Monday, July 25, 2016

Traveling as Introvert & Extrovert

Saya Introvert.
Anda boleh cek dari hampir semua socmed saya, tak ada satupun hal pribadi tentang keluarga, mantan, perasaan, masalah, dan bahkan ketika saya opname di RS pun tidak ada jejaknya di social media karena memang saya tak suka mengumbar hal seperti itu. Lagian apa faedahnya? untuk memamerkan kemesraan? untuk menjadikan trending topic? Buat saya masalah personal tidak perlu diumbar, tidak nyaman saja pokoknya. Oleh karena itu, orang hanya tahu betapa bahagianya saya saja. Well.. padahal hidupku aslinya tak selalu seindah Instagramku.

Kalau Introvertnya lagi dominan, pengennya masuk ke mulut buaya aja
Saya Extrovert.
Saya ingin tampil. Saya suka difoto. Saya ingin orang lain mengenal saya. Saya cukup percaya diri. Saya tak minder bepergian tanpa make-up dan berpose dengan menggunakan bikini. Mungkin itu juga kenapa dulu saya senang ikut kontes / peagents. Bagi saya hal hal baru dan perhatian publik itu sesuatu yang menyenangkan, dalam skala berkecukupan dan masih normal batasnya.
Kalau lagi Extrovert, Koala aja diajakin ngomong terus. Padahal dia ogah hihi

Saya Introvert - Extrovert.
Nah things get complicated when I have both! terutama ketika lagi jalan-jalan.
Ketika Introvert saya lebih dominan, saya malas ketemu orang dan harus memperkenalkan diri lagi sehingga menolak undangan "networking" ataupun meetup.
Ketika Introvert saya lebih dominan, saya hanya di hotel saja nonton TV dan males mau kemana mana.
Ketika Introvert saya lebih dominan, hal hal kecil seperti digigit nyamuk, belum BAB, dapat mempengaruhi mood saya. Walau lagi berada di tempat yang indah, namun tak jarang saya malah cemberut.
Ketika Extrovert saya lebih dominan, saya menghabiskan waktu untuk mengambil foto layaknya supermodel dan itu bisa memakan waktu lamaaa sampai dirasa ada yang Instagram-able, padahal harusnya saya menyisakan juga waktu untuk duduk meresapi keadaan sekitar atau berbicara dengan orang lokal.
Ketika Extrovert saya lebih dominan saya tampak sangat outgoing namun nyatanya mungkin saya menyimpan kata kata / perbuatan yang dirasa tak mengenakkan hati.
Ketika Extrovert saya lebih dominan, orang orang selalu berfikir saya pribadi yang ceria lalu mengajak saya kemana mana dan saya iyakan walaupun nyatanya mungkin saja all I want is just to be alone.

Jadi bagaimana saya mengatasi pergolakan dua batin saya ketika dalam perjalanan (dan juga sehari hari)? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi introvert ataupun extrovert cuma lebih baik sih seimbang antara keduanya sehingga kita tak terlalu diam (tar bikin orang BT / kirain kita lagi ngambek gak jelas) atau terlalu heboh (dikira cari perhatian berlebih / alay).

Kita emang gak bisa memilih antara jadi introvert atau extrovert karena udah bawaan orok tapi tentu kita bisa dengan bijak menanggapinya agar kedua kepribadian ini tidak ada yang sangat dominan sehingga bisa membuat mood turun naik macam rollercoaster.
Ini beberapa tips yang saya siasati agar tetap tenang - meski lagi high (extrovert) atau down (introvert) - dan menikmati segala hal.

Ya siapa tahu ada yang kayak saya juga. Toss!
1. Selalu bersyukur
Syukur-syukur masih bisa jalan-jalan, masih sehat, belum ada tanggunan, ada yang mau ngajakin dan belum ada yang nyinyir jadi kalaupun ada yang gak enak, yah dinikmati aja semua biar mood tetap baik.
2. Mengontrol perasaan.
Belajar mengontrol perasaan itu tidak mudah apalagi kadang saya cenderung berpihak pada perasaan sendiri. Maunya saya sih melankolis melankolis nestapa gitu tapi gimanapun harus diupayakan biar nggak terlalu gitu. Caranya yah menjauh sebentar, istirahat, dengerin musik biar kembali lagi moodnya atau terus memberikan sugesti yang baik. Kalau lagi hyper-hyper-nya, yah gitu juga harus diredam dikit biar gak terlalu senang.
3. Think Logic
Nah ini juga susah berhubung saya dominan di perasaan. Paling kalau udah capek galau sendiri, baru deh otaknya jalan dan mikir "Ih udah bagus bisa nyampe sini, bodo amat ama orang yang menyebalkan itu" lalu saya pun berlalu dan melanjutkan perjalanan.
4. It's okay not to be okay
Tidak setiap kali saya bisa cheer up myself. Kadang kalau sudah broken sewaktu di jalan, kalau memang bisa menyendiri atau tidak ada siapapun I'll let myself to feel whatever it is. Nanggis - nanggis bombay itu bagus juga karena setelah itu biasanya beban saya rasanya berkurang. iya sama emang tipikal cengeng itu kalau ada apa-apa yang nyesek maunya keluarin air mata dulu.
5. Do something
Membut diri saya sibuk dengan berbagai aktivitas biar saya gak sempat kepikiran adalah cara yang manjur. Misal lagi BT pas di pantai. Kalau saya bengong aja liat ombak menari atau mendengar nyiur melambai-lambai makin deh saya masuk ke lamunan saya. Oleh karena itu, biasa saya sempati buat snorkeling atau hanya sekedar ngambang cantik tapi paling tidak saya bergerak. katanya kalau kita cuma diem aja itu akan membuat kita makin gak merasa baikan.
Lunch dulu sama gajah. Kalau laper dan haus bisa bikin mood hancur.

Adakah yang sama kayak saya juga? atau punya saran? silahkan berbagi di sini.
PS : Semua foto diambil di Bali Zoo, tempat yang pas dan asik buat berbaur sama binatang :)

Monday, June 27, 2016

uberPOOL, The Future Public Transportation

Dulu, di USA...
Sewaktu tinggal bareng sama host family yang punya anak kecil yang masih sekolah, mereka menceritakan pada saya tentang Car Pool yakni naik mobil bareng bareng atau istilahnya saling nebeng. Jadi secara bergantian, host family saya dan beberapa orang tua murid lainnya yang tinggalnya deketan akan bergiliran menjemput anak-anak ini ke sekolah. Cara ini dinilai sangat praktis karena ortu jadi gak perlu setiap hari mengantar, hemat uang bensin, dan nggak perlu cemas karena sudah saling mengenal ortu yang lain. Buat si anak, tentu saja mereka senang-senang aja karena punya teman buat ngobrol, tanya nyontek PR, berbagi makan pagi di mobil dalam perjalanan ke sekolah. Selain itu, untuk menghindari macet, di Arizona-USA ini juga ada sebuah jalur khusus bagi mobil yang berpenumpang lebih dari dua sehingga kalau Car Pool bisa lewat jalur ini. Itungannya jadi lebih cepat nyampe pula. Jadi nggak ada alasan buat menolak ikutan Car Pool bukan?

Naik mobil Uber aja

Sekarang, di Indonesia...
Balik ke Indonesia, tiba-tiba angkutan berbasis online sudah marak sekali termasuk Uber. Karena merupakan produk yang berasal dari Paman Sam, nggak heran ketika akhirnya pada Mei 2016, Uber meluncurkan inovasi terbarunya yakni uberPOOL. Saya percaya nih konsepnya sama persis dengan budaya Car Pool yang udah jamak di USA. Kita memilih tujuan, jumlah kursi (maksimal baut 2 orang), lalu Uber akan mencari penumpang lain yang juga punya tujuan sama, lalu supir pun akan menjemput satu satu layaknya layanan uber biasa. Anda akan diberitahu mendapat giliran jemput ke berapa, habis itu tinggal tunggu-duduk manis deh. Kalaupun misalnya kebetulan nggak ada penumpang lain, kita akan tetep dijemput namun tetep dengan harga uberPOOL jadi lebih murah, yippie!
uberPOOL
uberPOOL.. keliatan kan iritnya
Memang sih ada beberapa orang yang mengeluh waktu sampai ke tujuan jadi sedikit molor tapi yah udahlah yah kan bayarnya juga lebih molor alias lebih murah hingga 25%. uberPOOL ini mang lebih cocok kalau dipake pas bukan lagi buru-buru. Kecemasan berikutnya lagi yah takut ketemu dengan orang-orang yang gak asik. Kalau kebetulan ada teman bareng, mending bareng, kalau nggak yah udahlah yah anggap ja seperti naik pesawat kita gak pernah tahu siapa di samping kita. Kali aja malah ketemu jodoh dan dapet supir pribadi? #lah.

Nanti, di mana saja..
Uber surely is not just your private transportation, but the next public transportation.
Bayangkan kalau tiap orang mesan 1 mobil buat ke 1 tujuan. Apa gak tambah macet nih Jakarta?
Mendingan bareng aja kayak naik angkot tapi dengan kenyamanan sekelas mobil pribadi. Kabarnya juga sejak 3 bulan pertama diluncurkan, uberPOOL sudah berhasil mengurangi 33.8 juta km jarak yang ditempuh oleh kendaraan atau setara dengan 1.5 juta liter bensin dan 3.800 metrik ton emisi CO2. Ngaruh banget kan!!

Kalau masih ogah juga, ya udah naik Uber Motor aja yah. Sama-sama murah, nyaman, dan cepet!
Manapun itu, pilih aja UBER!

**
Bagi pengguna baru yang mau nyobaiin Uber Pool buat pertama kalinya, masukin kode lennyl412ue buat dapet Rp.50.000

Wednesday, June 15, 2016

Menginap di kemah mewah Sandat Glamping Tents Bali

Sejak menginap di tenda Dusun Bambu Bandung, saya jadi ketagihan nginep ala ala tenda. Mau tenda yang alami, tapi kok saya terlanjur manja dan pengennya fasilitas lengkap dan bersih. Jadilah Glamping selalu menjadi pilihan.

Setelah sekian kali berkunjung ke Bali, kali ini saya menemukan glamping yang saya inginkan yakni Sandat Glamping Tents. Agak tricky menemukan tempat ini karena berada di hamparan hijau sawah Ubud, dan begitu tiba saya langsung disambut bangunan bambu dengan konsep desain yang terbuka sehingga tidak membutuhkan pendingin cuaca. Kelar check-in, ga pake ribet, mas-masnya membawa saya menuju penginapan saya. Sebelumnya, saya mendapatkan welcome drink dulu dan duduk-duduk di tempat breakfast sambil melihat dinding yang penuh cermin dan ada pojok tempat berbagai koleksi majalah dan buku bertebaran. Suka!
Sandat Glamping Tents Ubud
Pegel baru nyampe...
Sandat Glamping Tents Ubud
Langsung gak capek lagi begitu di sini..
Karena total cuma ada 8 penginapan, suasana di sini selalu sunyi, apalagi tamunya kebanyakan bule jadi gak bakal berisik dan jarak antar penginapan berjarak sehingga adem banget deh. Di sini ada dua jenis penginapan yang dapat dipilih yakni :

Lumbung
Lumbung ini dulunya adalah tempat penyimpanan padi, namun kalau di Sandat Glamping Tents dibuat menjadi sebuah penginapan keren. Tentunya tetep tak melupakan filosofi lumbung, contohnya di sini di kayu pancang nya tetep ada kayu bundernya jadi dijamin tikus gak bakal bisa naik. Lumbung saya yakni Legong beratap jerami dan keseluruhannya terbuat dari kayu ini memiliki dua lantai. Lantai 1 itu buat saya breakfast (minta dianterin dengan manja), leyeh leyeh, atau sekedar nerima tamu tanpa perlu mereka masuk kamar yang tentunya bikin privasi tetep terjaga dong. Di depan lumbung yang saya tinggali langsung ada pool (yang dishared dengan 3 lumbung lainnya) sehingga bisa juga sambil berenang namun barangnya diletakin aja di lumbung.
Sandat Glamping Tents Ubud
Lumbung di Sandat Glamping Tents
Sandat Glamping Tents Ubud
Leyeh-leyeh di bawah lumbung
Sandat Glamping Tents Ubud
Kamar tidur lumbung
Sandat Glamping Tents Ubud
Suasana malam
Sandat Glamping Tents Ubud
Gak kalah sama siangnya
Di belakang lumbung, ada toilet semi outdoor yang terdiri dari shower dan toilet jongkok. Lalu di sebelahnya, ada tangga kayu buat naik ke atas yang merupakan kamar tidur kita. Di dalam kamar yang atapnya mengerucut ini (awas kejedot!), ada ranjang dengan kelambu, tempat duduk, lemari, AC, meja, mini bar dan kulkas,serta balkon buat ngeliat pemandangan sekitar.
Sandat Glamping Tents Ubud
Suka banget sama kamar mandi lumbung
Sandat Glamping Tents Ubud

Tenda
Di Sandat Glamping ada 5 jenis tenda dan kesemuanya punya desain yang berbeda. Saya tinggal di tenda Ogoh-ogoh dengan dominan warna oranye. Masing masing tenda ini tersembunyi satu sama lain dan punya jalan masuk yang beda-beda. Sebelum masuk ke jalan kecil menuju tenda kita, ada "bel" alami yang bisa diguncangkan sebagai tanda permisi kalau misalnya ada tamu atau mbaknya nganterin breakfast. Di Tenda yang bergaya safari ini, semuanya berada dalam satu tenda yang sama, termasuk untuk kamar mandi hanya dipisahkan dengan sekat kain aja. Di kamar mandinya, ada pancuran shower yang juga cuma ditutupi kain, jadi kadang aku mandinya pelan-pelan biar ga basah semua sekelilingnya hehe

Sandat Glamping Tents Ubud

Sandat Glamping Tents Ubud
Kamar Ogoh-ogoh
Sandat Glamping Tents Ubud
Kamar Mandi seluas kamar tidur

Sandat Glamping Tents Ubud
Kayak Ufo yah kalau malem
Untuk ranjangnya persis ada di depan pintu masuk, belakangnya baru kamar mandi. Kiri kanan ranjang ada meja dan kursi serta mini bar dan kulkas. Ada juga beberapa lemari untuk gantung baju. Karena gak punya AC, sekeliling tenda ini bisa dibuka biar angin seger masuk. Untungnya ada sekat buat nyamuk jadi aman pas malemnya.

Semua berjalan begitu indah hanya saja pas sorenya sedikit terganggu dengan anak-anak muda yang main motor racing di belakang jurangnya tenda ini. Agak jauh sih toh mereka ga bisa liat saya karena saya lebih tinggi namun suaranya itu bikin semaput. Untunglah ini kejadian langka jadi anggap saja saya lagi apes. Udah ah..mari menenangkan diri di poolnya yang adem ini.

Keunikannya? Jadi Pilih yang mana?
Seperti tagline-nya, Sandat Glamping mencoba berusaha jadi penginapan yang go-green tapi tetep luxury. Pusing kan? Jadinya meski mewah dan privat (cuma ada total 8 kamar yang tersedia), ada beberapa fasilitas yang biasanya selalu kita take it from granted yang gak ada di sini. Misalnya masing masing lumbung dan tenda gak pake bathtub, TV, telepon (sebagai gantinya pake alat musik yang dibunyikan), ga ada amenities macam sabun shampoo yang bisa dicolong, bahkan AC hanya tersedia di yang lumbung. Yang tenda hanya pake 2 kipas angin tapi panasnya cuma berasa kalau siang kok. Jelang sore, suasana adem lagi, secara ini di Ubud yang agak pelosok jadi tidak bakalan sampai kepanasan. Toh ada pool pribadi tinggal nyemplung guys.
Sandat Glamping Tents Ubud
Makan pagi langsung di kolam renang
Untuk harga, Lumbung lebih murah dan lebih cocok bagi kamu yang gak bisa hidup tanpa AC namun kalau mau cari sesuatu yang berbeda harus coba yang tenda, apalagi ada pool pribadinya. Bisa puas ngapa-ngapain loh. #kode

Selain fasilitas yang saya sebutkan masih ada free shuttle gratis ke downtown ubud dan WiFi yah guys!
Silahkan cek videon tenda nya persembahan Richo

Dan.. ternyata Sandat Glamping Tents ini lumayan terkenal juga sih udah masuk beberapa acara TV dan diliput ama beberapa orang terkenal. Ih berasa jadi artis deh bisa nginep di sini :p
Sandat Glamping Tents Ubud
Leyeh-Leyeh di Pool Lumbung..tetep berasa milik sendiri

Thursday, June 9, 2016

Keukenhof Taman Terindah di Musim Semi

Salah satu simbol dari negara Belanda adalah bunga Tulip. Meskipun sejatinya bunga tulip ini berasal dari Asia Tengah dan Turki, namun tulip lebih populer di Belanda. Jadi sepertinya kalau ke Belanda gak liat tulip itu seperti ke Indonesia tapi nggak nyobain warteg. Gak afdol dong!

Memang sih kalau beruntung bisa liat tulip dari rumah-rumahnya orang belanda tapi ya itu harus liatnya di rumah-rumah lama dan lokasinya mojok. Itupun lokasinya biasanya jauh. Nah kalau mau puas liat banyak tulip, tempat terbaik untuk melihatnya di Keukenhof yang terletak di Lisse. Apalagi sewaktu pergi di Belanda pertengahan mei, saya lagi bernasib baik karena bertepatan dengan musim bunga tulip yang sedang merekah. Jika telat seminggu saja, maka Keukenhof sudah tutup dan saya hanya bisa gigit wooden clog aja. Keukenhof memang hanya buka selama kurang lebih delapan minggu di pertengahan Maret hingga pertengahan Mei. Sisanya, closed!
Keukenhof
Masuknya antri dulu..
Keukenhof
Taman Keukenhof
Keukenhof
Isinya bunga dimana mana
Keukenhof
Dua simbol Belanda dalam satu frame
Menurut sejarah, awal mulanya Tulip dibawa dari Turki untuk ditanam di Leiden Botanical Gardens kala itu. Sejak saat itulah masyarakat Belanda langsung jatuh cinta dan semua orang ingin memilikinya bahkan sempat ada sebuah era bernama Tulipomania di tahun 1634-1637 dimana demam tulip yang begitu mengandrungi Belanda membuat harga tulip melambung gila-gilaan hingga dapat ditukar dengan berbagai macam barang berharga yang bernilai tinggi. Wow!

Tak heran jikalau kemudian tulip menjadi lambang nasional Belanda Meski kini tulip sudah lebih dapat ditemui dimana mana, kecintaan masyarakat belanda akan bunga ini masih begitu mendalamnya sehingga taman ini pun nyaris tak pernah sepi sejak ketika dibuka pada musim semi. Diperkirakan hampir 800.000 orang mengunjungi taman ini setiap tahunnya, termasuk saya.

Meskipun termasuk dalam tempat wisata mainstream, saya tak peduli. Melihat langsung tulip yang masih kuncup ini membuat mata berasa damai dan tercerahkan. Ratusan bunga tulip yang berjajar ini membuat hamparan bunga ini layaknya permadani raksasa dengan berbagai warna. Semua keindahan yang terpampang ini merupakan karya dari 40 tukang kebun yang menanam sebanyak lebih kurang 7 juta bibit bunga di pertengahan Desember dan akhirnya baru dapat dinikmati oleh para pengunjung tiga bulan kemudian. Menariknya, bunga tulip yang disukai adalah yang masih kuncup, bukan yang mekar. Jadi ketika mulai bermekaran, bunga tulip tersebut akan dipotong ujungnya agar dapat tumbuh kuncupnya lagi.
Keukenhof
Layers of Tulip
Selain tulip, sebenarnya masih banyak bunga lainnya yang dipamerkan seperti lily, bunga mawar, orchid dan lain-lain. Total ada 20 shows yang memperagakan beraneka bunga bunga indah dari seluruh dunia ini. Selain itu, setiap tahunnya Keukenhof dikemas dengan tema berbeda dan ditata dengan berbeda, jadi tak pernah ada kata bosan mengunjugi the most beautiful spring garden in the world, bahkan untuk setiap tahunnya.

Save the date!
Keukenhof akan buka kembali tahun depan mulai dari 23 Maret – 21 Mei 2017. Selain tanggal di atas, maka tempat ini tidak buka.

Anyway...
Jika punya mobil boleh deh coba ke belakangnya Keukenhof.. gak jauh di sana justru ada lahan kebun tulip milik pribadi yang kita boleh masuk dan melihat Tulip secara langsung. Kalau saya justru lebih suka ini karena lebih natural dan bisa puas berlama lama dan cenderung sepi. Ini nih baru yang namanya hidden gem!
Tulip
Warna warni tulip
Tulip
Tenang tulipnya nggak diinjek kok

Sunday, May 29, 2016

Tanjakan Curam Menuju Puncak Pulau Padar

Sejak gambar-gambar Pulau Padar menghiasi banyak timeline socmed travel, saya pun ikut-ikutan kepingin ke sana juga. Berdiri di atas batu sambil menghadap ke tiga cerukan sexy pantai di pulau padar adalah salah satu angan-angan saya jika kelak mampir ke flores.

Dan lewat ekspedisi #ExploreTheDiversity yang diadakan #AsitaNTT maka mimpi itu terwujud.

Berawal dari pelabuhan Labuan Bajo, saya dan teman blogger lainnya terlebih dahulu naik speed boat dari dermaga lalu berpindah ke sebuah kapal kayu di tengah laut, yang biasanya juga diperuntukkan untuk LOB (Live on board).
Bobo siang di kapal
Karena berangkatnya agak telat, maka perjalanan dengan kapal ini memakan waktu hingga 3 jam-an dikarenakan ombak yang sudah mulai tinggi sehingga jalannya kapal kami jadi pelan karena melawan arus. Bahkan saking pelannya kapal kami ditikung oleh kapal lain :))

Untuk menghabiskan waktu kami pun foto-foto, makan-makan, gosip, tidur, makan-tidur-foto-lagi hingga tak terasa di sisi kiri-kanan yang tadinya hanya tampak pulau pulau kecil timbul kini sudah terlihat dengan jelas pulau-pulau gersang ala flores. Yey beta sudah dekat!

Kami sampai di pulau padar ketika hampir tengah hari. Karena kapal besar tidak dapat merapat, maka kami membutuhkan speedboat untuk bisa mencapai ke bibir pantai pulau padar. Begitu tiba di sana, saya tidak disambut dengan lembutnya pasir, namun batu-batu pantai. Di sini juga tidak ada apa-apa. Tidak ada penjual tiket, calo atau ind*maret. Yang ada hanya sebuah jalan tanah ke atas, dengan kerikil besar-kecil serta tanjakan curam yang langsung menyambut. TOENG!
Tanjakan pertama begitu menggoyahkan kaki
Tanpa ba-bi-bu lagi saya mendaki, melangkahkan kaki sedikit-demi-sedikit sambil ditarik-tarik oleh richo, persis kayak kebo yang dicolok idungnya hihih. Tapi kalau gak gitu saya mungkin enggak naik-naik karena langkah saya beneran kecil-kecil sekali sedangkan tanjakannya dengan kemiringan sekitar 45 derajat itu bikin saya langsung semaput di awal. Huft!

Setelah ngos-ngosan di penanjakan pertama, keringat saya terbayarkan dengan pemandangan pantai di belakang bukit. Ah indah... namun bukan ini yang saya cari. Lanjutt!!!

Tanjakan berikutnya lebih manusiawi, tidak securam yang pertama dan jalanan pun sudah tidak licin banget karena banyak rumput kering yang bisa dijadikan pijakan jika takut kepeleset. Tapi...ada tapinya... jalurnya lebih panjaaannnggg! Kali ini si richo berganti posisi. Dia di belakang mendorong-dorong saya, mungkin mengingatkan betapa saya sudah ketinggalan jauh dengan teman-teman yang lain.
Semangat kakak!
Namun karena progress saya tidak begitu baik, dengan catatan sudah ditikung sama emak-emak, maka saya pun dengan ikhlas merelakan richo pergi duluan mendaki hingga ke puncak. Duh entar nggak ada yang motoin akuuu!
Istirahat pertama
Sementara saya mengatur napas, keringat makin bercucuran manakala semakin tinggi posisi saya, semakin dekat pula dengan matahari, artinya makin panas! Dari tanjakan kedua ini saya bisa lihat teman-teman yang lain sudah pada ngantri berfoto di batu yang dinaungi sebuah pohon. Wih kayaknya bisa nih ngadem di sana. Saya pun jadi bersemangat ke sana.

Sampai di sana... emang suasana jadi lebih adem karena "rest area" ini satu-satunya yang ketutup pohon jadi suasananya gak gitu menyengat.

Istirahat kedua sambil berjemur
Pulau Padar masih merupakan salah satu pulau yang dilindungi karena termasuk area Taman Nasional Komodo. Jadi ketika ada ibu-ibu di penanjakan mengajukan usul "wah coba ada yang jual minuman, pasti laris nih!". Saya yang dahaga pun langsung setuju.

Tapi kak oyan, seorang putera daerah yang juga punya usaha tur di flores menimpali, hal itu sepertinya mustahil mengingat nanti pasti bikin banyak sampah. Betul juga sih. Soalnya di pulau Komodo sendiri yang tentunya sangat dilindungi mengingat di sana hidup bebas komodo, malah ada penjual suvenir, makanan / minuman. Ketika jalan ke pantainya, saya mendapatkan sampah terongok bebas di sana. Sedih! Apalagi tidak terlihat ada tong sampah di sana.
Superwoman lagi istirahat
Balik di Rest area...istirahat di sini dengan dipayungi pohon serta hembusan angin sepoi-sepoi memang sangat membuai, seperti membuat saya ogah beranjak lagi. Sayangnya bebatuan karang yang saya duduki semuanya lancip-lancip dan menusuk-nusuk. Kalao kelamaan duduk, pantat jadi mati rasa dibuatnya. Mungkin ini pertanda saya harus jalan lagi.. kali ini menuju titik paling Instagramable se-padar.

Titik yang saya maksud adalah sebuah batu karang di ujung yang menghadap ke belakang tiga pantai tersebut. Tempat ini ditandai dengan sebuah saputangan di ranting dekat batu - batu tersebut. Beberapa temen saya yang sedari tadi di sini tampak tak puas-puas berfoto di sini, padahal nomor antrian sudah mengulur panjang. Sampai-sampai kak eka dan satya dengan niatnya masih sempat ganti baju buat pemotretan #OOTD. ya ampun niat banget yah... jadi isi tas mereka itu toh?ckck!

Karena titik paling tenar itu masih ngantri, maka saya putuskan tidak berfoto di sana namun agak ke sampingnya di mana saya liat gak beda jauh angle-nya kok. Bagus juga kan hasilnya?
Puncak tertinggi Padar buatku
Sebenarnya dari sini sedikit lagi (mungkin 10 meter ke atas) jika kaki saya belum loyo dan gemetaran, saya sudah bisa mencapai puncak tertinggi padar namun sepertinya cukuplah saya sampai di sini mengingat waktu pun tak banyak. Apalagi ketika turun, saya pun termasuk paling lambat. Sigh!

Jika diibaratkan motor, saya nanjak dengan gigi dua. Ketika turun, saya pake gigi 1. Takut kepeleset sih. Yang bikin paling mencemaskan adalah penurunan pertama itu. Saya awalnya turun dipegangi kak oyan, sewaktu turunan makin buas, saya pun berpegangan sama emak-emak dan suaminya. Jadilah kami empat serangkai berpegangan tangan turun satu-satu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika sudah kembali sampai ke bibir pantai batu, saya pun tak kuasa langsung masuk air. Wiihhh ademmm!! sayangnya ombaknya kencang banget, jadi saya urungkan niat berenang. Mendingan naik ke speedboat lalu kembali ke kapal.

Begitulah akhir perjalanan mimpi saya di pulau padar....
Turunnya susah ngerem karena licin
Tips :
1. Pakai sepatu, jika tidak sandal gunung.
2. Bawa minuman, namun jangan lupa membawa turun sampahnya yah.
3. Tidak ada toilet atau fasilitas apapun, jadi selalu ke WC dulu sebelum mulai trekking
4. Bawa topi, kacamata dan pake sun screen untuk melawan sengatan matahari.
5. Usahakan datang di pagi hari atau sore sekalian, jangan kayak saya yang hiking di siang hari bolong. Panasnya pol hingga ke ubun-ubun, meskipun hasil fotonya pun jadi baik sekali :p
6. Tidak ada porter atau sejenisnya, so good luck on your own :)

Simak juga video perjalanan kami dari Richotravelling :

Yang ini dari virustraveling :


Thursday, May 26, 2016

Bertamu ke Pulau Komodo Flores

Alkisah, dahulu kala hiduplah seorang putri di Pulau Komodo yang disebut dengan putri naga. Putri ini kemudian menikahi seorang pria yang bernama Majo dan kemudian melahirkan anak kembar, seorang bayi lelaki dan seorang bayi betina komodo. Si bayi laki-laki dinamakan Gerong, lalu kembarannya dinamakan Orah dan dibiarkannya hidup bebas di hutan. Sepasang kembar tersebut pun tidak saling mengetahui.

Bertahun-tahun kemudian, ketika berburu di Hutan si Gerong menembak sebuah rusa. Tapi ketika akan mengambil buruannya, tiba-tiba muncul binatang reptil besar yang mengambil rusa tersebut. Si Gerong berusaha mengambil kembali buruannya, namun naas si reptil besar sudah kabur beserta rusa tersebut. Segera si Gerong mengangkat tombaknya untuk membunuh komodo tersebut. Tiba-tiba saja, putri naga muncul ke hadapannya dan berkata "Jangan bunuh binatang itu. Dia adalah saudara perempuanmu, Orah. Saya telah melahirkan kalian berdua. Perlakukan dia seperti dirimu. Kalian berdua adalah kembar."

Maka sejak itu, seluruh penduduk pulau pun memperlakukan Komodo dengan baik. Hewan purba ini dapat berjalan bebas-puas tanpa perlu takut diburu. Mereka pun dapat memburu hewan seperti babi liar, rusa, dan hewan lainnya bahkan juga memangsa sesamanya.

**

Cerita rakyat di atas sangat menarik dan terpampang jelas tepat di samping peta walking trails yang ada di pulau Komodo, atau yang juga kerap disebut OH LIANG dan terletak di Flores, Manggarai Barat.

Kali ini saya datang jauh-jauh dari Jakarta, transit dua kali, naik kapal setengah harian, tujuannya hanya satu yakni melihat Komodo. Itu saja. Tak lebih. Karena saya sadar untuk selfie dengan hewan ini tentu saja sulit, kecuali saya merelakan anggota tubuh saya berpindah ke perut si komodo. :))

Komodo
Warna Komodo hampir menyerupai lingkungannya
Ketika turun dari kapal, sebuah jembatan batu telah siap menjadi sandaran dari kapal yang saya tumpangi. Jembatan ini juga merupakan satu-satunya pintu masuk ke Pulau Komodo. Sebenarnya, Komodo juga bisa dijumpai di beberapa pulau lainnya di Flores, bahkan temen saya kopertraveler bilang, Pulau Rinca justru lebih bagus ketimbang Pulau Komodo karena area trekking nantinya lebih bervariasi dan menarik. Entahlahh... yang jelas karena belum ke sana saya tidak tahu pasti.

Balik ke pulau komodo...
Dari jembatan, saya disambut gerbang komodo ala - ala. Dari sini saya bingung, mana satu kantornya? ato kok gak ada yang nyambut sih? Rupanya masih harus belok ke kiri, ketemu pedagang lokal jualan makanan / minuman dan suvenir komodo. Belanja..belanja..ibu..sayang anak..sayang anak!

Berhubung misi saya berjumpa komodo belum usai, saya urungkan niat untuk melihat oleh-oleh. Saya terus jalan hingga akhirnya diarahkan ke sebuah tempat terbuka di mana para ranger berkumpul. Di sini para pengunjung harus mengisi nama dan data mereka. yah biar ketahuan berapa yang berangkat dan berapa yang sudah dijadikan santapan komodo. Hihi!

Saya dan teman-teman kemudian membentuk kelompok kecil (6 orang) dengan satu ranger yang akan memandu kami. Pak hakim, ranger kami yang sudah bertahun-tahun di sini pun memberikan opsi mau ambil jalur trekking liat komodo yang mana : Adventure - Long - Medium - Short.

Berhubung kami barusan dari Pulau Padar, kaki masih loyo dan waktu yang diberikan mepet, maka kami tak mau berlama-lama trekking sehingga kalau bisa langsung ke sarang komodo saja. Maka kami meminta jalur Super Short yang notabane emang nggak ada di peta, sampai-sampai ranger kami dipanggil ama ranger lain karena disangka salah membawa kami, padahal kami yang ngotot minta hihi.
Komodo Ranger
Power Ranger
Jika jalur short biasanya sekitar 40 menit, jalur super short kami tidak sampai setengah jam dan kami sudah ketemu 3 komodo dalam perjalanan. Yeay! Kami trekking cuma sampai ke area Helipad (masih kagum ada helipad di pulau ini). Hewan hewan di sini kesemuanya liar namun mereka tipikal yang (harusnya) tidak tiba tiba agresif menyerang selama tidak diusilin. Katanya yang betina lebih agresif, oleh karena itu jangan dipancing-pancing seperti memainkan bandul, bergerak-gerak atau melemparkan barang ke hadapannya.
Komodo
Aku dan dia
Komodo biasanya hidup sendiri-sendiri (jomblo). Sehari hari mereka kebanyakan hanya diam (antara tidur atau merenung, tidak jelas), lalu sang komodo betina pergi mencari mangsa. Setelah dapat, dia pulang ke rumah membagi makanannya dengan sang terkasih lalu makanan yang disantap tersebut bisa tahan hingga sebulan di perut mereka yang gede itu. Ugh nggak heran mereka jalannya lambat dan males gerak :p

Lalu layaknya sepasang jantan dan betina, para komodo ini pun kawin, dan ujung-ujungnya si betina hamil selama 9 bulan. Namun karena ditinggal si pejantan, sang betina pun stress lalu bingung mau diapakan anak-anak hasil hubungan mereka itu. Terpaksalah ketika telur-telur yang telah dierami menetas, si ibu mungkin sudah blunder lalu disantaplah anak dari rahimnya tersebut. Si anak yang baru saja hadir di bumi ini pun bingung melihat hal tersebut dan hanya bisa kocar-kacir menyelamatkan diri tanpa sempat merasakan kehangatan kasih sayang ibu, apalagi bapaknya.

Hiks! Begitulah teman-teman. Kok nasibnya sedikit banyak kayak manusia yah?
Nggak heran kalau kata si ranger biasanya si komodo betina lebih berumur pendek dari yang jantan. Meski begitu, saat ini diperkirakan ada 3000 komodo di pulau ini. Emang pernah diitungin? Iya pernah! Kabarnya setiap komodo di sini terdata dengan baik loh. Hanya saja tidak diberi nama. Yaelah maklum aja secara bentuknya aja hampir sama dan sampai saat ini saya masih belum bisa membedakan yang mana jantan atau betina. Katanya sih yang betina lebih gede. Dan bahkan temen saya ima bilang yang betina keliatan dari bulu mata keliatan soalnya bulu matanya lebih lentik. Hm.. mungkin boleh ditambahi pensil alis untuk lebih memperjelasnya?

Setelah bertemu 3 komodo, 1 jantan, 2 betina, kami pun menyudahi trekking namun sempat melihat lihat pantai komodo karena kebetulan 2 komodo kami temukan lagi leyeh leyeh di sana. Hm..anak pantai juga rupanya! Di pantai yang nyaris nggak ada orang dan aktivitas ini, saya melihat batu karang merah yang menjadi asal muasal kenapa ada pink beach yang letaknya tak jauh dari pulau komodo ini. Kalau di pantai komodo ini sendiri sih pantainya biasa. Tetep indah namun tidak ada pink-pinknya. Yang mirisnya adalah ada beberapa sampah yang terlihat di sekitar pantai, jadi kadang kala foto komodonya berada di antara tumpukan sampah. Oh! kenapa ini bisa terjadi ya?

Batu karang merah.. yang bikin pink beach

Komodo
Komodo dan pantai yang berserakan
Komodo beach
Pantai di Pulau Komodo
Komodo beach
Jembatan Pulau Komodo
Info Tambahan :
1. Girls, selalu beritahukan kepada ranger bila anda sedang menstruasi karena bau daging busuk atau darah segar bikin komodo bisa langsung mendeteksi Anda bahkan dari jarak yang jauh. Di saat-saat inilah sang ranger akan langsung berubah menjadi power ranger yang akan menyelamatkan duniamu dengan menghalaunya pake tongkat kayu bercabang. Nggak mempan juga? Lari zig-zag / u-turn ke pos atau tempat panas yak. Dijamin si komodo jadi males..

2. Dilarang merokok.

3. Selalu hati-hati kalau di area dapur / rumah kayu karena biasanya si komodo lagi ngadem di bawahnya.

4. Komodo bisa berenang hingga 300 meter jadi jangan coba-coba adu kepintaran.
Komodo
Komodo juga anak pantai

Tuesday, May 17, 2016

Jatuh Sakit di Bandara Soekarno Hatta

Ketika mau ke Belanda..

H-1
Malamnya agak puyeng. Ah pasti karena kecapekan karena kemarinnya saya barusan nge-trip ke Gili Trawangan 3 hari juga. Dibawa bobo aja..besok pasti udah agak enakan.

Hari H
Pas bangun...duniaku berputar. Gejala ini persis sama dengan seminggu kemarin. Mungkin karena kebanyakan piknik dua bulan ini saya jadi rada kecapekan. Karena minggu kemarin sukses menghilangkan rasa puyeng dengan kopi susu, maka kali inipun saya berniat sama. Meluncurlah saya sempoyongan ke minimarket sejuta umat dan beli kopi panas Rp.3.000 saja. Secara saya nggak minum kopi dan gak tahu bikinnya, saya minta tolong #manja ke mas-masnya buat dibikinin, diseduhin, tuangkan dalam cup buat takeaway, tapi nggak diminumin sekalian yah :p

Sesudah balik kos dan minum kopi layaknya minum obat, saya baring lagi karena hari masih pagi dan penerbangan saya malam jam 6. Bisa deh tidur-tidur ayam. Tapi naas, ayamnya gak mau tidur. Kepala makin muter. Saya pun keluar lagi, kali ini ke warung depan gang merelakan diri menegak panadol merah. Ternyata nggak ada efek sama sekali. Ya ampun biasanya seumur-umur sakit kepala cukup dikasih Panadol Biru udah Greng! dan rasanya pun sangat beda. Tidak ada rasa sakit kayak kepala dijedotin cuma rasa dunia berputer bikin mules dan susah jalan lurus. Mual!

Kurang dari 8 jam
Saya was-was. Udah pukul 10 dan saya tidak ada gejala membaik. Saya belum makan pagi dan makin lemes apalagi setelah BAB perut kosong, kepala kosong. Saya sudah mengabari rekan perjalanan kondisi saya dan mulai memikirkan opsi ke dokter..tapi kok tanggung waktunya yah?
Tapi saya sadar sih saya harus mencari pengobatan, selain takut saya gak kuat dan pingsan. Di kos karena long weekend mana gak ada orang pulang. Duhhh!

Entah kenapa tiba-tiba saya terlintas pengen langsung ke bandara dan ngobat di sana. Saya pun googling dan memang bener ada Klinik Sentra Medika yang masih berada di satu komplek bandara. Mumpung masih sadar saya langsung telp bagian informasi bandara dan menanyakan seputar fasilitas klinik dan kesehatan. Si mas-mas dengan ramah menyatakan benar ada klinik tersebut dan di tiap arrival dan departure hall juga ada ruang kesehatan dan terbuka untuk umum. Wih saya langsung lega.

Saya pun beres-beres, pake baju, pesen Grabcar dan geret koper menuju bandara. Untungnya mas grabcar baik hati mau stop bentar buat beli nasi padang dulu yang saya makan di sepanjang jalan menuju bandara.

Kurang dari 7 jam
Saya tiba masih kleyengan di Terminal 2. Sepertinya nasi padang ayam panggang sedikit memberikan kekuatan untuk berjalan. Lalu sampai di sini saya bingung. Setau saya fasilitas klinik biasanya yang pernah saya liat adanya di kedatangan, bukan keberangkatan. Sedangkan checkin time saya masih lama. Saya sempat tanya ke bagian informasi, tapi dilempar jauh ke terminal ujung. Untunglah ditengah keruwetan, saya berjumpa dengan mbak-mbak CS berkaos ketat oranye dan saya minta tolong dianterin ke UKS, klinik, atau apapun itu namanya.

Si mbak-mbak begitu melihat saya yang sudah pucat, langsung mengiyakan sambil meminta saya duduk dulu sambil dia memanggil rekannya. Saya pun yang udah sempoyongan cuma manut menunggu. 5 menit...10 menit.. mana nih mbaknya.. saya cemas saya udah dilupakan. Lalu tak lama datanglah mas-mas ganteng berjaket uniform ijo (kalau gak salah tulisannya pengawas airport gitu) sambil membawa trolley.
Mas ganteng (M) : Pagi bu, ibu sakit?
Saya (S) : Menurut ngana???? uhuk tapi karena takut ditelantarin saya cuma pasrah bilang iya.
M : mau saya antar ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)?
S : ((oh itu nama UKS di sini)) mau mas..bawa aku..bawa!!
M : ibu masih kuat jalan?
S : Pengennya sih jawab nggak biar dianterin pake mobil golf itu loh tapi pura pura kuat aja deh. Kalau pingsan dia yang tanggung jawab!!

Kurang dari 6 jam
Bersama dengan si M yang bawaiin tas dan bagasi saya (bagai porter keren) kami menyusuri daerah terlarang terminal 2 karena saya belum check-in tapi saya bisa leluasa masuk ke kedatangan karena bersama si M. Jalannya cukup jauh juga muter-muter karena kami kan melawan arus dan lewat tempat yang kadang semestinya nggak ada penumpang boleh lewat. Sampai di salah satu KKP, staffnya malah sholat jumat. Hufftt!! lanjut lagi muter akhirnya... kami ketemu satu KKP entah di terminal kedatangan berapa, dan syukurlah dokternya wanita. Saya langsung diperiksa dan divonis Vertigo. Wiihhh saya baru sekali ini kejangkit penyakit ini. Seumur-umur belum pernah. Kata si dokter kalo vertigo yang penting jangan sampai kelaperan dan kurang tidur. Hm...Baiklah.

Kurang dari 5 jam
Di KKP yang besarnya 2x kamar kos saya itu, ada ibu-ibu habis umroh yang vertigonya lebih parah. Gak bisa lihat cahaya, harus merem terus, kadang suka nanggis2 sendiri, tapi ke WC puluhan kali. Katanya biar cepet sembuh ngono. Jadi hanya ada 2 pasien, termasuk saya saat itu. Setelah mencatat no tiket saya, saya pun diberikan obat vertigo dan disuruh tidur. Si M pun dengan lega menyerahkan saya di tangan yang telah berpengalaman.

Kurang dari 4 jam
Saya belum bisa tidur lelap karena aktifitas di KKP yang bikin selalu terjaga. Si M tiba-tiba datang dan menanyakan kabar. Duileh baiknya. Makin ganteng deh apalagi dia menawarkan saya untuk membelikan makan siang. Saya pun memberikan uang dan menyerahkan makan siangku padanya. Tak lama dia kembali dengan nasi, ayam cabe, kangkung, kentang udang balado. Wih apa dia lupa saya lagi gak napsu makan? Akhirnya saya kasih porsi kangkung sepiring itu ke mbak penjaga KKP. Mereka seneng deh. Si ibu vertigo mungkin sudah 5x lebih bolak balik WC dan harus ditemani karena dia merem doang. Saya pun lanjut tidurrr....

Kurang dari 2 jam
Setelah dirasa sudah baikan, saya pun bersiap-siap harus terbang karena rekan perjalanan sudah tiba. Si M pun datang kembali menjemput saya. Rupanya di sini fasilitas berbayar jadinya saya harus merogoh 200 ribu untuk sesi bed rest dan obat. Saya juga dikasi kuitansi yang warna ijo terus distempel gitu doang sebagai bukti pembayaran. Sebelumnya saya liat ibu hamil tua juga mengecek ke sini sebelum terbang ke Australia dan bayar 100 ribu. Sepertinya sih tak ada tarif resmi. Si M juga sempat tanya ke saya rupanya di KKP itu bayar yah. Mungkin dia jadi gak enak hati sama saya. Lalu saya pun diantar ke kedatangan dan berjumpalah rekan perjalanan saya dan si M. Loh!! Si M masih tetep ngintil saya sampai kenalan juga sama temen temen. Bahkan (masih) dengan dorongin trolley saya dia temani sampai ke check-in. Aduh saya takut dia ngikut terus dan gak mau pulang (halah!) lalu saya pun pamitan dan menjabat tangannya.

Ketika dia membalikkan badan dan berlalu...
Ups! Saya lupa kasih tips! Semoga senyum terkahirnya itu bukan senyum kekecewaan.

Jadi, kepada si M di mana pun Anda berada, siapa pun nama Anda, saya mungkin lupa mengucapkan rasa terima kasih yang sepadan dengan perhatian Anda. Namun saya tidak akan lupa bagaimana jadinya kalau saya tidak bertemu dengan Anda. Ceileh....udah macam postingan cinta aja nih!

Tertanda,
Pasien / Klien yang terpuaskan dengan jasamu.

****
Inti post ini cuma mau ngabari kalo di Bandara Soekarno Hatta Anda tak perlu cemas jika jatuh sakit atau butuh berobat, karena ada fasilitas kesehatan yang mumpuni. Recommended!

Foto-foto yang sempat diabadikan sebelum teler :

Tampak Luar

Registrasi dulu
Ranjang buat bedrest
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...