini juga menjual berbagai hasil kerajinan dari Rusunawa Tambora.

Selepas dari RPTRA, saya menaiki tangga yang ada di samping, dan sebuah area luas telah terbentang di hadapan. Salah satu yang paling menarik minat adalah seni mural yang ada di sebuah tembok di samping tangga yang saya turunin. Mural dengan tinggi 8 meter dan lebar 23 meter ini merupakan maha karya dari belasan seniman ulung. Gerombolan siswa-siswi yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya sedang asik menjadikan mural ini sebagai latar belakang foto mereka. Tau aja nih si Ahok kalo kite-kite pada suka narsis di mural 🙂 Gak perlu lagi deh harus jauh-jauh OOTD di Mural Singapura.

kalijodo

Ketika saya posting foto ini di Instagram banyak yang komen “wah iklan / sponsor nya gede banget”. Iyah emang sih tapi yah gimana secara pake duit merekalah Kalijodo ini bisa begini. So legowo ajalah yah :p

mural kalijodo

Sementara itu, saya memilih untuk berteduh dulu memperhatikan tingkah laku mereka. Andai saja cuaca sedikit teduh, saya pasti memilih duduk di samping mural, di taman yang bersebelahan langsung dengan Kali Jelangkeng. Untungnya, Kalijodo yang diresmikan pada tanggal 22 Februari 2017 lalu juga turut memperbaiki dan membersihkan Kali Jelangkeng yang ada di sisi Kalijodo. Saya melihat sendiri kali itu kini airnya telah berwarna hijau dan tidak menimbulkan bau menyengat. Di seberangnya kompleks perumahan warga masih berdiri layaknya dahulu kala. Namun setidaknya, rumah – rumah tersebut tidak lagi harus berhadapan dengan area kumuh lagi.

Sementara itu, di area tengah kalijodo, terdapat arena skate park. Arena ini dikelilingi oleh lintasan sepeda yang berliuk – liuk. Tampak seorang anak kecil menaiki sepeda yang bahkan lebih tinggi daripada tubuhnya. Dia mengayuh pedal sepeda tanpa ragu-ragu dan dengan percaya dirinya, ia bisa “menunggangi” setiap liukan dari lintasan itu seolah – olah sudah sangat menguasai medan tersebut. Ketika mulai bosan, si anak kecil tersebut mengayuh sepedanya menuju ke tengah arena di mana terdapat beberapa coran semen yang dibuat tinggi sebagai rintangan bagi anak – anak yang bermain skateboard. Sedangkan di belakang arena skate park, sebuah “kawah” mengangga dengan keseluruhan sisinya yang licin telah membuat rekan saya terpeleset. Arena ini biasanya dipenuhi oleh remaja & orang dewasa yang akan mempertunjukkan kebolehannya bermain Sepeda BMX atau Skateboard. Tentu saja mereka harus cukup jago untuk bisa meluncur mengikuti bentuk kawah ini. Sayangnya hari masih pukul dua siang dan hanya tampak beberapa gerombolan anak sekolahan yang nongkrong dan memanfaatkan kawah ini sebagai arena perosotan.

“Biasanya mereka muncul jam empat.” Jawab salah seorang remaja tanggung yang sedari tadi tampak mengasah kemampuan skateboardnya.

Si remaja tanggung ini bercerita, sebelum Kalijodo berdiri, ia dan teman – temannya biasanya bermain di sekitar waduk pluit. Namun sekarang, dengan adanya fasilitas yang mumpuni seperti yang dimiliki Kalijodo kini, ia pun tidak lagi kesusahan untuk menyalurkan hobinya. Apalagi aneka lintasan dan rintangan yang ada cukup bervariasi dan mampu memompa adrenalin. Biasanya mereka bisa menghabiskan waktu hingga pukul 9 malam sebelum akhirnya pulang ke rumah. Karena merupakan ruang public terbuka, taman ini memang terbuka 24 jam.

skate park

skate park kalijodo

Sambil mengamati sekeliling, saya pun bisa membayangkan diri sendiri berkeliling tempat ini sambil bersepeda atau hanya sekedar ber-jogging di pagi hari. Atau, jika suatu hari saya kebingungan mencari tempat untuk bersantai – selain ke shopping mall seperti biasanya – paling tidak sekarang sudah punya alternatif liburan.

“Paling ramai itu hari minggu mbak. Nanti kalau sudah malam, ada yang jualan, ada becak – becakan, ramai lah pokoknya.” cerita anak – anak lain yang saya temui.

taman kalijodo

Pancaran dan senyum keriaan anak anak di sini telah menumbuhkan kepercayaan saya bahwa memang peran ruang publik itu memang tidak bisa tergantikan. Walau sebagai pendatang di jakarta, saya sih memang tak bisa membandingkan perubahan Kalijodo, tapi bagaimanapun saya tahu Kalijodo yang sekarang itu bersih, aman (ada sekuriti dan satpol PP berjaga), gratis, dan layak buat dikunjungi siapapun. Sayangnya di area ini masih gersang. Udah ada beberapa pohon yang ditanam, tapi kayaknya kurang deh. Lalu fasilitas toiletnya masih belum OK dan gak ada tisu atau sabun cuci tangan. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi.

tiket murah

5 Usaha dapat tiket murah

Salah satu komponen yang bikin traveling itu mahal adalah biaya menuju ke destinasinya. Kalau gak jauh sih pake bus atau kereta bakalan lebih irit. Tapi keseringan saya jalan – jalan pake pesawat. Dan itu gak murah.. apalagi kalau destinasinya emang jauh atau pilihan maskapai dikit. Nah kalau sudah punya plan mau ke mana jauh – jauh hari, saya biasanya langsung cek harga tiket deh. Karena itu mempengaruhi saya jadi atau batal gak jalannya. Macam bulan April ini long weekend ada 3 biji tapi tiket ke Singapura ga ada yang normal. Jadi mikir – mikir nih…

Kalau saya googling cara mendapatkan tiket murah, ada beberapa poin yang keluar seperti di bawah ini nih. Ada poin yang emang saya praktekan.. namun ada juga yang enggak sih.

1. Clear Cookies

Website penjual tiket biasanya mencatat history kita di web mereka. Mau terbang kapan, kemana, dan lain lain. Maka itu, kalo udah cek tiket harga ke singapur misalnya, nanti iklan yang bertebaran di socmed atau web yang kita buka pasti juga tentang destinasi yang barusan dicek. Sounds familiar? Lalu ketika esok harinya kita balik lagi ke web jualan tiket itu, harganya jadi naik. Awalnya saya pikir oh emang mungkin pada udah dibeli jadi seats tinggal dikit dan harga jadi naik. Tapi setelah cookies di satu browser dihilangkan, bisa loh harganya kembali ke semula. Ini katanya karena kita dianggap “orang baru” yang ngecek jadi dikasih harga OK. Kalau yang udah tiap hari ngecek, web itu akan pelan – pelan naikin harganya karena ngerasa saya mau gak mau akan beli juga. Kadang saya kalau malas hapus cookies, saya cek / belinya pake komputer / hp lain saja. Tentunya sambil membandingkan.

2. Cek diskon di online travel

Gak bisa dipungkiri online travel kadang harganya bisa lebih murah dibanding beli di tour & travel biasa atau di web resmi maskapai sehingga saya suka ngeceknya selalu dari sini. Selain itu, bisa langsung cek kapan saja dan di mana saja, kelihatan maskapai apa aja yang ada, harga, dan jadwalnya serta bayarnya gak ribet. Yang paling asik, mereka suka ada diskon khusus. Jadi sebelum booking, boleh deh riset dulu ada diskon apa.  Oh ya, selain itu perhatikan juga apa ada penawaran jika memesannya melalui apps-nya atau di LINE seperti teknologi baru Chatbox yang namanya Bang Joni. Ih kayak nama ojek langganan deh ya?

Jadi saya dikenalin temen ama Bang Joni ini. Katanya bisa buat pesen tiket pesawat mudah dan cepet. Berasa ama temen sendiri gitu. Bedanya dia gak bisa nombokin dulu ehhe. Jadi karena temen, saya iseng-iseng add Line nya : @bangjoni.

Bang Joni

Langsung dong nemu dan disapa. Ramahnya bukan main, enggak kayak CS-CS yang biasa. Bang joni ini juga asik dan lucu. Dia sampai tanya nama, pastiin saya cewek ato cowok agar bisa dipanggil sis gituh. Setelah tau saya mau cari tiket, dia langsung memberikan opsi gambar yang bisa di-klik jadi saya pun dengan mudah gak perlu ketik-ketik lagi. Tinggal pencet. Banyak pilihannya..dan bang joni langsung kasih beberapa tiket murah yang ada destinasi yang biasa diincer. Setelah itu saya lalu diarahkan menuju website dan bisa melakukan booking tiket di sana. Cepet kan? Gak nyampe lima menit, semua beres.

Bang Joni apps bang joni travel
Rupanya selain tiket, Bang joni juga bisa ditanyaiin macem – macem mulai dari transletan berbagai bahasa hingga kondisi cuaca. Kalau lenny butuh teman curcol diladenin juga gak bang joni?

3. Terbang di tengah minggu

Weekend itu hari yang paling mahal tiketnya. Begitu juga hari senin atau jumat karena orang (dan saya) suka memanfaatkannya buat weekend getaway. Tapi kalau emang gak punya batasan cuti, asiknya pilih tengah minggu biasanya harganya bisa lebih bersahabat karena permintaan tidak setinggi hari laen. Tapi kalau tengah minggunya libur nasional ya sama aja boong.

4. Ikut miles dari maskapai yang sering diterbangi

Sewaktu hendak ke USA dulu, saya naik Delta Airlines yang notabane Garuda-nya di Amrik. Oleh temen saya, saya dibuatin Skymiles, miles-nya Delta. Jadinya dapet banyak banget poinnya karena rute Jakarta – Amrik PP ditambah pas di Amrik saya juga loyal naik maskapai ini. Suatu ketika, saya pernah komplen sesuatu, ama Deltanya dikasih poin lagi. Total – total kurang lebih 10 bulan saya bisa kumpulin hampir 40.000 poin. Karena Delta ini tergabung di Sky Team, pas balik Indonesia dua tahun kemudian saya tuker 22.500 miles-nya dengan tiket pulang jambi naik Garuda setengah harga. Lumayan kan? Selain itu saya juga punya Garuda miles dan kalau saya naik maskapai bintang lima macam KLM pas ke Belanda dan ke malaysia (dengan business class), saya mendapat banyak tabungan poin yang udah bisa saya tukar tiket Jakarta – Bali (misalnya) dengan gratis. Kabar baiknya juga, sekarang Garuda dan Citilink gabung loh milesnya. Uwiwiwiwi!!

5. Gabung – gabung moda transportasi

Misalnya mau ke Singapura tapi kan tiket mahal yah..padahal udah gak ada konser Coldplay. Bisa aja sih saya terbang dulu ke Batam, habis itu lanjut naik ferry sejam baru nyampe singapura. Kalau pergi berempat mungkin bisa hemat ongkos berapa ratus ribu. Namun cara ini kadang tidak efisien misalnya karena saya cuma punya waktu sedikit. Jadi meski dipertimbangkan juga apakah worth it hemat ratusan ribu tapi rela gonta – ganti moda transportasi dan waktu perjalanan jadi panjang ATAU tetap bayar lebih mahal tapi cepat nyampenya? Sepertinya… hati saya memilih yang kedua.

6. Travel Fair

Nah ini salah satu yang sering dilakukan orang – orang.. tapi sungguh saya gak kuat. Karena kerja di media, saya sering diundang ke acara begini, sebut saja Garuda Travel Fair. (Lah ini udah nyebut namanya dengan gamblang!)

travel fair

Okay GTF kan travel fair paling beken nih. Diskonnya juga pengen bikin saya nguras tabungan dan rela jadi budak kartu kredit. Tapi..tapi…antriannya ituloh. Pintu gerbang belum dibuka, antrinya udah macam ular tangga. Mau hujan atau panas, tidak ada satupun pengunjung yang rela tempatnya kena potong orang. Salut! Kalau saya meski diskonnya 1jt tapi saya gak sanggup kalau harus antri lebih dari 5 jam hanya untuk jadi orang pertama yang berada di pintu masuk seperti mereka – mereka ini. So hands up buat kamu – kamu yang rela desak – desakan dengan stok sabar unlimited mulai dari ngantri, bertanya dan mencari satu -satu promo yang diinginkan.

Padahal yah kalau dipikir saya bisa keluar masuk bebas karena saya punya press card, bahkan sewaktu acara belum dimulai, tapi yaelah malah gak dimanfaatin buat nyari diskonan. #toyordirisendiri

Tapi yah, meski gitu kita harus tetap kritis melihat sejuta promo yang diberikan. Pernah nih yah saya mampir ke salah satu travel fair di mall, gak gitu gede sih. Ini kerjasama antara satu bank dan satu agen tur online gede. Udah hampir jam 9 malem, tapi masih aja rame. Giliran saya dapet antrian buat tanya mbak CS-nya, saya pun ngasih tahu pengen ke Singapura tanggal segini. Setelah mencet – mencet keyboardnya dia bilang..

“Hm..udah pada penuh nih mbak tanggal segitu. Kalau ada pun harganya PP 4 jutaan.” jawab si mbak

Jeder!! 4 jutaan? mahal amit. Tanya – tanya lagi rupanya dia kasih harga Garuda / Singapore Airlines. Yaelah pantesan. Saya pun minta dicarikan yang murah aja misal pesawat yang merah – merah itu loh.

“Maaf, mbak kita gak melayani maskapai low budget.”

Jeder lagi! Saya merasa hina dan miskin. Lah buat apa saya ke sini kalau mereka gak bisa ngasih saya harga murah? Mending saya balik pantengin Bang Joni lagi deh huhuh

**

Sekali lagi cara-cara di atas tidak memang tidak selalu memberikan jaminan 100%. Yah tapi namanya juga usaha yah. Sama saja dengan berbagai larangan yang misalnya bilang jangan beli pas dekat hari H karena pasti mahal, tapi buktinya saya pernah dapat tiket harga normal bahkan beberapa jam sebelum keberangkatan. Sebaliknya udah mau booking harga tiket, lusanya ada lagi tiket lain yang lebih murah dan jamnya lebih cocok. Hm jadi pengen ngunyah koper gak tuh jadinya?

Intinya hanya tuhan dan yang jualan yang tahu kapan ada tiket murah….

Ada yang punya saran atau pengalaman untuk mendapatkan tiket (lebih) murah?

buku plesir 35 destinations

Buku 35 Destinations, Bucket List : Bingkai Perjalanan dalam Foto dan Cerita

Menulis buku adalah salah satu impian saya. Setelah menjadi salah satu penulis di buku ini, saya berharapnya lagi diberi kesempatan untuk punya buku terbitan Kompas dan dijual di Toko Buku Graedia. Sebagai pengunjung setia (biasanya seminggu sekali kalau pas di Jakarta dan gak kemana – mana / lagi bosan mati gaya), saya banyak berhutang budi sama Gramedia karena sering numpang baca gratis. Dua atau tiga buku per minggu, dikali berapa tahun. Bayangin tuh kalau saya musti beli semua, jebol deh kantong.

Tapi meski begitu gak selalu kok saya datang buat gratisan, kadang masih ada beli majalah / buku atau beli peralatan/aksesoris kalau harganya beda tipis, beli di Gramedia saja. Karena saya pun sudah gabung sebagai member Gramedia jadi buat ngincer poin dan diskonnya juga!

Anyway, di bulan – bulan terakhir 2016, tiba – tiba saya dikontak oleh editor dari Kompas Klass, itu loh rubriknya koran Kompas yang terbit seminggu sekali. Di rubrik ini ada kolom buat tulisan pembaca yang membahas tentang teknologi, pelesir, seni, budaya dan macam – macam. Terhitung udah empat artikel saya yang terbit dalam kurun waktu tiga tahun. Gak jelek – jelek amat ye kan?

Nah sang editor, mas Valent menawarkan mengangkat salah satu artikel saya tersebut. Bak durian runtuh, terus dibukain dan disajikan di piring, tinggal makan doang, tentu saya mau dong. Artikel dan foto sudah ada jadi otomatis saya gak perlu ngapa – ngapain lagi cukup tanda tangan kontrak saja. Deal! Meski sempat tertunda jadwal peluncurannya, saya senang sekali begitu diundang ke acara peluncurannya pada tanggal 28 Februari 2017 yang bertempat di Gramedia Grand Indonesia. Aihh pas banget ini Gramedia yang paling sering saya tongkrongi karena deket kos :p

Acara berlangsung jam 15.30 WIB dengan menghadirkan Gemala Hanafiah (Surfer & Blogger) & Abiprayadi Riyanto (Fotografer) yang sama sama merupakan kontributor Kompas Klass juga. Di sini mereka sempat menceritakan kisah di balik pengalaman mereka. Setelah itu pengunjung diberikan kesempatan untuk bertanya. Saat itu, tak sengaja moderatornya meminta saya juga bercerita sedikit tentang artikel saya yang diangkat.

buku 35 destinations launching buku 35 destinations

Setelah habis yang tanya, baru deh bukunya resmi diluncurkan dan bakal tersedia di seluruh Gramedia di Indonesia. Harganya Rp. 120.000. Full Colour. 215 halaman yang terdiri dari berbagai cerita dalam dan luar negeri. Kalau saya pribadi menilai, buku ini layaknya ensiklopedia. Banyak gambar, tulisannya dikit tapi menarik, diberi info penting seperti cara menuju ke sana, makanan khas, design yang simpel sehingga tidak mudah membuat saya ketiduran. Bahasanya lugas dan karena penulisnya terdiri dari berbagai macam kalangan, sudut pandangnya pun beda – beda.

Dari sisi destinasi, ada yang udah mainstream (namun dibawakan dari perspektif yang beda), tapi ada juga destinasi yang saya gak pernah dengar seperti Aconcagua dan Qaqortoq. Duh nulisnya aja ribet. Ada yang tau itu di mana? Kalau belum makanya baca buku ini yah 🙂

buku plesir 35 destinations

PS : Dengan membeli buku ini, Anda sudah membantu saya untuk terus bisa jalan – jalan dan menuliskannya kembali. Tsaah…

Jadi, ada yang udah beli atau baru mau rencana beli? Kasih tahu dong pendapatnya!