Thursday, September 15, 2016

Wisata Foto di Jernihnya Umbul Ponggok

Umbul Ponggok adalah sensasi sosial media di tanah air.

Umbul berarti timbul dan ponggok adalah nama desa di mana mata air tersebut berada. Jadi kalau digabung artinya air yang timbul di desa ponggok, Klaten - Jawa Tengah. Mata air ini berasal dari pegunungan yang ada di sekitar daerah ini. Salah satu alirannya juga dijadikan salah satu minuman kemasan ternama di negeri ini. Jadi tak heran lah yah udah dipastikan jernihnya.

Dari semarang, saya naik bus menuju lokasi ini, kira-kira 2 jam udah nyampe. Lokasinya berada di tepi jalan so you won't miss it!

Sekilas, tempat ini kayak kolam renang umum. Begitu masuk, suasana udah rame banget. Sekelilingnya dikerubungi manusia. Yah maklum kan lagi weekend.
Umbul Ponggok
Dari atas... bakal dibuka cafe atau resto gitu
Umbul Ponggok
Umbul Ponggok
Saya ama teman teman blogger karena sudah booking salah satu tukang foto di sana, langsung menuju ke salah satu tempat duduk yang ada di pinggir kolam. Dari pinggir kolam sih, ngelihatnya tidak bikin saya nyebur karena jujur seperti air - air kolam biasa. Saya malah sempat ragu dan pengen duduk cantik aja. Namun ngelihat temen-temen yang excited banget langsung nyemplung, saya juga akhirnya menceburkan diri.

*PLUNG*
Brrr....Dingin!!
Padahal hari udah jam 10.30WIB namun airnya berasa masih subuh aja. Biar nggak menggigil, saya terus berenang sehingga badan tetap hangat. Dari j

Berdiri di tepi kolam saja, saya sudah bisa melihat beberapa properti seperti motor yang dicemplungin. Wihh saking jernihnya nih kolam sebelum nyemplung aja saya sudah bisa melihat benda- benda properti seperti motor yang berada di dasar kolam. Di pinggiran kolam, dalamnya sekitar 1,5meter dan di tengah bisa sampai 2,5 meter sehingga bagi yang gak bisa berenang waspadalah.
Umbul Ponggok
Terlihat jelas dari atas
Awalnya sebelum ke sini, saya kira berbagai properti seperti yang sering terlihat di social media itu emang sudah ada di dasar kolam tinggal pengunjung datang bawa kamera terus jepret sendiri. Eh rupanya properti ini semua harus disewa per jam. Dan... untuk hasil terbaik sewalah tukang foto. Oalah pantesan semua foto di social media begitu indah..

Nah grup kami menyewa Zaura Photograph. Bergantian kami menunggu untuk difoto satu - satu.
Saya adalah tipikal orang yang gak bisa buka mata di air. Renang aja merem kok. Pas saya mau foto saya sempat gelalapan juga mengkondisikan mata saya agar terbuka. Belum lagi saya kurang mahir menyelam ke dasar.

Jika dilihat sekilas umbol ponggok ini gak dalam karena sebelum nyemplung saya sempat liat orang berdiri gitu. Rupanya mereka berdiri di atas batu (berlumut). Biar nggak kelelahan sebelum photoshoot, saya dipakaikan baju pelampung. Nah giliran udah mau foto baju tersebut baru dilepas dan saya kasih ke mas tukang fotonya. Habis itu baru deh saya bergaya.. jadinya gini deh.

Umbul Ponggok
Setelah berapa kali jepret.. so far ini yang lumayan.. daripada lumanyun :p
Ikan - ikan yang seliweran di kolam itu asli loh bukan ikan tipuan atau hasil photoshop. Mas tukang fotonya sengaja membawa makanan ikan yang dilempar ke saya biar ikan - ikan mencolek menghampiri saya.

Umbul Ponggok
So far this is the best.. walau mukanya maksa banget
Ada banyak yang mempertanyakan properti yang dicemplungkan di kolam tersebut apakah ramah lingkungan atau tidak. Setahu saya, properti seperti motor itu mesinnya udah dicopotin macam knalpotnya. Lalu bensin sama olinya juga udah dikuras habis biar gak mencemari airnya. Toh motornya gak selalu ada di air kok, hanya diturunkan kalau disewa.

Umbul Ponggok
Jernihnya macam di laut yah
Umbul Ponggok
Ada properti yang lain juga
Umbul Ponggok
Inih temen saya, Adlien paling jago dan foto di hampir semua lokasi. Salut!
Katanya dulu tempat inih cuma banyak dikunjungi oleh keluarga dan anak-anak namun sekarang karena heboh foto di dalam air, maka kebanyakan yang datang adalah anak muda yang tujuannya adalah berfoto. Yang ekstrim malahan tempat ini banyak dijadikan tempat foto pre wedding dan juga latihan buat diving dan bahkan seawalker. Heran? Sama!

Nah bagi yang udah datang jauh jauh, pasti pengen hasilnya yang bagus yang layak dipamerin di social media. Berikut saya kasih beberapa tipsnya :

1. Datang pagian.
Jam 6 gitu paling okay kata mas fotograger. Biasanya bookingan untuk prewed fotonya jam segini karena cahayanya paling bagus dan gak ada badan / kaki orang lain yang bocor di foto. Cuma yah dinginnya pasti bikin menggigil.

2. Pake baju kayak biasa kalau mau
Karena fotonya pengen kayak kondisi aslinya kayak lagi di daratan, gunakanlah baju / properti biasanya. Yah saya sih gak pake baju full karena berat - beratin badan dan gak nyaman aja. Rencana mau pake selendang ala ala gitu tapi kok yah ribet yah.

3. Pake pemberat
Nah ini bagi yang gak bisa tenggelam atau menyelam ke dasar, mas mas tukang fotonya udah nyiapi pemberat yang dilingkarin di pinggar biar bisa glup...glup...gluppp!
Kalau saya sengaja memilih properti yang bisa saya pegang macam kerangkang besi itu ama motor. Jadi bisa bertahan deh di bawah kolam.

4. Istirahat
Harusnya photoshoot itu menyenangkan. Tapi kalau udah ngerasa gak asik lagi, kecapekan, kehabisan ide, coba istirahat dulu sehingga bisa gantian orang lain di grupmu yang foto dulu. Cari batu batu gede buat pijakan atau segera pake baju pelampung biar bisa ngambang manja.

5. Cari pose sebelum dateng
Bagus juga kalau sebelum dateng udah tau mau pose apa, nyewa properti apa jadinya bisa menghemat waktu karena sewa tukang foto dan properti itu per jam loh. Jadi gak bingung sewaktu ditanya "mau foto gimana mbak?"

6. Sewa tukang foto
Unless you are professional underwater photography, consider hire the local photographer. Simpel alasannya. Mereka yang paling tahu medan. Mereka yang paling tahu dimana letak kerangkeng besi, gimana manggil ikan-ikan biar dateng. Saya menggunakan Zaura Photograph dan puas akan hasilnya. Disarankan booking beberapa hari terlebih dahulu. Hasilnya juga bagus dan bisa langsung dicopy ke flashdisk. 
Berikut daftar harga Zaura Photograph :
Foto 30 menit max 3 orang : Rp.60.000
Foto 1 jam max 6 orang : Rp.100.000
Sewa properti becak / motor : Rp.100.000
Sewa sepeda ontel : Rp.30.000
Sewa meja set TV/Laptop : Rp.60.000
Paket mermaid : Rp.350.000
Paket couple mulai dari Rp.500.000
Paket prewed mulai dari Rp.1.500.000

Untuk fasilitas, di Umbul Ponggok sudah tersedia wc, loker, penjual makanan jadi bisa banget buat yang mau piknik murah meriah. Untuk anak-anak juga tersedia kolam kecilnya sehingga cocok juga buat piknik sekeluarga. Jadi, Ada yang pengen nyebur ke Umbul Ponggok?

**
Jam Operasional Umbul Ponggok : 06.00 - 17.00 WIB

Harga tiket masuk : Rp.15.000
Jika mau hemat ada paket khusus Senin - Jumat Rp.30.000 sudah termasuk tiket masuk, alat snorkel dan pelampung.

Friday, September 2, 2016

AADC Trail di Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam

Sepasang muda-mudi berjalan dalam gelap subuh, menapaki jalanan sempit hingga tiba di puncak.
Tampak kabut masih menyelimuti pemandangan hijau di depan. Dari kejauhan candi borobudur masih terlelap diiringi gunung merbabu di kiri dan gunung merapi di sisi kanan. Kelap - kelip beberapa lampu rumah bagaikan kunang- kunang raksasa.

Sang gadis lalu berkata "Itu bangunan tempat kita ngobrol tadi?"
"Iya."Sang pria menjawab.
Mereka pun saling berpandang-pandangan sebelum akhirnya sang pria menarik tangan sang gadis lalu bersama - sama berlari menuju bangunan yang menyembul di bukit Rhema.

**

Bagi penggemar film AADC 2 sudah pasti adegan ini masih membekas di memori. Bikin deg-degan karena emosi saya seperti diaduk-aduk sambil menerka - nerka bagaimana kelanjutan hubungan sejoli ini.

Adegan di atas juga bikin saya tak sabar mengunjungi tempat - tempat yang saya lihat di film tersebut. Malam sebelumnya, saya sudah berencana untuk bangun pagi jam 4 subuh lalu cabut ke Punthuk Setumbu. Namun apa daya, rencana tinggal rencana.

SAYA BANGUN KESIANGAN!

Jam lima saya terbangun karena grup saya sudah tiba di depan home stay saya yang letaknya di kawasan desa wisata Candi Borobudur. Dengan secepat kilat saya masuk ke toilet, lalu menyambar kamera dan jaket dan keluar siap untuk berangkat ke Punthuk Setumbu.

Ketika di jalan, matahari sudah mulai mengintip. Saya cemas momen-momen AADC tersebut bakal terlewatkan. Ketika tiba di jalan masuk menuju bukit Punthuk Setumbu, saya dan teman -teman lalu dikerubungi ojek pangkalan yang langsung menawarkan jasanya. Maaf mas saya maunya gojek apa grab. Ups!

Dengan perut kosong dan mata masih setengah tertutup, saya mulai menanjak. Pengennya sih jadi cinta yang disenteri jalannya ama rangga, apa daya yang ada cuma pedagang asongan yang getol nawarin pop mie dan air minum.

Makin senewen ketika melihat bunda nia, salah satu koordinator trip saya yang naik ojek ke atas, cuma 10rb lagi katanya. Huft! Memang sih jalur pendakiannya cukup curam, membuat mata saya melek di 10 menit pertama. Namun begitu tiba di satu titik, bunda nia yang naik motor terpaksa diturunkan karena hanya sampai di sana saja. Yaelah pantesan murah :p

Saya kira dari jalur tersebut sudah tinggal sebentar lagi, namun rupanya baru setengah jalan sodara-sodara!

Keringat mulai bercucuran, kaki mulai kram namun saya tidak bisa berhenti. Hari sudah mulai terang dan saya tak boleh melewatkan momen - momen sunrise.

Ketika akhirnya tiba di punthuk setumbu, sudah jam 6 pagi. Hari sudah terang benderang. Untungnya sewaktu saya melihat ke depan, kabut kabut tipis masih tampak sedikit, memberikan nuansa magis pada ujung titik teratas candi borobudur.
Punthuk Setumbu
Bisa lihat Candi Borobudurnya?
Sebelum ke sini, saya sempat googling foto Punthuk Setumbu dan biasanya fotonya menunjukkan candi borobudur dari jarak dekat. Udah sampai di sini, saya baru ngeh candi borobudur itu masih jauh banget di sana. Kalau di lihat dari sini, yah cuma secuil aja, kecuali bawa kamera tele yang panjang itu. Okaylah... saya cukup menikmati dari kejauhan.
Punthuk Setumbu
Lagi mikir.. kok bisa cinta tetap cantik setelah nanjak di punthuk setumbu???
Setelah matahari naik, orang - orang pun mulai beranjak turun. Saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan ala Rangga dan Cinta trekking ke bangunan menyembul yang terlihat dari sisi kiri Punthuk Setumbu.

Perjalanan kurang lebih 20 menit tersebut menghantarkan saya pada pantatnya gedung merpati. Gedung yang berupa gereja ini disalahartikan oleh para turis sehingga lebih dikenal dengan sebutan gereja ayam. Padahal niat sang pemilik memilih bentuk merpati yang dalam agama kristern menyimbolkan perdamaian.
Gereja Ayam
Rangga, yuk manjat itu!
Dari depan dan belakang gedung merpati, sudah ada pos penjagaan tiket. Guide yang mengantarkan saya dan teman teman lalu bergegas masuk ke dalam gereja ayam dan mendaftarkan rombongan kami agar dapat no urut untuk naik ke kepala burung. Antriannya udah sama kayak beli sembako murah.

Gereja Ayam
Kondisi di dalam gereja ayam
Setelah puluhan nomor lewat....
Rombongan saya pun dipanggil. Saya tak menyia-nyiakan waktu untuk naik tangga.
Kalau Rangga dan Cinta boleh lari-larian pas naik tangga, saya dan teman - teman kudu ngantri dan pelan pelan. Maklum.. karena masih pembangunan, gedung ini sebenarnya masih rawan sehingga pengunjung memang harus dibatasi agar tidak merusak bangunan ini. Di beberapa lantai juga ada penjaga yang berjaga dan mengingatkan waktu yang tersisa.

Sampai di atas, saya dan teman - teman cuma punya waktu kurang dari lima menit.
Baru juga foto - foto bentar, mas nya yang duduk di atap burung itu sudah ngingetin
"Ayo mbak.. waktunya sudah habis"
Awalnya kami masih cuek saja hingga walkie talkie mas itu makin berisik dan dia pun mulai meneriaki kami satu - satu buat turun.

Duh..anti klimaks deh! Tentu saja adegan Rangga - Cinta yang khusyuk memandang semburat langit berwarna - warni itu sama sekali tak saya dapatkan.

Ya wes yang penting kebersamaan bareng teman - teman tetap terjalin mesra. Wefie yukk!
#AbaikanMasnya
Gereja Ayam
Atap gereja ayam
Gereja Ayam
Buntut si merpati
So far, perjalanan trekking pagi - pagi buta ini menyenangkan banget, terlepas dari membludaknya wisatawan karena booming film AADC. Lesson learned, besok pagian datengnya, bawa air minum, makan dulu dikit dan ke WC dulu karena belum ada fasilitas apa - apa di sekitar obyek wisata ini.

**
Info :
Tiket masuk Gedung Merpati : Rp.10.000

Tiket masuk Punthuk Setumbu : Rp.5.000

Tersedia ojek (di Punthuk Setumbuk) dan jeep (di Gereja Ayam) bagi yang gak mau capek

**
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah) 


Gereja Ayam
Tertanda,
Cinta yang masih mencari Rangga

Thursday, August 25, 2016

Go Green Traveler

Sebenarnya gak perlu jadi traveler pun, saya dan kamuh-kamuh sedikit banyak bersalah karena telah meninggalkan jejak karbon atau sampah di muka bumi ini. Nah, pas traveling lebih banyak lagi karena kebanyakan pakai pesawat, jalan-jalan, beli makanan, nginep di hotel air minumnya botol plastik, etc. Untuk menyeimbangkan dosa ini bolehlah yah saya dan kamuh-kamu mencoba lebih go green. Pelan - pelan aja. Sebisa mungkin. Berikut beberapa tips yang sudah saya jalankan untuk program cinta bumi #hazeg

1. Bawa kotak / bekal makanan
Buat yang doyan-doyan bungkus, gak usah malu bawa - bawa kotak makan. Sudah sebulan ini, karena berganti makan nasi merah, saya selalu bawa nasi ini dari kos ke tempat kerja. Dari yang awalnya selalu pake kantong plastik kecil dan tempat bungkus nasi, sekarang saya cukup bawa kotak nasi untuk bungkus lauk. Mana saya makannya sering kan yah, jadi lumayan sehari menghemat plastik 2-3kantong. Sekarang tidak hanya ada kotak nasi, saya juga beli kotak - kotak makan mini buat sayur. Lumayan juga loh dengan kotak ini saya bisa mengontrol jumlah konsumsi yang saya inginkan. Selain itu bisa buat bungkus untuk bawa pulang kos malemnya.

Sewaktu liburan terakhir bersama keluarga di Bali, saya sengaja memilih vila biar ada dapur. Jadi pagi-pagi sebelum berangkat, saya masak beras merah dulu buat bekal seharian dan pake kotak makan. Memang sih diakui kotak makan dan printilannya agak meribetkan barang bawaan, apalagi pas gak ada tempat buat nyucinya. Tapi tetap saja saya usahakan dipake karena niscaya selalu lebih banyak manfaatnya misal untuk bekal buah di jalan, atau saya biasanya bungkus sesuatu buat makan pas di bandara / jalan dan buat bungkus makan sisa kalau gak habis. Lumayan banget deh buat menghemat tempat makan yang berpotensi jadi sampah jahat misal plastik, stereofoam, kertas, dan kantong plastik (baca lebih lengkap di bawah).

2. Less plastic
Bayar Rp.200,- sepertinya belum ampuh untuk mengurangi pemakaian plastik. Ya iya karena harganya gak berasa gitu. Namun, saya sudah selalu membawa tas khusus belanja kemana-mana. Jika sedang jalan - jalan, kalau belanjaan bisa masuk tas, yah saya masukin. Atau kalau lagi pas beli air botolan yang gede dan lokasi gak jauh yah saya tenteng aja (meski pegel). Jika emang gak bisa barulah apa boleh buat.

Kalaupun gak belanja di supermarket yang bayar, misalny pas beli nasgor di warteg kalau bisa juga selalu bawa tas sendiri yah. Namun lucunya, saya kadang menolak plastik eh malah pedagangnya yang ngotot harus pake plastik. "Malu dong..", "Gak enaklah.." biasa jadi alesan si penjual. Lah piye saya aja gak malu dan biasa aja :|

3. Pilih hotel yang go-green
Nah masalah di poin 2-5 mungkin bisa sedikit teratasi kalau kita memilih akomodasi yang lebih ramah lingkungan. Sekarang udah banyak loh dan tempatnya tetap asik. Contohnya pas saya nginep di Sandat Glamping, penginapannya mewah tapi tetap mengusung konsep go green.

4. Tidak mengambili toiletries (kalau diambil maka dibawa pulang dan pakai habisin)
Saya adalah pecinta toiletries imut-imut. Biasanya dulu semuanya saya pake dan tes-tes gitu. Terus akhirnya saya mikir itu sabun batangan yang cuma sekali saya gunakan akan bagaimana nasibnya yah setelah saya check-out? Dibuang? Atau dipakai sama tamu berikutnya? Ini tips saya

Pilih hotel yang go-green juga pengaruh loh
5. Jangan sering sering bersihin kamar
Ngaku aja deh biasa di kamar / kos sendiri belum tentu juga bersihin kamar tiap hari. Nah mentang mentang di hotel / villa setiap hari HARUS bersihin kamar. Berapa banyak coba air yang dihabiskan buat nyikat WC yang masih bersih itu? Belum lagi listrik buat vacuum cleaner kamar dan tenaga tenaga lain yang harus dikeluarkan. Jadi biasanya kalau cuma nginep dua hari saya minta gak usah dibersihin. Selain itu, saya juga risih kalau ada orang masuk kamar, walaupun cuma buat bersihin.

6. Hemat listrik
Hayo siapa yang suka buka - bukain TV tanpa ditonton. Alesannya... kan sayang udah bayar mahal! Ya ampun. Begitu juga dengan lampu wc, AC bahkan juga nih ampe kunci tetap maunya dicantolin aja di kamar buat ngecas HP doang sementara semua listrik dibiarkan nyala dan orangnya keluar kamar. Kezel!

7. Habiskan makananmu
Ini salah satu bab yang ada dalam buku Trinity and I couldn't agree more. Giliran makan di hotel aja, ambilnya banyak-banyak. Kalau dihabiskan yah nggak apa-apa (kayak saya), tapi kalau cuma mau coba secuil yah ambillah sedikit. Kasian tuh makanannya pasti nanggis kalau dibuang. Saya nggak merasa malu kok kalau ambil sedikit namun sering, daripada ambil sepring namun tidak dapat menghabiskannya. Mungkin hal ini saya lihat karena piring hotel selalu gede banget sehingga memacu kita memenuhinya, yang sejatinya di luar batas mampu kita. Oleh karena itu, biasanya saya ambilnya pake piring buah yang mini itu agar menjaga batas konsumsi saya.
Habisin! kalau gak tar makanannya nanggis. Gitu kata mama
8. Bawa botol air minum
Biasanya dua botol air minum gratis di kamar itu langsung habis di malam pertama saya nginap di hotel. Jadinya ketika makan pagi, biasanya saya bawa botol buat isi ulang. Lumayan banget buat bekal air minum di jalan. Kalaupun nggak keluar, yah gak perlu lagi minta air botolan.

Buat kalian juga menyematkan (sedikit/banyak) prinsip go green dalam acara jalan-jalan, boleh dong share tips-nya buat saya dan pembaca lainnya. Salam lestari!

Monday, August 15, 2016

Kebiasaan mengambil Toiletries Hotel

Saya mau ngaku nih :
Sejak makin getol traveling dan kerja di majalah travel setahun belakangan ini, saya tak pernah lagi beli sabun mandi.

Bukan! Bukan karena saya nggak mandi atau gak punya duit tetapi gegara kegemaran saya ngumpulin sabun mandi dari hotel / villa yang saya tinggali. Terakhir saya beli itu satu batang sabun mandi lifebouy and that's it! Hingga sekarang saya masih pakai sabun batangan dari Hotel di Amsterdam. LOL!
Toiletries
Toiletries itu begitu menggoda
Kesannya saya kikir amat yah? tapi kalau saya mikirnya ini salah satu usaha mengurangi sampah.

Gini loh...
Saya tuh paling gak bisa tahan liat botol-botol kecil aneka rupa dan warna yang tersedia di kamar mandi. Entah itu botol sabun, shampoo, kondisioner, body lotion, atau sabun bunder cuci tangan. pokoknya banyak deh.

Nah biasanya walaupun ukurannya mini, namun rata-rata saya cuma nginep sehari dan perkiraan mandi cuma 2 kali (atau sekali doang kalo capek langsung zzz). Nah biasanya juga saya gak bawa toiletries sendiri sehingga biasanya pake sabun / sampo di hotel. Untungnya sih saya gak gengsi dan cocok-cocok aja...

Ketika mau check-out saya liatin ini botol masih ada 3/4 isinya.. saya suka parno takut dibuang (seringnya emang dibuang dan diganti dengan yang baru) ama housekeeping-nya padahal kan masih bisa dipake banyak banget. Gak usah pas check-out pas dibersihin harian aja kadang bekas sabun cuci tangan bunder itu udah hilang dan diganti yang baru. Kemanakah sabun-sabun itu semuanya?

Kalau saya sih pikirnya biasanya dibuang secara housekeeping gak mau repot mending dilempar ke tong sampah daripada dipungutin satu - satu. Adakah kemungkinan diisi ulang? mungkin aja sih kalau yang botolan gitu tapi saya pun belum pernah liat secara langsung sehingga agak ragu. Daripada begitu, saya mengakalinya dengan membawanya pulang saja biar bisa saya pakai lagi.

Tidak hanya Toiletries yang pernah saya embat tetapi barang gratis lainnya seperti :
pencuci mulut, scrub mandi, hygiene water, tapi sering juga beberapa free items seperti tas rajut, kipas tangan jadul, dan kain batik.

Namun seiring membludaknya toiletries ini, maka saya sepertinya perlu mengevaluasi kebiasaan ini dengan cara :
1. Menahan keinginan
Kalau saya hanya menggunakan sabun itu sekali saja selama menginap, mendingan saya gak usah pakai sama sekali daripada sabun itu cuma dibuang atau malah dikasih pakai ke tamu berikutnya. Eew? We never knows.

Selain itu, saking seringnya nginep di hotel, sekarang saya cukup picky. Saya cuma mau pakai produk / gratisan yang lucu atau yang emang saya suka / berkualitas. Ntah itu karena harumnya, nyaman di kulit dan lain lain. Biasanya juga saya hanya mengambil barang dari minimal hotel bintang 3+. Kalau hotel kecil / murah jangan deh itung-itung bantu mereka hemat toiletries.

2. Berharap / memberikan saran ke hotel / villa agar menganti botol botol sabun / sampoo dengan tempat sabun / sampo yang lengket di dinding. Pastinya mengurangi banyak sampah botol kecil itu dan bisa ngambil sabun / sampo sesuai kebutuhan. Setuju?

3. Kalau udah dipake, bawalah pulang kan bisa buat next trip atau dikasih ke siapa gitu yang butuh. Kadang yah di rumah di USA, mereka meletakkan toiletries dengan kualitas bagus hasil nginep di hotel berbintang buat dipake tamunya. Misal body lotion gitu..  Memang sih kalau nginepnya di hotel / villa mahal biasanya mereka punya produk toiletries yang baik sehingga gak tahan kalau gak diambil heheh mana pikirnya kapan lagi yah kan nginep sini :p

4. Donate / ikut terlibat di NGO yang me-recycle toiletries hotel yang nantinya akan disumbangkan ke orang yang membutuhkan seperti contohnya Clean World etc atau ke mana aja yang butuh bantuan barang-barang tersebut.

Selain toiletries, ada juga barang gratisan lainnya yang menggoda buat dimasukin ke koper
Nah jadi lain kali kalau ketemu saya dan ngerasa wangi badan saya beda - beda, anda boleh tanya "Kali ini sabunnya dari hotel mana?" hihih

**

Adakah yang punya pengalaman atau pendapat seputar toiletries ini? atau ada yang seperti saya, yang masih punya banyak toiletries cadangan hingga beberapa bulan ke depan?
Anak kos banget deh saya yah....

Wednesday, August 3, 2016

Ini kenapa kamu harus menawar di Bali

Bali adalah salah satu daerah yang paling sering saya datangi tahun ini. Saya datang atas undangan, kerjaan, review, bawa keluarga ataupun hanya leyeh-leyeh saja melepaskan diri dari Jakarta. Sejak pertama kali datang di tahun 2011, saya tahu pulau ini berbeda. Suasananya asik. Orangnya ramah. Alamnya indah.

Tapi, seperti kebanyakan daerah tujuan wisata yang populer, Bali tentu punya sisi kelam salah satunya adalah pelaku industri menaikkan harga jual mereka. Di Bali misalnya, ada harga bule dan harga lokal. Kebanyakan tempat menjual produk / jasa mereka lebih tinggi dari yang biasa namun dapat ditawar kecuali sudah tertera kalo harga pas atau diberitahu sebelumnya. Sebenarnya ini berlaku di mana saja sih. Namun apesnya kali ini saya kena harga yang digetok mahaaalllll banget.. setara harga bule..itupun mungkin masih mahal lagi :(

Saya akui, saya adalah orang yang paling bego menawar. Saya tipikal yang mudah percaya. Saya pun takut kalau menawar malah ntar penjualnya untungnya dikit, kasian. lalu nanti hidupnya tetap susah. Secara orangtua saya juga berdagang jadi saya suka prihatin dan kadang sebel juga ama yang nawar terlalu murah. Namun imbasnya yah itu. Saya seringkali dapat harga yang lebih mahal. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya selalu membawa teman lokal untuk menawarkan atau kalau gak mau ribet yah belanja di tempat yang sudah harga pas seperti di krisna daripada ke Sukawati.

Sayangnya, nggak semua kesempatan bisa begitu. Di beberapa tempat tetap saja dapat harga yang kadang nggak masuk akal. Dan lebih gak masuk akal lagi karena saya justru mengiyakan, lalu kadang menyesal kemudian.
Duduk termenung di Tanah Lot
Kepang di Pantai Kuta
Harga Awal : Rp.200.000
Harga yang akhirnya didapet : Rp.80.000
Kami meminta untuk dua orang dan me-request kepang yang bukan satu - satu kayak Bob Marley itu namun lebih ke kepang modern yang di depan dikepang lalu disambung ke belakang. Saya rasa harga ini pantas mengingat mbak-mbaknya tidak membutuhkan modal apapun selain sisir dan karet rambut 2 biji. Jadi yang saya bayar adalah skill mbak itu mengepang selama 15 menit.

Sewa Kursi Pantai di kuta
Harga Awal : Rp.100.000 / kursi
Harga yang akhirnya didapat : Rp.70.000 untuk 2 kursi
Sebelumnya sewaktu kami datang di pantai kuta jam 12 siang, kami mendapatkan satu kursi dengan harga Rp.50.000 namun untuk satu jam saja. Tidak masalah karena kami hanya butuh satu kursi sebentar sambil menunggu jam check-in hotel. Nah begitu kami datang lagi ke pantai kuta sore harinya (tempat berbeda) kami mendapatkan satu kursi dibanderol 100rb, saya pun emoh karena toh yang duduk hanya saya dan ibu saya saja. Akhirnya saya pun pesan satu aja. Eh rupanya dia sendiri akhirnya yang menawarkan 70rb saja untuk dua kursi. Kabar baiknya boleh dipake sampe mereka tutup (ketika matahari tenggelam)

Belajar Surfing
Harga Awal : Rp.400.000
Harga yang didapat : Rp.200.000
Ini berkat teman saya yang berpura pura bahwa adik saya yang ingin surfing adalah tamunya sehingga mereka pun mau menurunkan harga menjadi setengahnya. Durasinya 1 jam di mana adik saya diajarkan basicnya dulu di pantai, lalu baru praktek ke laut. Dia juga dipinjami baju surfing lengan panjang. So far dia puas dengan hasilnya.
Belajar Surfing
Water Sport di Tanjung Benoa
Sampai saat ini, kalau mengingat pengalaman ini rasanya jadi kesel sama diri sendiri. Jadi awalnya saya yang salah karena membawa keluarga saya ke tanjong benoa tanpa cek&ricek ke inet dulu termasuk harganya karena toh kami lum tau mau main apa saja. Di hari yang ditentukan, atas saran temen & supir kami di drop di Bali Indah Adventure yang paling pojok. Dibilangnya sih ini udah paling murah dan saya percaya mereka. Begitu turun mobil, kami tiba di Bali Indah, namun saya tetap melengos saja langsung ingin ke pantai melihat. Eh mbak mbaknya malah marah-marah manggil saya katanya pesennya di sini aja. Okeylah saya balik ke meja dan langsung ditawari sederet aktivitas. Memang saya lihat harganya mahal mahal karena kalau tidak salah pake rate USD. Namun si mbak menyakinkan saya bahwa nanti dikasih diskon karena harga paket. Okay saya dan keluarga pun langsung kasih tahu permainan yang kami ingin naik yaitu
Banana Boat 7 orang
Parasailing Adventure (bukan yang ditarik dari pantai tapi dari kapal dan bisa bareng dua orang langsung) 4 orang
Momen (masih) bahagia
Mbak tersebut pun langsung sibuk memainkan kalkulator dan keluarlah harganya yang diluar perkiraan 2,75 kalau gak salah untuk keseluruhan. "Mahal banget" begitu dalam hati saya. Saya pun menawar untuk 2,5juta. Si mbak lalu bertanya ke atasannya (mungkin) lalu bilang tidak bisa. Lalu ya udah karena toh kami juga ingin main saya deal di harga 2,6juta untuk semua.

Permainan berlangsung seru dan semuanya menyenangkan. Namun pas pulang saya ketemu sodara yang bilang bahwa dia hanya bayar 100rb untuk parasailing (asumsi parasailingnya sama). Saya pun langsung kebakaran jenggot lalu sadar biaya water sport itu
Banana Boat 7 orang = 1jt
Parasailing 4 orang x 400rb(!!) =1,6jt

Belum selesai saya kesel, saya cek lagi di inet rata-rata parasailing (yang di pantai itu) ada yang hanya 70 rb. Alamak!! Alangkah mahalnya harga yang saya dapatkan. Lebih dari 4x lipat!!!! Jika hanya 2x lipat saya tentu gak sekecewa ini tapi ini keuntungan yang di mark-up gila-gilaan.
Saya tidak tahu apakah memang Parasailing Adventure harganya bisa jauh beda sama parasailing reguler yang hanya bisa sendiri dan ditarik dari pantai. Ada yang punya pengalaman?

Tapi yah udahlah mau marah semua sudah berlalu.
Mau menuntut toh saya yang bodoh sekali masa nggak mikir segitu kemahalan (I really have no idea how much parasailing is).
Mau  mengutuk mereka, cuma bikin tambah jengkel dan dendam.
Akhirnya saya cuma bisa pasrah tulis di blog ini aja.

Semoga keuntungan gede hari itu yang mereka dapatkan menjadi berkah.
Semoga ke depannya yah bok kalau mau cari untung jangan segitu gedenya juga kenapa?
Dan...buat saya pelajaran berikutnya harus selalu cek & ricek harga apalagi kalau sudah tau gak bisa nawar.

Oh satu lagi bonusnya, habis parasailing kaki saya keserimpet di sana, lalu bengkak dan gak bisa jalan malemnya sampai harus diurut. Ya tuhan sialnya dobel banget hari itu. Rasanya pengen putusin tali parasailing dan jatuh ke laut aja deh. T.T

Semoga saya bisa memaafkan diri saya sendiri. Amin

Ada yang punya pengalaman dapat harga keMAHALan di Bali?ato di mana saja? Mari berbagi kekesalan :p

Monday, July 25, 2016

Traveling as Introvert & Extrovert

Saya Introvert.
Anda boleh cek dari hampir semua socmed saya, tak ada satupun hal pribadi tentang keluarga, mantan, perasaan, masalah, dan bahkan ketika saya opname di RS pun tidak ada jejaknya di social media karena memang saya tak suka mengumbar hal seperti itu. Lagian apa faedahnya? untuk memamerkan kemesraan? untuk menjadikan trending topic? Buat saya masalah personal tidak perlu diumbar, tidak nyaman saja pokoknya. Oleh karena itu, orang hanya tahu betapa bahagianya saya saja. Well.. padahal hidupku aslinya tak selalu seindah Instagramku.

Kalau Introvertnya lagi dominan, pengennya masuk ke mulut buaya aja
Saya Extrovert.
Saya ingin tampil. Saya suka difoto. Saya ingin orang lain mengenal saya. Saya cukup percaya diri. Saya tak minder bepergian tanpa make-up dan berpose dengan menggunakan bikini. Mungkin itu juga kenapa dulu saya senang ikut kontes / peagents. Bagi saya hal hal baru dan perhatian publik itu sesuatu yang menyenangkan, dalam skala berkecukupan dan masih normal batasnya.
Kalau lagi Extrovert, Koala aja diajakin ngomong terus. Padahal dia ogah hihi

Saya Introvert - Extrovert.
Nah things get complicated when I have both! terutama ketika lagi jalan-jalan.
Ketika Introvert saya lebih dominan, saya malas ketemu orang dan harus memperkenalkan diri lagi sehingga menolak undangan "networking" ataupun meetup.
Ketika Introvert saya lebih dominan, saya hanya di hotel saja nonton TV dan males mau kemana mana.
Ketika Introvert saya lebih dominan, hal hal kecil seperti digigit nyamuk, belum BAB, dapat mempengaruhi mood saya. Walau lagi berada di tempat yang indah, namun tak jarang saya malah cemberut.
Ketika Extrovert saya lebih dominan, saya menghabiskan waktu untuk mengambil foto layaknya supermodel dan itu bisa memakan waktu lamaaa sampai dirasa ada yang Instagram-able, padahal harusnya saya menyisakan juga waktu untuk duduk meresapi keadaan sekitar atau berbicara dengan orang lokal.
Ketika Extrovert saya lebih dominan saya tampak sangat outgoing namun nyatanya mungkin saya menyimpan kata kata / perbuatan yang dirasa tak mengenakkan hati.
Ketika Extrovert saya lebih dominan, orang orang selalu berfikir saya pribadi yang ceria lalu mengajak saya kemana mana dan saya iyakan walaupun nyatanya mungkin saja all I want is just to be alone.

Jadi bagaimana saya mengatasi pergolakan dua batin saya ketika dalam perjalanan (dan juga sehari hari)? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi introvert ataupun extrovert cuma lebih baik sih seimbang antara keduanya sehingga kita tak terlalu diam (tar bikin orang BT / kirain kita lagi ngambek gak jelas) atau terlalu heboh (dikira cari perhatian berlebih / alay).

Kita emang gak bisa memilih antara jadi introvert atau extrovert karena udah bawaan orok tapi tentu kita bisa dengan bijak menanggapinya agar kedua kepribadian ini tidak ada yang sangat dominan sehingga bisa membuat mood turun naik macam rollercoaster.
Ini beberapa tips yang saya siasati agar tetap tenang - meski lagi high (extrovert) atau down (introvert) - dan menikmati segala hal.

Ya siapa tahu ada yang kayak saya juga. Toss!
1. Selalu bersyukur
Syukur-syukur masih bisa jalan-jalan, masih sehat, belum ada tanggunan, ada yang mau ngajakin dan belum ada yang nyinyir jadi kalaupun ada yang gak enak, yah dinikmati aja semua biar mood tetap baik.
2. Mengontrol perasaan.
Belajar mengontrol perasaan itu tidak mudah apalagi kadang saya cenderung berpihak pada perasaan sendiri. Maunya saya sih melankolis melankolis nestapa gitu tapi gimanapun harus diupayakan biar nggak terlalu gitu. Caranya yah menjauh sebentar, istirahat, dengerin musik biar kembali lagi moodnya atau terus memberikan sugesti yang baik. Kalau lagi hyper-hyper-nya, yah gitu juga harus diredam dikit biar gak terlalu senang.
3. Think Logic
Nah ini juga susah berhubung saya dominan di perasaan. Paling kalau udah capek galau sendiri, baru deh otaknya jalan dan mikir "Ih udah bagus bisa nyampe sini, bodo amat ama orang yang menyebalkan itu" lalu saya pun berlalu dan melanjutkan perjalanan.
4. It's okay not to be okay
Tidak setiap kali saya bisa cheer up myself. Kadang kalau sudah broken sewaktu di jalan, kalau memang bisa menyendiri atau tidak ada siapapun I'll let myself to feel whatever it is. Nanggis - nanggis bombay itu bagus juga karena setelah itu biasanya beban saya rasanya berkurang. iya sama emang tipikal cengeng itu kalau ada apa-apa yang nyesek maunya keluarin air mata dulu.
5. Do something
Membut diri saya sibuk dengan berbagai aktivitas biar saya gak sempat kepikiran adalah cara yang manjur. Misal lagi BT pas di pantai. Kalau saya bengong aja liat ombak menari atau mendengar nyiur melambai-lambai makin deh saya masuk ke lamunan saya. Oleh karena itu, biasa saya sempati buat snorkeling atau hanya sekedar ngambang cantik tapi paling tidak saya bergerak. katanya kalau kita cuma diem aja itu akan membuat kita makin gak merasa baikan.
Lunch dulu sama gajah. Kalau laper dan haus bisa bikin mood hancur.

Adakah yang sama kayak saya juga? atau punya saran? silahkan berbagi di sini.
PS : Semua foto diambil di Bali Zoo, tempat yang pas dan asik buat berbaur sama binatang :)

Monday, June 27, 2016

uberPOOL, The Future Public Transportation

Dulu, di USA...
Sewaktu tinggal bareng sama host family yang punya anak kecil yang masih sekolah, mereka menceritakan pada saya tentang Car Pool yakni naik mobil bareng bareng atau istilahnya saling nebeng. Jadi secara bergantian, host family saya dan beberapa orang tua murid lainnya yang tinggalnya deketan akan bergiliran menjemput anak-anak ini ke sekolah. Cara ini dinilai sangat praktis karena ortu jadi gak perlu setiap hari mengantar, hemat uang bensin, dan nggak perlu cemas karena sudah saling mengenal ortu yang lain. Buat si anak, tentu saja mereka senang-senang aja karena punya teman buat ngobrol, tanya nyontek PR, berbagi makan pagi di mobil dalam perjalanan ke sekolah. Selain itu, untuk menghindari macet, di Arizona-USA ini juga ada sebuah jalur khusus bagi mobil yang berpenumpang lebih dari dua sehingga kalau Car Pool bisa lewat jalur ini. Itungannya jadi lebih cepat nyampe pula. Jadi nggak ada alasan buat menolak ikutan Car Pool bukan?

Naik mobil Uber aja

Sekarang, di Indonesia...
Balik ke Indonesia, tiba-tiba angkutan berbasis online sudah marak sekali termasuk Uber. Karena merupakan produk yang berasal dari Paman Sam, nggak heran ketika akhirnya pada Mei 2016, Uber meluncurkan inovasi terbarunya yakni uberPOOL. Saya percaya nih konsepnya sama persis dengan budaya Car Pool yang udah jamak di USA. Kita memilih tujuan, jumlah kursi (maksimal baut 2 orang), lalu Uber akan mencari penumpang lain yang juga punya tujuan sama, lalu supir pun akan menjemput satu satu layaknya layanan uber biasa. Anda akan diberitahu mendapat giliran jemput ke berapa, habis itu tinggal tunggu-duduk manis deh. Kalaupun misalnya kebetulan nggak ada penumpang lain, kita akan tetep dijemput namun tetep dengan harga uberPOOL jadi lebih murah, yippie!
uberPOOL
uberPOOL.. keliatan kan iritnya
Memang sih ada beberapa orang yang mengeluh waktu sampai ke tujuan jadi sedikit molor tapi yah udahlah yah kan bayarnya juga lebih molor alias lebih murah hingga 25%. uberPOOL ini mang lebih cocok kalau dipake pas bukan lagi buru-buru. Kecemasan berikutnya lagi yah takut ketemu dengan orang-orang yang gak asik. Kalau kebetulan ada teman bareng, mending bareng, kalau nggak yah udahlah yah anggap ja seperti naik pesawat kita gak pernah tahu siapa di samping kita. Kali aja malah ketemu jodoh dan dapet supir pribadi? #lah.

Nanti, di mana saja..
Uber surely is not just your private transportation, but the next public transportation.
Bayangkan kalau tiap orang mesan 1 mobil buat ke 1 tujuan. Apa gak tambah macet nih Jakarta?
Mendingan bareng aja kayak naik angkot tapi dengan kenyamanan sekelas mobil pribadi. Kabarnya juga sejak 3 bulan pertama diluncurkan, uberPOOL sudah berhasil mengurangi 33.8 juta km jarak yang ditempuh oleh kendaraan atau setara dengan 1.5 juta liter bensin dan 3.800 metrik ton emisi CO2. Ngaruh banget kan!!

Kalau masih ogah juga, ya udah naik Uber Motor aja yah. Sama-sama murah, nyaman, dan cepet!
Manapun itu, pilih aja UBER!

**
Bagi pengguna baru yang mau nyobaiin Uber Pool buat pertama kalinya, masukin kode lennyl412ue buat dapet Rp.50.000
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...