buku plesir 35 destinations

Buku 35 Destinations, Bucket List : Bingkai Perjalanan dalam Foto dan Cerita

Menulis buku adalah salah satu impian saya. Setelah menjadi salah satu penulis di buku ini, saya berharapnya lagi diberi kesempatan untuk punya buku terbitan Kompas dan dijual di Toko Buku Graedia. Sebagai pengunjung setia (biasanya seminggu sekali kalau pas di Jakarta dan gak kemana – mana / lagi bosan mati gaya), saya banyak berhutang budi sama Gramedia karena sering numpang baca gratis. Dua atau tiga buku per minggu, dikali berapa tahun. Bayangin tuh kalau saya musti beli semua, jebol deh kantong.

Tapi meski begitu gak selalu kok saya datang buat gratisan, kadang masih ada beli majalah / buku atau beli peralatan/aksesoris kalau harganya beda tipis, beli di Gramedia saja. Karena saya pun sudah gabung sebagai member Gramedia jadi buat ngincer poin dan diskonnya juga!

Anyway, di bulan – bulan terakhir 2016, tiba – tiba saya dikontak oleh editor dari Kompas Klass, itu loh rubriknya koran Kompas yang terbit seminggu sekali. Di rubrik ini ada kolom buat tulisan pembaca yang membahas tentang teknologi, pelesir, seni, budaya dan macam – macam. Terhitung udah empat artikel saya yang terbit dalam kurun waktu tiga tahun. Gak jelek – jelek amat ye kan?

Nah sang editor, mas Valent menawarkan mengangkat salah satu artikel saya tersebut. Bak durian runtuh, terus dibukain dan disajikan di piring, tinggal makan doang, tentu saya mau dong. Artikel dan foto sudah ada jadi otomatis saya gak perlu ngapa – ngapain lagi cukup tanda tangan kontrak saja. Deal! Meski sempat tertunda jadwal peluncurannya, saya senang sekali begitu diundang ke acara peluncurannya pada tanggal 28 Februari 2017 yang bertempat di Gramedia Grand Indonesia. Aihh pas banget ini Gramedia yang paling sering saya tongkrongi karena deket kos :p

Acara berlangsung jam 15.30 WIB dengan menghadirkan Gemala Hanafiah (Surfer & Blogger) & Abiprayadi Riyanto (Fotografer) yang sama sama merupakan kontributor Kompas Klass juga. Di sini mereka sempat menceritakan kisah di balik pengalaman mereka. Setelah itu pengunjung diberikan kesempatan untuk bertanya. Saat itu, tak sengaja moderatornya meminta saya juga bercerita sedikit tentang artikel saya yang diangkat.

buku 35 destinations launching buku 35 destinations

Setelah habis yang tanya, baru deh bukunya resmi diluncurkan dan bakal tersedia di seluruh Gramedia di Indonesia. Harganya Rp. 120.000. Full Colour. 215 halaman yang terdiri dari berbagai cerita dalam dan luar negeri. Kalau saya pribadi menilai, buku ini layaknya ensiklopedia. Banyak gambar, tulisannya dikit tapi menarik, diberi info penting seperti cara menuju ke sana, makanan khas, design yang simpel sehingga tidak mudah membuat saya ketiduran. Bahasanya lugas dan karena penulisnya terdiri dari berbagai macam kalangan, sudut pandangnya pun beda – beda.

Dari sisi destinasi, ada yang udah mainstream (namun dibawakan dari perspektif yang beda), tapi ada juga destinasi yang saya gak pernah dengar seperti Aconcagua dan Qaqortoq. Duh nulisnya aja ribet. Ada yang tau itu di mana? Kalau belum makanya baca buku ini yah 🙂

buku plesir 35 destinations

PS : Dengan membeli buku ini, Anda sudah membantu saya untuk terus bisa jalan – jalan dan menuliskannya kembali. Tsaah…

Jadi, ada yang udah beli atau baru mau rencana beli? Kasih tahu dong pendapatnya!

DSC07491.JPG

Berlayar di Teluk San Diego

San Diego merupakan salah satu daerah yang cukup populer di California. Cuacanya yang selalu adem sepanjang tahun membuatnya jadi pilihan destinasi yang menarik.

Sore itu, saya bergegas menuju ke harbour untuk ikut naik cruises.
Hari itu masih musim panas dan matahari bersinar seperti biasa. Para bule bule mengenakan baju tipis seadanya. Namun sayang kulit tropis saya belum bisa beradaptasi sebaik itu. Dengan pilihan dresscode paling boring – jaket hitam sedikit tebal dan celana panjang hitam – saya tetap antusias akan mengikuti tur ini sambil menghalau dingin.

Di depan kapal

Setelah mengambil tiket di loketnya yang tak jauh dari pelabuhan, Cruises yang saya naiki yakni Hornblower Cruises & Events rupanya telah memanggil manggil pertanda siap berangkat. Saya pun bergegas masuk ke kapal. Rute yang bakal ditempuh yakni mengelilingi teluk San Diego bagian selatan.

Bersantai di atas kapal

Para penumpang bebas ingin duduk / berdiri di lantai pertama (indoor) atau memilih seperti saya. Berada di outdoor atau lantai dua menikmati hembusan angin. Lama kelamaan, pemandangan pinggiran kota San Diego yang dipenuhi bangunan tinggi berganti dengan biru laut dan langit.

Kota San Diego terlihat dari pinggir harbour front

Salah satu highlight dari perjalanan ini adalah kami mengarungi teluk melewati kolong jembatan Coronado Bridge sepanjang 3.4km yang dicap sebagai jembatan ketiga dengan paling banyak kasus bunuh diri di USA. Jembatan ini menjadi penghubung antara San Diego dengan pulau Coronado, sebuah pulau kecil dimana disana terdapat beberapa fasilitas angkatan lautnya Amerika Serikat. Pantes saja disepanjang teluk ini banyak kapal kapal besar milik pemerintah sepertinya yang sedang terparkir. Tapi jangan salah pulau Coronado ini juga dilirik wisatawan sebagai resort city loh!

Banyak kapal kapal raksasa militer yang sedang parkir
Jembatan Coronado dari kapal

Di penghujung rute cruise ini, saya dapat melihat segerombolan singa laut. Kapal mendekat lumayan dekat hingga tercium bau amis dari binatang ini. Begitu kapal berlalu, mereka pun bersuara “nguik nguik” menyampaikan salam perpisahan. Di situ jugalah kapal berputar arah lalu kembali ke titik awal. Rupanya jika dikit lagi kita berlayar, udah masuk kawasan negara Mexico loh. Paspor mana paspor mana?

Selama perjalanan kurang lebih sejam, hal yang saya sesali adalah punya cemilan karena tidak mampu membelinya di kantin kapan. Udah sedikit harganya mahal pula! Bah!

Grand Central Terminal New York

“Lebih dari sebuah pusat transportasi. Bukan sembarang stasiun”
Begitulah batinku ketika masuk ke Grand Central Terminal yang terletak di 42street New York.

Grand Central Terminal

Kalau di Indonesia, kata terminal berkonotasi negatif. Yang terlintas di pikiranku adalah parkiran yang semrawut, bus tua yang uzur yang kalau batuk batuk mengeluarkan asap hitam pekat. Belum lagi fasilitas dan infrastruktur yang jauh dari standar. Jalan becek, toilet kotor dan calo yang mondar mandir adalah sesuatu yang lebih bisa dikata normal.

Jadi begitu tiba di Grand Central Terminal tak heran saya melongo. Luas, bersih dan indah. The Grand Central Terminal memang tidak hanya mementingkan fungsi tetapi juga tak lupa memasukkan unsur seni di dalam bangunannya. Seperti gambar saya di atas, tengoklah ke atas. Ada lukisan cantik di langit langit berwarna hijaun-nya. Lihat ke bawah, maka saya tersadar menjejakkan kaki pada lantai marbel di sepanjang terminal. Kala itu hari sudah malam, lampu memang dibuat sedikit temaram namun suasana yang dihasilkan jadi berbeda.

Nongkrong di Terminal

Saya sengaja ke sini tanpa punya hasrat mencari bus / subway. Niatnya cuma mau jalan jalan. Dan The Grand Central Terminal ini tau persis banyak turis yang berpikiran sama seperti saya. Tak heran bila akhirnya terminal ini dipenuhi oleh restoran serta tempat belanja dan pasar. Bahkan ada Tour dengan guidenya juga bagi yang berminat dan mau bayar. Kalau saya sih tentu milih yang gratisan, duduk duduk melihat orang dan menghabiskan waktu di tengah dinginnya kota New York.

Tak heran, icon yang kerap muncul di film film Hollywood ini termasuk dalam salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Kalau punya waktu senggang, mari kita bersua di sini kembali.

Keindahannya dijadikan gambar di tiket subway (kiri)

Norak Bergembira di Luar Negeri

Sudah lumrah bahwasanya ketika kita baru menginjakkan kaki di daratan baru, maka segalanya terasa menyenangkan. Pemandangan biasa terlihat luar biasa. Makanan yang dimakan terasa asing dan eksotis. Yah ibaratnya sama kali rasanya dengan pertama kali nge-date. Terlambat 15 menit dianggap tidak apa apa. Lelucon basi yang dilemparkan oleh gebetan rasanya lucu sekali hingga bisa mengguncang dunia kita.

Nah begitu juga pas nyampe di Luar Negeri, rasanya tuh bahagia banget. Setiap menit disana sangat berharga. Saya selalu berusaha menggunakan “kacamata” turis walaupun telah hidup berbulan bulan disana agar selalu merasa excited dan mau meng-explor hal hal baru. Saya selalu menenteng kamera atau paling nggak HP selalu standy sehingga jika ada hal unik bisa langsung saya abadikan. Mungkin beberapa orang mikir saya norak banget ih, persis seperti orang kampung keluar kota.

Yah mau gimana, biarin aja. Wong saya jamin, rata rata orang Indonesia yang ke luar negeri pastinya juga akan melakukan beberapa “kenorakan” saya ini :
1. Foto di tempat tempat terkenal.
Kalau baru baru pergi ke luar negeri, liat bus kota aja rasanya beda banget. Akan banyak momen momen dimana kita berhenti dan terpana oleh sesuatu. Meski mungkin gak bagus bagus banget tapi karena sesuatu itu baru yah kita poto deh. Biar heboh, ditambah dengan pose pose yang gak biasa biar lucu seperti minum air mancur patung merlion atau toel patung miring pisa. Yah lumayan buat eksis di social media dan hasilnya banyak yang kasih like dan komen.

Foto ama tegel jalanan aja rasanya keren

2. Makan / Minum makanan yang ada di Indonesia dengan maksud membandingkannya.
Sebenarnya produk makanan / minuman Amerika Serikat sangat mudah dijumpai di Indonesia. Sebut saja McD atau KFC. Namun karena berhubung udah di luar negeri, tentu pengen coba enak mana sih ama di Indonesia? Seperti saat saya di Amerika Serikat, saya tertarik juga ingin mencoba makanan cepat saji di tanah kelahirannya. Penelusuran saya, McD Indonesia lebih ada rasanya mungkin karena telah dicampur bumbu lokal Indonesia atau udah ditambahi bumbu lainnya. Nah untuk KFC, justru saya jarang banget lihat gerai fast food satu ini. Padahal kalo di Indonesia hampir di semua mall orang mengantri. Kalau untuk minuman, Yang paling kerap saya jumpai adalah pamer foto Starbuck karena emang kebetulan kopi asli Seattle ini udah mewabah di dunia dan dengan memegang cupnya aja berasa keren. Saya pribadi bukan peminum kopi hanya menyukai Frapucino Green Tea-nya tanpa whipe cream karena bikin gendut eneg, terlalu manis.

3. Mengkonversikannya ke rupiah.
Ini sebenarnya punya dua sisi. Pertama baik karena ketika belanja kita melihatnya sebagai sesuatu yang mahal jadi bisa membantu mengerem pengeluaran. Tetapi akan jadi jelek kalau kita kelewat sering menghitungnya dalam rupiah. Bisa bisa kita tidak menikmati hidup karena tak sudi mengeluarkan uang lebih yang berimbas ke kurang mendapat pengalaman karena gak rela bayar mahal.

4. Momen pertama kali melihat salju.
Maklum saja karena kita hidup di negeri tropis, salju itu barang langka! Saya dulu memimpikan pengen beneran makan salju yang bersih (yang turun dari langit) terus dikumpulin dalam piring dan dikasih susu kental manis coklat biar kayak es campur. Ah sayang nggak kesampaian. Tapi paling nggak sudah pernah makan salju yang turun dari langit (dengan membuka mulut besar besar) dan dari tanah (mencongkel lapisan salju yang bawah biar bersih).

5. Momen pertama kali naik sport car yang terbuka atasnya.
Wiih keren sekali rasanya. Ketika tinggal di Scottsdale, USA yang merupakan salah satu kawasan orang kaya di USA, mobil mobil mewah itu hal umum. Saya sempat coba naik punyanya host family dan teman sekampus. Ketika rambut acak acakan dibombardir angin, saya tetep mereasa keren. Yang nggak sempat dicicipi itu adalah naik limousine. Padahal ada hampir tiap hari parkir di depan apartemen.Pfft!

6. Lebih terrbuka
Di Indonesia orang berbusana bikini atau pakaian minim memang ada namun tak banyak. Sedangkan di luar negeri contoh saja Singapura yang paling dekat hal ini mudah dijumpai. Tank top, hot pants bersileweran dengan santai. Yah terang saja karena disana mereka tidak merasakan dipanggil, disiulin, digoda, ditanya tanya yang bagi semua wanita di Indonesia pastilah sudah muak mengalami hal ini. Jujur itulah yang membuat saya lebih berani meng-explor gaya berpakaian saya kalau sedang di Luar negeri. Rasanya nyaman dan seneng karena tidak perlu takut ada tatapan pelototan dari para pria.

7. PDA (Public Display Affection)
Dalam bahasa Indonesia-nya yakni mesra mesraan di tempat umum. Di luar negeri mencium pasangan di bibir tentu tidak akan mengundang bisik bisik tetangga. Gelayutan ampe pegel pun nggak ada yang mengubris karena yah..begitulah sudah budaya mereka. Bagi mereka mengekspresikan rasa cintanya di depan umum adalah wajar. Bagi kita yang datang dari budaya timur, awalnya mungkin kaget. Saya masih inget momen momen liat orang french kiss di depan mata. Adegan itu diikuti terus dari balik kacamata hitam biar nggak ketahuan. Lama lama mah nikmati terbiasa juga hahah. Dan kalau pun saya punya pacar, yah tak munafik mungkin akan seperti itu juga *eh*

Hal hal diatas hanya dirasakan ketika berkunjung ke luar negeri yang lebih berkembang dari Indonesia saja. Biar norak yang penting happy. Setuju?

Apa saja kenorakanmu ketika di luar negeri?

DSC09356.JPG

Hidup di Luar Negeri

Luar negeri..oh Luar Negeri.
Membayangkannya saja sudah menyenangkan apalagi bisa mengunjunginya.
Emang yah taman tetangga itu pasti kelihatannya lebih hijau. Seperti saya (kita) yang melihat luar negeri begitu eksotis. Begitupun bagi orang asing yang berfikir Bali begitu wah-nya padahal mungkin bagi orang lokal yang telah mendiami di sana merasa biasa biasa saja.

Tapi bagaimana jika suatu saat kita diberikan izin untuk menjelajahi taman tetangga tersebut? Bermukim di sana dan langsung merasakan rumput hijau di taman tersebut? Apakah luar negeri itu akan sama seperti bayangan kita sebelumnya ketika hanya mengintip dari lobang pagar?

Beruntung saya sudah diberikan kesempatan tinggal di 2 benua, 2 negara yang merupakan impian banyak orang. Yang pertama di Queensland, Australia (2 bulan) dan berikutnya Arizona, USA (10 bulan). Saya suka ditanya mana yang lebih enak diantara kedua negara tersebut? Rasanya sama saja terutama mungkin karena sama sama english-speaking country dan budaya masih tak jauh beda.

Lalu bagaimana kalau dibandingkan dengan Indonesia? Enak mana?
Jawabnya….. enak di Luar Negeri asalkan ….

Aman
Biasanya di negara maju tingkat kriminalitas lebih rendah serta minim gonjang ganjing politik sehingga masyarakat pun merasa aman dan nyaman. Paling tidak berdasar pengalaman saya tinggal di USA dan Australia, sekalipun jalan jalan sendiri di malam hari dan mengenakan pakaian sesuka hati, saya tak merasa takut. Cukup standby dengan Hp dan 911 akan sigap menolong dalam hitungan menit. Namun, yang namanya bahaya memang bisa mengintai dimana saja jadi tetap harus waspada.

Bisa Mandiri
Negara maju biasanya membiasakan masyarakatnya apa apa bisa sendiri . Soalnya biaya meng-hire karyawan untuk melayani customer itu mahal jendral. Selain itu, mereka cenderung bersikap jujur. Misal isi bensin, bayar sendiri masukin sendiri bensinnya. Beli barang di supermarket, bayar di kasir dalam barangnya ambil sendiri di luar. Makan di restoran cepat saji, habis makan juga buang sampah sendiri karena nggak kayak di Indonesia yang bakalan ada pelayan sigap bersihin meja. Bagi yang terbiasa manja atau dilayani, tentu lebih enak tinggal di Indonesia ada pembantu di rumah. Di Luar Negeri mana mungkin bisa kecuali tajirnya sekelas selebritis.  

Jelas statusnya
Luar Negeri memang jadi impian banyak orang. Pokoknya tinggal di sana adalah mutlak sehingga ada saja segelintir orang yang bersedia hidup di sana tanpa dokumen resmi atau menjadi ilegal. Saya ada menjumpai beberapa orang yang seperti ini, tetapi saya tak ingin men-judge mereka dari keputusan yang mereka ambil. Saya justru merasa kasihan dengan mereka karena kerap kali illegal immigrant ini hanya bisa kerja serabutan dan jika diperlakukan semena mena oleh bosnya tentu tidak bisa mengadu ke polisi. Oleh karena itu, jika ingin tinggal di luar negeri, haruslah punya status yang jelas agar tidak dihantui kecemasan. Kalau tidak yah enakan di Indonesia saja.

Berkecukupan
Luar Negeri itu mahal apalagi jika rupiah terus melorot. Kalau punya penghasilan atau dapat tunjangan dari pemerintah sana, tentu tidak masalah. Namun jika membiayai hidup dari kantong kita sendiri yang berasal dari Rupiah, wah harus pinter pinter berhemat dan punya alasan kuat kenapa ingin tinggal di Luar Negeri. Jika tidak, sebaiknya mempertimbangkan untuk tinggal di tanah air saja. Biar pas pasan, biaya hidup di Indonesia masih tergolong rendah. Sedangkan di luar negeri, ambil contoh di USA rata rata mahasiswa di sini harus sudah bekerja paruh waktu untuk memghidupi dirinya. Belum lagi sebagian besar mereka mengutang ke negara untuk bisa kuliah. Jadi meskipun udah tamat, mereka tetap harus nyicil utang tersebut sewaktu mereka kerja dan begitu seterusnya. Saya juga pernah baca buku tentang jurnalis yang pura pura menjadi orang miskin di USA dan kisahnya miris. Ternyata, USA sebagai salah satu negara terkaya di dunia tetap punya homeless, peminta minta gelandangan, dan orang miskin yang bekerja mati matian untuk mencukupi kebutuhannya. Pokoknya jauhlah dari glamornya Hollywood. Orang orang miskin ini bekerja serabutan seperti menjadi tukang bersih rumah, cleaning service, pelayan, di swalayan dan setiap harinya harus kerja lebih dari satu macam untuk menghidupi dirinya sendiri. Jika punya suami dan anak? wah kebayang dong repotnya. Belum lagi kalau mereka sakit, jika tak punya asuransi maka bisa bikin bangkrut dan jadi masuk ke jurang kemiskinan yang lebih dalam. Duh!

Tahan akan perubahan cuaca
Tidak seperti di Indonesia yang cuacanya hanya dua yakni panas atau panas sekali. Eh salah hujan dan panas ehehe. Di luar negeri beberapa tempat punya empat musim. Sebagai manusia berdarah panas, saya bisa tahan panas ketimbang tahan dingin. Jadi musim dingin is not my favorite things. Sekali dua kali saja berkenal dengan salju sudah cukup. 

Bisa Jauh dari keluarga
Bagi banyak orang ini adalah pertimbangan utama jika ingin hidup di luar. Percayalah skype dan whatsapp belum bisa menggantikan menatap keluarga langsung. Lagian perbedaan waktu akan membuat komunikasi lebih terkendala. Giliran mau curhat, keluarga di kampung lagi tidur pulas dan begitu sebaliknya. Gosip dan news dari rumah pun bisa telat nyampai ke telinga kita.

Open-minded

Berada di negara baru kita akan bertemu dengan orang orang baru yang tidak dibesarkan seperti kita. Perbedaan mulai dari budaya, cara hidup, bersosialisasi serta pandangan pandangannya akan mungkin sekali tidak sama. Bila ingin kerasan, berusalah menjadi orang yang open-minded. Anda tak harus mengubah pandangan anda untuk bisa bergaul dengan mereka. Pahami dan hormatilah. Seperti juga anda ingin mereka mengerti kenapa tinggal serumah dengan pacar bukan pilihan atau kenapa anda tidak makan bacon.

Bisa Bahasa Negara Tersebut
Bahasa penting sebagai alat komunikasi. Kalau nggak capek juga kan beli barang hanya bisa nunjuk nunjuk atau pake kalkulator? Sebisa mungkin pahami bahasa dasar negera tersebut. Dengan mencoba belajar, paling nggak si penjual bakal kasih disko khusus mungkin karena kita sudah mencoba menggunakan bahasa mereka. Yah sama halnya kita akan bangga kalau ada bule fasih bahasa indonesia. Ya nggak?

Mau Kerja Keras
Nggak ada ojek, cuci baju sendiri, kerja adalah sekelumit kisah para pendatang yang hidup di luar negeri yang jika ditekuni terus niscaya akan membawanya pada kesuksesan.

Siapa lagi yang udah ngerasaiin hidup di Luar Negeri? Tambahin dong!

PS : Di manapun tinggal, selalu ada yang enak maupun tidak. Selalu ada sesuatu yang dikorbankan untuk meraih sesuatu. Tidak ada tempat yang sempurna. Bijaklah memilih dan nikmati. Oleh karena itu ikutilah kata hatimu 🙂

DSC07455.JPG

Kincir angin California

Dalam suatu perjalanan dari Arizona menuju California, baik itu ke San Diego maupun Los Angeles, saya melihat sesuatu yang menakjubkan dari jauh yakni benda putih berukuran raksasa seperti kipas angin yang tampak sangat mencolok di tengah gersang dan kosongnya area gurun dekat California.

Rupanya itulah yang disebut dengan wind turbin / pembangkit listrik tenaga angin yang merupakan cara baru dan efisien untuk menghasilkan listrik. Tidak perlu fossil binatang purba yang disedot dari inti bumi, tidak perlu air, dan juga bebas polusi.

Wind Turbin di California
Wind Turbin di California

Turbin turbin ini jumlahnya ada puluhan loh tersebar di kawasan ini. Tidak heran yah di daerah ini banyak terdapat wind wheel karena terletak dekat laut dan anginnya kencang. Di sekitar area ini juga saya tak melihat ada pemukiman penduduk atau keramaian.Hebatnya satu turbin dapat mendatangkan listrik bagi 500 rumah loh. Bayangkan betapa hematnya kalau di Indonesia juga ada ginian, desa desa di pelosok pun bisa punya listrik untuk menerangi malam gulitanya. Setahu saya baru di NTT saja yang punya kincir angin beginian. Semoga makin banyak. Kan bisa jadi icon suatu daerah juga 🙂

DSC07491.JPG

Viva Vision, Pertunjukan cahaya spektakuler di Las Vegas

Las Vegas adalah salah satu kota yang mendewakan entertainment. Beragam atraksi konser dan hiburan selalu dipaket dalam kemasan yang membuat decak kagum.
 
Untungnya, tak semua atraksi mewah ini harus pakai dollar. Beberapa malah gratis seperti yang ada di Fremont Street, downtown Las Vegas. Fremont street adalah sebuah area entertainment yang dibuka 24 jam. Kawasan yang terdiri dari 5 blok ini padat oleh berbagai hotel, kasino, restoran, toko suvenir, tempat belanja dan berpusat pada sebuah tempat untuk melihat pertunjukan cahaya dan animasi yang disebut Viva Vision.
 
Viva vision merupakan layar tancap yang diklaim terbesar di dunia dengan panjang 1500 feet (457an meter) dan lebar 90feet (27an meter). Posisinya berada di langit langit gedung dengan ketinggian 90 feet dari lantai.
Berada di sini, rasanya tidak mengenal malam. Cahaya berwarna warni yang dipantulkan dari layar yang memiliki 12.5 juta LED lights ini membuat Fremont street sangat berwarna. Animasi random yang diikuti alunan musik dari 550.000 watt ini membuat saya seperti berada di konser. Bahkan, untuk mau mengobrol dengan teman pun saya harus teriak teriak ketika pertunjukan dimulai.
Viva Vision

 

Viva Vision

 

Viva Vision

 

Viva Vision
———-
Diperkirakan ada 17juta orang tiap tahun yang datang untuk melihat show ini. Dimulai setiap harinya sejak pukul 6 sore sampai tengah malam tiap jam, show berlangsung selama 6 menit. Jika leher capek mendongak ke atas, boleh kok sambil tiduran di lantai. Jika mau lebih menikmati lagi, tinggal pejam mata anggap saja lagi di diskotik dan mari bergoyang! 
Biar gak capek, Nonton sambil tiduran
ring34.jpg

Petrified Wood, Batu Purba Arizona

Sepertinya memang betul jikalau Indonesia telah kembali ke zaman batu. Nyaris semua lelaki di kantorku sudah punya cincin batu akik di tangannya. Koleksi batu mereka pun lebih dari satu. Batu-nya bisa gonta ganti menyesuaikan warna baju. Biar matching kali yeeeee.

Saya sih nggak ngeh tentang batu batu akik ini, tapi postingan kali ini mau membahas batu lain yang berasal dari Arizona, Amerika Serikat yang bernama Petrified Wood.

Loh kok wood?kayu dong!
Eits tenang dulu. Begini penjelasannya.
Petrified wood berasal dari bahasa Yunani yang berarti kayu yang berubah menjadi batu. Sesuai artinya, dulunya petrified wood adalah bagian dari kayu / kayu itu sendiri yang jutaan tahun yang lalu terseret air dan akhirnya terkubur di dasar laut. Garam dari laut serta partikel partikel lainnya itulah yang kemudian merubah kayu tersebut menjadi batu. Warna yang dihasilkan dari batu ini juga kemudian terbentuk dari warna asli kayu tersebut yang akhirnya membuat corak khas pada batu ini.

Jika dilihat sekilas, batu ini terlihat biasa saja seperti gambar di bawah.

Petrified Wood

Namun jika berada di tangan para seniman batu akik, tentu lain ceritanya. Bisa jadi seperti ini :

Batu Cincin Petrified Wood – Sumber dari sini


Pertama kali saya mengetahui info ini ketika saya dan hostfamilyku akan pulang dari ke Arizona dari New Mexico. Salah satu jalan yang kami lewati adalah daerah suku Indian dimana mereka banyak menjual hasil kerajinan mereka di toko suvenir. Iseng iseng kami pun masuk sekalian numpang ke kamar kecil.

Dari beberapa suvenir unik yang saya temukan, banyak yang lucu lucu. Yang saya nggak ngeh kalah itu adalah batu batu ini. Rupanya jenis batu ini sangat khas dan sempat dilarang pencariannya karena merusak alam. Si pemilik toko yang melihat kami yang kepo pun mengajak kami ke belakang untuk melihat koleksi batu petrified wood yang lain. Wah ukurannya ada macam macam. Dari yang besar hingga yang kecil kecil. Satu batu kecil ini dihargai kurang dari $5 dengan ukuran setengah dari telapak tangan.

Dimana mereka menemukan petrified wood?
Ada beberapa tempat di USA dimana kita bisa menemukan batu ini. Yang paling dekat dari saya, tentunya adalah Petrified Forest National Park di Arizona. Walaupun sebutannya National park, jangan pikir anda akan dikelilingi oleh hutan rimbun. Yang akan anda temui hanyalah area kosong yang dipenuhi bebatuan keras yang tak lain adalah petrified wood itu sendiri. Namun, bagi turis dilarang untuk mengambil bebatuan dari sini karena telah dilindungi.

Apakah warna batu petrified wood hanya coklat saja?
Awalnya saya juga kira begitu. Ternyata salah. Malah ada yang berwarna pelangi atau ungu terang. Memang hal ini sering saya lihat di toko toko perhiasan di Arizona tapi nggak nyangka rupanya itu tergolong petrified wood.

Nah, jadi bagi yang minat ke Arizona, mungkin bisa mempertimbangkan beli batu sebagai oleh oleh 🙂

DSC08547.JPG

Lombard Street, Jalanan terbengkok di dunia

Di Indonesia kita memiliki jalanan dengan kelok curam yang mengerikan yakni seperti di Kelok sembilan. Berada di Sumatera Barat, kelok sembilan bersampingan dengan jurang jurang. Salah dikit aja, nyawa taruhannya. Saya sih belum pernah melewatinya tetapi sewaktu menuju Padang dari Jambi, saya juga harus melewati jalanan yang berkelok kelok curam. Sayangnya, pas melewatinya udah tengah malam jadi tidak kelihatan apa apa.

Sampai di Amerika Serikat, ternyata ada juga jalanan berkelok ekstrem walaupun jauh dari seram. Tepatnya di San Frasisco terdapat Lombard street, sebuah jalanan satu arah tak beraspal yang hanya muat satu mobil sekali jalan dan disebut disebut memiliki kelokan yang menukik tajam se-dunia. Bener gak yah?

Lombard Street
Lombard Street
Lombard Street

Lombard Street dengan total 8 kelokan ekstrem ini memang sengaja dibuat begini dengan alasan keamanan. San Fransisco pada dasarnya memang memiliki struktur yang penuh penurunan dan penanjakan yang curam. Salah satunya yakni Lombard Street ini. Jika Lombard Street hanya dibuat satu arah saja, maka para pengemudi bisa “bablas” ketika menuruninya. Oleh karena itu dibuatlah berkelok kelok sehingga para pengemudi terpaksa pelan pelan jalannya.

Kalau dari depan begini bentuknya :
Lombard Street (gambar diambil dari sini)

Ide ini tergolong unik dan mengundang rasa penasaran para wisatawan. Dari pengamatan saya, yang mau melewati jalanan ini cukup banyak. Saya rasa banyak juga para wisatawan yang iseng ingin mengetes kemampuan mengemudinya dan melewati jalan ini. 

Bagi yang nggak punya mobil, tenang aja. Di lombard street, tetap ada pinggiran jalannya dimana kita bisa menapaki pelan pelan jalanan ini dengan tangga. Malah lebih cepat nyampe ke bawahnya dibanding mobil yang harus muter muter. Karena banyaknya orang yang mau mengambil foto di daerah ini, Lombard Street yang berupa jalanan satu arah ini juga dihiasi taman taman cantik di sekitarnya. Selain itu, jangan lewatkan juga rumah rumah di sekitar jalan ini karena merupakan salah satu daerah mahal di San Fransisco dan arsitektur rumahnya pun masih tergolong unik.

YHA Hostel Australia vs USA

Berbekal pengalaman menyenangkan bareng bareng teman AIYEP sewaktu nginep di YHA Hostel di Australia (baik di Brisbane maupun Noosa), ketika saya berencana ke San Fransisco, USA saya jadi tertarik nginep di hostel ini juga. Apalagi tempatnya bener bener di pusat kota. Kemana mana tinggal ngesot gitu. Lagian, teman Indonesia saya juga merekomendasikan tempat ini sewaktu mereka berkunjung. Jadi sudah terpercayalah yah keamanan dan kepuasannya.

Hanya ada satu yang agak membingungkan sewaktu saya google YHA San Fransisco, hasilnya tidak langsung keluar seperti YHA Australia. Rupanya saya baru tau Youth Hostels Association(YHA) itu bagian dari Hostelling International grup. Jadi kalo di Australia mereka nyebutnya YHA. Nah kalau di San Fransisco ini namanya San Fransisco Downtown Hostel . Yang jelas kedua duanya masih satu grup di Hostelling International karena sama sama menampilkan logo rumah dan satu pohon walau ukuran dan warnanya agak beda sih.

Di YHA Australia saya tinggal agak lama (hampir seminggu) dengan intensitas banyakan berada di hostel karena acara berlangsung disana. Kebetulan di YHA San Fransisco (selanjutnya disebut USA) saya juga banyak menghabiskan waktu di dalam hostel karena hujan lalu ngapain lagi kalo bukan tarik selimut kembali? Sigh!

Walaupun merupakan grup yang sama, beda lokasi, beda budaya menjadikan dua hostel kakak beradik ini terasa beda juga. Yuk kita lihat reviewnya :
1. Keramahan
Australia : Entah kenapa saya lebih menggungulkan keramahan sewaktu menginap di Australia.Sewaktu itu saya masih kinyis kinyis baru ke luar negeri, dengan keterbatasan bahasa inggris dan norak noraknya saya, saya lebih impressed dengan cara mereka bersabar dan melayani. Kadang saya suka gangguiin si resepsionis buat beli koin nyuci laundry, tukar kartu, tanya tempat dan lain lain dan tak pernah tuh saya merasa kecewa. All is well.

USA : Saya tak bilang mereka tak ramah hanya saja yah ramhanya standar. Nggak ada yang bikin impressed, nggak ada juga kecewa. Sempat saya tanya taya soal checkout lebih cepat dari waktu, minta peta, tanya soal makan pagi dan semua ditanggapi. Tapi saya inget pas sekali lagi check-in di hampir tengah malam, ada tukang nganter makanan yang ingin mengantarkan pesanan tamu tapi tidak begitu dilayani ramah. Lalu kebetulan di YHA ini, tamu yang masuk harus menggunakan kunci kamar agar pintu terbuka. Jika tidak harus pencet bel dan resepsionis yang buka. Mungkin banyak orang yang belum paham sistem ini, dan “nyangkut” di luar sehingga beberapa kali terpaksa si resepsionis yang bukaiin. Nampaknya sih dia kurang senang. Tapi yah maklumlah karena bangunan YHA ini (lebih mirip ruko) tepat di pusat kota jadi pintunya harus dibuat seaman mungkin demi tamu juga.

2. Kunci rusak
Heran deh saya mengalami hal yang sama di sini. Biasanya kita akan diberikan kartu buat digesek/ditempel di palang pintu. Dan seringkali saya nggak bisa masuk karena ntah kartu nya yang error ato mesin di pintu yang bermasalah. Memang si resepsionis udah mengingatkan jauhkan dari HP biar magnetnya nggak error, tapi yah seringkali tetep aja ini terjadi. Di Australia maupun USA.

3. Harga
Well, tidak bisa dibandingin lah secara beda benua juga. Yang jelas bukan yang termurah dibanding hostel lainnya, tapi cukup nyaman dan aman.

4. Lokasi
Sama sama strategis. Malahan yang di USA lebih strategis lagi karena benar benar di tengah kota.

YHA Brisbane

5. Fasilitas Hostel
Asutralia : ada kolam renangnya kecuali di Noosa. Mungkin karena sudah dekat pantai jadi kalau pun ada tar mubazir.
USA : nggak ada kolam renang. Hanya ada dapet makan pagi aja.

6. Fasilitas tambahan
Australia : saya masih inget di Australia, ada sun screen gratis yang diletakkan di meja resepsionis. Terus ada tulisannya, Slip slop slap yang artinya slip(pakai baju kamu) slop(pakai sun screen) dan slap (pakai topi) yang bertujuan untuk memerangi kanker kulit. Jadi tiap mau keluar, saya pasti oles oles dulu mumpung gratisan. Lalu di Brisbane juga ada tempat semacam lemari dimana kita bisa meletakkan barang yang tidak kita butuhkan lagi dan nanti bagi yang berminat boleh ambil. Sewaktu itu saya ada meletakkan barang dan pakaian saya lalu saya ambil lagi deh punya orang heehe
USA : saya sempat tanya apakah punya payung karena selama seharian hujan mulu, jawabnya nggak ada. Yah paling nggak masih dikasih map kota SF gratis.Tapi enaknya selama di sini saya perhatikan banyak acara gratisan seperti free walking tour to chinatown dan atau gratis makan pizza bareng agar bisa kenal dengan sesama penghuni hostel.

7. Banggunannya
Australia : Di Brisbane, hostelnya masih agak lega dimana beberapa lantai dijadikan kamar, restoran di depan lobby dan atap dijadikan tempat untuk ngobrol dan bisa BBQ serta ada meja biliard dan juga kolam renang. Di Noosa, bangunananya lebih eco-friendly karena masih terbuat dari kayu dan makan paginya bisa diluar (di taman). Lingkungan sekitarnya juga masih asri dan hijau banget.

USA : Mungkin karena beneran di tengah kota biayanya mahal yah, jadi bangunannya kayak ruko 4/5 tingkat deh. Termasuk sempit hingga kalau makan pagi selalu berjubelan dengan manusia manusia. Duduknya pun hadap tembok karena nggak ada space. Mau cuci piring, antri juga. Uh bawa ke kamar aja lah.

Hostelling International San Fransisco

8. Kamar mandi
Australia : Kebanyakan saya harus ngantri jika ingin mandi atau ke kamar kecil atau biasanya saya suka selidiki dulu kamar mandi tingkat berapa yang penghuninya sedikit baru deh saya ke sana 🙂
USA : Tidak ada WC di lobby yang merupakan tingkat pertama. Sedangkan di tingkat saya berada hanya ada satu tempat mandi, 1 kamar kecil untuk masing masing jenis kelamin dan satu lagi kamar mandi agak besar yang termasuk bathtub dan WC untuk orang disabilitas.

9. Wifi
Sama sama menyediakan wi-fi gratis

Sepintas sih, antara kedua hostel ini masih memegang teguh prinsip melayani yang baik dan soal keamanan tidak diragukan. Jempol buat kedua hostel ini yang bikin saya belum jera mencoba hostel.