β€’28

Bertandang ke Keraton Surakarta Hadiningrat

Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Solo adalah salah satu kota yang memiliki magnet wisata yang sangat besar. Pamornya kian hari kian cemerlang seiring dengan slogannya sebagai “The Spirit of Java”.

Bicara tentang Surakarta, tak kan sah bila belum bertandang ke salah satu objek wisatanya yakni Keraton Surakarta Hadiningrat yang dibangun pada tahun 1745 oleh Paku Buwono II saat memindahkan kerajaan dari Kartasura ke Desa Sala. Keraton dibangun secara bertahap dan mencapai puncaknya pada masa Paku Buwana X (1893-1939). Meski dilakukan bertahap, tetapi pola dasar tata ruang tidak berubah.

Sebelumnya, saya juga pernah singgah di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Jogja. Sebagai perbandingan, Keraton Surakarta memiliki luas yang jauh lebih besar dibanding Keraton Yogyakarta. Keraton Surakarta juga belum se-komersil keraton Yogyakarta sehingga nafas kehidupan keraton masih terasa. Ditambah lagi saya mendapatkan pemandu yang menjelaskan secara detil seluk beluk keraton Surakarta. Hal ini tidak saya dapatkan sewaktu berkunjung ke Keraton Jogja.

Akan tetapi, secara arsitektur dan bangunan, keraton Surakarta dan Yogyakarta memiliki banyak persamaan karena dirancang oleh orang yang sama yakni Sultan Hamengkubuwono I.

Seperti keraton pada umumnya, Keraton Surakarta juga berfungi sebagai tempat tinggal (istana) bagi keluarga sultan serta tempat untuk melakukan berbagai perayaan.

Di kunjungan saya yang pertama ke Solo, saya pun menyempatkan singgah di tempat ini pada pagi hari di pertengahan bulan April 2013. Suasana masih sepi. Hanya beberapa pedagang yang mulai membuka lapak di sekitar bangunan keraton. Saya sekilas melihat ke arah alun alun di depan dan melihat ada dua pohon beringin di tengahnya. Persis seperti di Jogja. Bedanya, kali ini saya tidak bereksperimen jalan dengan mata tertutup untuk melewati kedua pohon tersebut. Saya sempat konfirmasi tentang kebenaran mitos yang beredar seputar pohon beringin tersebut kepada abdi dalem keraton dan hasilnya mitos tersebut tidak benar. Tetapi kalau mau mencoba just for fun, monggo!

Saya lantas menuju ke tempat membeli karcis di sebelah kiri dan sempat kebingungan karena tidak tahu masuknya lewat mana. Tidak lama, saya disapa seorang bapak berseragam batik dengan memakai blangkon di kepalanya. Dia juga mengenakan selendang merah kuning (samir) yang diikat di leher serta pin simbol keraton. Sang bapak ini rupanya seorang abdi dalem yang juga bertugas menjadi pemandu wisata. Selain saya, ada juga seorang bapak pengunjung yang membawa anak kecil. Tetapi karena si kecil menangis terus, oleh si abdi dalem disarankan untuk menunda ikut “tur” keratonnya hingga si kecil tenang atau diserahkan ke sang ibu dulu. Akhirnya si bapak menunda rencananya… Poor little thing!

Maka lanjutlah saya sendiri dipandu oleh sang abdi dalem. Kami saling berkenalan karena akan bersama sama lebih kurang 2 jam ke depan. Oleh si abdi dalem, saya diberikan beberapa intruksi yang harus diikuti seperti jangan terpisah darinya, tidak memegang sembarangan, tidak memotret sembarangan tanpa izinnya dan lain lain. Okay, Agree!

Saya pun dibawa menuju Kori Kamandungan yang merupakan pintu gerbang utama Keraton. Walaupun hitungannya sudah masuk area keraton, di jalan depan Kori Kamandungan masih bisa digunakan untuk jalan umum. Jadi tetap waspada akan motor motor yang bersliweran yah. Dari sana kami masuk melalui pintu barat dan sampai di Komplek Sri Manganti.

Keraton solo

Komplek Sasana Sumewa (Di depannya ada alun alun, samping kiri ada pasar klewer)

Keraton Solo

Keraton Solo
Kalau mau berfoto dengan para petugasnya, siapkan uang seikhlasnya yah.

Untuk masuk ke komplek Sri Manganti, dilarang menggunakan sandal jepit. Jika terlanjur, maka akan diminta melepaskannya terlebih dahulu. Tetapi tenang saja, karena area ini sangat terjaga kebersihannya.Β  Beberapa abdi dalem pun bertelanjang kaki di sekitar kompleks ini. Tidak seperti tanah biasanya, di komplek ini tanahnya tertutup oleh pasir hitam yang konon berasal dari pantai selatan Jawa. Selain itu, suasana di sini sangat adem karena terdapat 76 pohon sawo kecik yang rindang. Pohon sawo kecik ini mempunyai filosofi tersendiri yakni sebagai pelindung. Si bapak pemandu pun mengingatkan bahwasanya di area ini, pengunjung tidak diperkenankan mengambil /memetik daunnya. Bahkan memindahkan daun yang telah jatuh.

Di area ini juga, ada satu bangunan tinggi bernama Panggung Sangga Buwana. Konon, katanya si sultan biasa bermeditasi dan berhubungan dengan dunia “lain” ketika berada di dalam menara bersegi delapan ini. Ketika saya datang (hari kamis) tepat sedang ada perayaan (tetapi sayangnya sudah selesai) yang ditandai dengan adanya semacam sesajen bunga di depan pintu masuk Panggung Sangga Buwana.

Di area ini, terlihat jelas bahwa keraton surakarta banyak mendapatkan pengaruh dari Eropa yang tampak pada banyaknya patung patung eropa di halaman depan kedhaton. Sayang untuk masuk dan melihat ke dalam lebih jauh, kita tidak diperbolehkan. Ada batas batas yang tak tampak yang oleh si Bapak himbau agar jangan dilewati. Tetapi masih diperbolehkan kok untuk berfoto di halaman depan kedhaton ini. Okay!

Keraton Solo

Pohon Sawo Kecik dan Panggung Sangga Buwana (di belakang)

Keraton Solo

Selanjutnya, saya menuju ke beberapa ruangan yang memamerkan barang peninggalan sultan. Ada foto, alat transportasi zaman dulu, perlengkapan rumah tangga, patung dan lain lain. Yah semacam museum gitu deh.

Keraton Solo

Keraton Solo

Keraton Solo

Keraton Solo

Secara umum keseluruhan kompleks keraton sangatlah luas, namun daerah yang terbuka untuk dikunjungi para wisatawan terbatas. Belum lagi beberapa tempat memiliki kepercayaan tertentu yang hendaknya kita sebagai tamu menghargai dan menaatinya. Oleh karena itu, saya rekomendasikan untuk memakai pemandu wisata. Toh keberadaan mereka membuat acara keliling keraton menjadi seru karena pengetahuannya yang luas serta bisa dimintaiin tolong memfoto saya. Ups!

Saya sempat bertanya tentang hal hal gaib atau mitos yang beredar di seputar kompleks keraton. Setau saya semakin lama suatu tempat, tentu pasti ada “penunggu” nya atau ada terjadi hal hal yang di luar logika. Belum lagi banyaknya pantangan dan beberapa aturan yang harus ditaati membuat suasana keraton agak mistis. Apalagi ini Indonesia bung! Sang abdi dalem tersebut membenarkan hal hal tersebut. Beberapa barang misalnya potongan ujung kapal laut sultan (tidak boleh dipotret dan disentuh) dapat mengeluarkan bau amis jika ada pengunjung yang bandel (tidak menaati peraturan).

Tetapi di samping beberapa benda/tempat tidak boleh difoto/disentuh, beberapa tempat malah sangat dianjurkan untuk berfoto/berdoa/memegang sesuatu barang. Ada yang dipercaya dapat memberikan rasa tenteram bagi yang memegangnya. Ada juga yang dipercaya dapat mengabulkan permohonan seperti foto saya di bawah ini. Benda ini adalah payung yang digunakan untuk memayungi sang putra sultan. Niscaya setelah memegang benda ini sambil berdoa, permohonan kita akan terkabul. Setelah itu, jangan lupa berfoto. Ada syaratnya juga. Yakni si payung harus kelihatan dari atas sampai bawah tanpa terpotong sama sekali.

Keraton Solo
Si bapak pemandu yang notabane telah menajdi abdi dalem pun juga selayaknya mematuhi berbagai peraturan dan pantangan yang ada. Contohnya selalu membawa tamu searah dengan jarum jam. Saya perhatikan juga si bapak jika masuk ke daerah tertentu, selalu memberikan salam dengan cara sedikit menunduk sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada. Bahkan si bapak juga harus selalu mengenakan selendang kuning merah di lehernya sebagai tolak bala. Oalah!

Lalu iseng iseng saya bertanya kepada si pak abdi dalem yang rupanya juga seniman (pelukis) ini, berapa gaji yang dia dapatkan dari keraton. Dia menjawab dengan jujur bahwa gajinya tak kurang lebih dari Rp.100.000/bulan (tahun 2013). Wah miris jadinya. Di akhir tur, saya tak lupa memberikan tip lebih padanya sambil mengucapkan terima kasih.

Keraton Solo

Para abdi dalem (yang kanan adalah pemandu saya)
Note :
Jika ada pembaca yang punya kenalan dengan anak /keluarga keraton, tolong kenalin ke saya yah. Ingin deh bertandang (sebenarnya) ke Keraton Surakarta πŸ™‚

**

Tulisan di atas adalah pengalaman saya ke Keraton Surakarta lima tahun silam. Ya ampun berasa tuwir nih!

Tak disangka, tahun ini saya kembali berjodoh datang ke sini lagi dalam rangka famtrip Solo. Sekilas tampaknya tidak banyak yang berubah di tempat ini. Yang paling membuatku terharu adalah, tiba-tiba saya berjumpa kembali dengan guideku yang dulu. Ku ingat persis bapak ini, meski selalu lupa namanya. Rambutnya panjang dan mulai banyak yang putih, seperti aku. Raut wajahnya lebih terlihat tua. Dia sempat ragu apakah pernah membawa saya keliling. Yah maklum sih secara pasti sudah ratusan atau bahkan ribuan orang yang dia pandu. Tapi aku yakin, aku gak salah mengenal orang. Aku lalu menceritakan perihal payung sakti tersebut dan berterima kasih padanya karena impianku benar-benar tercapai.

Ada yang bisa tebak aku ngarep apa dulunya? Yes betul banget berdoa semoga diluluskan dapet beasiswa CCIP ke Amerika Serikat.

Si bapak cuma mengangguk-angguk saja sementara aku ceritanya sudah heboh bak ketemu sahabat lama. Ya wislah pak kalau lupa, yang penting sek kito wis ambil foto dulu, biar netizen percaya.

keraton surakarta

Karena rombongaku sudah mau masuk, aku pun pamitan sama si bapak. Niat dalam hatiku waktu itu, adalah balik lagi ke payung sakti, berdoa dan berfoto lagi karena kini ku punya ambisi dan cita-cita yang baru. Saat itu, emang cuma ada satu guide, jadi aku minta tolong pak Hari, rekan serombonganku untuk mengambilkan fotoku. Amin semoga tercapai mimpiku lagi kali ini.

kasunanan solo

Setelah beberapa minggu kemudian, akhirnya mimpi yang kucita-citakan tersebut, yang telah membuatku tak bisa tidur akhir-akhir ini, tidak tercapai saudara-saudara. Apakah karena perginya gak bareng si abdi dalem ku yang dulu? apakah mimpiku gak direstui semesta? Aku berusaha gak mau suudzon sih. Mungkin belum diberikan saja kali yah. Mungkin sekarang bukan saat yang tepat. Yang jelas meski ada rasa kecewa, tapi ya sudahlah harus direlakan. Mungkin nanti baru ada titik terangnya yah. Semoga saja…

**

Ada yang bisa nebak kira-kiraΒ aku pengennya apa? Ada yang percaya yang begini-beginian gak sih?

Ohya di Keraton juga ada tempat sumber mata air sakti di mana airnya bisa langsung diminum dan buat cuci muka. Khasiatnya macem-macem lah. Buat awet muda hingga kesehatan.

Brb..mandi air ini dulu deh kalau gitu~~

About the author

Travel Now or NEVER
28 Responses
  1. Illumi Arzia

    Hebat. Beneran tu masuk ke dalam Keraton sendirian? Cuma ditemani sama 1 orang abdi dalem?
    Apalagi di Keraton Solo yang masih kental akan kepercayaan-kepercayaan kunonya.

  2. Yup illumi, oleh karena itu si abdi dalemnya dari awal sudah mengingatkan agar jangan sampai terpisah darinya πŸ™‚ udah pernah ke sini belum?

  3. Good luck buat tripnya. Hati hati ketemu loh ihhihi

    btw kalo keraton jogja biasa aja nggak se-freaky yang solo. Untunglah sebelum ke keraton saya ga google dulu jadi gak parno-an :p

  4. percaya kok nita πŸ™‚ emang kadang kalau kita udah lama di suatu tempat jadi males berwisata di tempat itu. tapi kapan2 cobaiin dateng ke sini yah

      1. seikhlasnya aja mbak misal 20rb πŸ™‚ begitu juga sama penjaga yang kita ajakin foto πŸ˜€ meski saya pun agak keberatan kalau harus kasih duit buat foto bersama.

  5. Hai nana,

    Tiket masuknya kalau tidak salah 10rb aja. Terjangkau deh!

    Untuk guide, iya selayaknya memberikan tip lagian sangat bermanfaat semua info yang telah diberikan.

    Anyway, sewaktu saya foto sama penjaga keraton juga saya memberikan "salam tempel" atas rekomendasi si guide. tapi kalo menurut saya ga dikasih, juga harusnya gpp. πŸ™‚

  6. si Engkong Ozi

    wah dalam tahun 2018 ada abdi dalem cewe modern juga di Kraton Solo yah ? kota Solo terlihat sangat lemah lembut termasuk warganya tapi pada tahun 1965 itu satu kota Basis PKI dan Kerusuhan Racisme

    he he mbak Leni belom lahir yah di tahun itu ?

    1. Betul pasir hitam itu enak yah, eh tapi masih bisa gak ke sana. Kemarin ke sana kok aku gak diajakin ke sana lagi ama guidenya.

      Huhu lum sempat ke Mangkunegaran nih~

Leave a Reply