β€’10

Buddha Tooth Relic Temple & Kantin Vegetarian yang Enak!

Selama beberapa kali ke Singapura, ku suka abai dengan Chinatown-nya. Padahal ku tinggal di sana, lewat di sana, bahkan makanan kesukaanku, carrot cake juga pertama kali nyicip di sana. Uenaknya pol~~~

Tapi ya udah, sebatas gitu aja. Untuk eksplor, ku tak terlalu mendalami. Mungkin karena ku berpikir I’m myself a chinese, jadi liat chinatown wis udah biasa. Suatu saat, pas buka-buka majalah gitu liat ada foto vihara merah gede gitu, langsung hati ini bertanya-tanya ini apa, di mana, dan sedang berbuat apa. Terus baru ngeh ada yang namanya Buddha Tooth Relic Temple and even Museum di Chinatown. Ya ampun ku kemana aja selama ini? Pengetahuanku tentang Chinatown ternyata cuma seputaran People’s Park Complex saja πŸ™

Oleh karena itu, pas trip Singapura kali ini, ku udah niat ke sana dong. Langsung deh booking penginapan di Chinatown, kebetulan ada hostel lucu yakni Met A Space Pod. Dari hostel ke kuil ini cuma lurus doang, ketemu Chinatown Foodstreet Market (baru loh!), terus belok kanan, nyampe deh. Vihara ini letaknya persis di samping Tourist Information Center, jadi niscaya selalu dikerubuti turis dan bus wisata gede. Maklum di sini meeting point buat banyak tur-tur. Aku pun pas ikut tur Footsteps Colonial Tour juga ngumpul di sini.

tooth buddha relic temple

Buddha Tooth Relic Temple & Museum ini merupakan vihara yang paling besar yang kulihat di Singapura. Sepanjang pengamatanku yang sembahyang di sini, rata-rata kesemuanya yang lawas-lawas. Jarang ada anak muda lokalnya. Mungkin pada sibuk kerja atau have fun. Kalau pun ada, itu turis, alias yang tampangnya kayak aku. Eits meski begitu, aku sempat membakar hio, lalu berdoa loh. Tidak banyak sih yang beda dengan tata cara berdoa di Indonesia. Cuma gak semua altar harus dikasih dupa. Buat menjaga kebersihan juga kali. Seperti vihara pada umumnya, kita bisa loh nyumbang apapun kayak beras, minyak goreng, dll.Β Kalau gak bawa dari rumah, tapi pengen nyumbang, bisa beli langsung juga di vihara ini. Tapi di sini, lucunya, tempat tarok sumbangan barangnya gede banget. Ku jadi gatel pengen liat isinya apa aja.

chinatown temple

Untuk masuk ke vihara ini, tidak dikenakan biaya apa-apa. Cuma harus diperhatikan tidak boleh menggunakan topi dan bagi yang pakaiannya terbuka harus menggunakan semacam sarung dan kain yang telah disediakan. Biasalah yah, namanya juga harus sopan di tempat ibadah. Untuk kamera, boleh-boleh saja dipakai. Cuma di ruangan khusus, bakal ada peringatan sih, khususnya tempat yang paling keramat yakni tempat diletakannya gigi taring kiri buddha yang ada di lantai 4. Konon gigi ini masih ditemukan utuh ketika pembakaran mayat sang Buddha di Kushinagar, India. Untuk masuk ke ruangan ini harus lepas sandal. Di dalam, bakal ada lagi satu ruangan kaca tempat si gigi diletakkan. Anyway, saking kecilnya gigi tersebut, kan tidak kelihatan tuh jadi aku lihatnya justru dari monitor yang ditampilkan. Lagian ruangan kaca tersebut juga hanya boleh dimasuki oleh para biksu. Kalau kita yang rakyat jelata ini, cukuplah lihat dari luar.

Sehabis melihat ruangan tersebut, aku pun tak sabar menaiki tangga darurat untuk menuju ke lantai berikutnya, Roof Garden. Seketika suasananya langsung jadi enak, karena ada kolam dan banyak tanaman hijau yang menghiasai. Kalau aku pribadi pengen meditasi, daripada melakukannya di lantai 2 mendingan di sini aja. Langsung bisa menuju nirwana kali.

Di tengah taman, terdapat sebuah kuil lagi yang menarik perhatian. Di tengah bangunan tersebut ada sebuah pilar bulat gede gitu. Pilar ini dihiasi dengan bahasa-bahasa sanskrit dan dihiasi dengan ornamen cantik. Pilar ini rupanya adalah Vairocana Buddha Prayer Wheel.

tooth buddha temple

Lalu datanglah sepasang suami istri ke pilar ini lalu yang mengatupkan tangannya di dada. Kemudian mereka pun menarik si Vairocana Buddha Prayer Wheel ini searah jarum jam. Aku terperangah! Rupanya somehow, pilar gede ini ada rodanya (mungkin di atas). Pantesan ada tempat meletakkan tangan yang bisa dipakai untuk muterin pilar ini. Tiap satu kali putaran, terdengar suara “ding”. Entah “ding” ke berapa, akhirnya aku memutuskan ikut turun tangan muterin pilar ini. Itu pun setelah seorang lelaki India ikut bergabung. Yah kok rasanya ku kalau gak ikut, gimana gitu rasanya. Tiba-tiba aja darah kompetitif ku jadi membuncah. #halah.

Pas muterin Buddha Wheel ini tidak terlalu berat karena kan ada 4 orang yang bantu dorong. Ketika suami istri itu udahan, dan si India sudah selesai bereksperimen, nah baru terasa nih beban hidup.

buddha wheel

Vairocana Buddha Prayer Wheel ini emang tujuan awalnya adalah agar tiap yang muterin ini ibarat lagi membaca pitaka (semacam ayat/bab dalam kitab suci), sehingga mungkin maksudnya kalau puter lama-lama, yah semakin banyak yang diperoleh. Yah ibarat agama lain mungkin ada yang pake tasbih, gitu kali yah. CMIIW!

Dari lantai atas, aku pun udahan dan sempat mampir ke lantai 3 dulu untuk melihat museumnya. Museumnya kecil tapi koleksinya cukup lengkap dan unik. Jadi gak lama sih di dalam museum, karena aku dan meme sudah tak sabar lagi segera ke kantin. Well, dari awal datang si meme sudah pengen banget makan di kantin vegetarian ini. Tempat makan ini tidak hanya diperuntukkan bagi bhiksu-nya tapi juga terbuka oleh umum loh. Mungkin karena berkat ada yang nyumbang atau buat misi sosial juga, kantin ini harganya murah banget, cuma SGD3 saja. Dan sebagai tukang makan, ini pesanan kami.

Meme : Nasi, kari ala india, bihun, sayur hijau dan tahu –> SGD 3.

Aku : Nasi, kembang tahu, sayur hijau, dan tahu lagi –> SGD 3. Sama ama meme? tahu gitu nambah semacem lagi! #gamorugi

 

tooth-buddha-canteen

Makanannya ala prasmanan gitu, tinggal tunjuk mau yang mana. Tapi biar gak bosen, tiap hari ada menu spesial gitu. Misal pas aku ke sana itu hari minggu, ada Laksa. Senin-nya ada Nasi Lemak. Tapi selasanya pasti gak ada Soto Lamongan sih, jadi jangan berharap.

Karena perjalanan masih jauh, kami butuh makan nasi, jadinya gak pesen menu spesial tersebut. Lagian kami pikir Laksa paling enak harus ada udang, bakso ikan, dan unsur hewani lainnya. Oke sip, kami emang gak ada bakat jadi vegetarian hehe jadi biarlah kami makan sayur aja kali ini. Di luar dugaan, makanannya enak banget. Sayurnya segar, dan kembang tahunya saking kenyal dan lezatnya, membuat timbul rasa penyesalan “kenapa cuma dikasih dikit sih?”. Tapi oh tapi, khusus menu meme yang kari ala india itu agak kurang sih. Ya wajar sih karena yang masak bukan Shah Rukh Khan jadi bumbunya kurang endess.

Anyway, meskipun makanannya murahnya keterlaluan dan lezat, kantinnya tidak begitu banyak orang. Kebanyakan sepertinya pengunjung lokal. Yah mungkin turis yang lain tidak tahu info tentang hidden gem ini. Aku pun kalau tidak lihat papan petunjuk dengan teliti, tidak nyadar di sini bisa makan enak. Ugh tahu gitu dari kemarin-marin pas bingung mau makan apa, kami tinggal melipir ke sini. Sayangnya ini hari terakhir kami pula di Singapura.

Ya sudah next time di Chinatown, ku pasti makan di sini lagi deh! Kalian juga yah!

**

Buddha Tooth Relic Temple & Museum menyediakan tur gratis tiap sabtu loh jam 2 siang selama kurang lebih 1,5-2 jam. Jadi yang pengen tahu lebih banyak tentang tempat ini, buruan RSVP dulu by email ke @buddhistculture@btrts.org.sg.

About the author

Travel Now or NEVER
10 Responses
  1. Aku pertama tahu kuil ini gegara dikirimin postcard dari temen. Suasana malam, dan itu CAKEEEEEEEPP banget. Sempet baca juga, walaupun namanya Chinatown, tapi ada resto halalnya.

    Aku harus menarik kata-kataku sendiri yang pernah bilang, “Singapura itu membosankan.” Ternyata, banyak banget hal-hal seru di sana. LOVE.

    1. Aku liat pertama yang wow itu gambar dari samping pas malem. Kece kayak bermandikan cahaya..kek yang angle nya deddy huang ambil itu hehe.

      Singapura kesannya itu-itu aja. Tapi bahkan negara sekecil ini pun banyak hal yang lum kujelajahi hehe

  2. si Engkong Ozi

    Vihara yang Indah dan terawat baik, hanya itu makanan vegetarian rasanya gak ada yang enak, semua makanan vegetarian sudah berkali dicoba tapi selalu gak enak

Leave a Reply