Monday, August 15, 2016

Kebiasaan mengambil Toiletries Hotel

Saya mau ngaku nih :
Sejak makin getol traveling dan kerja di majalah travel setahun belakangan ini, saya tak pernah lagi beli sabun mandi.

Bukan! Bukan karena saya nggak mandi atau gak punya duit tetapi gegara kegemaran saya ngumpulin sabun mandi dari hotel / villa yang saya tinggali. Terakhir saya beli itu satu batang sabun mandi lifebouy and that's it! Hingga sekarang saya masih pakai sabun batangan dari Hotel di Amsterdam. LOL!
Toiletries
Toiletries itu begitu menggoda
Kesannya saya kikir amat yah? tapi kalau saya mikirnya ini salah satu usaha mengurangi sampah.

Gini loh...
Saya tuh paling gak bisa tahan liat botol-botol kecil aneka rupa dan warna yang tersedia di kamar mandi. Entah itu botol sabun, shampoo, kondisioner, body lotion, atau sabun bunder cuci tangan. pokoknya banyak deh.

Nah biasanya walaupun ukurannya mini, namun rata-rata saya cuma nginep sehari dan perkiraan mandi cuma 2 kali (atau sekali doang kalo capek langsung zzz). Nah biasanya juga saya gak bawa toiletries sendiri sehingga biasanya pake sabun / sampo di hotel. Untungnya sih saya gak gengsi dan cocok-cocok aja...

Ketika mau check-out saya liatin ini botol masih ada 3/4 isinya.. saya suka parno takut dibuang (seringnya emang dibuang dan diganti dengan yang baru) ama housekeeping-nya padahal kan masih bisa dipake banyak banget. Gak usah pas check-out pas dibersihin harian aja kadang bekas sabun cuci tangan bunder itu udah hilang dan diganti yang baru. Kemanakah sabun-sabun itu semuanya?

Kalau saya sih pikirnya biasanya dibuang secara housekeeping gak mau repot mending dilempar ke tong sampah daripada dipungutin satu - satu. Adakah kemungkinan diisi ulang? mungkin aja sih kalau yang botolan gitu tapi saya pun belum pernah liat secara langsung sehingga agak ragu. Daripada begitu, saya mengakalinya dengan membawanya pulang saja biar bisa saya pakai lagi.

Tidak hanya Toiletries yang pernah saya embat tetapi barang gratis lainnya seperti :
pencuci mulut, scrub mandi, hygiene water, tapi sering juga beberapa free items seperti tas rajut, kipas tangan jadul, dan kain batik.

Namun seiring membludaknya toiletries ini, maka saya sepertinya perlu mengevaluasi kebiasaan ini dengan cara :
1. Menahan keinginan
Kalau saya hanya menggunakan sabun itu sekali saja selama menginap, mendingan saya gak usah pakai sama sekali daripada sabun itu cuma dibuang atau malah dikasih pakai ke tamu berikutnya. Eew? We never knows.

Selain itu, saking seringnya nginep di hotel, sekarang saya cukup picky. Saya cuma mau pakai produk / gratisan yang lucu atau yang emang saya suka / berkualitas. Ntah itu karena harumnya, nyaman di kulit dan lain lain. Biasanya juga saya hanya mengambil barang dari minimal hotel bintang 3+. Kalau hotel kecil / murah jangan deh itung-itung bantu mereka hemat toiletries.

2. Berharap / memberikan saran ke hotel / villa agar menganti botol botol sabun / sampoo dengan tempat sabun / sampo yang lengket di dinding. Pastinya mengurangi banyak sampah botol kecil itu dan bisa ngambil sabun / sampo sesuai kebutuhan. Setuju?

3. Kalau udah dipake, bawalah pulang kan bisa buat next trip atau dikasih ke siapa gitu yang butuh. Kadang yah di rumah di USA, mereka meletakkan toiletries dengan kualitas bagus hasil nginep di hotel berbintang buat dipake tamunya. Misal body lotion gitu..  Memang sih kalau nginepnya di hotel / villa mahal biasanya mereka punya produk toiletries yang baik sehingga gak tahan kalau gak diambil heheh mana pikirnya kapan lagi yah kan nginep sini :p

4. Donate / ikut terlibat di NGO yang me-recycle toiletries hotel yang nantinya akan disumbangkan ke orang yang membutuhkan seperti contohnya Clean World etc atau ke mana aja yang butuh bantuan barang-barang tersebut.

Selain toiletries, ada juga barang gratisan lainnya yang menggoda buat dimasukin ke koper
Nah jadi lain kali kalau ketemu saya dan ngerasa wangi badan saya beda - beda, anda boleh tanya "Kali ini sabunnya dari hotel mana?" hihih

**

Adakah yang punya pengalaman atau pendapat seputar toiletries ini? atau ada yang seperti saya, yang masih punya banyak toiletries cadangan hingga beberapa bulan ke depan?
Anak kos banget deh saya yah....

Wednesday, August 3, 2016

Ini kenapa kamu harus menawar di Bali

Bali adalah salah satu daerah yang paling sering saya datangi tahun ini. Saya datang atas undangan, kerjaan, review, bawa keluarga ataupun hanya leyeh-leyeh saja melepaskan diri dari Jakarta. Sejak pertama kali datang di tahun 2011, saya tahu pulau ini berbeda. Suasananya asik. Orangnya ramah. Alamnya indah.

Tapi, seperti kebanyakan daerah tujuan wisata yang populer, Bali tentu punya sisi kelam salah satunya adalah pelaku industri menaikkan harga jual mereka. Di Bali misalnya, ada harga bule dan harga lokal. Kebanyakan tempat menjual produk / jasa mereka lebih tinggi dari yang biasa namun dapat ditawar kecuali sudah tertera kalo harga pas atau diberitahu sebelumnya. Sebenarnya ini berlaku di mana saja sih. Namun apesnya kali ini saya kena harga yang digetok mahaaalllll banget.. setara harga bule..itupun mungkin masih mahal lagi :(

Saya akui, saya adalah orang yang paling bego menawar. Saya tipikal yang mudah percaya. Saya pun takut kalau menawar malah ntar penjualnya untungnya dikit, kasian. lalu nanti hidupnya tetap susah. Secara orangtua saya juga berdagang jadi saya suka prihatin dan kadang sebel juga ama yang nawar terlalu murah. Namun imbasnya yah itu. Saya seringkali dapat harga yang lebih mahal. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya selalu membawa teman lokal untuk menawarkan atau kalau gak mau ribet yah belanja di tempat yang sudah harga pas seperti di krisna daripada ke Sukawati.

Sayangnya, nggak semua kesempatan bisa begitu. Di beberapa tempat tetap saja dapat harga yang kadang nggak masuk akal. Dan lebih gak masuk akal lagi karena saya justru mengiyakan, lalu kadang menyesal kemudian.
Duduk termenung di Tanah Lot
Kepang di Pantai Kuta
Harga Awal : Rp.200.000
Harga yang akhirnya didapet : Rp.80.000
Kami meminta untuk dua orang dan me-request kepang yang bukan satu - satu kayak Bob Marley itu namun lebih ke kepang modern yang di depan dikepang lalu disambung ke belakang. Saya rasa harga ini pantas mengingat mbak-mbaknya tidak membutuhkan modal apapun selain sisir dan karet rambut 2 biji. Jadi yang saya bayar adalah skill mbak itu mengepang selama 15 menit.

Sewa Kursi Pantai di kuta
Harga Awal : Rp.100.000 / kursi
Harga yang akhirnya didapat : Rp.70.000 untuk 2 kursi
Sebelumnya sewaktu kami datang di pantai kuta jam 12 siang, kami mendapatkan satu kursi dengan harga Rp.50.000 namun untuk satu jam saja. Tidak masalah karena kami hanya butuh satu kursi sebentar sambil menunggu jam check-in hotel. Nah begitu kami datang lagi ke pantai kuta sore harinya (tempat berbeda) kami mendapatkan satu kursi dibanderol 100rb, saya pun emoh karena toh yang duduk hanya saya dan ibu saya saja. Akhirnya saya pun pesan satu aja. Eh rupanya dia sendiri akhirnya yang menawarkan 70rb saja untuk dua kursi. Kabar baiknya boleh dipake sampe mereka tutup (ketika matahari tenggelam)

Belajar Surfing
Harga Awal : Rp.400.000
Harga yang didapat : Rp.200.000
Ini berkat teman saya yang berpura pura bahwa adik saya yang ingin surfing adalah tamunya sehingga mereka pun mau menurunkan harga menjadi setengahnya. Durasinya 1 jam di mana adik saya diajarkan basicnya dulu di pantai, lalu baru praktek ke laut. Dia juga dipinjami baju surfing lengan panjang. So far dia puas dengan hasilnya.
Belajar Surfing
Water Sport di Tanjung Benoa
Sampai saat ini, kalau mengingat pengalaman ini rasanya jadi kesel sama diri sendiri. Jadi awalnya saya yang salah karena membawa keluarga saya ke tanjong benoa tanpa cek&ricek ke inet dulu termasuk harganya karena toh kami lum tau mau main apa saja. Di hari yang ditentukan, atas saran temen & supir kami di drop di Bali Indah Adventure yang paling pojok. Dibilangnya sih ini udah paling murah dan saya percaya mereka. Begitu turun mobil, kami tiba di Bali Indah, namun saya tetap melengos saja langsung ingin ke pantai melihat. Eh mbak mbaknya malah marah-marah manggil saya katanya pesennya di sini aja. Okeylah saya balik ke meja dan langsung ditawari sederet aktivitas. Memang saya lihat harganya mahal mahal karena kalau tidak salah pake rate USD. Namun si mbak menyakinkan saya bahwa nanti dikasih diskon karena harga paket. Okay saya dan keluarga pun langsung kasih tahu permainan yang kami ingin naik yaitu
Banana Boat 7 orang
Parasailing Adventure (bukan yang ditarik dari pantai tapi dari kapal dan bisa bareng dua orang langsung) 4 orang
Momen (masih) bahagia
Mbak tersebut pun langsung sibuk memainkan kalkulator dan keluarlah harganya yang diluar perkiraan 2,75 kalau gak salah untuk keseluruhan. "Mahal banget" begitu dalam hati saya. Saya pun menawar untuk 2,5juta. Si mbak lalu bertanya ke atasannya (mungkin) lalu bilang tidak bisa. Lalu ya udah karena toh kami juga ingin main saya deal di harga 2,6juta untuk semua.

Permainan berlangsung seru dan semuanya menyenangkan. Namun pas pulang saya ketemu sodara yang bilang bahwa dia hanya bayar 100rb untuk parasailing (asumsi parasailingnya sama). Saya pun langsung kebakaran jenggot lalu sadar biaya water sport itu
Banana Boat 7 orang = 1jt
Parasailing 4 orang x 400rb(!!) =1,6jt

Belum selesai saya kesel, saya cek lagi di inet rata-rata parasailing (yang di pantai itu) ada yang hanya 70 rb. Alamak!! Alangkah mahalnya harga yang saya dapatkan. Lebih dari 4x lipat!!!! Jika hanya 2x lipat saya tentu gak sekecewa ini tapi ini keuntungan yang di mark-up gila-gilaan.
Saya tidak tahu apakah memang Parasailing Adventure harganya bisa jauh beda sama parasailing reguler yang hanya bisa sendiri dan ditarik dari pantai. Ada yang punya pengalaman?

Tapi yah udahlah mau marah semua sudah berlalu.
Mau menuntut toh saya yang bodoh sekali masa nggak mikir segitu kemahalan (I really have no idea how much parasailing is).
Mau  mengutuk mereka, cuma bikin tambah jengkel dan dendam.
Akhirnya saya cuma bisa pasrah tulis di blog ini aja.

Semoga keuntungan gede hari itu yang mereka dapatkan menjadi berkah.
Semoga ke depannya yah bok kalau mau cari untung jangan segitu gedenya juga kenapa?
Dan...buat saya pelajaran berikutnya harus selalu cek & ricek harga apalagi kalau sudah tau gak bisa nawar.

Oh satu lagi bonusnya, habis parasailing kaki saya keserimpet di sana, lalu bengkak dan gak bisa jalan malemnya sampai harus diurut. Ya tuhan sialnya dobel banget hari itu. Rasanya pengen putusin tali parasailing dan jatuh ke laut aja deh. T.T

Semoga saya bisa memaafkan diri saya sendiri. Amin

Ada yang punya pengalaman dapat harga keMAHALan di Bali?ato di mana saja? Mari berbagi kekesalan :p

Monday, July 25, 2016

Traveling as Introvert & Extrovert

Saya Introvert.
Anda boleh cek dari hampir semua socmed saya, tak ada satupun hal pribadi tentang keluarga, mantan, perasaan, masalah, dan bahkan ketika saya opname di RS pun tidak ada jejaknya di social media karena memang saya tak suka mengumbar hal seperti itu. Lagian apa faedahnya? untuk memamerkan kemesraan? untuk menjadikan trending topic? Buat saya masalah personal tidak perlu diumbar, tidak nyaman saja pokoknya. Oleh karena itu, orang hanya tahu betapa bahagianya saya saja. Well.. padahal hidupku aslinya tak selalu seindah Instagramku.

Kalau Introvertnya lagi dominan, pengennya masuk ke mulut buaya aja
Saya Extrovert.
Saya ingin tampil. Saya suka difoto. Saya ingin orang lain mengenal saya. Saya cukup percaya diri. Saya tak minder bepergian tanpa make-up dan berpose dengan menggunakan bikini. Mungkin itu juga kenapa dulu saya senang ikut kontes / peagents. Bagi saya hal hal baru dan perhatian publik itu sesuatu yang menyenangkan, dalam skala berkecukupan dan masih normal batasnya.
Kalau lagi Extrovert, Koala aja diajakin ngomong terus. Padahal dia ogah hihi

Saya Introvert - Extrovert.
Nah things get complicated when I have both! terutama ketika lagi jalan-jalan.
Ketika Introvert saya lebih dominan, saya malas ketemu orang dan harus memperkenalkan diri lagi sehingga menolak undangan "networking" ataupun meetup.
Ketika Introvert saya lebih dominan, saya hanya di hotel saja nonton TV dan males mau kemana mana.
Ketika Introvert saya lebih dominan, hal hal kecil seperti digigit nyamuk, belum BAB, dapat mempengaruhi mood saya. Walau lagi berada di tempat yang indah, namun tak jarang saya malah cemberut.
Ketika Extrovert saya lebih dominan, saya menghabiskan waktu untuk mengambil foto layaknya supermodel dan itu bisa memakan waktu lamaaa sampai dirasa ada yang Instagram-able, padahal harusnya saya menyisakan juga waktu untuk duduk meresapi keadaan sekitar atau berbicara dengan orang lokal.
Ketika Extrovert saya lebih dominan saya tampak sangat outgoing namun nyatanya mungkin saya menyimpan kata kata / perbuatan yang dirasa tak mengenakkan hati.
Ketika Extrovert saya lebih dominan, orang orang selalu berfikir saya pribadi yang ceria lalu mengajak saya kemana mana dan saya iyakan walaupun nyatanya mungkin saja all I want is just to be alone.

Jadi bagaimana saya mengatasi pergolakan dua batin saya ketika dalam perjalanan (dan juga sehari hari)? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi introvert ataupun extrovert cuma lebih baik sih seimbang antara keduanya sehingga kita tak terlalu diam (tar bikin orang BT / kirain kita lagi ngambek gak jelas) atau terlalu heboh (dikira cari perhatian berlebih / alay).

Kita emang gak bisa memilih antara jadi introvert atau extrovert karena udah bawaan orok tapi tentu kita bisa dengan bijak menanggapinya agar kedua kepribadian ini tidak ada yang sangat dominan sehingga bisa membuat mood turun naik macam rollercoaster.
Ini beberapa tips yang saya siasati agar tetap tenang - meski lagi high (extrovert) atau down (introvert) - dan menikmati segala hal.

Ya siapa tahu ada yang kayak saya juga. Toss!
1. Selalu bersyukur
Syukur-syukur masih bisa jalan-jalan, masih sehat, belum ada tanggunan, ada yang mau ngajakin dan belum ada yang nyinyir jadi kalaupun ada yang gak enak, yah dinikmati aja semua biar mood tetap baik.
2. Mengontrol perasaan.
Belajar mengontrol perasaan itu tidak mudah apalagi kadang saya cenderung berpihak pada perasaan sendiri. Maunya saya sih melankolis melankolis nestapa gitu tapi gimanapun harus diupayakan biar nggak terlalu gitu. Caranya yah menjauh sebentar, istirahat, dengerin musik biar kembali lagi moodnya atau terus memberikan sugesti yang baik. Kalau lagi hyper-hyper-nya, yah gitu juga harus diredam dikit biar gak terlalu senang.
3. Think Logic
Nah ini juga susah berhubung saya dominan di perasaan. Paling kalau udah capek galau sendiri, baru deh otaknya jalan dan mikir "Ih udah bagus bisa nyampe sini, bodo amat ama orang yang menyebalkan itu" lalu saya pun berlalu dan melanjutkan perjalanan.
4. It's okay not to be okay
Tidak setiap kali saya bisa cheer up myself. Kadang kalau sudah broken sewaktu di jalan, kalau memang bisa menyendiri atau tidak ada siapapun I'll let myself to feel whatever it is. Nanggis - nanggis bombay itu bagus juga karena setelah itu biasanya beban saya rasanya berkurang. iya sama emang tipikal cengeng itu kalau ada apa-apa yang nyesek maunya keluarin air mata dulu.
5. Do something
Membut diri saya sibuk dengan berbagai aktivitas biar saya gak sempat kepikiran adalah cara yang manjur. Misal lagi BT pas di pantai. Kalau saya bengong aja liat ombak menari atau mendengar nyiur melambai-lambai makin deh saya masuk ke lamunan saya. Oleh karena itu, biasa saya sempati buat snorkeling atau hanya sekedar ngambang cantik tapi paling tidak saya bergerak. katanya kalau kita cuma diem aja itu akan membuat kita makin gak merasa baikan.
Lunch dulu sama gajah. Kalau laper dan haus bisa bikin mood hancur.

Adakah yang sama kayak saya juga? atau punya saran? silahkan berbagi di sini.
PS : Semua foto diambil di Bali Zoo, tempat yang pas dan asik buat berbaur sama binatang :)

Monday, June 27, 2016

uberPOOL, The Future Public Transportation

Dulu, di USA...
Sewaktu tinggal bareng sama host family yang punya anak kecil yang masih sekolah, mereka menceritakan pada saya tentang Car Pool yakni naik mobil bareng bareng atau istilahnya saling nebeng. Jadi secara bergantian, host family saya dan beberapa orang tua murid lainnya yang tinggalnya deketan akan bergiliran menjemput anak-anak ini ke sekolah. Cara ini dinilai sangat praktis karena ortu jadi gak perlu setiap hari mengantar, hemat uang bensin, dan nggak perlu cemas karena sudah saling mengenal ortu yang lain. Buat si anak, tentu saja mereka senang-senang aja karena punya teman buat ngobrol, tanya nyontek PR, berbagi makan pagi di mobil dalam perjalanan ke sekolah. Selain itu, untuk menghindari macet, di Arizona-USA ini juga ada sebuah jalur khusus bagi mobil yang berpenumpang lebih dari dua sehingga kalau Car Pool bisa lewat jalur ini. Itungannya jadi lebih cepat nyampe pula. Jadi nggak ada alasan buat menolak ikutan Car Pool bukan?

Naik mobil Uber aja

Sekarang, di Indonesia...
Balik ke Indonesia, tiba-tiba angkutan berbasis online sudah marak sekali termasuk Uber. Karena merupakan produk yang berasal dari Paman Sam, nggak heran ketika akhirnya pada Mei 2016, Uber meluncurkan inovasi terbarunya yakni uberPOOL. Saya percaya nih konsepnya sama persis dengan budaya Car Pool yang udah jamak di USA. Kita memilih tujuan, jumlah kursi (maksimal baut 2 orang), lalu Uber akan mencari penumpang lain yang juga punya tujuan sama, lalu supir pun akan menjemput satu satu layaknya layanan uber biasa. Anda akan diberitahu mendapat giliran jemput ke berapa, habis itu tinggal tunggu-duduk manis deh. Kalaupun misalnya kebetulan nggak ada penumpang lain, kita akan tetep dijemput namun tetep dengan harga uberPOOL jadi lebih murah, yippie!
uberPOOL
uberPOOL.. keliatan kan iritnya
Memang sih ada beberapa orang yang mengeluh waktu sampai ke tujuan jadi sedikit molor tapi yah udahlah yah kan bayarnya juga lebih molor alias lebih murah hingga 25%. uberPOOL ini mang lebih cocok kalau dipake pas bukan lagi buru-buru. Kecemasan berikutnya lagi yah takut ketemu dengan orang-orang yang gak asik. Kalau kebetulan ada teman bareng, mending bareng, kalau nggak yah udahlah yah anggap ja seperti naik pesawat kita gak pernah tahu siapa di samping kita. Kali aja malah ketemu jodoh dan dapet supir pribadi? #lah.

Nanti, di mana saja..
Uber surely is not just your private transportation, but the next public transportation.
Bayangkan kalau tiap orang mesan 1 mobil buat ke 1 tujuan. Apa gak tambah macet nih Jakarta?
Mendingan bareng aja kayak naik angkot tapi dengan kenyamanan sekelas mobil pribadi. Kabarnya juga sejak 3 bulan pertama diluncurkan, uberPOOL sudah berhasil mengurangi 33.8 juta km jarak yang ditempuh oleh kendaraan atau setara dengan 1.5 juta liter bensin dan 3.800 metrik ton emisi CO2. Ngaruh banget kan!!

Kalau masih ogah juga, ya udah naik Uber Motor aja yah. Sama-sama murah, nyaman, dan cepet!
Manapun itu, pilih aja UBER!

**
Bagi pengguna baru yang mau nyobaiin Uber Pool buat pertama kalinya, masukin kode lennyl412ue buat dapet Rp.50.000

Wednesday, June 15, 2016

Menginap di kemah mewah Sandat Glamping Tents Bali

Sejak menginap di tenda Dusun Bambu Bandung, saya jadi ketagihan nginep ala ala tenda. Mau tenda yang alami, tapi kok saya terlanjur manja dan pengennya fasilitas lengkap dan bersih. Jadilah Glamping selalu menjadi pilihan.

Setelah sekian kali berkunjung ke Bali, kali ini saya menemukan glamping yang saya inginkan yakni Sandat Glamping Tents. Agak tricky menemukan tempat ini karena berada di hamparan hijau sawah Ubud, dan begitu tiba saya langsung disambut bangunan bambu dengan konsep desain yang terbuka sehingga tidak membutuhkan pendingin cuaca. Kelar check-in, ga pake ribet, mas-masnya membawa saya menuju penginapan saya. Sebelumnya, saya mendapatkan welcome drink dulu dan duduk-duduk di tempat breakfast sambil melihat dinding yang penuh cermin dan ada pojok tempat berbagai koleksi majalah dan buku bertebaran. Suka!
Sandat Glamping Tents Ubud
Pegel baru nyampe...
Sandat Glamping Tents Ubud
Langsung gak capek lagi begitu di sini..
Karena total cuma ada 8 penginapan, suasana di sini selalu sunyi, apalagi tamunya kebanyakan bule jadi gak bakal berisik dan jarak antar penginapan berjarak sehingga adem banget deh. Di sini ada dua jenis penginapan yang dapat dipilih yakni :

Lumbung
Lumbung ini dulunya adalah tempat penyimpanan padi, namun kalau di Sandat Glamping Tents dibuat menjadi sebuah penginapan keren. Tentunya tetep tak melupakan filosofi lumbung, contohnya di sini di kayu pancang nya tetep ada kayu bundernya jadi dijamin tikus gak bakal bisa naik. Lumbung saya yakni Legong beratap jerami dan keseluruhannya terbuat dari kayu ini memiliki dua lantai. Lantai 1 itu buat saya breakfast (minta dianterin dengan manja), leyeh leyeh, atau sekedar nerima tamu tanpa perlu mereka masuk kamar yang tentunya bikin privasi tetep terjaga dong. Di depan lumbung yang saya tinggali langsung ada pool (yang dishared dengan 3 lumbung lainnya) sehingga bisa juga sambil berenang namun barangnya diletakin aja di lumbung.
Sandat Glamping Tents Ubud
Lumbung di Sandat Glamping Tents
Sandat Glamping Tents Ubud
Leyeh-leyeh di bawah lumbung
Sandat Glamping Tents Ubud
Kamar tidur lumbung
Sandat Glamping Tents Ubud
Suasana malam
Sandat Glamping Tents Ubud
Gak kalah sama siangnya
Di belakang lumbung, ada toilet semi outdoor yang terdiri dari shower dan toilet jongkok. Lalu di sebelahnya, ada tangga kayu buat naik ke atas yang merupakan kamar tidur kita. Di dalam kamar yang atapnya mengerucut ini (awas kejedot!), ada ranjang dengan kelambu, tempat duduk, lemari, AC, meja, mini bar dan kulkas,serta balkon buat ngeliat pemandangan sekitar.
Sandat Glamping Tents Ubud
Suka banget sama kamar mandi lumbung
Sandat Glamping Tents Ubud

Tenda
Di Sandat Glamping ada 5 jenis tenda dan kesemuanya punya desain yang berbeda. Saya tinggal di tenda Ogoh-ogoh dengan dominan warna oranye. Masing masing tenda ini tersembunyi satu sama lain dan punya jalan masuk yang beda-beda. Sebelum masuk ke jalan kecil menuju tenda kita, ada "bel" alami yang bisa diguncangkan sebagai tanda permisi kalau misalnya ada tamu atau mbaknya nganterin breakfast. Di Tenda yang bergaya safari ini, semuanya berada dalam satu tenda yang sama, termasuk untuk kamar mandi hanya dipisahkan dengan sekat kain aja. Di kamar mandinya, ada pancuran shower yang juga cuma ditutupi kain, jadi kadang aku mandinya pelan-pelan biar ga basah semua sekelilingnya hehe

Sandat Glamping Tents Ubud

Sandat Glamping Tents Ubud
Kamar Ogoh-ogoh
Sandat Glamping Tents Ubud
Kamar Mandi seluas kamar tidur

Sandat Glamping Tents Ubud
Kayak Ufo yah kalau malem
Untuk ranjangnya persis ada di depan pintu masuk, belakangnya baru kamar mandi. Kiri kanan ranjang ada meja dan kursi serta mini bar dan kulkas. Ada juga beberapa lemari untuk gantung baju. Karena gak punya AC, sekeliling tenda ini bisa dibuka biar angin seger masuk. Untungnya ada sekat buat nyamuk jadi aman pas malemnya.

Semua berjalan begitu indah hanya saja pas sorenya sedikit terganggu dengan anak-anak muda yang main motor racing di belakang jurangnya tenda ini. Agak jauh sih toh mereka ga bisa liat saya karena saya lebih tinggi namun suaranya itu bikin semaput. Untunglah ini kejadian langka jadi anggap saja saya lagi apes. Udah ah..mari menenangkan diri di poolnya yang adem ini.

Keunikannya? Jadi Pilih yang mana?
Seperti tagline-nya, Sandat Glamping mencoba berusaha jadi penginapan yang go-green tapi tetep luxury. Pusing kan? Jadinya meski mewah dan privat (cuma ada total 8 kamar yang tersedia), ada beberapa fasilitas yang biasanya selalu kita take it from granted yang gak ada di sini. Misalnya masing masing lumbung dan tenda gak pake bathtub, TV, telepon (sebagai gantinya pake alat musik yang dibunyikan), ga ada amenities macam sabun shampoo yang bisa dicolong, bahkan AC hanya tersedia di yang lumbung. Yang tenda hanya pake 2 kipas angin tapi panasnya cuma berasa kalau siang kok. Jelang sore, suasana adem lagi, secara ini di Ubud yang agak pelosok jadi tidak bakalan sampai kepanasan. Toh ada pool pribadi tinggal nyemplung guys.
Sandat Glamping Tents Ubud
Makan pagi langsung di kolam renang
Untuk harga, Lumbung lebih murah dan lebih cocok bagi kamu yang gak bisa hidup tanpa AC namun kalau mau cari sesuatu yang berbeda harus coba yang tenda, apalagi ada pool pribadinya. Bisa puas ngapa-ngapain loh. #kode

Selain fasilitas yang saya sebutkan masih ada free shuttle gratis ke downtown ubud dan WiFi yah guys!
Silahkan cek videon tenda nya persembahan Richo

Dan.. ternyata Sandat Glamping Tents ini lumayan terkenal juga sih udah masuk beberapa acara TV dan diliput ama beberapa orang terkenal. Ih berasa jadi artis deh bisa nginep di sini :p
Sandat Glamping Tents Ubud
Leyeh-Leyeh di Pool Lumbung..tetep berasa milik sendiri

Thursday, June 9, 2016

Keukenhof Taman Terindah di Musim Semi

Salah satu simbol dari negara Belanda adalah bunga Tulip. Meskipun sejatinya bunga tulip ini berasal dari Asia Tengah dan Turki, namun tulip lebih populer di Belanda. Jadi sepertinya kalau ke Belanda gak liat tulip itu seperti ke Indonesia tapi nggak nyobain warteg. Gak afdol dong!

Memang sih kalau beruntung bisa liat tulip dari rumah-rumahnya orang belanda tapi ya itu harus liatnya di rumah-rumah lama dan lokasinya mojok. Itupun lokasinya biasanya jauh. Nah kalau mau puas liat banyak tulip, tempat terbaik untuk melihatnya di Keukenhof yang terletak di Lisse. Apalagi sewaktu pergi di Belanda pertengahan mei, saya lagi bernasib baik karena bertepatan dengan musim bunga tulip yang sedang merekah. Jika telat seminggu saja, maka Keukenhof sudah tutup dan saya hanya bisa gigit wooden clog aja. Keukenhof memang hanya buka selama kurang lebih delapan minggu di pertengahan Maret hingga pertengahan Mei. Sisanya, closed!
Keukenhof
Masuknya antri dulu..
Keukenhof
Taman Keukenhof
Keukenhof
Isinya bunga dimana mana
Keukenhof
Dua simbol Belanda dalam satu frame
Menurut sejarah, awal mulanya Tulip dibawa dari Turki untuk ditanam di Leiden Botanical Gardens kala itu. Sejak saat itulah masyarakat Belanda langsung jatuh cinta dan semua orang ingin memilikinya bahkan sempat ada sebuah era bernama Tulipomania di tahun 1634-1637 dimana demam tulip yang begitu mengandrungi Belanda membuat harga tulip melambung gila-gilaan hingga dapat ditukar dengan berbagai macam barang berharga yang bernilai tinggi. Wow!

Tak heran jikalau kemudian tulip menjadi lambang nasional Belanda Meski kini tulip sudah lebih dapat ditemui dimana mana, kecintaan masyarakat belanda akan bunga ini masih begitu mendalamnya sehingga taman ini pun nyaris tak pernah sepi sejak ketika dibuka pada musim semi. Diperkirakan hampir 800.000 orang mengunjungi taman ini setiap tahunnya, termasuk saya.

Meskipun termasuk dalam tempat wisata mainstream, saya tak peduli. Melihat langsung tulip yang masih kuncup ini membuat mata berasa damai dan tercerahkan. Ratusan bunga tulip yang berjajar ini membuat hamparan bunga ini layaknya permadani raksasa dengan berbagai warna. Semua keindahan yang terpampang ini merupakan karya dari 40 tukang kebun yang menanam sebanyak lebih kurang 7 juta bibit bunga di pertengahan Desember dan akhirnya baru dapat dinikmati oleh para pengunjung tiga bulan kemudian. Menariknya, bunga tulip yang disukai adalah yang masih kuncup, bukan yang mekar. Jadi ketika mulai bermekaran, bunga tulip tersebut akan dipotong ujungnya agar dapat tumbuh kuncupnya lagi.
Keukenhof
Layers of Tulip
Selain tulip, sebenarnya masih banyak bunga lainnya yang dipamerkan seperti lily, bunga mawar, orchid dan lain-lain. Total ada 20 shows yang memperagakan beraneka bunga bunga indah dari seluruh dunia ini. Selain itu, setiap tahunnya Keukenhof dikemas dengan tema berbeda dan ditata dengan berbeda, jadi tak pernah ada kata bosan mengunjugi the most beautiful spring garden in the world, bahkan untuk setiap tahunnya.

Save the date!
Keukenhof akan buka kembali tahun depan mulai dari 23 Maret – 21 Mei 2017. Selain tanggal di atas, maka tempat ini tidak buka.

Anyway...
Jika punya mobil boleh deh coba ke belakangnya Keukenhof.. gak jauh di sana justru ada lahan kebun tulip milik pribadi yang kita boleh masuk dan melihat Tulip secara langsung. Kalau saya justru lebih suka ini karena lebih natural dan bisa puas berlama lama dan cenderung sepi. Ini nih baru yang namanya hidden gem!
Tulip
Warna warni tulip
Tulip
Tenang tulipnya nggak diinjek kok

Sunday, May 29, 2016

Tanjakan Curam Menuju Puncak Pulau Padar

Sejak gambar-gambar Pulau Padar menghiasi banyak timeline socmed travel, saya pun ikut-ikutan kepingin ke sana juga. Berdiri di atas batu sambil menghadap ke tiga cerukan sexy pantai di pulau padar adalah salah satu angan-angan saya jika kelak mampir ke flores.

Dan lewat ekspedisi #ExploreTheDiversity yang diadakan #AsitaNTT maka mimpi itu terwujud.

Berawal dari pelabuhan Labuan Bajo, saya dan teman blogger lainnya terlebih dahulu naik speed boat dari dermaga lalu berpindah ke sebuah kapal kayu di tengah laut, yang biasanya juga diperuntukkan untuk LOB (Live on board).
Bobo siang di kapal
Karena berangkatnya agak telat, maka perjalanan dengan kapal ini memakan waktu hingga 3 jam-an dikarenakan ombak yang sudah mulai tinggi sehingga jalannya kapal kami jadi pelan karena melawan arus. Bahkan saking pelannya kapal kami ditikung oleh kapal lain :))

Untuk menghabiskan waktu kami pun foto-foto, makan-makan, gosip, tidur, makan-tidur-foto-lagi hingga tak terasa di sisi kiri-kanan yang tadinya hanya tampak pulau pulau kecil timbul kini sudah terlihat dengan jelas pulau-pulau gersang ala flores. Yey beta sudah dekat!

Kami sampai di pulau padar ketika hampir tengah hari. Karena kapal besar tidak dapat merapat, maka kami membutuhkan speedboat untuk bisa mencapai ke bibir pantai pulau padar. Begitu tiba di sana, saya tidak disambut dengan lembutnya pasir, namun batu-batu pantai. Di sini juga tidak ada apa-apa. Tidak ada penjual tiket, calo atau ind*maret. Yang ada hanya sebuah jalan tanah ke atas, dengan kerikil besar-kecil serta tanjakan curam yang langsung menyambut. TOENG!
Tanjakan pertama begitu menggoyahkan kaki
Tanpa ba-bi-bu lagi saya mendaki, melangkahkan kaki sedikit-demi-sedikit sambil ditarik-tarik oleh richo, persis kayak kebo yang dicolok idungnya hihih. Tapi kalau gak gitu saya mungkin enggak naik-naik karena langkah saya beneran kecil-kecil sekali sedangkan tanjakannya dengan kemiringan sekitar 45 derajat itu bikin saya langsung semaput di awal. Huft!

Setelah ngos-ngosan di penanjakan pertama, keringat saya terbayarkan dengan pemandangan pantai di belakang bukit. Ah indah... namun bukan ini yang saya cari. Lanjutt!!!

Tanjakan berikutnya lebih manusiawi, tidak securam yang pertama dan jalanan pun sudah tidak licin banget karena banyak rumput kering yang bisa dijadikan pijakan jika takut kepeleset. Tapi...ada tapinya... jalurnya lebih panjaaannnggg! Kali ini si richo berganti posisi. Dia di belakang mendorong-dorong saya, mungkin mengingatkan betapa saya sudah ketinggalan jauh dengan teman-teman yang lain.
Semangat kakak!
Namun karena progress saya tidak begitu baik, dengan catatan sudah ditikung sama emak-emak, maka saya pun dengan ikhlas merelakan richo pergi duluan mendaki hingga ke puncak. Duh entar nggak ada yang motoin akuuu!
Istirahat pertama
Sementara saya mengatur napas, keringat makin bercucuran manakala semakin tinggi posisi saya, semakin dekat pula dengan matahari, artinya makin panas! Dari tanjakan kedua ini saya bisa lihat teman-teman yang lain sudah pada ngantri berfoto di batu yang dinaungi sebuah pohon. Wih kayaknya bisa nih ngadem di sana. Saya pun jadi bersemangat ke sana.

Sampai di sana... emang suasana jadi lebih adem karena "rest area" ini satu-satunya yang ketutup pohon jadi suasananya gak gitu menyengat.

Istirahat kedua sambil berjemur
Pulau Padar masih merupakan salah satu pulau yang dilindungi karena termasuk area Taman Nasional Komodo. Jadi ketika ada ibu-ibu di penanjakan mengajukan usul "wah coba ada yang jual minuman, pasti laris nih!". Saya yang dahaga pun langsung setuju.

Tapi kak oyan, seorang putera daerah yang juga punya usaha tur di flores menimpali, hal itu sepertinya mustahil mengingat nanti pasti bikin banyak sampah. Betul juga sih. Soalnya di pulau Komodo sendiri yang tentunya sangat dilindungi mengingat di sana hidup bebas komodo, malah ada penjual suvenir, makanan / minuman. Ketika jalan ke pantainya, saya mendapatkan sampah terongok bebas di sana. Sedih! Apalagi tidak terlihat ada tong sampah di sana.
Superwoman lagi istirahat
Balik di Rest area...istirahat di sini dengan dipayungi pohon serta hembusan angin sepoi-sepoi memang sangat membuai, seperti membuat saya ogah beranjak lagi. Sayangnya bebatuan karang yang saya duduki semuanya lancip-lancip dan menusuk-nusuk. Kalao kelamaan duduk, pantat jadi mati rasa dibuatnya. Mungkin ini pertanda saya harus jalan lagi.. kali ini menuju titik paling Instagramable se-padar.

Titik yang saya maksud adalah sebuah batu karang di ujung yang menghadap ke belakang tiga pantai tersebut. Tempat ini ditandai dengan sebuah saputangan di ranting dekat batu - batu tersebut. Beberapa temen saya yang sedari tadi di sini tampak tak puas-puas berfoto di sini, padahal nomor antrian sudah mengulur panjang. Sampai-sampai kak eka dan satya dengan niatnya masih sempat ganti baju buat pemotretan #OOTD. ya ampun niat banget yah... jadi isi tas mereka itu toh?ckck!

Karena titik paling tenar itu masih ngantri, maka saya putuskan tidak berfoto di sana namun agak ke sampingnya di mana saya liat gak beda jauh angle-nya kok. Bagus juga kan hasilnya?
Puncak tertinggi Padar buatku
Sebenarnya dari sini sedikit lagi (mungkin 10 meter ke atas) jika kaki saya belum loyo dan gemetaran, saya sudah bisa mencapai puncak tertinggi padar namun sepertinya cukuplah saya sampai di sini mengingat waktu pun tak banyak. Apalagi ketika turun, saya pun termasuk paling lambat. Sigh!

Jika diibaratkan motor, saya nanjak dengan gigi dua. Ketika turun, saya pake gigi 1. Takut kepeleset sih. Yang bikin paling mencemaskan adalah penurunan pertama itu. Saya awalnya turun dipegangi kak oyan, sewaktu turunan makin buas, saya pun berpegangan sama emak-emak dan suaminya. Jadilah kami empat serangkai berpegangan tangan turun satu-satu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika sudah kembali sampai ke bibir pantai batu, saya pun tak kuasa langsung masuk air. Wiihhh ademmm!! sayangnya ombaknya kencang banget, jadi saya urungkan niat berenang. Mendingan naik ke speedboat lalu kembali ke kapal.

Begitulah akhir perjalanan mimpi saya di pulau padar....
Turunnya susah ngerem karena licin
Tips :
1. Pakai sepatu, jika tidak sandal gunung.
2. Bawa minuman, namun jangan lupa membawa turun sampahnya yah.
3. Tidak ada toilet atau fasilitas apapun, jadi selalu ke WC dulu sebelum mulai trekking
4. Bawa topi, kacamata dan pake sun screen untuk melawan sengatan matahari.
5. Usahakan datang di pagi hari atau sore sekalian, jangan kayak saya yang hiking di siang hari bolong. Panasnya pol hingga ke ubun-ubun, meskipun hasil fotonya pun jadi baik sekali :p
6. Tidak ada porter atau sejenisnya, so good luck on your own :)

Simak juga video perjalanan kami dari Richotravelling :

Yang ini dari virustraveling :


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...