SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bukit Cantik Campuhan Ubud

Biasanya turis-turis di Bali itu bisa dikelompokkan berdasarkan kesukaannya. Yang di Seminyak yang duitnya berlebih dan mau nongkrong cantik, di Kuta yang budget plus mau dekat ke mana mana, dan kalau ubud yah biasa mau leyeh-leyeh mencari zen aka ketenangan hidup. Gak heran Ubud itu identik ama sawah-sawah hijau ala tegalalang meski saya juga gak pernah ke sana. Hijau yang benar-benar hijau itu justru saya dapetin sewaktu main ke Campuhan Ridge Walk.

Awalnya pertama kali ke ubud tahun kemarin pas imlek, saya gak sempat ke sini. Masih penasaran dong jadinya karena kala itu lagi hits banget dan foto campuhan udah wara-wiri di feed Instagram. Lalu ada kesempatan lagi Aprilnya ke Bali, saya udah memasukkan banget destinasi ini karena kebetulan tinggalnya juga masih di sekitar Ubud. Setelah beberapa hari di Ubud menyusuri pusat keramaian dengan hotel, cafe, toko, rasanya perlu juga untuk menyegarkan mata dengan nuansa alam.

Berbekal info dari internet, saya menuju ke sana pake motor. Tidak ada tiket masuk dan tidak ada tukang parkir. Oke sip saya demen kalo begini! Cukup bawa air seadanya di tas kecil karena gak mau meribetkan diri sendiri. Apalagi ke sini hitung-hitung mau buat olahraga karena kabarnya trek di Campuhan ini panjangnya 9 kilometer. Kalau jalannya lurus sih saya bakal anteng – anteng aja. Bakal kuat gak yah? Mari kita lihat.

Waktu itu saya pakainya cuma sandal jepit dan pakaian se-nyaman mungkin biar kalau keringetan gak jengah. Dari parkiran motor, turun aja ke bawah. Seingat saya, gak bakal nyasar deh, ada tanda penunjuk, meski di sekitar sana sudah tidak ada rumah penduduk alias udah alam bebas. Nanti jalan terus, bakal ketemu komplek Pura Gunung Lebah yang cakep. Tak perlu masuk cukup lewati aja sambil menaiki anak tangga, hingga akhirnya sampai ke bukit Campuhan di mana sekeliling sudah berubah jadi padang ilalang yang hijau.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Di atas bukit ini angin cukup banyak meski juga cuacanya panas. Banyak yang merekomendasikan sih datangnya pagi hari banget atau sekalian sore buat nyari sunset. Saya tak sampai dapet matahari tenggelam, malah cuacanya agak mendung. Sepanjang jalan naik ke bukitnya agak terjal sih, jadi kalau bawa orang tua dan anak-anak harus hati-hati juga karena ke bawah sana sudah sungai atau semacam lembah (jurang?) gitu. Meski begitu yang saya suka adalah jalurnya sudah ada semacam paving gitu, jadi gak becek kalau hujan…serta Yeay saya pakai swallow aja bisa jalan-jalan di sini.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Saya perhatikan pengunjung ke sini ada dua jenis. Turis luar negeri yang pakaiannya udah sporty banget datang emang buat jogging atau jalan santai hingga ke ujung sana atau hingga ke Cafe Karst, yang saya gak nyampe ke situ karena kejauhan dan keburu capek HAHA(nertawain diri sendiri yang jompo). Nah tipikal saya ini mirip dengan turis lokal yang datang buat jalan bentar, lihat-lihat, foto-foto narsis habis tuh balik badan pulang. Karena kalau mau balik harus lewat jalan sama. Kurang lebih kalau liat di web lain kalau Anda niat bolak-balik yah bisa 2-3 jam deh. Tertarik?

Kalau pengunjung lokal, kebanyakan anak muda bali datang ke sini saya lihat berasa piknik. Bawa snack lalu nongkrong agak ke tepi ilalang gitu. Mojok nih ye?? Tempatnya sih emang lumayan buat leyeh-leyeh dan damai. Cuma jangan lupa bawa sampahnya pulang yah, secara tidak ada tong sampah di sepanjang jalur yang saya lewati.

Jadi yang mau ke sini, jangan harap juga nemu toilet atau indomaret di atas. Yang saya masih kurang tau yah di ujung Campuhan ini kira-kira ada apa yah? rumah penduduk kah? atau jalan buntu? lalu trek ini dibuat bagus apakah memang ada maksud dan tujuan?

Monggo loh yang udah nyampe ujung berbagi dengan saya 😀

Cara ke sana :

Cari yang namanya Warwick Ibah Luxury Villas and Spa yang sebelum Museum Blanco di Jl.Raya Ubud. Ini hotel asik banget karena udah yang paling deket dari Campuhan Ridge. Dari sana ikutin aja petunjuknya, turun ke bawah hingga nemu sebuah pura cakep. Gak usah masuk, cukup berbelok naik bukit, nah nyampe deh. Enjoy!

slank jakarta fair

Jakarta Fair dan Konser Slank

“SLANK..SLANK..SLANK!!!”

Suara teriakan dari fans garis keras grup band Slank atau yang biasa disapa Slanker tengah memanggil-manggil idola mereka. Harusnya Slank sudah tampil di panggung utama Jakarta Fair tersebut beberapa menit yang lalu. Namun hingga saat itu, belum juga tampak seorang pun di panggung. MC yang mengulur-ulur waktu dengan memberikan kuis dan hadiah goodie bag pun tampaknya tak mampu meredam antusiasme Slanker.

Saya, dan kelima teman blogger sebut saja richo, badai, fahmi, titi dan bulan yang awalnya tidak punya ekspektasi apa – apa ikut menjadi tak sabaran. Padahal kami berada di posisi paling enak, yakni VVIP. Di depan, samping dikit panggung, banyak satpam, lega dan tidak terjepit dan ke-grepe-grepe oleh lautan slanker yang saya perkirakan jumlahnya 1.594.260 orang.

Lagian, kami barusan juga buka puasa bareng dengan Slank di Hotel Holiday Inn Jakarta Express JIExpo Kemayoran. Temen saya langsung mencolong kesempatan tersebut buat minta foto dan video dengan Kaka Slank. Orangnya ramah sekali dan mau melayani permintaan kami. Tidak keliatan aura ertong (artis) sama sekali. Si kaka yang “ditodong” cuma pake swallow dan angkat kaki ke kursi sambil meladeni kami yang minta macem-macem.

Back to the stage…

Tak lama kemudian Slank muncul ke panggung. Saya yang semula udah mulai ngantuk dan gerah, tiba-tiba jadi semangat. Jujur saya buta banget lagu-lagu Slank dan lagu lain juga sih.  paling taunya terlalu manis #ketahuanumur

“Otak di Pinggang, minta ditendang” kaka Slank mulai menyanyikan sebaris lagu dari album terbarunya #PalaLoPeyank.

Slankers langsung menjawab”oi..oi..oi” dan kemudian dilanjutkan dengan musik yang tiba tiba kencang dan cahaya yang seketika dihidupkan berpadu dengan permaianan lampu yang semarak.

Nge-rock abiss!

Cowok di bawah ini sukses menghipnoptis dan membuat mata saya tak mau lepas dari energinya yang menghentak-hentak.

konser slank

Setelah satu lagu sukses bikin saya jingkrak-jingkrak, si Kaka mulai menyapa penggemarnya. Ohya slanker ini juga gak cuma cowok loh. Banyak juga cewek. Terkadang di saat konser, petugas keamanan harus berkali kali mengangkut cewek yang pingsan terjebak. Kadang juga memisahkan orang-orang yang berpotensi bikin rusuh. Kaka Slank pun aware akan hal hal kayak gitu. Gak jarang dia bertanya

“Masih aman yang di sana?”

“Kita harus saling jaga yah.”

Ugh perhatian banget sih kak!

Setelah empat, lima lagu saya letih juga berdiri dan karena malam sudah mulai larut, saya dan teman-teman memutuskan balik ke hotel kami yakni Holiday Inn Express JIExpo, tepat di belakang panggung. Saya pulang dengan hati berbunga-bunga karena sukses nonton konser musik band legend dengan akses VVIP. Makin berbinar ketika saya dan teman-teman pulang tanpa tangan kosong.

Ini semua berkat goodie bag dari booth Indofood (setelah sempat dijejeli segala jenis makanan & minuman juga) dan Yamaha di Jakarta Fair.

Sekali lagi selamat ulang tahun ibukota, makasih banyak kadonya. Semoga selalu jadi kota yang nyaman sehingga saya gak perlu move on yak. #eaak

jakarta fair

***

Jakarta Fair 2017 diselenggarakan pada tanggal 8 Juni hingga 16 Juli 2017 untuk merayakan ulang tahun Jakarta ke 50 di JIExpo. Dua tahun tinggal di Jakarta, baru kali ini saya niatin ke Jakarta Fair ini. Ada konser tiap hari, banyak yang jualan barang-barang murah meriah dan bisa sekalian wisata kuliner dan shopping. Yang gak saya nyangka tempatnya luas banget. Katanya kalau jalan kaki seluruh area bisa makan waktu 3 jam. Fiuh! Kalau saya yang jompo gini 4 jam deh. Tapi karena saya udah niat banget mau ke sini, saya sengaja tinggal di Holiday Inn Jakarta Express JIExpo yang bisa diakses dari pintu 3.

Slank aja nginepnya di sini loh! Saya bahagia banget ketika selesai konser, bisa satu lift pas naek ke kamar dan melihat kaka slank yang bertelanjang dada dengan peluh di sana-sini itu bikin saya…….hmm… gak tidur malamnya. (selengkapnya sudah diceritakan kak titi di sini)
Holiday inn express jiexpo kemayoran

Sampai kamar saya yang nyaman itu, saya langsung rebahan di ranjangnya yang empuk lengkap dengan bantal keras dan lembut. Kamarnya bersih, lengkap hingga ke toilet-toiletnya. Semua seperti yang saya bayangkan. Namun cuma satu yang kurang, yakni masih terbayang juga aura-aura kaka slank seakan tak mau pergi meninggalkan saya. Halah!

“Ku tak bisa…jauh…jauh…darimu”

Holiday inn express jiexpo

DSCF9842

jatirejo

Proses Pembuatan Kolang-Kaling di Jatirejo

“Berbukalah dengan yang manis.” Gitu yang sering saya dengar kalau pas puasa.

Yang Manis-manis + dingin = Keblinger.

Pasti mantap banget kan? kombinasi tersebut semuanya bisa ditemukan dari jajanan puasa berupa es buah. Terus biasanya dalam es buah ada semacam yang kenyal dan pipih. Hayo apa itu? Betul! Kolang-kaling jawabnya.

Tahu gak sih ternyata kolang-kaling itu aslinya dari pohon enau. Tapi gak seperti buah lain yang tinggal petik dan kupas, kolang-kaling rupanya punya proses panjang hingga bisa sampai ke tangan kita. Untuk melihat langsung proses pengolahan kolang-kaling ini, saya bertandang langsung ke Desa Pengolahan Kolang – Kaling yakni Kampung Kakola yang berada di Desa Wisata Jati Rejo, Kecamatan Gunungpati, tidak jauh dari Kota Semarang. Desanya bersih banget. Semuanya diperhatikan banget sesuai kesukaan turis millenial macam saya. Ada gambar=gambar bunga di jalan masuk gerbangnya. Instagramable lah!

desa jatirejo

Di Kampung Kakola ini, hampir semua warganya memiliki mata pencaharian sebagai pengolah kolang-kaling. Ketika saya mampir ke lokasi, saya menjumpai ibu-ibu warga setempat yang sedang sibuk mengolah kolang-kaling. Ibu Ninik, guide yang juga merupakan sekretaris dari Pok Darwis (Kelompok Sadar Wisata) dari Kampung Kakola ini menjelaskan kepada saya bagaimana mengolah kolang – kaling.
kolang kaling jatirejo

Pertama – tama, adalah proses Merencek, yakni proses pemisahan buah dari  tangkai pohon enau. Sekilas terdengar mudah namun jika tidak dilakukan dengan hati-hati, ibu-ibu yang melakukan proses ini bisa menderita gatal-gatal jika terkena getah buah kolang-kaling. Setelah dipisahkan, buah tersebut kemudian direbus dalam sebuah drum. Dalam sekali proses perebusan yang memakan waktu sejam hingga dua jam, ada 25kg buah kolang-kaling yang direbus dengan menggunakan kayu bakar.

Setelah direbus, barulah buah kolang-kaling yang bertekstur keras ini melembut dan dapat dikupas untuk diambil buahnya saja. Proses selanjutnya, barulah tergolong unik yakni buah kolang kaling ini harus digepengkan supaya kolang-kaling tidak keras dan alot ketika nanti dikonsumsi. Ibu-ibu di sini pun masih menggunakan cara dan alat pengepeng tradisional yang disebut dengan watu dan alu. Alat khusus ini terbuat dari kayu mahoni. Digepenginnya pun harus pas. Jangan terlalu lembut atau jangan samapi terlalu penyet. Ribet yah?

“Pernah dicoba mengepengkannya pakai mesin namun hasilnya kurang memuaskan. Karena kan mengepengkannya memang harus pakai insting mbak. Apa sudah kenyal atau belum. Jadi semua pake feeling gitu.” Tambah bu ninik.

kolang-kaling

Untuk proses terakhir, Kolang-kaling masih harus direndam selama beberapa hari lagi sebelum akhirnya dijual ke masyarakat. Permintaan buah kenyal ini pun bisa meningkat tajam di saat datangnya bulan puasa ini. Enam belas rumah yang mengolah kolang – kaling di area ini pun sampai kewalahan mencukupi permintaan yang ada. Wajar saja jika buah ini menjadi primadona ketika berpuasa karena dipercaya mampu menahan rasa lapar lebih lama dan berbagai kandungan gizinya sangat baik bagi tubuh. Kata ibu Nunik juga kolang-kaling bagus loh buat diet. CMIIW!

Tuh, enak dan menyehatkan kan rupanya si kolang-kaling. Mari kita minum cicip dulu es kolang-kaling yang udah disiapkan. Slurp!

jatirejo

goa kreo

Panjat Pinang Monyet di Goa Kreo

Jika biasanya panjat pinang hanya ada ketika tujuh belas agustusan, maka kali ini saya berkesempatan melihat panjat pinang versi lain di hari biasa. Uniknya lagi, pohon pinang yang akan digunakan tidak dilumuri minyak agar licin. Tidak ada pula hadiah-hadiah menggiurkan yang tergantung. Yang ada hanyalah botol minuman berisikan sirup berwarna merah, snack, pisang, jagung, dan buah-buahan yang bergelantungan di sana-sini.

monyet panjat pinang di goa kreo

Jelas saja hadiahnya itu karena panjat pinang ini bukan untuk kita manusia tapi bakal dilakukan oleh sekumpulan monyet-monyet yang ada di Goa Kreo. Tempatnya yang tak jauh dari kota Semarang ini memang menonjolkan monyet-monyet ini sebagai salah satu atraksi wisata. Keberadaan ratusan monyet ini cukup mendapat perhatian dari masyarakat.

monyet kreo

Semua itu berawal dari kisah dahulu kala ketika Sunan Kalijaga sedang mencari pohon jati untuk soko Masjid Demak. Dalam perjalanannya Beliau pun menemukan sebuah pohon jati besar lalu dipotongnya dan dihanyutkan menyusuri sungai menuju ke Demak. Apesnya potongan kayu ini malah terjepit di antara bebatuan. Lebih apes lagi karena segala cara dilakukan tapi bebatuan itu masih juga tak dapat digerakkan.

Sunan Kalijaga pun berdoa dan merenungkan apa yang terjadi. Tiba-tiba muncullnya empat monyet-monyet (berwarna hitam, putih, merah dan kuning yang konon menyimbolkan sifat manusia) yang dengan sigap menolong Sunan Kalijaga. Berkat mereka kayu jati tersebut pun dapat dihanyutkan kembali dan Sunan Kalijaga pun melanjutkan perjalanannya ke Demak. Awalnya monyet-monyet ini kepingin ikut, namun Sunan Kalijaga mencegahnya dan meminta sekawanan monyet ini untuk menjaga kayu jati di area tersebut saja (Mangreho). Nah dari situlah kata Goa Kreo berasal. Mangreho berarti peliharalah atau jagalah.

Oleh karena itu, monyet-monyet di sini pun tidak pernah diganggu oleh masyarakat. Mereka bahkan cenderung memelihara monyet-monyet yang kabarnya terbagi dalam tiga kelompok dan jumlahnya bisa lebih dari tiga ratus. Tiap kelompok monyet punya ketua geng. Bisa dilihat sih yang mana yang bos. Dari fisiknya dapat dilihat dari yang paling besar dan gendut. Baru kali ini loh saya lihat monyet obesitas. Badannya sampai bergelambir dan sepertinya mau jalan aja berat. Namun dia gesit juga. Kalau ada makanan direbut dan monyet lain jadi sungkan melawan.

monyet goa kreo semarang

Nah mungkin ada yang berpikir, kenapa monyet-monyet ini dikasih makan… kan dia bisa cari makan sendiri. Apa gak takut jatuhnya eksploitasi? Menurut masyarakat setempat, justru kalau gak dikasih makan, monyet ini berulah dan menjarah kebun masyarakat. Jadi ya wes.. pengunjung mungkin juga akan merasa terhibur dengan melihat monyet-monyet ini berebutan makanan di atraksi panjat pinang yang diadakan di hari minggu dan biasanya sebelum jam 11 pagi. Selain itu, saya suka banget liatin emak-emak monyet yang ngeliatin keluarganya lagi nyari makan di panjat pinang itu sementara mereka harus netekin bayi mereka. Bayi-bayi monyet di sini emesh banget. Liat tuh mata mereka. Beningnya~~~

monyet goa kreo

Monyet-monyet ini di sini ketika saya dekati sebelum mereka makan, cukup agresif sih. Maklum lagi laper waktu itu. Setelah itu, lebih jinak. Meski saya gak bawa makanan ke mereka, tapi mereka mau kok mendekat. Tapi lebih baik sih tetep segala makanan dan minuman diletakin dalam tas agar waspada tidak memancing mereka buat ngambil.

Dari area panjat pinang, saya menuruni tangga menuju jembatan yang ada di atas bendungan jatibarang. Duduk – duduk di jembatan ini asik juga karena anginnya sepoi-sepoi.

Setelah istirahat, saya lanjut liat Goa Kreo yang dimaksud. Rupanya cuma gua kecil dengan beberapa lobang di tebing gitu. Ya iya secara penghuninya kan monyet.

goa kreo

Masih menurut guide, masih ada sih satu goa lagi di atas. Namun saya tak sempat menaikinya karena medannya yang lebih menanjak. #jompo. Jadinya saya lebih banyak mengabadikan foto di sekitar sini aja. Segini aja aku puas kok. Aku mudah dibahagiain yah? #kode

Goa Kreo

Tiket Masuk (Sabtu Minggu Rp.3.000 / Weekday Rp.2.500)

pulau tirang semarang

Menyusuri Mangrove Tapak Semarang

Postingan ini beresiko membuat ingatan kamuh-kamuh ambyar semuanya tentang Semarang. Namun dalam artian yang baik yah. Kalau selama ini yang saya ingat tentang Semarang, yah paling Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Lumpia, dah itu aja. Iyah cetek banget yah pengetahuan saya.

Oleh karena itu, gak heran deh Dinas Pariwisata Kota Semarang dan BP2KS(Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang) mengajak saya ikutan #bloggerfamtrip2017 biar wawasannya tidak cuma tentang soto pak cak man, bakmi jowo pak Doel Noemani, ayam tim di pecinan, ikan bakar dan… Apah? kalian belum pernah denger itu semua? Jalan-jalan gih ke semarang. Angka timbangan pasti geser ke kanan.

Anyway, saya dan temen-temen blogger menyambangi Mangrove Tapak di Tugurejo, dekat kota Semarang. Area ini merupakan wilayah konservasi mangrove yang dibentuk pada tahun 2012. Sejak tahun itu, masyarakat di sekitar pun aktif melakukan penanaman mangrove. Lama kelamaan, jerih payah warga sekitar menunjukkan hasil yang cemerlang dan membuat kawasan yang semula merupakan tempat pembuangan limbah industri ini menjadi hijau.

Akhirnya pada Agustus 2015, dibentuklah kelompok desa sadar wisata yang lebih memfokuskan diri mereka dalam mengembangkan potensi yang telah ada di sini. Seiring makin populernya Mangrove Tapak, pengunjung bisa belajar lebih banyak mengenai mangrove dengan mengikuti berbagai tur yang tersedia yaitu trekking mangrove selama dua jam (35ribu saja), atau susur sungai. Susur sungai pun ada dua. Paket hemat atau komplit.

Yah kami pilih paket komplit lah (95ribu saja), paha dua nasi banyakan!

Ketika sampai di lokasinya yang cuma sekitar setengah jam dari Hotel Panandaran, saya diberikan boots serta topi caping. Sedangkan life jacket tidak saya pakai karena menggangu #ootd #dikeplak. Gak ding karena saya percaya sewaktu susur mangrove airnya tidak terlalu dalam hanya sekitar dua meter, namun rupanya di bawah itu rupanya bukan tanah tapi endapan bekas limbah dulu jadi kalo kecebur malah susah keluar dong? Nah jangan ditiru kayak saya yah :p

mangrove semarang

Setelah itu, saya dan beberapa teman menuju ke salah satu nelayan yang sudah menunggu di kapal perahu. Satu perahu bisa menampung 5 tamu, karena dua lagi sudah termasuk guide dan nelayan yang nyupirin. Jangan banyak-banyak ah kapalnya kan kecil 🙂

Kapal yang saya tumpangi mulai berjalan pelan karena memang daerah yang kami susuri hanya 3-4 meter. Kalau ada perahu dari arah sebaliknya, mungkin gak muat kali ya?

Sambil dikelilingi barisan pohon mangrove yang ada di kiri & kanan, saya bisa melihat dengan seksama kepiting – kepiting yang bersembunyi di balik akar mangrove. Perahu yang kami tumpangi pun sempat berhenti sebentar karena guide kami akan memberikan informasi sekilas tentang mangrove yang ada di sini. Rupanya di area ini terdapat tiga jenis mangrove yakni Rizophora (bakau), Avicenia (api-api) serta satu lagi Bruguiera yang didatangkan dari Bali karena di Jawa belom ada. Memang mangrove dikenal sebagai tumbuhan yang berfungsi untuk menahan abrasi dari air laut. Selain itu, pohon ini juga rumah bagi kepiting, ular air dan ikan -ikan yang banyak dipelihara di sekitar ini.

Lalu kami pun masih melanjutkan perjalanan. Saya tak berhenti – hentinya terkagum kagum melihat warna hijau di sekeliling. Kayak bukan di Semarang, tapi berasa lagi di Vietnam..karena saya lagi pakai topi caping ini heheh. Hello my name in Tan Nguyen Lenny 😀

mangrove tapak

Sambil foto – foto gitu kami semua bergumam dan setuju jikalau tempat ini cocok untuk tempat foto prewed yang unik. Si mbak guide langsung dengan semangat mengatakan bahwa memang benar di sini sudah ada beberapa orang yang melakukan pemotretan. Wiih!

Perahu kami terus menuju ke muara yang lebih besar. Sisi kanan-kiri yang tadinya hijau telah berubah lanskap menjadi air. Hore kami kembali ke laut. Di pesisir, saya menjumpai beberapa ban yang diikat menjadi satu yang rupanya berfungsi untuk alat pemecah ombak yang lebih baik daripada dicor doang. Biar makin kokoh, lagi ditanamlah mangrove di dalamnya sehingga dia bakal lebih kuat lagi.

Kami juga melewati beberapa tempat di mana nelayan meletakkan rumpon, semacam perangkap untuk menangkap udang. Biasanya diturunkan di sore hari lalu nanti akan dipanen esok paginya. Bangunan dari bambu ini langsung kami datangi dan saya pun ketagihan untuk bernarsis ria.

pulau tirang semarang

Selanjutnya, mbak Guide memberitahukan bahwa kami akan melakukan penanaman bibit mangrove di pulau Tirang. Pulau ini ternyata punya sejarah khusus karena kata “Rang” dari “Semarang” ternyata berasal dari pulau ini.

Sayangnya, akibat reklamasi yang dilakukan di dekat Marina dan di kendal kayu manis, pulau ini pun menciut drastis dan kondisinya agak terbengkalai. Dulunya terdapat sumber mata air tawar di pulau ini tapi sekarang udah menghilang. Kini pulau yang luasnya tak lebih dari lapangan bola ini hanya terdiri dari pasir-pasir berwarna hitam. Namun karena saya sudah lama tak bertemu air, pasir, dan ombak, senengnya bukan main sampai awalnya lupa melepas topi dan boots! HAHA!

pulau tirang

Dulunya kalau mau ke pulau Tirang ini, harus dari Mangrove Tapak naik perahu, tapi sekarang udah ada jalan darat yang bisa diakses dari Marina. Untuk mendoakan pulau Tirang senantiasa terjaga, kami pun melakukan penanaman bibit Mangrove di pulau ini. Seneng deh!

Balik dari pulau Tirang, kami ke spot terakhir yaitu melihat para nelayan menangkap ikan di kolam. Meski gak ada yang nyemplung buat ambil ikan langsung, tapi kami melihat sendiri cara bapak-bapak ini dengan giat mengambil ikan dan udang. Pengunjung juga bisa mancing ikan di sini tapi kalo dapetnya Bandeng gak bisa dibawa pulang, karena lagi dipelihara di sini. Let it go yak!

mangrove tapak di semarang

Meski acara tur ini telah usai, kami beruntung masih bisa merasakan kenikmatan ikan dan kepiting untuk makan siang. Rasanya maknyos apalagi sambil terkenang akan indahnya pemandangan yang baru saya lihat tadi.

Ah, terima kasih Mangrove Tapak. Semoga selalu lestari!

 

kalijodo

Kalijodo Kini

Bus Tingkat Wisata di Balai Kota Jakarta yang saya tunggu – tunggu akhirnya datang juga. Saya bukan sedang mau keliling pusat kota dengan bus gratis ini, melainkan saya sedang menuju ke sebuah rute tambahan dari bus tingkat wisata Jakarta, yakni Kalijodo.

Namanya yang nyentrik membuatnya – dulu maupun sekarang – sering diperbincangkan. Sebagai pendatang di ibukota, saya sebenarnya enggak tahu apa itu Kalijodo dan seberapa “angker” nya kawasan ini. Dari hasil baca – baca internet mengenai sejarah tempat ini, katanya kawasan ini dahulu kalanya merupakan tempat mencari jodoh bagi para pendatang dari negeri tiongkok ketika di Indonesia. Maklum pas nyampe ke tanah air, mereka tidak dapat membawa pasangannya. Jadinya beberapa orang mendapat “jodoh kilat” nya di sekitar bantaran kali di Penjaringan, Jakarta Utara ini. Dari situ, kemudian kawasan ini dikenal sebagai Kalijodo dan bisnis esek esek dan temen – temennya mulai ikut nimbrung.

Namun syukurnya sejak dibongkar oleh Ahok pada tahun 2016 lalu, tempat ini sudah berubah total. Dari yang sebelumnya area ini hanya hidup di malam hari, kini tempat ini sudah menggeliat sedari pagi. Dari yang sebelumnya didominasi orang – orang dewasa, kini Kalijodo adalah tempat bermain bagi anak – anak hingga orang lanjut usia.

kalijodo jakarta

Saya tiba di halte kalijodo satu jam setelahnya dan disambut dengan suasana siang hari yang panas dan teriknya pol. Meski begitu, antusiasme saya tidak langsung menguap begitu tiba di kawasan yang telah didaulat menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) ini.

Di area depan Kalijodo, terdapat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang diberi pagar pemisah. Area seluas 5.000 meter persegi tersebut merupakan oase bagi anak – anak untuk bermain dengan aman dan nyaman di taman  yang tersedia. Berbagai permaianan pun terpasang dengan baik, mulai dari permaianan klasik seperti ayunan, jungkat-jungkit, kuda – kudaan hingga playground modern, dan sebuah lapangan bola mini. Semua area permainan ini pun telah dilapisi dengan alas yang lembut untuk meminimalisir resiko jika ada anak yang terjatuh. Sedangkan di tengah RPTRA, terdapat sebuah perpustakaan mini, ruang menyusui, serta toilet dan musholla. Semua fasilitas ini dapat dimasuki oleh publik, namun tentu saja fasilitas diutamakan bagi anak – anak dan orang dewasa dilarang untuk merokok di area ini.

playground kalijodo

Karena adanya aturan yang melarang para pedagang berjualan di area Kalijodo dan di sekitar sini belum ada rumah makan yang layak (saya ketemunya cuma dua warteg kaki lima dengan tampilan yang kurang meyakinkan), saya jadinya beli snack untuk mengisi perut seadanya di sebuah ruangan kecil seperti minimarket. Di sini ada jualan roti, minuman dingin (lebih murah dari vending machine resmi yang ada di Kalijodo) dan makanan ringan yang merupakan hasil produksi dari Ibu – Ibu PKK. Saya langsung tergoda beli risolnya yang isi telor putih ama wortel. Enak banget cuma 3ribu dan saya beli dua. Jajanan murah – murah banget. Ada juga mie goreng atau nasi uduk porsi kecil gitu jika ada yang laper.  Tak ketinggalan, di sini juga menjual berbagai hasil kerajinan dari Rusunawa Tambora.

Selepas dari RPTRA, saya menaiki tangga yang ada di samping, dan sebuah area luas telah terbentang di hadapan. Salah satu yang paling menarik minat adalah seni mural yang ada di sebuah tembok di samping tangga yang saya turunin. Mural dengan tinggi 8 meter dan lebar 23 meter ini merupakan maha karya dari belasan seniman ulung. Gerombolan siswa-siswi yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya sedang asik menjadikan mural ini sebagai latar belakang foto mereka. Tau aja nih si Ahok kalo kite-kite pada suka narsis di mural 🙂 Gak perlu lagi deh harus jauh-jauh OOTD di Mural Singapura.

kalijodo

Ketika saya posting foto ini di Instagram banyak yang komen “wah iklan / sponsor nya gede banget”. Iyah emang sih tapi yah gimana secara pake duit merekalah Kalijodo ini bisa begini. So legowo ajalah yah :p

mural kalijodo

Sementara itu, saya memilih untuk berteduh dulu memperhatikan tingkah laku mereka. Andai saja cuaca sedikit teduh, saya pasti memilih duduk di samping mural, di taman yang bersebelahan langsung dengan Kali Jelangkeng. Untungnya, Kalijodo yang diresmikan pada tanggal 22 Februari 2017 lalu juga turut memperbaiki dan membersihkan Kali Jelangkeng yang ada di sisi Kalijodo. Saya melihat sendiri kali itu kini airnya telah berwarna hijau dan tidak menimbulkan bau menyengat. Di seberangnya kompleks perumahan warga masih berdiri layaknya dahulu kala. Namun setidaknya, rumah – rumah tersebut tidak lagi harus berhadapan dengan area kumuh lagi.

Sementara itu, di area tengah kalijodo, terdapat arena skate park. Arena ini dikelilingi oleh lintasan sepeda yang berliuk – liuk. Tampak seorang anak kecil menaiki sepeda yang bahkan lebih tinggi daripada tubuhnya. Dia mengayuh pedal sepeda tanpa ragu-ragu dan dengan percaya dirinya, ia bisa “menunggangi” setiap liukan dari lintasan itu seolah – olah sudah sangat menguasai medan tersebut. Ketika mulai bosan, si anak kecil tersebut mengayuh sepedanya menuju ke tengah arena di mana terdapat beberapa coran semen yang dibuat tinggi sebagai rintangan bagi anak – anak yang bermain skateboard. Sedangkan di belakang arena skate park, sebuah “kawah” mengangga dengan keseluruhan sisinya yang licin telah membuat rekan saya terpeleset. Arena ini biasanya dipenuhi oleh remaja & orang dewasa yang akan mempertunjukkan kebolehannya bermain Sepeda BMX atau Skateboard. Tentu saja mereka harus cukup jago untuk bisa meluncur mengikuti bentuk kawah ini. Sayangnya hari masih pukul dua siang dan hanya tampak beberapa gerombolan anak sekolahan yang nongkrong dan memanfaatkan kawah ini sebagai arena perosotan.

“Biasanya mereka muncul jam empat.” Jawab salah seorang remaja tanggung yang sedari tadi tampak mengasah kemampuan skateboardnya.

Si remaja tanggung ini bercerita, sebelum Kalijodo berdiri, ia dan teman – temannya biasanya bermain di sekitar waduk pluit. Namun sekarang, dengan adanya fasilitas yang mumpuni seperti yang dimiliki Kalijodo kini, ia pun tidak lagi kesusahan untuk menyalurkan hobinya. Apalagi aneka lintasan dan rintangan yang ada cukup bervariasi dan mampu memompa adrenalin. Biasanya mereka bisa menghabiskan waktu hingga pukul 9 malam sebelum akhirnya pulang ke rumah. Karena merupakan ruang public terbuka, taman ini memang terbuka 24 jam.

skate park

skate park kalijodo

Sambil mengamati sekeliling, saya pun bisa membayangkan diri sendiri berkeliling tempat ini sambil bersepeda atau hanya sekedar ber-jogging di pagi hari. Atau, jika suatu hari saya kebingungan mencari tempat untuk bersantai – selain ke shopping mall seperti biasanya – paling tidak sekarang sudah punya alternatif liburan.

“Paling ramai itu hari minggu mbak. Nanti kalau sudah malam, ada yang jualan, ada becak – becakan, ramai lah pokoknya.” cerita anak – anak lain yang saya temui.

taman kalijodo

Pancaran dan senyum keriaan anak anak di sini telah menumbuhkan kepercayaan saya bahwa memang peran ruang publik itu memang tidak bisa tergantikan. Walau sebagai pendatang di jakarta, saya sih memang tak bisa membandingkan perubahan Kalijodo, tapi bagaimanapun saya tahu Kalijodo yang sekarang itu bersih, aman (ada sekuriti dan satpol PP berjaga), gratis, dan layak buat dikunjungi siapapun. Sayangnya di area ini masih gersang. Udah ada beberapa pohon yang ditanam, tapi kayaknya kurang deh. Lalu fasilitas toiletnya masih belum OK dan gak ada tisu atau sabun cuci tangan. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi.

lokal-pool

Lokal Hotel Jogja

“Gue nggak mau ketemu dia.” Kata Cinta kepada teman-temannya.

Bagi para penonton film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) kedua pasti masih ingat salah satu adegan tersebut. Dengan latar belakang huruf Jogjakarta, di situlah adegan Cinta yang sedang shock ketika dikasih tau kalau Rangga lagi ada di Jogja. Memang sejak film AADC 2 booming, berbagai lokasi syutingnya langsung ngetrend macam gereja ayam dan punthuk setumbu.

Mumpung saya ada waktu sehari buat bermalam di Jogja, saya pun mutusin nginep di LOKAL hotel. Saya tiba udah agak malem dan begitu diliat dari tepi jalan, yang keliatan emang restorannya dulu. Ruammeee kawula muda bro!

lokal-resto-jogja-2

Sempat bingung yang mana satu hotelnya, rupanya di belakang resto ini. Sewaktu masuk lobbynya, lumayan kecil namun cantik. Staf resepsionisnya ramah dan proses check-in berlangsung cepat. Di samping lobby ini meja dan kursi tempat kumpul – kumpul buat tamu. Lalu di sampingnya ada kolam renang yang bercahaya.

Hotel ini emang cukup kecil karena cuma punya 12 kamar dengan 3 tipe, yakni tipe A,B, dan C. Untuk tipe A dan C bentuknya mirip dengan kamar hotel yang biasa. Sedangkan tipe B lah yang saya mau…tapi apa daya penuh. Tipe B ini soalnya unik karena ada dua lanti lantai di mana tempat tidur berada di lantai dua sedangkan living room dan kamar mandi ada di bawahnya. Dari pintu belakang kamar tipe B, bisa langsung nyebur ke kolam renang atau milih leyeh – leyeh di balkoni belakang.

type-b-22
Tipe B Picture by LOKAL Hotel

Saya sendiri kebagian tipe kamar A di lantai 1. Kamarnya cukup luas dengan lantai yang hanya disemen gitu lalu dikasih tegel warna – warni yang merupakan ikon nya si LOKAL. Kamar mandinya juga luas. Yang unik adalah minibarnya gratis sodara – sodara! Ada soft drink, kacang, cokelat yang keseluruhannya tentu saja ludes keesokan harinya.

lokal-hotel

lokal-hotel-in-jogja

lokal-bathroom

Berhubung malem itu belom makan, saya pun nyobain makan di resto hits itu. Harganya murah untuk seukuran cafe. Eh saya lupa.. di Jogja mah makanan mang murah meriah yah? Saya mesen semacam tomyam tapi keasinan dan saya komplain. Direspon dengan baik sih karena mereka niat ganti tapi saya udah keburu kenyang. Suasana restoran cukup nyaman dan rupanya sudah berdiri cukup lama (sekitar tiga tahun) namun emang baru booming sekarang.

Sesuai namanya, restoran dan hotel LOKAL emang mengusung konsep lokal hampir di semua aspeknya. Mulai dari desain hotel & restoran yang furniturenya dibuat oleh anak – anak ISI, seprei bed cover di kamar, hingga lukisan warna – warni di dinding restoran pun dibuat oleh anak kampus ISI Yogyakarta juga. Bangga ih!

lokal-resto-jogja

Keesokan harinya, ketika makan pagi saya mampir lagi di restoran ini karena emang makan paginya di sini. Hanya ada sebuah meja tempat roti dan kopi / teh. Setelah itu mbaknya memberikan sajian menu pagi yang ada di menu resto dan saya boleh memilih makanan dari situ ( di luar buah karena udah pasti dapet). Saya pesen soto dan rasanya standar, tapi lontong sayurnya aseli enak banget. Seger!! Impas deh dengan makanan semalem hehe

lokal-resto

lokal-lontong

Balik makan, saya tidak kepikir mau jalan – jalan lagi karena cuma mau leyeh – leyeh di kolam renang mungilnya. Secara keseluruhan, saya betah banget di sini karena justru “kecil” nya hotel ini memberikan saya perasaan nyaman dan ekslusif. Serasa di rumah sendiri.

lokal-hotel-pool

yaki-in-tangkoko

Si Yaki dan Tarsius Bitung yang menggemaskan

Awalnya kalau saya bilang mau jalan – jalan ke bitung, teman saya malah berpikirnya Belitung yang ada di Sumatera. Memang sih kedengarannya mirip dan kedua daerah ini terkenal akan keindahan pantainya.

Namun bedanya, Kota Bitung itu terletak di Sulawesi Utara, 1,5 jam dari Manado. Jalanannya mulus dan pemandangannya hijau. Selama di jalan gak ngebosenin deh. Kota ini juga cukup adem karena terletak di kaki gunung Duasudara yang memiliki dua puncak bersebelahan. Jadi kemanapun saya pergi, gunung ini selalu tampak menemani.

Gunung Duasudara Bitung

Di Bitung, saya suka bingung mau kemana karena semuanya ada. Pantai ada. Gunung ada. Hutan juga ada. Kuliner apalagi. Namun yang paling unik karena di kota Bitung ini ada binatang menggemaskan yang sudah sangat langka bahkan satu satunya di dunia yaitu Macaca Nigra atau yang lebih dikenal dengan sebutan Yaki dan spesies monyet terkecil di dunia yakni Tarsius (Tangkasi).

 Kalau mau mudah, saya cukup mampir ke mini zoo di kota Bitung untuk melihat Tarsius. Tapi kalau segampang itu nanti saya malah gak ada bahan postingan… ;p

Biar lebih sok adventurous, saya dan temen blogger lainnya langsung bertandang ke rumah mereka yakni di Cagar Alam Tangkoko, Taman Wisata Alam Batuputih. Letaknya berada di belakang gunung Duasudara dan dari hotel saya menginap yakni Botanica Resort, hanya sekitar 30 menit saja dengan jalanan berkelok – kelok hijau yang memanjakan mata.

Begitu tiba, kami disambut guyuran hujan yang tumpah begitu aja. Untungnya mulai reda tak berapa lama. Sebelum mau masuk si ranger bertanya “Udah pake lotion anti nyamuk lum?”

Kami cuma saling berpandang-pandangan dan menjawab “nggak bawa.”

Si ranger lalu bercerita bahwa fungsi lotion anti nyamuk ini bukan hanya menangkal nyamuk namun lebih kepada serangan gonone, yakni semacam mikroorganisme yang gak kelihatan oleh mata yang banyak berdiam di kayu busuk dan sekitarnya. Jadi kalau sudah terjangkit, susah hilangnya dan bakalan gatel dan merah berhari hari. Parahnya lagi gonone ini menyerang bagian sensitif seperti dada dan kemaluan. Sekali kena ke anu, katanya bisa bikin bengkak loh. Hiiiii!!!

Kami pun langsung ngacir nitip beli autan dan memakainya berlapis – lapis terutama di sekitar paha dan lipatan celana hahaha 

Tangkoko
Masuk ke hutan 

Setelah dirasa kebal ama gonone, kami pun masuk ke dalam hutan.
Jalan tak berapa lama, akhirnya kami mulai melihat gerombolan monyet hitam yaki yang masih kecil-kecil. Mereka tampak sangat aktif dan tidak takut oleh manusia, seakan tahu bahwa merekalah tuan rumah di sini, sedangkan kami hanya tamu saja. 

Mereka yang bergerombol di jalan setapak itupun mau tak mau membuat langkah kaki kami terhenti. Tak perlu lama kamipun langsung mengarahkan kamera ke arah mereka.

Yaki
Bengong dulu ah..
Yaki
Saling membantu sesama yaki

Ada yang sedang sedang manjat pohon, ada yang sedang mencari kutu di badan yaki lainnya, ada yang sedang makan, dan…. ada yang lagi “humping” alias ML. Saya pun cuma bisa nelan ludah dan mengarahkan pandangan ke yaki lainnya. 

Yaki – yaki ini bikin saya yakin bahwa mereka itu mempesona banget deh, apalagi pantat merahnya itu loh. Lucu- lucu banget. Bayangin si monyet berjambul ini keseluruhan badannya berwarna hitam tetapi cuma pantatnya yang bentuk love dan warnanya merah muda. Gemezzz!!! Katanya semakin besar dan semakin merah warnanya, itu pertanda si yaki lagi birahi.

Pantas aja, tak lama kemudian, dua ekor yaki mulai berisik dan berkejaran lalu di ujung jalan mulai humping (lagi). ckckck

“Oh yang itu dua – duanya jantan” kata si ranger.
Ha? Baru tau kalau yaki ada yang gay.
“Bukan..itu mereka cuma main saja” kata rangernya lagi.
Ha? yaki mainannya begitu?

Memang sih tak berapa lama kemudian dua ekor itu udah saling menjauhkan pantat mereka lalu sibuk ngacir lagi.
Dasar yah..kalian benar – benar liar.

Setelah mereka masuk hutan, kami pun melanjutkan trekking.

Yaki
Tampak belakang yaki..sexy!

“Perburuan” berikutnya adalah mencari Tarsius. Monyet terkecil di dunia ini diperkirakan jumlahnya ada 2.000 ekor di sini. Namun karena bentuknya yang mungil (10-15 cm saja), untuk ngelihat makhluk ini lebih susah.

Sang ranger menunjukkan sebuah pohon beringin tua di mana terdapat beberapa lobang kecil yang disinyalir menjadi rumah bagi keluarga Tarsius. Susah payah saya berusaha ngelihat yang mana satu Tarsius itu karena tingginya lobang itu 2 meter ke atas. Sampai – sampai kamera yang saya bawa gak kuat nge-zoom nya karena jauh banget. Untunglah ada yang bawa lensa tele… bisa deh dijepret!

Tarsius hidupnya gak berkelompok jadi di satu pohon hanya ada satu keluarga yang mungkin terdiri dari 5-6 ekor. Tak semua Tarsius hidup di pohon beringin, tetapi hanya tarsius yang masuk golongan berada.. saya menjuluki mereka Royal Family.
Bagi Tarsius jelata, mereka hidup di pohon yang lebih kecil atau di rantai – rantai pohon. Kalau udah begini pasti mereka lebih mudah jadi sasaran burung elang maupun hewan lainnya. Begitulah kejamnya hukum rimba.

Tarsius
Sarang Tarsius.. itu tuh mereka keliatan dikit

 

Tarsius
Lihat matanya…. lucu banget yah! Berhasil dijepret berkat lensa telenya Ayo jalan2

Walaupun tampak menggemaskan, si Tarsius ini punya satu kekuatan aneh yakni kepalanya bisa muter sampai kebelakang alias 180 derajat gitu. Bayangin deh malem – malem trekking terus liat Tarsius yang matanya bercahaya terus muterin kepala. Bisa lari keciprit akuh… untungnya siang ini mereka manis banget bertengger di pohon..nungguin siapa yah?

Selain ngeliat satwa langka ini, di Tangkoko juga ada banyak pohon – pohon raksasa yang unik, macam pohon beringin gede yang saking besarnya kita bisa masuk di dalamnya. Ada juga pohon enau yang biasa dijadikan minuman fermentasi cap tikus #mabok. Lalu ada juga pohon jati yang daunnya kalau digosok bisa jadi warna lipstik merah. #oleskebibir 

Selain di hutan, saya juga sempat mampir ke pantai nyelupin kaki biar adem. Lokasinya bersebelahan dari gerbang utama sebagai pintuk masuk dan keluar. Di sini pantainya warna pasirnya agak hitam loh tapi gak apa – apa untuk leyeh – leyeh enak banget. Jangan lupa liat juga pohon witung yang merupakan asal muasal nama kota Bitung. 

Pantai di Cagar Alam Batu Putih.. pasirnya agak hitam
Pohon Witung


Tak terasa kami sudah mengubek – ubek hutan ini selama hampir 3 jam dan perut mulai keroncongan karena sudah lewat jam 1 siang. Kami pun menyudahi perjalanan untuk bersiap pulang..ditambah hari mulai gerimis lagi.

Kalau dibandingin dengan trekking masuk hutan di Tanjung Puting, perjalanan di sini lebih berat 2x lipat mengingat belum tentu bisa bertemu dengan hewan – hewan di atas karena mereka liar jadi tidak ada yang tahu kapan mereka nonggol. Selain itu, jalur trekkingnya lebih susah karena ada mendaki, belum lagi kaki saya selalu digigiti semut padahal udah pake sepatu.

But overall worth it banget… gak cuma bisa liat tarsius dan yaki, tapi sempat jumpa burung elang dan kuskus juga. Ini mah paket komplit pake telur banget…. #laper

kuskus
Bonus tambahan.. kuskus

Tips berkunjung ke cagar alam :

1. Tinggalkan makanan / minuman agar tidak diambil si yaki.
2. Dilarang memberi makan karena semua hewan di sini adalah liar. Kebiasaan ini bagus buat mereka agar mereka mandiri mencari makan sendiri toh karena di hutan mereka tercukupi. Selain itu, dengan cara ini biar mereka gak selalu mengharapkan makanan dari tiap pengunjung yang dateng. 

4. Jaga jarak aman minimal 5 meter dengan hewan.

5. Batasi penggunaan flash.

6. Jangan meludah di dekat satwa karena akan meningkatkan resiko ketularan penyakit baik untuk Anda maupun satwa tersebut.

7. Pakai sepatu karena di hutan banyak semut api yang suka nempel dan juga serangga lainnya.

8. Bawa air minum karena perjalanan akan panjang loh.

9. HAVE FUN!

Tangkoko
Pohon beringin di sini gede gede

Tiket masuk : Rp.50.000 (weekday) / Rp.75.000 (weekend)

Sewa ranger : Rp.100.000 

“Mari jo torang jaga Yaki dan Tarsius”

Jelajah Danau Toba

Danau Toba merupakan salah satu obyek wisata unggulan yang sedang diprioritaskan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia. Bahkan sekarang udah ada rute Jakarta – Silangit yang langsung menuju pulau Samosir yang ada di tengah danau tersebut.

Sebelum ada pesawat yang mau terbang ke situ, saya kudu berjibaku dulu untuk menuju Danau Toba. Dari medan, saya singgah dulu di Berastagi buat lurusin kaki. Saya juga sempat maen ke Pasar Buahnya yang menjual buah-buahan lokal yang seger. Ya wes beli buat sekalian pencuci mulut nich.

Habis itu, lanjut lagi naik mobil ke Danau Toba.
Kalau kalian ke Danau Toba selain lihat danaunya..ngapaen aja seh? Berenangkah?

Kalau saya..begitu udah mau tiba di Danau Toba saya menuju penginapan dulu, secara encok juga di jalan..nyampe – nyampe udah sore aja.

Saya nginep di Taman Simalem Resort, yang katanya paling bagus (dan juga paling mahal) di Danau Toba. Letaknya memang nggak di pinggir danau toba, namun berada di atasnya yakni di bukit merek. Begitu tiba di gerbang khususnya, mobil saya dicek lalu dari gerbang masih masuk lagi cukup jauh. Rupanya ini penginapan luas banget. Turun – naik bukit, gak kebayang deh kalau jalan kaki.

Begitu check-in, saya nggak langsung ke kamar tapi ke Teahouse, tempat buat makan malam dan makan pagi, yakni ke Cafe Tongging Point dan di sana, sambil memeluk diri sendiri karena cuacanya yang adem, di situlah pertama kali saya melihat Danau Toba. Matahari mulai tenggelam sehingga pemandangannya agak kabur…

Ketika balik ke kamar.. saya mendapati kamar saya di Tongging Point yang merupakan hotel sekelas bintang empat yang punya halaman belakang langsung bisa liat Danau Toba (lagi). Ah sepertinya kemanapun saya pergi, selama di hotel ini, pemandangan si danau pasti selalu nyempil.

Bermalam di sini, saya tak perlu hidupin AC lagi karena udara bukit yang dingin aja bahkan bikin saya mikir-mikir mau mandi apa gak. Tapi akhirnya saya luluh juga sama bathubnya.

Giliran breakfast, saya datang lebih cepet pengen ngeliat matahari terbitnya…tapi sayang agak mendung. Meski gitu.. pemandangannya tetep aja cakep. Makanannya juga enak- enak rupanya rata rata ditanam sendiri loh oleh Taman Simalem Resort. Mereka punya perkebunan sayur, kopi, dan teh bahkan hasilnya dijual jualin buat ke masyarakat umum. Di dalam kamar juga ada tuh buat compliments yang akhirnya saya bawa pulang buat oleh oleh hahah.

Buat turis kayak saya, kalau males keluar lagi, saya bisa ikut tur ngelihat kebun sayur dan buah mereka. Saya juga bisa lihat langsung gimana mereka produksi kopinya. Mantap!

Namun, hari kedua saya memutuskan jalan ke samosir aja. Barulah di hari terakhir saya rencana eksplor lebih di Taman Simalem Resort. Tempat ini emang gak bisa buat ditinggali cuman semalem karena sehari saja gak cukup buat keliling di sini.

Dari puluhan kegiatan yang bisa dicoba, saya pilih beberapa yang seru seperti :

1. One Tree Hill
Karena belum menemukan sunrise kece di atas Danau Toba, saya pun melipir ke One Tree Hill, salah satu tempat tertinggi buat ngelihat matahari terbit dan masih dalam kawasan Simalem ini. Saya dibangunkan pagi pagi buta dengan kondisi sedikit menggigil. Lalu dari hotel, saya dijemput ama orang hotel dengan mobil hotel lalu menuju One Tree Hill.

Di bukit tersebut, emang ada satu tanah tinggi dengan satu pohon bertengger dimana terdapat ayunan jika pada mau foto. Jika tidak, yah sabar – sabar aja nunggu matahari. Dasar apes, sekian pagi di sini saya dapatnya matahari terbit yang masih tertutup kelabu. Meski gak maksimal tapi tetep cantik seiring sinarnya yang menghangatkan tubuh yang sudah dinanti-nantikan.

Menguap seiring sunrise

2. Twin Fall Waterfall
Ada air terjun kembar di sini. Letaknya samping – sampingan sekitar 1 dan bisa ditempuh dengan hiking ringan selama setengah jam aja. Enak banget bisa meleburkan diri ke alam dan air terjun yang adem.

Satu dari Twin Waterfall

3. Tur kebun buah
Di sini mereka dapat memproduksi buah, sayur, bunga dan lain-lain untuk kebutuhan sendiri dan juga hasilnya dapat dijual bebas ke masyarakat umum. Pengunjung dapat melihat semua itu, selain merasakannya sendiri ketika makan pagi. Yummy!

Lihat produksi teh
 Tanaman yang ditanam di sini juga dijual nih

4. Jadi orang batak
Taman Simalem ini berada di tanah batak karo. Biar melebur bersama, saya mau jadi orang lokal ah dengan pake baju adatnya Batak Karo. Merah menyala!

Ada batak sipit gak?

Pesan Terakhir :

Taman Simalem Resort bukan hanya penginapan yang saya ajungi jempol tetapi tempat ini bisa jadi pilihan tempat reksreasi buat orang umum..tapi masuknya bayarrrr yah 🙂

Pemandangannya keren dan fasilitas lengkap. Sinih saya kasih liat dulu kamar dan fasilitasnya :

Kamar hotel Tongging Point
Kamar mandi Tongging Point
Udah cinta belum sama Taman Simalem Resort?

Wisata Foto di Jernihnya Umbul Ponggok

Umbul Ponggok adalah sensasi sosial media di tanah air.

Umbul berarti timbul dan ponggok adalah nama desa di mana mata air tersebut berada. Jadi kalau digabung artinya air yang timbul di desa ponggok, Klaten – Jawa Tengah. Mata air ini berasal dari pegunungan yang ada di sekitar daerah ini. Salah satu alirannya juga dijadikan salah satu minuman kemasan ternama di negeri ini. Jadi tak heran lah yah udah dipastikan jernihnya.

Dari semarang, saya naik bus menuju lokasi ini, kira-kira 2 jam udah nyampe. Lokasinya berada di tepi jalan so you won’t miss it!

Sekilas, tempat ini kayak kolam renang umum. Begitu masuk, suasana udah rame banget. Sekelilingnya dikerubungi manusia. Yah maklum kan lagi weekend.

umbul-ponggok-klaten
kolam-umbul
Umbul Ponggok

Saya ama teman teman blogger karena sudah booking salah satu tukang foto di sana, langsung menuju ke salah satu tempat duduk yang ada di pinggir kolam. Dari pinggir kolam sih, ngelihatnya tidak bikin saya nyebur karena jujur seperti air – air kolam biasa. Saya malah sempat ragu dan pengen duduk cantik aja. Namun ngelihat temen-temen yang excited banget langsung nyemplung, saya juga akhirnya menceburkan diri.

*PLUNG*
Brrr….Dingin!!
Padahal hari udah jam 10.30WIB namun airnya berasa masih subuh aja. Biar nggak menggigil, saya terus berenang sehingga badan tetap hangat. 

Berdiri di tepi kolam saja, saya sudah bisa melihat beberapa properti seperti motor yang dicemplungin. Wihh saking jernihnya nih kolam sebelum nyemplung aja saya sudah bisa melihat benda- benda properti seperti motor yang berada di dasar kolam. Di pinggiran kolam, dalamnya sekitar 1,5meter dan di tengah bisa sampai 2,5 meter sehingga bagi yang gak bisa berenang waspadalah.

umbul-ponggok-jernih
Terlihat jelas dari atas

Awalnya sebelum ke sini, saya kira berbagai properti seperti yang sering terlihat di social media itu emang sudah ada di dasar kolam tinggal pengunjung datang bawa kamera terus jepret sendiri. Eh rupanya properti ini semua harus disewa per jam. Dan… untuk hasil terbaik sewalah tukang foto. Oalah pantesan semua foto di social media begitu indah..

Nah grup kami menyewa Zaura Photograph. Bergantian kami menunggu untuk difoto satu – satu.
Saya adalah tipikal orang yang gak bisa buka mata di air. Renang aja merem kok. Pas saya mau foto saya sempat gelalapan juga mengkondisikan mata saya agar terbuka. Belum lagi saya kurang mahir menyelam ke dasar.

Jika dilihat sekilas umbol ponggok ini gak dalam karena sebelum nyemplung saya sempat liat orang berdiri gitu. Rupanya mereka berdiri di atas batu (berlumut). Biar nggak kelelahan sebelum photoshoot, saya dipakaikan baju pelampung. Nah giliran udah mau foto baju tersebut baru dilepas dan saya kasih ke mas tukang fotonya. Habis itu baru deh saya bergaya.. jadinya gini deh.

foto-umbul-ponggok
Setelah berapa kali jepret.. so far ini yang lumayan.. daripada lumanyun :p

Ikan – ikan yang seliweran di kolam itu asli loh bukan ikan tipuan atau hasil photoshop. Mas tukang fotonya sengaja membawa makanan ikan yang dilempar ke saya biar ikan – ikan mencolek menghampiri saya.

DCIM100GOPROGOPR0493.
So far this is the best.. walau mukanya maksa banget

Ada banyak yang mempertanyakan properti yang dicemplungkan di kolam tersebut apakah ramah lingkungan atau tidak. Setahu saya, properti seperti motor itu mesinnya udah dicopotin macam knalpotnya. Lalu bensin sama olinya juga udah dikuras habis biar gak mencemari airnya. Toh motornya gak selalu ada di air kok, hanya diturunkan kalau disewa.

DCIM100GOPROGOPR0408.
Jernihnya macam di laut yah
DCIM100GOPROGOPR3474.
Ada properti yang lain juga
DCIM100GOPROGOPR0613.
Inih temen saya, Adlien paling jago dan foto di hampir semua lokasi. Salut!

Katanya dulu tempat inih cuma banyak dikunjungi oleh keluarga dan anak-anak namun sekarang karena heboh foto di dalam air, maka kebanyakan yang datang adalah anak muda yang tujuannya adalah berfoto. Yang ekstrim malahan tempat ini banyak dijadikan tempat foto pre wedding dan juga latihan buat diving dan bahkan seawalker. Heran? Sama!

Nah bagi yang udah datang jauh jauh, pasti pengen hasilnya yang bagus yang layak dipamerin di social media. Berikut saya kasih beberapa tipsnya :

1. Datang pagian.
Jam 6 gitu paling okay kata mas fotograger. Biasanya bookingan untuk prewed fotonya jam segini karena cahayanya paling bagus dan gak ada badan / kaki orang lain yang bocor di foto. Cuma yah dinginnya pasti bikin menggigil.

2. Pake baju kayak biasa kalau mau
Karena fotonya pengen kayak kondisi aslinya kayak lagi di daratan, gunakanlah baju / properti biasanya. Yah saya sih gak pake baju full karena berat – beratin badan dan gak nyaman aja. Rencana mau pake selendang ala ala gitu tapi kok yah ribet yah.

3. Pake pemberat
Nah ini bagi yang gak bisa tenggelam atau menyelam ke dasar, mas mas tukang fotonya udah nyiapi pemberat yang dilingkarin di pinggar biar bisa glup…glup…gluppp!
Kalau saya sengaja memilih properti yang bisa saya pegang macam kerangkang besi itu ama motor. Jadi bisa bertahan deh di bawah kolam.

4. Istirahat
Harusnya photoshoot itu menyenangkan. Tapi kalau udah ngerasa gak asik lagi, kecapekan, kehabisan ide, coba istirahat dulu sehingga bisa gantian orang lain di grupmu yang foto dulu. Cari batu batu gede buat pijakan atau segera pake baju pelampung biar bisa ngambang manja.

5. Cari pose sebelum dateng
Bagus juga kalau sebelum dateng udah tau mau pose apa, nyewa properti apa jadinya bisa menghemat waktu karena sewa tukang foto dan properti itu per jam loh. Jadi gak bingung sewaktu ditanya “mau foto gimana mbak?”

6. Sewa tukang foto

Unless you are professional underwater photography, consider hire the local photographer. Simpel alasannya. Mereka yang paling tahu medan. Mereka yang paling tahu dimana letak kerangkeng besi, gimana manggil ikan-ikan biar dateng. Saya menggunakan Zaura Photograph dan puas akan hasilnya. Disarankan booking beberapa hari terlebih dahulu. Hasilnya juga bagus dan bisa langsung dicopy ke flashdisk. 
Berikut daftar harga Zaura Photograph :
Foto 30 menit max 3 orang : Rp.60.000
Foto 1 jam max 6 orang : Rp.100.000
Sewa properti becak / motor : Rp.100.000
Sewa sepeda ontel : Rp.30.000
Sewa meja set TV/Laptop : Rp.60.000
Paket mermaid : Rp.350.000
Paket couple mulai dari Rp.500.000
Paket prewed mulai dari Rp.1.500.000
 
Untuk fasilitas, di Umbul Ponggok sudah tersedia wc, loker, penjual makanan jadi bisa banget buat yang mau piknik murah meriah. Untuk anak-anak juga tersedia kolam kecilnya sehingga cocok juga buat piknik sekeluarga. Jadi, Ada yang pengen nyebur ke Umbul Ponggok?
 
**

Jam Operasional Umbul Ponggok : 06.00 – 17.00 WIB

Harga tiket masuk : Rp.15.000
Jika mau hemat ada paket khusus Senin – Jumat Rp.30.000 sudah termasuk tiket masuk, alat snorkel dan pelampung.